
Adly menaruh Handphone setelah membalas salam dari Keynand. Dia melihat Jam di dinding yang menunjukkan pukul 03.00 dini hari.
Dia melihat Isterinya masih tertidur pulas. Ada senyum merekah yang ditampilkan saat mememperhatikan wajah Fitri yang kian chubby.
Saat ini Pria berparas Timur tengah itu hendak menunggu anak keduanya lahir.
Dengan penuh kasih sayang dia mengelus perut buncit Sang Isteri. Tidak lupa mengiringi dengan doa agar Calon Bayinya lahir dengan selamat dan sehat.
Kelak menjadi anak Soleh dan Soleha. Yang senantiasa taat kepada segala Perintah Tuhan dan menjauhi laranganNYA.
Saat dia khusuk dalam doanya, Fitri membuka mata. Dia merasakan elusan tangan Suaminya, sebab itulah membuatnya terjaga.
"Abi sudah bangun? jam berapa ini?" tanya Fitri dengan nada seraknya.
"Jam 03.00 dini hari, tadi ditelpon oleh Abang Keynand membuat terbangun." Adly menerangkan.
Fitri mengernyitkan dahinya, tidak biasanya Keynand mengganggu Suaminya tengah malam kalau itu tidak penting.
"Apa yang terjadi? kenapa Abang Keynand masih terjaga hingga jam segini?" Setelah berpikir, Fitri bertanya.
"Abang Keynand meminta Abi untuk menyelidiki Sekretaris barunya. Dia mencurigai kalau Sekretarisnya itu mempunyai niat tidak baik kepada Perusahaan."
Adly menjelaskan tugas apa yang kini sedang dikerjakannya. Dia belum mengetahui apa yang terjadi sebenarnya sehingga Keynand mencurigai Sekretarisnya.
Direktur Hotel Ardiaz itu tidak menjelaskan lebih lanjut. Dia hanya memintanya untuk menyelidiki Gadis itu.
"Sepertinya Abang Keynand sudah hilang kepercayaannya dengan orang lain. Apa yang terjadi sebenarnya?" ucap Fitri mencoba menerka-nerka.
"Maksud Umi?" tanya Adly bingung.
"Terbukti Abang Keynand meminta bantuan Abi. Itu artinya Abang Keynand menyadari ada Penyusup di Hotel Ardiaz. Kalau begitu kita harus berhati-hati. Usahakan agar mereka tidak mengetahui kalau kita mengetahui sepak terjang mereka."
Fitri menjawab dan menjelaskan dugaan sementaranya. Selama dia menjadi Sekretaris di Hotel Ardiaz. Tidak pernah terjadi masalah apalagi Sang Direkturnya terjebak dalam situasi yang sulit.
Sekretaris merupakan Jantung dari Perusahaan. Profesi yang secara tak terbaca bisa mengendalikan Perusahaan. Dia yang mengarahkan Direkturnya kemana harus melangkah. Jika ingin bermain-main, bisa saja secara halus menjebak Pimpinannya.
Itu yang terjadi sekarang, Sekretaris Keynand memanfaatkan hal itu. Fitri menduga, dia sebenarnya orang suruhan yang masuk ke Hotel Ardiaz dengan mengandalkan kemampuannya.
Bukan hanya kemampuan yang dimiliki, mereka juga mengandalkan uang untuk memuluskan niat sehingga dia terpilih. Setelah itu mereka dengan leluasa mengendalikan Hotel Ardiaz melalui Oknum Sekretaris itu.
Tidak akan ada yang menyadari sebelumnya sehingga masalah itu muncul. Untung saja, Keynand menyadari ini semua.
"Pantas saja Abang Reynand dan Abang Keynand sangat menyayangi Umi, karena Umi adalah Sekretaris yang bisa diandalkan. Selain itu Umi sangat cermat dalam melihat suatu kejadian."
Adly menyanjung Isterinya. Fitri tersenyum, ada rona malu yang ditampilkannya. Tentu saja dia bahagia mendapatkan sanjungan itu. Sebisa mungkin sanjungan itu tidak menjadikannya sombong.
Sepasang Suaminya itu tersenyum penuh semangat. Adly akan memulai tugasnya dengan meminta bantuan Maemunah. Dia tidak menghubungi Lika sebagai salah satu Anggota Pagah. Biarlah Wanita itu beristirahat dan tidak ikut dalam misi rahasia. Walaupun pada akhirnya nanti Lika akan mengomelinya. Tidak masalah, asalkan Lika baik-baik saja.
__ADS_1
***
Pagi menjelang, Keynand melajukan Mobilnya menuju Hotel Ardiaz yang berada di kawasan Mandalika.
Dia ingin bergerak lebih cepat dan menyingkirkan duri yang berada di dalam tubuh Perusahaannya.
Selang beberapa menit berlalu, pada akhirnya dia sampai di parkiran Hotel Ardiaz.
Ting
Saat dia hendak melepaskan Seatbelt. Ada Notifikasi masuk, pesan itu dari Adly.
("Informasi tentang Sekretaris Cantik Pak Boss.")
Pesan itu disertai dengan file penting.
Keynand dengan cepat membuka file itu. Terpampang informasi tentang Sekretarisnya. Dimana dia bekerja sebelumnya dan dengan siapa saja dia berhubungan.
"Hem, jadi dia pernah bekerja di Perusahaan milik Arnold terus Resign dengan alasan ingin mencari pengalaman di tempat lain." Keynand bermonolog.
"Hebat banget! dia datang ke Hotel Ardiaz untuk mencari pengalaman itu dan menjadikan pengalaman itu untuk menyerang Ardiaz. Sayang sekali langkahmu sebentar lagi akan terhenti."
Dengan senyum tipis, dia sudah menyusun rencana untuk mengerjain Gadis Lint*ah itu.
Keynand keluar dari Mobil, dengan penuh percaya diri dia melangkah menuju Gedung Ardiaz.
Di sepanjang jalan menuju ruang kerja. Beberapa Pegawainya memberikan salam dibarengi dengan senyum ramah. Keynand menjawab salam mereka dengan diakhri anggukan.
Tok Tok Tok
Pintu di ketuk, Keynand memerintahkan orang dibalik Pintu itu untuk masuk.
Ceklek
Muncul Sesosok Gadis dari balik Pintu dengan pakaian tertutup. Hanya saja dia tidak menggunakan Jilbab karena mengaku Non Muslim.
Keynand melihat Sekretaris itu dan menyodorkan Kertas.
"Bacakan keras-keras untuk saya," ucap Keynand tegas.
Gadis itu meraih Kertas yang disodorkan oleh Keynand. Tidak ada ketegangan disana. Sikapnya sangat tenang penuh percaya diri.
Keynand menyandarkan punggung pada sandaran Kursi dan menatap Sekretarisnya dengan tatapan dingin.
Sekretarisnya memulai membaca. Baris perbaris sudah dia lewati. Namun saat dia membaca namanya, seketika wajahnya menandak pucat dan tubuhnya langsung gemetar. Kepercayaan diri yang dia andalkan selama ini seketika itu runtuh.
"Apa kamu yang akan berkata jujur atau saya yang akan menjelaskannya. Pilih yang mana?" tanya Keynand dengan tegas.
__ADS_1
"Maksud Pak Keynand apa? saya tidak mengerti. Kejujuran apa yang harus saya katakan?" tanya Sekretarisnya berpura-pura bingung. Dia menyeka peluh yang bermunculan akibat rasa takut. Sebisa mungkin dia bersikap tenang dengan raut kebingungan.
"Saya rasa kamu bukan orang bodoh. Apa perlu saya membeberkan niat jahat kamu kepada saya dan Perusahaan." Keynand berkata dengan santai. Dia ingin merusak mental Sekretarisnya dengan rasa takut, gelisah dan frustasi.
Terbukti, meskipun dia berusaha tenang dan seakan tak mengerti arah pembicaraan Keynand. Namun sorot mata itu menyimpan ketakutan yang luar biasa.
Berdebar kencang, itu yang terjadi sekarang pada Jantungnya. Bahkan dia sangat sulit menghirup udara karena rasa frustasi.
"Maaf Pak Keynand, saya tidak mengetahui apa yang Pak Keynand hadapi semalam," sahut Sang Sekretaris gugup.
"Memangnya apa yang harus saya hadapi? Apa kamu berharap jebakan itu berhasil?" Keynand menyahuti dengan langsung menyerangnya dengan perbuatan yang dilakukannya.
"Maaf Pak Keynand, saya tidak mengerti apa yang anda bicarakan. Saya berharap kerjasama yang akan terjadi."
Keynand menanggapi perkataan Sekretarisnya dengan senyum tipis dibalik wajah yang dingin. Tidak menyangka Sekretarisnya itu sangat pintar berkelit dan membela dirinya jika dia tidak ada hubungannya dengan apa yang di alami semalam.
"Okay, cukup pembicaraan kita. Biarlah Polisi yang akan membuatmu lancar berbicara."
Keynand memperdengarkan bukti keterlibatan Sekretarisnya itu. Untung saja dia berhasil mengejar Rizqy dan meminta rekaman percakapan yang berhasil di dengar. Terus meminta Adly menelusuri siapa orang yang dihubungi Pria itu setelahnya.
Mudah saja bagi Adly melakukan itu dengan mengandalkan kecerdasan Rudi. Tentu saja meminta bantuan Maemunah.
"Sa-saya di jebak seperti Pak Keynand yang juga di jebak," ucap dia dengan terbata-bata. Pada akhirnya mengaku dengan bantahan. Kening itu mengeluarkan keringat dengan deras padahal berada di dalam ruangan yang sangat dingin.
"Berbuat salah bisa membuat seseorang di hantui ketakutan. Lalu apa artinya keringat yang berulang-ulang diseka padahal ruangan ini tidak panas. Apa perlu saya menambahkan suhunya agar keringat itu membeku."
Seusai berkata Keynand berdiri lalu berjalan menuju dinding tempat Remot Pendingin itu berada kemudian menambah suhu dingin.
"Apa kamu sudah nyaman?" tanya Keynand kian dingin seiring dengan rasa dingin yang menyeruak dari Alat Pendingin itu.
Dia menarik nafas yang terlihat sangat sulit di helanya. Tangannya bertautan untuk menguatkan diri dari rasa frustasinya.
"Kamu bisa memilih kemana langkah Kakimu. Ke Bangko-bangko atau Hotel Priodio?" ucap Keynand kemudian.
Dia kian gemetaran dengan wajah pucat. Dua pilihan yang akan menentukan hidupnya. Jika memilih Bangko-bangko, itu berarti dia membatah segala tuduhan dan dia sama sekali tidak terlibat dalam usaha menjebak Keynand. Jika memilih Hotel Priodio tentu saja secara terang-terangan mengaku salah.
Tunggu dulu, Bangko-bangko tempat yang indah dengan Pantai berpasir Putih. Apa maksudnya? kenapa Keynand membuat dua pilihan.
Apa dia sedang menggiringnya ke tempat pesakitan yang sesungguhnya.
"Bangko-bangko, Pak," jawabnya dengan yakin.
Keynand tersenyum.
"Ternyata dia keras kepala, sangat cerdas menentukan nasipnya." Keynand membatin.
Kemudian Keynand menghubungi seseorang dan memintanya untuk menghadap.
__ADS_1
"Persiapkan diri anda, banyak tugas yang menanti disana."
Bersambung.