Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
72


__ADS_3

Habibah mengalihkan perhatiannya. Kalimat Suaminya terdengar sangat tegas. Habibah mengerti betapa posesifnya Rizqy kepada Adik satu-satunya itu.


Wanita manis itu tersenyum. Dia menyudahi obrolannya lalu mendekati Rizqy dengan raut muramnya.


Tangan halus itu membelai bahu kokoh tempat biasanya menyandarkan Kepala saat mereka berdua memamdang rembulan.


"Mas tidak melarang Ia dekat dengan seorang Pria. Hanya saja Mas khawatir dengannya. Mas menyadari kalau sekarang adik kecilku sudah beranjak dewasa."


Rizqy mengutarakan kekhawatirannya. Adiknya itu membutuhkan seseorang yang bisa memahami dirinya.


"Bibah tahu, Ia juga belum ingin memikirkan cowok. Tadi dia cerita ada Pria yang diyakininya sedang mendekatinya. Dia merasa tidak nyaman."


"Apa yang menyebabkan dia tidak nyaman?" tanya Rizqy memburu kelanjutan cerita itu. Dia melihat Habibah terdiam sembari menghela nafas.


"Pria itu menyebalkan dan tukang selingkuh. Karena itulah menyebabkan Ia tidak resfeck. Selain itu juga adik kita itu belum ingin menjalin hubungan dengan seorang Pria apalagi menjalani hubungan yang serius. Katanya dia ingin meraih impiannya yang sempat tertunda."


Habibah menceritakan apa yang dibicarakan oleh Adik Iparnya. Tak ada dalam pembicaraannya terkandung rasa. Sepertinya benar bahwa adik dari Rizqy belum mau menyukai lawan jenisnya.


Entah karena Pria itu belum mampu menggentarkan hatinya atau mungkin karena pernah hancur hidupnya akibat di hianati oleh Laki-laki yang menjadi cinta pertama bagi seorang anak perempuan yakni Ayah. Hal tersebut menyebabkan hatinya membeku.


Bisa jadi Gadis itu hilang kepercayaan kepada semua Laki-laki. Dia menganggap semua Lelaki tak bisa setia dan hanya pintar membagi hati. Hanya satu Laki-laki yang dipercayainya yaitu Rizqy, Kakak kandungnya.


"Syukurlah, hati Mas menjadi tenang."


Habibah tersenyum, dengan menampilkan wajah cerahnya.


"Bisa jadi Pria itu tidak segagah Kakaknya menyebabkan hatinya tak ada rasa," ucapnya kemudian.


"Iya, kah? apakah ini sebuah fitnahan atau sanjungan? Jika sebuah sanjungan, duh besar sekali Kepala Mas. Berat sayang." Jumawa, ia lalu memperdengarkan tawa renyahnya.


Hahahahaha


Habibah sangat menikmati tawa dan sekaligus kekonyolan yang diperlihatkan oleh Suaminya.


Jika seperti ini, hilang rasa sakitnya. Rizqy tidak lagi ingin meringis. Dia hanya ingin tertawa bahagia menikmati kebersamaan.


"Mas sangat bersyukur karena Tuhan menciptakan Ikan Tokok. Coba kalau tidak ada Ikan Tokok mungkin luka ini akan sulit mengering. Terus Mas tidak akan menikmati tawa bahagia bersama kamu seperti saat ini. Ah, betapa beruntungnya Mas. Alhamdulillah."


Rizqy berucap panjang lebar, lantas dia memeluk tubuh Habibah.


"Ternyata dia nekat mendekati adikku. Apa maunya?" Rizqy membatin. Dia sudah menyadari kehadiran Pria yang dimaksudkan oleh Adiknya itu. Sekarang dia belum tahu harus berbuat apa. Namun jika kehadirannya membuat adik kesayangannya itu merasa tidak nyaman. Maka dia akan bertindak untuk menghalaunya.

__ADS_1


"Memangnya Mas gagah?" tanya Pria tersebut kemudian setelah lama termenung bersama kata hatinya.


"Iya, Mas sangat berani melindungi satu Timnya meskipun nyawa menjadi taruhan. Mas juga sangat tegas menolak kecurangan meskipun oknum tersebut berusaha untuk menggoda Mas. Mereka meyakinkan Mas dengan harapan tidak akan terjadi apa-apa. Namun Mas meyakini akan terjadi apa-apa sehingga tidak mau terintimidasi."


Habibah menjawab dengan sanjungan. Sanjungan yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Bukankah itu gagah berani?


"Alhamdulillah. Semoga Mas istiqomah dan tidak tergoda dengan gemerlapnya dunia yang menjanjikan kehancuran di akhirnya saat salah langkah," sahut Rizqy berharap. Dia semakin erat memeluk Wanita yang sangat di cintainya itu.


"Kamu dan adik merupakan tanggung jawab Mas. Sebisa mungkin membahagiakan kalian berdua. Maaf jika apa yang Mas beri belum mampu membahagiakan kalian berdua secara maksimal. Hanya itu kemampuan Mas. Mas mohon bersyukurlah."


Habibah menatap wajah Suaminya dengan sangat dalam. Kedalamannya seakan sulit terukur. Tentu sangat bersyukur memiliki Pria ini. Baginya kebahagiaannya hanya bersamanya. Menjalani hari-hari dengan biasa penuh keriangan.


"Aku tidak menginginkan sesuatu yang berlebihan karena yang berlebihan itu tidak baik untukku. Aku bahagia bersama Mas, meskipun sederhana karena itu yang aku perlukan."


Manis, Rizqy meleleh demi kata-kata yang terdengar sangat melegakan hatinya.


Habibah menerimanya apa adanya dia. Suaminya, tidak menjanjikan sesuatu yang muluk. Hanya ingin tak membuatnya terluka dan menangis. Itu yang harus di usahakannya dengan nyata.


"Sebaiknya kita istirahat, esok hari semoga saja akan terjadi sesuatu yang indah. Mas diperbolehkan pulang," ucap Rizqy mengajak Isterinya beristirahat. Sebelumnya mereka merenda kemesraan sebagai cara untuk memupuk cinta agar tetap bersemi. Setelahnya sepasang Suami Isteri itu larut dalam mimpi indah dengan saling mendekap.


***


"Alhamdulillah, kondisi Pak Rizqy sudah stabil dan lukanya juga sudah mulai mengering," ucap Dokter yang merawat Rizqy.


"Enggak sabar melepaskan rindu kepada Isteri tercinta," lanjut Rizqy kemudian mengarahkan lirikan mata kepada Habibah dengan wajah menggoda.


Dokter hanya tersenyum tipis menanggapi keriangan dari Pasiennya. Pengalaman, Pasien tidak akan betah berlama-lama di rumah sakit. Hal biasa di temuinya setiap hari. Tidak dengan dirinya yang harus mengenyahkan rasa bosan itu dan memupuk kebetahan di rumah sakit sepanjang hari hingga pensiun kelak.


"Bukankah Sang Isteri sangat setia menemani? tidak mungkin rindu, kan? atau ada Isteri lain yang di maksudkan?" tanya Dokter terpancing dengan kata rindu kepada Isteri. Sang Dokter menampilkan wajah keheranannya.


"Dokter sudah menikah?"


Dokter tersebut menggelengkan kepalanya.


"Pantas saja tidak mengerti. Saya hanya punya satu Isteri dan selalu begitu," ucap Rizqy dengan senyum tipis.


"Rindu yang saya rasakan ini sangat berbeda. Hanya bisa dilabuhkan di kamar kita bukan di ranjang rumah sakit. Dokter pasti faham?" Rizqy melanjutkan penjelasannya.


Rona malu itu nampak pada wajah Habibah. Sementara Dokter muda itu mengulum senyum.


"Baiklah, anda boleh pulang untuk melabuhkan rasa rindu itu. Resepnya jangan terlalu menggebu karena anda belum sembuh total," ucap Sang Dokter memenuhi keinginan Rizqy. Sebenarnya bukan karena itu. Memang sudah waktunya Rizqy keluar dari rumah sakit. Keadaannya sudah membaik, tidak ada alasan lagi untuk menahannya.

__ADS_1


"Anda sungguh baik Dokter. Dengan ini saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih karena sudah merawat saya."


Ucapan pasiennya terdengar begitu formal. Sang Dokter menganggukkan Kepala bersama senyum tulus di wajah. Lalu dia berkata khas seorang Dokter, "Sama-sama Pak Rizqy, itu sudah menjadi kewajiban saya."


Setelah berbasa basi dan melakukan pemeriksaan, Dokter meninggalkan rawat inap yang di tempati Rizqy.


Rizqy tentu saja gembira setelah kepergian Dokter. Dia berucap syukur diakhiri dengan untaian kata yang membuat hati Habibah bergelayar hebat.


Habibah menyambut kebahagiaan Suami dengan rasa syukur juga. Setelahnya bergerak mengemas barang-barang miliknya yang berpindah tempat ke ruang rawat inap.


"Sudah semuanya? Dokter sudah mengizinkan kita pulang," ucap Rizqy setelah di temui oleh seorang Perawat dan menerima resep dari Dokter untuk masa pemulihannya.


"Iya Mas, Bibah sudah siap," ucap Habibah bersemangat. Senyum itu tidak pernah memudar dari wajah manisnya.


Usai melaksanakan prosedur. Rizqy dan Habibah meninggalkan rumah sakit dengan nafas yang tak lagi berat dan sesak.


***


Reynand tengah fokus dengan data yang ada di hadapannya. Saat ini dia berada di Yayasan Sekolah milik Isterinya. Sebentar lagi dia akan menggantikan Keynand untuk sementara waktu hingga misinya selesai. Hal itulah dia harus menyusun pembagian tugas kepada para bawahan dan menyelesaikan Laporannya.


Saat berkutat dengan pekerjaannya, terdengar nada dari Handphonenya. Reynand menghentikan aktivitas. Dia mengambil benda elekronik itu lalu membuka pesan masuk.


Saat membaca pesan itu seketika senyumnya memudar. Dia menghela nafas untuk meringankan amarahnya.


"Semakin kamu menggoda saya, semakin saya cinta kepada Lika, Isteri saya dan memberikan kesetiaan itu kepadanya." Reynand berucap dengan benda elektronik itu dengan penuh kejujuran.


Reynand memilih untuk tidak meladeni. Dia tahu jika dia membalas, maka akan ada balasan. Akan terus berkelanjutan hingga akhirnya terjebak dalam hubungan. Dia memilih memblokir nomor yang mengganggu ketenangan rumah tangganya.


Merasa gerah dengan kelakuan Wanita itu. Reynand menghubungi seseorang. Rasanya dia tidak akan jera jika tidak di hentikan.


(Iya Pak Reynand, akan saya tegur dan memberikan nasehat. Saya mohon maaf dengan prilaku buruknya kepada keluarga anda)


(Saya ingin menerima bukti bukan hanya sekedar ucapan di ujung lidah)


Sangat dingin, nada itu seakan membekukan pendengaran seseorang yang berada di seberang.


Reynand tak peduli. Dia hanya ingin hidup bahagia bersama keluarganya tanpa disusupi seseorang yang takkan pernah diinginkannya.


***


"Hentikan kegilaan kamu Gadis. Jangan membuat keluarga kita malu."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2