Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
80


__ADS_3

"Nguing, nguing, nguing."


Keynand kemudian bersuara. Dia merasa seperti nyamuk, apa salahnya sekalian menganggu mereka dengan menggunakan suara nyamuk. Keusilannya mulai muncul kini.


Plak


"Ada nyamuk besar Kepala menganggu kita," ucap Riski memukul bahu Keynand.


Keynand pura-pura meringis kesakitan. Tatapan tajam dia arahkan kepada Riski. Alih-alih meminta maaf, cowok itu semakin memperlihatkan raut tak bersalahnya.


Rizqia melirik sebentar ke arah Keynand. Baru saja memasang senyumnya secepat kilat dia alihkan kembali pandangannya. Tidak ada senyum dan reaksi apapun darinya hanya wajah datar yang disuguhkan.


Huf


Keynand tersiksa dengan situasi ini. Amat sangat susah mendekati Gadis ini ternyata. Dia membentangkan jarak sehingga sulit dijangkau.


"Nguing, nguing, nguing."


Keynand kembali bersuara, menganggu mereka yang kembali melanjutkan obrolan.


"Rupanya nyamuk tampan kembali berpatroli. Sepertinya ingin merasakan telapak tangan lembut ini." Sang Bibik kini menanggapi. Dia beranjak mendekati Keynand lalu mengelus Pipi mulus itu.


Keynand terkejut, dia berusaha menghindar dengan memalingkan wajah. Ah sayang, Wanita paruh baya itu kelewat agresif. Meskipun tak ingin pada kenyataannya tersentuh juga.


"Bibik, jangan nyentet, deh! Tangannya tolong dikondisikan, dong!" ucap Rizqia mengingatkan.


"Iya Non, habisnya Den Keynand ngegemesin, bikin tangan ini gatal ingin mengelusnya. Cuma dikit doang! Mosok Non Qia enggak rela berbagi dengan Bibik, sih!" sahut Sang Bibik tanpa malu-malu.


Riski dan Rin tergelak mendengarkan perkataan Sang Bibik. "Ah Bibik kok nyentetnya parah banget, sih!" Suara hati Gadis itu.


Keynand merasa tak nyaman dengan situasi ini. Berharap mendengar sepatah kata dari Rizqia, justru ketidak nyamanan yang di dapatkan dari Sang Bibik. Lacur memang!


"Non Qia maaf, khilaf ini," ucap Sang Bibik pada akhirnya menyadari.


"Maaf Bik, saya mengerti Bibik niatnya becanda. Hanya saja apa yang Bibik lakukan tadi, mungkin saja membuat Pak Keynand tidak nyaman." Rizqia menjelaskan. Dia tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan Wanita paruh baya itu. Dia melihat ketidak nyamanan yang di rasakan oleh Keynand sehingga dia mengingatkan Sang Bibik. Takutnya Sang Bibik keterusan karena tidak mengetahui hal itu.


Sang Bibik tersenyum. Dia sangat mengenal Gadis yang sedari kecil sudah berada dalam pengasuhannya, bahwa dia akan berusaha menjaga perasaan orang lain. Memang terlihat cuek, tapi bukan berarti tidak memiliki kepedulian.


Keynand semakin tertarik dengan Gadis ini. Bukan cinta, hanya terpikat dengan kepribadian yang unik dari Gadis di hadapannya.


"Jika selalu disuguhkan hal-hal menarik darimu, lama kelamaan cinta itu akan bersemi pula. Tidak salah aku memilih kamu jadi Ibu untuk Raski," batin Keynand memandang wajah datar Gadis itu.


Tak ingin berlarut dalam ketidak nyamanan mereka melanjutkan obrolan sambil menikmati Singkong, aneka Kue dan buah-buahan yang di bawa oleh Keynand. Dia berinisiatif membawa makanan agar tak membebani Pemilik rumah.


Terlalu asyik mengobrol, mereka tak menyadari malam semakin larut. Akhirnya obrolan mereka sudahi tatkala rasa ngantuk itu meminta mereka untuk beristirahat.

__ADS_1


***


"Ki, apa Rin tahu kalau kamu menyukainya?" tanya Keynand. Tatapan sama dengan Riski yang menuju langit-langit tenda.


Saat ini mereka sudah berada di dalam Tenda setelah ketiga Wanita itu masuk ke dalam rumah dan beristirahat di kamar masing-masing.


Riski mengarahkan pandangan kepada Keynand yang sontak juga mengarahkan pandangan ke arahnya.


Riski menggelengkan Kepalanya menjawab kemudian menegaskan dengan ucapan.


"Tidak. Belum saatnya Rin tahu. Saya tidak ingin merusak impian dan masa depannya. Saat ini Rin ingin meraih gelar Sarjana. Karena itulah alasan untuk tidak mengganggunya dengan perasaan cinta ini."


Keynand mengangguk mengerti.


"Lagi pula saya belum memiliki apapun. Rumah masih tahap pembangunan, Mobil pun masih terparkir di Dealer terus tabungan juga masih nomimal receh. Jika saya nekat menikahi Rin dalam kondisi begini, tentu saja akan menambah penderitaannya. Saya tidak mau itu, Bang," lanjut Riski menerangkan. Terlihat kesungguhan itu terpancar dari sorot mata teduh miliknya. Pemuda itu kini sedang memperjuangkan asanya.


"Kamu, sih! enggak mau menerima bantuan dari keluarga. Abang Reynand sepertinya sampai kapan pun tak menyerah mengulurkan tangan untuk memberi modal pada usaha kamu. Kamu terus saja menolak."


Riski tersenyum. Memang benar apa yang diucapkan Keynand. Kakak Iparnya itu tak henti-hentinya menawarkan bantuannya. Namun dengan sopan Riski menolak. Bukan bantuan dari Reynand saja dia tolak. Bantuan dari orang tua pun dia abaikan.


"Saya ingin meraih kesuksesan dengan kedua tangan ini. Rasanya nikmat menikmati hasil dari keringat sendiri. Ada kebanggaan tersendiri jika itu tercapai," sahut Riski dengan senyum penuh semangat.


"Abang faham, kamu emang keras Kepala," sahut Keynand pada akhirnya mengalah.


"Tidak, untuk apa takut dengan sesuatu yang belum pasti terjadi. Jika Rin ternyata bersama orang lain, itu berarti dia bukan jodoh saya. Saya realistis saja, karena jodoh kita sudah ditetapkan oleh Tuhan," jawab Riski dengan tenangnya.


"Benar, Abang juga menerima jika ternyata Rizqia bukan jodoh Abang. Terpenting sekarang memperjuangkannya saja dulu." Keynand menyetujui perkataan Pemuda di sampingnya.


Riski tersenyum. Dia kemudian larut dalam angan yang indah. Dia ingin memberikan kehidupan yang indah untuk Rin nantinya.


Cinta yang ada di hatinya dia sembunyikan serapat mungkin. Bukan tak ingin mengungkapkannya, tapi belum saatnya. Dia ingin mereka berdua bersama-sama meraih mimpi dulu. Setelahnya barulah cinta itu akan di sematkan pada hati Gadis itu.


Biarlah rindu ini menggebu dulu, setidaknya sudah tahu kepada siapa muaranya.


Kini Riski menempatkan diri sebagai teman untuk Rin di luaran. Sedangkan di Kampus, tetap hubungan mereka sebagai Dosen dan Mahasiswi.


"Hem." Keynand berguman mengira jika Riski sudah terlelap dalam mimpi.


"Saya masih terjaga, Bang. Oh ya setelah ini apa yang akan Abang lakukan?" Riski menanggapi seakan mengerti isyarat itu.


"Terus meminta maaf dan meyakin Qia bahwa Abang serius. Satu-satunya alasan yang bisa di raba adalah dia insecure pada dirinya. Mungkin saja masa lalunya membuatnya hati-hati untuk melangkah, apalagi berhubungan dengan Laki-laki. Entahlah kalau ada alasan lainnya. Tidak mungkin juga karena Abang kurang tampan membuatnya tak tertarik," jawab Keynand serius.


"Hahahaha."


Riski tertawa, lalu berkata, "Bisa jadi karena Abang kurang tampan, makanya enggak tertarik. Siapa tahu di mata Qia, Dosennya inilah yang tampan."

__ADS_1


"Itu berarti matanya yang rabun," sahut Keynand sewot.


"Hahahaha." Lagi-lagi Riski tertawa.


"Saya bilangin sama Qia kalau matanya rabun kata seorang Keynand. Kira-kira reaksinya seperti apa, ya?" ucap Riski memanasi.


"Dasar tukang ngadu," sahut Keynand semakin sewot.


Betapa senangnya Riski memanasi dan menggoda Duda tampan itu. Lihat wajah sebal itu membuat Riski kembali tertawa.


"Tenanglah Bang, Qia pasti akan mendekati Abang karena terpancing umpan yang Abang tebarkan. Nah itu dia belum mengetahui. Apa dia mendekat karena sadar kalau Abang tampan atau mungkin sebal ngeliat tampang Abang sehingga ingin secepatnya di enyahkan." Riski kembali melancarkan kalimat provokatifnya. Senyum itu mengembang saat Keynand tersenyum masam.


"Emang ya, Adik enggak punya akhlak. Tahu diri ini lagi pendek sumbunya, eh malah di panas-panasin. Sedikit lagi bakalan meledak. Sabar-sabar!" Keynand menyahuti sembari mengelus dadanya menenangkan diri.


"Iya deh, saya minta maaf. Ada teman saya bilang kalau ingin membuat orang yang tidak mau tersenyum menjadi tersenyum tinggal katakan 'bunciiiiiis' dijamin pasti bakalan tersenyum," ucap Riski dengan berkali-kali menyebut kata 'bunciiiiis.


Keynand hanya diam juga, tapi di dalam hati bertanya pula. "Apa benar, sih?"


"Senyum, dong! Bunciiiiis!"


Keynand masih dengan muka datarnya. Senyum itu tindak kunjung nampak juga membuat Riski meragukan perkataan temannya.


"Kok gagal ya? Apa di barengi dengan wajah lucu ya?" tanyanya Riski bingung.


Biarkan saja Pemuda itu berbicara sendiri agar ngerasain bagaimana rasanya sebal.


Hahahaha


Kata hati berguman riang.


Lelah memikirkan percobaan yang gagal itu. Riski mengalihkan strategi. Dia menepuk bahu Keynand secara tiba-tiba dengan ekspresi seriusnya.


"Bikin Abang kaget saja."


"Jangan buru-buru sewot, dengar dulu makanya." Buru-buru Riski meredam sumbu pendek itu agar amarah tak menghabiskannya.


"Gini lo! Saya merasa aneh dengan kejadian tadi pagi. Setahu saya hubungan Qia dengan Mahasiswi tadi selama ini baik-baik saja. Tidak pernah terdengar perselisilahan apalagi sampai saling menyindir. Sepertinya ada yang pengendalikannya. Pas banget, dia langsung menyerang begitu saja. Iya enggak, sih?" ucap Riski serius. Dia tiba-tiba teringat dengan kejadian tadi pagi. Dan selama ini juga tidak ada perselisihan yang terjadi antar mahasiswa. Keadaan memang sangat kondusif.


"Abang juga mempunyai pemikiran ke arah sana. Tentu akan saya selidiki kejadian tadi. Bagaimana bisa rahasia Pasien sampai diketahui oleh orang lain kalau tidak ada yang membocorkannya," jawab Keynand. Kali ini sumbunya benar-benar habis terbakar sehingga meluap kemarahan itu.


"Jadi Abang akan menyelidiki ini?" tanya Riski.


Keynand mengangguk dengan diiringi senyum yang membuat sasarannya harus hati-hati.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2