Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.16


__ADS_3

"Assalamu'alaikum."


Qia menoleh saat mendengar salam dari seorang laki-laki. Dia tertegun melihat seorang Pemuda yang tersenyum ceria bahkan matanya pun ikut tersenyum. Wajahnya terlihat teduh seakan memancarkan hatinya yang tulus.


"Siapa dia?" Batin Qia bertanya. Gadis itu mengabaikan salam Pemuda itu karena terlalu terpaku dengan kehadirannya.


"Kok Kak Qia tidak membalas salam? Maaf apa boleh saya duduk?" tanya Rasya dengan sopan. Dia kemudian mendudukkan tubuhnya di sebuah Kursi yang berada di samping Qia setelah mendapatkan persetujuan dari Gadis itu.


"Ah iya, Wa'alaikumussalam," balas Qia dengan cepat setelah tersadar dari keterpakuannya. Karena itu membuat wajahnya terlihat memerah menahan rasa malu .


"Ah Qia, kenapa mendadak menjadi canggung gini? Apa tadi? Dia memanggil dengan panggilan Kak Qia? Apa aku lebih tua darinya?" Qia memberondong dirinya dengan pertanyaan yang terucap dalam hati. Dia melihat sekilas ke arah Pemuda yang wajahnya sedikit menduduk.


"Iya sih! dia terlihat lebih muda, pantas saja memanggil Kakak," batin Qia.


"Apa Kak Qia baik-baik saja? Apa yang Kak Qia rasakan sekarang?" tanya Rasya dengan mengarahkan wajah ke arah Qia dalam keadaan masih tetap sedikit menunduk. Pandangan Pemuda itu selalu terjaga dan terlihat sangat sopan.


"Alhamdulillah baik-baik saja. Seperti yang kamu lihat, saya bisa duduk lebih lama dari biasanya," jawab Qia terdengar getir.


"Alhamdulillah. Itu berarti ada kemajuan dan atas izin Tuhan kemungkinan secepatnya Kak Qia akan sembuh," ucap Rasya penuh dengan harapan.


"Terima kasih atas perhatiannya," jawab Qia dengan lirih hampir tak terdengar di Telinga Rasya.


"Sama-sama."


Rasya kemudian terdiam karena bingung harus berkata apa. Pun begitu juga dengan Qia tidak tahu apa yang harus dibicarakan dengan Pemuda yang belum sama sekali di kenalnya. Nama saja belum dia ketahui siapa. Tapi kenapa Pemuda di sampingnya mengajaknya mengobrol dengan akrab seakan mereka saling mengenal satu sama lain.


Huft


"Kak Qia."


Qia menarik nafas panjang mengusir keheningan yang terasa cukup lama. Sementara Pemuda di sampingnya memanggilnya dengan lembut.


"Ada tamu rupanya, apa Ustadz Rasya sudah lama?" tanya Habibah yang tiba-tiba saja muncul mencairkan suasana yang terasa canggung di antara mereka.


"Baru saja Kak Habibah. Oh ya, Kak apa boleh minta tolong, saya jangan dipanggil Ustadz panggil saja Rasya. Sejatinya saya belum pantas di panggil Ustadz. Saya di sini masih belajar sekaligus mengamalkan ilmu yang di peroleh hanya untuk mendapatkan ijazah."


Rasya menceritakan tujuannya berada di Pesantren saat ini dan beberapa bulan ke depan selama setahun sebagai syarat untuk memperoleh ijazah, meskipun dia sudah lulus secara akademik.

__ADS_1


"Jadi begitu? tapi rasanya tidak sopan memanggil dengan sebutan nama sementara Ustadz Rasya memang benar mengajar di Pesantren ini. Bukankah Ustadz itu kata lain dari Guru, jadi tidak masalah, dong? Kita memanggil Ustadz."


Perkataan Habibah membuat Rasya semakin tidak nyaman. Sejujurnya dia merasa belum pantas menerima panggilan itu. Hal ini disebabkan kesiapannya yang belum ada untuk menanggung tanggung jawab yang amat berat menurutnya. Selain dia belajar dan mengamalkan ilmunya, di sisi lain dia juga harus menjadi contoh yang baik bagi para santri terutama masyarakat. Setiap perkataan, prilaku dan perbuatan pastinya akan di nilai oleh Masyarakat. Hal itulah yang sangat membebaninya. Rasya merasa dirinya masih bocah yang terkadang bersikap kekanak-kanakan dan belum bisa dewasa di saat menghadapi persoalan. Meskipun selama ini berusaha menjadi orang yang baik, menjaga pergaulannya. Menjaga setiap tutur kata dan juga segala perbuatan agar senantiasa terjaga dan tidak melakukan perbuatan melanggar aturan agama, adat istiadat maupun ketentuan Negara. Akan tetapi tetap saja Rasya masih memiliki jiwa muda yang ingin bebas berekspresi tanpa harus mengedepankan gimmick dan pencitraan. Pemuda itu tidak suka itu. Dia hanya ingin menjadi dirinya sendiri dan apa adanya dia.


"Tapi Kak Habibah, tanggung jawabnya berat di panggil Ustadz apalagi saya masih bocil dan pundak ini belum sanggup memikulnya. Kak Habibah tidak mau, kan melihat saya menitikkan air mata karena berusaha pura-pura kuat, padahal sejatinya ambruk," ucap Rasya panjang lebar membuat Habibah memamerkan senyum tipis sekaligus menggelengkan Kepalanya merasa tak percaya dengan apa yang dikatakan Pemuda di hadapannya.


"Pemuda ini ternyata bukan Pemuda yang haus akan pujian dan juga gelar, padahal dia keturunan menak, dari keluarga yang berada dan juga religius. Lebih hebatnya lagi dia lulusan terbaik dari Universitas Islam di Madinah. Tentu saja ilmu agamanya tidak main-main. Alangkah beruntungnya seorang Gadis yang menjadi jodohnya. Pemuda sederhana, baik, soleh dan berilmu."


Habibah bermonolog dalam hatinya mengungkapkan kekagumannya atas sosok Rasya. Pemuda tampan yang baru saja beranjak dewasa itu.


Sementara Qia larut dalam pikirannya yang tidak jelas. Dia belum mengenal sosok Rasya dan belum memahami apa tujuan mendekatinya. Apakah dia ingin berteman dengannya ataukah hanya sebatas menyapa dan menunjukkan kepedulian sebagai sesama umat karena dirinya yang di timpa cobaan.


"Ya Allah, Kak Habibah lupa memberikan minuman karena saking asyiknya mengobrol. Tunggu sebentar, ya!" ucap Habibah sembari menepuk dahinya pelan.


"Tidak usah repot-repot Kak," ucap Rasya menahan Habibah agar tetap menemani mereka mengobrol.


"Tidak repot, kok!" Usai berkata Habibah masuk ke dalam rumah ingin memberikan ruang untuk mereka berdua melanjutkan obrolan.


"Aku tidak mengerti, kenapa kamu sudah terlihat akrab dengan Kak Habibah terus kamu juga sepertinya sok akrab dengan saya," ucap Qia menetralisir kecanggungan yang mulai terasa lagi semenjak kepergian Habibah.


"Duh saya jadi malu. Maaf Kak Qia, jika sikap sok akrab ini membuat Kak Qia bingung. Tadinya saya pikir Kak Qia mengingat saya," jawab Rasya jujur. Dia mengusap tengkuknya sebagai cara mengalihkan rasa malunya.


Qia terdiam. Gadis itu melirik sekilas ke wajah Rasya dan berusaha mengingat apakah dia pernah bertemu dengannya di masa lalu.


Qia mengerutkan dahinya sedang berpikir dan merasa ingatannya sangat payah akhir-akhir ini. Apa karena penyakitnya membuat kerja otaknya mulai menurun dan melupakan wajah Rasya yang seharusnya familiar di ingatannya.


"Waktu itu kita bertemu pada acara keluarga di Hotel Ardiaz. Saya datang sebagai anggota keluarga Hasan. Saat itu Kak Qia di perkenalkan oleh Abang Keynand sebagai calon Isterinya. Mohon maaf, saya membahas ini," ucap Rasya dengan wajah merasa bersalah. Tidak seharusnya dia menyebut nama Keynand yang mungkin saja mengingatkannya dengan hubungan yang kandas itu.


"Tidak apa-apa. Saya yang minta maaf karena tidak mengingat kamu sama sekali. Entahlah apa yang terjadi dengan Otak ini."


Qia merasa bersalah. Dia berusaha mengingat Rasya, tapi hingga saat ini tidak ada sama sekali gambaran mereka pernah berkenalan lalu terlibat dalam obrolan. Dia memang mengingat acara keluarga itu. Di mana saat itu Keynand memperkenalkannya sebagai calon Isteri kepada seluruh anggota keluarganya yang hadir.


"Tidak masalah, wajar saja Kak Qia tidak mengingat saya, setelah perkenalan itu kita tidak pernah bertemu lagi," ucap Rasya menenangkan Qia agar tidak merasa bersalah karena ternyata tidak mengingatnya sama sekali. Mungkin saja ingatannya saat ini sedang payah.


Saat mereka asyik mengobrol. Habibah datang membawakan minuman dan juga Pisang goreng yang baru saja matang.


"Terima kasih," ucap Qia dan Rasya bersamaan.

__ADS_1


"Iya sama-sama. Kalian lanjutkan saja obrolannya Kak Bibah tinggal ke dalam." Habibah berpamitan dan kembali meninggalkan mereka berdua untuk melanjutkan pembicaraan.


"Jadi kamu sudah tahu hubungan aku sama Abang Keynand sudah kandas?" tanya Qia ingin tahu.


"Iya. Apa Kak Qia tidak ingin balas dendam?"


Qia terkejut dengan perkataan Rasya yang menurutnya sebuah provokasi.


"Untuk apa? Apakah dengan balas dendam akan bisa mengubahnya menjadi keadaan semula. Itu tidak mungkin terjadi, kan?" Jawab Qia merasa heran dengan Rasya yang dia kira Pemuda yang ikhlas. Namun pada kenyataannya dia orang yang pendendam.


"Iya memang tidak bisa. Saya kira Kak Qia akan balas dendam agar mereka merasakan bagaimana rasanya patah hati. Sebaiknya Kak Qia balas dendam saja agar Isteri Abang Keynand itu nyahok. Jujur saja saya tidak suka dengan Isteri Abang Keynand. Padahal belum pernah bertemu dengannya sama sekali."


Rasya mengatakan apa yang dia rasakan saat mengetahui kenyataan ini. Mendengar cerita Hamiz tentang Isteri dari Keynand, saat itu juga hatinya sulit menerima. Ada sesuatu yang menjanggal pada hatinya, entah itu apa? Seharusnya dia tidak peduli dengan kehidupan adik ipar kakaknya itu. Toh dia hanya sebatas ipar. Tapi karena Keynand sudah menjadi keluarganya tentu saja kepedulian itu menyentuh sanubarinya juga.


"Jadi kamu ingin aku balas dendam? Dengan cara apa? Apakah aku harus menjambak rambut Isterinya atau mematahkan pusaka Suaminya? Ah itu terlalu bar-bar. Yang ada aku yang kena akibatnya."


Qia berkata-berkata dengan berapi-api dan terlihat bersemangat. Sejujurnya dia merasa terpancing dengan provokasi yang dilancarkan oleh Rasya.


"Hahahaha."


"Kenapa kamu tertawa?"


"Saya senang melihat Kak Qia bersemangat. Berhubung Kak Qia sudah mulai bersemangat, saya pamit. Ini teh dan pisang gorengnya juga sudah habis jadinya waktunya saya pulang."


Rasya mengakhiri pembicaraan dengan meninggalkan rasa penasaran di hati Qia.


"Kamu modus ya Sya? Bilang saja kamu ke sini numpang makan," ucap Qia meledek Pemuda tanggung itu.


"Itu Kak Qia tahu. Oh ya jika ingin serius balas dendam, maka Kak Qia harus lakukan. Ada cara ampuh yang akan membuat balas dendam itu dipastikan membuahkan kebahagiaan."


"Emang ada?"


"Ada, nanti saya kasik tahu pada pertemuan selanjutnya," ucap Rasya dengan senyum indah di bibirnya. Dia lantas berpamitan sama Habibah, setelahnya baru Pemuda itu meninggalkan Qia yang masih asyik di tempatnya.


"Kenapa enggak di beritahu sekarang saja? Kenapa malah di tunda-tunda. Rasya sengaja mungkin agar aku penasaran. Ih Rasya nyebeliiiin," guman Qia kesal. Setelahnya dia tersenyum cerah. Ada kebahagiaan yang dirasakan dengan kehadiran Pemuda itu. Bukan hati yang dilanda jatuh cinta, tapi tepatnya mendapatkan teman yang tulus.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2