
***
"Mbak Enah enggak usah dengerin apa yang diucapkan Tante Jul. Kata orang ucapannya itu tidak bermutu, berkualitas dan berbobot jadi abaikan saja. Masuk dari Telinga kanan dan langsung keluar dari Telinga kiri hasilnya tidak menetap di pikiran," ucap Raski sembari memperagakan di masing-masing Telinga.
"Betul banget. Kok Dadek Raski pinter banget, sih?"
Enah mencubit Pipi temben itu dengan gemas. Terlihat lesung pipit pada pipi Raski tatkala dia tersenyum membuat siapapun yang melihatnya kian terpesona.
"Oh ya! Mbak Enah cantik kok dan Om Rasyid juga ganteng, Tante Jul saja yang matanya katarak. Tante Jul itu jelek menurut Raski cuman sok cantik dan merasa dirinya sangat cantik." Raski melanjutkan bicaranya. Bocah tampan itu mengeluarkan pendapatnya yang terdengar sangat rasional. Raski mendadak lancar berbicara saat mereka berdua saja dengan Baby Sitternya.
"Mbak Enah, kenapa Tante Jul yang menjadi Isteri Daddy? Raski enggak suka Tante jahat itu. Raski maunya Mama Qia yang menjadi Mama Raski," ucap Raski melanjutkan curahan hatinya.
"Mama Qia?"
Raski mengangguk mantap sejurus kemudian wajah itu berubah murung memperlihatkan kesedihannya.
Enah meraih tubuh mungil itu lalu membawanya dalam pelukan.
"Raski mau Mama Qia bukan Tante Jul. Raski kangen sama Mama Qia."
Raski kemudian menangis setelah mengungkapkan kerinduan kepada Gadis bernama Qia itu.
"Raski juga kangen sama Ibu, Ayah, Kak Renia, Adek Ayana, Kak Ari, Athaya, Ameera, Andreas."
Raski mengungkapkan rasa rindunya kepada orang-orang tersayangnya.
"Raski juga kangen Oma, Opa, Ninik Nine, Nine Mame, Papuk, Amaq Rari Hamiz, Amaq Rari Rasya."
Semua yang dikenalnya di sebut satu persatu dengan terbata karena bersamaan dengan suara tangisnya.
"Bagaimana kalau kita minta yang Raski sebut namanya berkumpul di rumah Kakak Renia, Dadek Raski mau, kan?" ucap Enah bersemangat. Tentu saja janji itu membuat mata Raski berbinar cerah. Senyum manisnya hadir begitu saja saat mendengar janji Sang pengasuhnya.
Tidak sulit bagi Reynand untuk meminta mereka hadir, apalagi memenuhi keinginan Raski yang sedang merindukan mereka semua. Pertemuan itu pasti akan terlaksana dengan baik. Enah akan melaporkan keinginan Raski kepada Reynand dan semoga saja bisa mengiikutsertakan Qia di hari spesial Raski nantinya. Harapnya.
***
"Mas ini Kopinya aku taruh di nakas ya! Jangan lupa di minum," ucap Julaekha dengan lembut. Tidak lupa dia menampilkan senyum manisnya. Kopi itu dia taruh di nakas yang ada di samping Ranjang.
__ADS_1
Keynand hanya mengangguk sebagai balasan kebaikan Julaekha yang capek membuatkannya segelas Kopi.
Tumben?. Itu yang ada dalam pikirannya.
Melihat Keynand yang tak bergerak menyentuh Kopi yang teronggok di Nakas, Julaekha berjalan menuju ke arahnya lalu mengambil Kopi tersebut.
"Ini Mas di minum dulu semumpung masih panas, nanti kalau sudah dingin rasanya tidak enak. Ini Enah yang buat, aku hanya membawanya saja." Julaekha berkata jujur sembari menyodorkan Kopi buatan Enah itu. Julaekha sengaja meminta Enah untuk membuat Kopi dan selanjutnya dia membubuhkan obat berbahaya itu. Tujuannya tidak lain agar dirinya tidak di curigai dan menjadi tersangka jika ternyata Keynand menyadari ada yang tidak beres dengan kandungan yang ada dalam Kopi itu. Selain itu juga Enah akan dia jadikan Tameng agar dia terbebas dari hukuman sehingga dia melenggang bebas menikmati hidup sebagai Nyonya Keynand Putra Ardiaz. Dia memang cerdas bukan?
Keynand menerima kemudian mulai memyeruput Kopi yang terasa masih panas itu berlahan-lahan.
"Rasa Kopinya enak. Tidak menyangka Enah bisa membuat Kopi seenak ini," batin Keynand. Dia sangat menikmati Kopi buatan Enah yang terasa pas di Lidahnya.
Julaekha tersenyum saat menyaksikan Keynand meneguk Kopi itu hingga tandas. Kini dia tinggal menunggu reaksi yang akan dialami oleh Suami tercintanya itu.
"Astaghfirullah. Kenapa kepala ini menjadi pusing begini? Perasaan tadi baik-baik saja." Keynand membatin. Dia melihat Julaekha yang sedang sibuk mengoles skin care di wajah seperti biasanya. Keynand tak menemukan sesuatu yang mencurigakan di sana.
"Apa mungkin Enah mencampurkan sesuatu pada Kopi yang di bawa Julaekha?"
"Jika benar? Tujuannya apa? Lagi pula dia terlihat baik dan tulus jadi mana mungkin akan mencelakakan saya."
"Apa mungkin Julaekha? Ya Tuhan kenapa kepala ini semakin terasa sakit."
"Kamu kenapa?" tanya Julaekha saat melihat raut wajah Keynand yang berusaha menahan kesakitan.
Julaekha memperlihatkan rasa khawatirnya kemudian mendekat ke arah Keynand.
"Kepala ini rasanya sakit," sahut Keynand sembari merebahkan diri.
"Aku pijetin."
Keynand tak menjawab. Dia lebih memilih memejamkan mata berharap rasa sakit di Kepalanya sedikit berkurang.
Julaekha mulai memberikan sentuhan di Kepala Keynand berupa pijetan lembut. Dia berharap pijetin itu akan mengurangi rasa sakit itu. Padahal dalam hatinya dia bersorak karena tidak menyangka reaksi obat itu secepat itu.
"Ya Tuhan, kenapa tubuh ini juga terasa kaku?" Batin Keynand mulai merasakan satu tangannya mulai tak memiliki rasa. Dia menggerakkan tapi terasa lemah seakan mati rasa.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
"Assalamu'alaikum. Daddy bantu Raski sebentar untuk mengerjakan tugas rumah."
Raski masuk sembari menarik lengan Keynand.
"Raskiiii, biarkan Daddy kamu istirahat jangan di ganggu," ucap Julaekha sedikit membentak.
"Sebentar saja Daddy."
Raski tidak memperdulikan Ibu tirinya. Dengan wajah memelas dia meminta Keynand untuk ikut ke kamarnya.
"Mbak Enah kemana?" tanya Keynand berusaha bangkit untuk mengikuti keinginan Putranya.
"Lebih baik kamu istirahat. Tadi kamu bilang Kepala kamu pusing," cegah Julaekha. Dia sengaja menahan Keynand agar bisa menikmati penderitaan Laki-laki yang menjadi Suaminya. Hatinya merasa bahagia melihat kesakitan di raut wajah Keynand yang berusaha di tahannya. Entah kenapa rasa kasihan itu tidak menjelma di hatinya, justru dia merasa terhibur dan itu yang diinginkannya. Dia ingin melihat Keynand lumpuh dan tak mengingat apapun sehingga mudah untuk mengendalikannya.
"Ayok Daddy."
Raski dengan sekuat tenaga menggeret Keynand. Sedangkan Keynand tidak mendengarkan perkataan Julaekha yang khawatir. Dia lebih memilih mengikuti anak satu-satunya itu.
Sesampainya di kamar, dengan cepat Raski mengunci Pintu.
"Pak Keynand tidak apa-apa? Minum ini?" ucap Enah yang ternyata sudah ada di kamar Raski. Baby Sitter itu menyodorkan segelas air berwarna bening dan terlihat seperti air mineral.
Keynand tidak langsung mengambil air itu. Dia menatap Enah dengan ragu. Ada kekhawatiran jika saja Enah berbuat sesuatu kepadanya. Ini saja dia merasakan tubuhnya tidak baik-baik saja setelah meminum Kopi yang dibuatnya.
"Pak Keynand, saya tidak akan meracuni anda," ucap Enah berbisik. Gadis itu berusaha meyakinkan Keynand agar tidak berprasangka buruk kepadanya.
Keynand menatap Enah lalu berpaling kepada Raski yang menampilkan senyum polosnya.
Mau tidak mau Keynand meraih gelas yang berisi cairan yang entah apa. Dia meyakinkan dirinya bahwa Baby Sitter itu tidak akan berbuat jahat kepadanya, apalagi Kepalanya terasa kian sakit sehingga butuh obat untuk meredakannya.
Keynand meminum apa yang diberikan Enah hingga tandas. Tidak lupa dia berdoa berharap cairan yang diminumnya sebagai penawar dari rasa sakit yang mendera Kepalanya.
"Apa yang kamu berikan pada Kopi yang saya minum Enah?" tanya Keynand dengan sorot mata tajam setelah menghabiskan cairan berwarna bening itu.
__ADS_1
Bersambung.