Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.7


__ADS_3

(Ka, lihat itu adik Ipar kamu, lebay banget)


Lika yang sedang mengurus Baby Ayana, fokusnya teralihkan menuju pesan yang di kirim seseorang.


"Ada apa? Lihat Handphone langsung geleng kepala habis itu senyum-senyum," tanya Reynand yang memperhatikan kelakuan Isterinya.


Lika tidak langsung menjawab. Dia memilih merebahkan Baby Ayana ke Boxnya. Setelah memastikan Baby Ayana nyaman dalam Boxnya, Wanita itu baru melangkah ke arah Suaminya. Dia menyodorkan pesan yang di sampaikan oleh seseorang dan melihat status Ipar baru mereka.


Hahahaha


Reynand tergelak. Tidak menyangka Isteri dari adiknya itu ternyata suka pamer.


"Apa mbak Julaekha menyindir kita yang sering mengajak Renia dan Raski berenang di Kolam dua ribu, ya?" tanya Lika. Mata sipitnya memandang Reynand dengan isyarat bertanya-tanya.


"Biarkan saja, yang terpenting kamu sudah pernah ke Belanja dan berfhoto ria di bawah Kincir angin meskipun harga masuk tiketnya cuma dua ribu. Murah meriah yang penting happy," jawab Reynand dengan santainya.


Hahahaha


Lika tertawa lebar mendengarkan candaan Suaminya.


"Mas, aku ingin juga berbulan madu," ucap Lika sembari menggoda Reynand dengan kerlingan mata dan senyum yang sangat sensual.


"Kamu mau berbulan madu di mana? Mas pasti akan kabulkan. Tapi jangan lebay seperti Isteri seorang Sultan ya? Bukan tandingan kamu. Isteri Mas ini jauh di atasnya."


Lika tersenyum bahagia mendengarkan jawaban Suaminya.


"Aku maunya berbulan madu dalam pelukan Mas saja terus merebahkan Kepala ini dalam dada bidang Mas. Di sanalah tempat ternyaman yang aku inginkan?" Lika tersipu malu dengan kata-katanya sendiri.


Wanita berpipi merah merona itu langsung menerima kecupan cinta pada bibir tipisnya.


"Bikin Mas klepek-klepek saja."


Reynand meraih tubuh mungil itu lalu menempatkannya dalam dekapan hangatnya.


"Lika, apa hari ini mas belum mengatakan aku cinta sama kamu?" tanya Reynand.


Lika mendongakkan wajahnya menatap manik berwarna hitam itu. Dia menggelengkan kepalanya, karena memang dia belum mendengarkan ungkapan cinta itu dari Sang Suami.


"Mas tidak lupa, hanya saja mengulur waktu."


Usai berkata Reynand mengecup bibir tipis Sang Isteri lebih dalam lagi.


"Aku cinta sama kamu Lika. Mari kita berbulan madu. Ini untukmu, sayang."

__ADS_1


Reynand memberikan sebuah Gelang bertahtakan berlian untuk Isterinya itu. Terlihat sangat cantik dengan desain unik yang di pastikan hanya satu-satunya itu.


"Habibi, cantik sekali?" Lika tak mampu berkata apa-apa lagi untuk menggambarkan kebahagiaan yang dirasakannya. Tidak romantis, tapi Suaminya itu selalu memberikan kejutan bahagia untuknya.


"Habibi, aku juga cinta," lanjutnya dengan sangat tulus.


Selanjutnya mereka berdua merenda kemesraan. Senyum Wanita dua anak itu semakin merekah saat Suaminya tak perdaya dalam kenikmatan yang mereka berdua rengkuh.


"Ah Lika, I love you."


Saat mereka tenggelam dalam balutan cinta, Handphone Lika berdering. Dia melihat nama yang menghubunginya adalah orang yang mengiriminya pesan.


"Mbak Alisa," jawab Lika saat Reynand bertanya.


"Iya udah angkat, gih!"


Lika kemudian mengangkat vidio call dari Kakak Perempuan Reynand itu.


(Kalian lagi ngapaen tuh? Siang-siang kok udah di atas Ranjang saja?)


Alisa langsung memberondong adik dan adik iparnya itu dengan pertanyaan. Dia melihat Lika dan Reynand hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Tentu saja membuat pikiran Wanita cantik itu berkiaran kemana-mana.


(Lagi Honeymoon, Kak. Masak iya Keynand dan Julaekha saja yang honeymoon, kita juga bisa, dong!)


(Gomong-ngomong mengenai Julaekha. Mbak sedikit tersentak kaget lo, Ka, Rey)


(Memangnya ada apa dengan Mbak Julaekha?)


(Ipar elu itu Rey, lebai banget. Masak saya di katain Wanita halu yang tak diinginkan oleh Keynand terus udah gitu di bilang Pelak*r yang gagal merampok Keynand darinya. Tidak habis di situ saja, eh mommy juga di katain Nenek genit yang suka daun muda. Terus gini dia bilang 'kamu ngiri ya? Karena enggak berhasil menjadi Isteri Sultan, kasian deh elu! Gagal deh menginjakkan kaki ke luar negeri. Eh bisa, sih! Tapi jadi TKW hahahaha. Oh ya jangan coba-coba deketin Suami aku kalau enggak berakhir mengenaskan)


Alisa menceritakan apa yang di tulis oleh Adik Iparnya saat dia mengomentari fhoto Adik iparnya itu. Terlihat wajah cantiknya menahan kekesalan sekaligus ketidak percayaan terhadap Wanita yang kini telah resmi menjadi anggota keluarga Ardiaz. Tidak di sangka keinginannya untuk mengenal lebih dekat lagi dengan Isteri adik bungsunya berakhir tidak mengenakkan.


Mendengarkan cerita yang begitu menggebu-gebu dari Alisa membuat Reynand dan Lika saling pandang kemudian terdengar suara tawa menggema di Telinga Alisa. Keduanya tidak bisa menahan tawa melihat raut wajah Alisa yang sangat memprihatinkan. Nampak lucu dalam pandangan mereka berdua, di tambah cerita Alisa yang mendapatkan serangan dari Adik Iparnya.


(Kok bisa Mbak Julaekha nulis gitu? Apa dia enggak tahu kalau mbak Alisa adalah kakak iparnya dan Mommy merupakan ibu mertuanya)


(Entahlah? Mungkin Keynand tidak menceritakan tentang orang tuanya dan Saudara yang lain kepada Wanita itu. Secara kita, kan enggak dateng waktu mereka nikah)


Mereka berdua membenarkan apa yang di sampaikan oleh Alisa. Orang tua dan Kakak Perempuan Keynand tidak datang menghadiri pernikahan Keynand yang mendadak. Tentu saja ketidak hadiran mereka membuat Isteri dari Keynand tidak mengenal keluarga dari Suaminya sendiri. Keynand juga sepertinya tidak berniat mengenalkan kedua orang tuanya kepada Julaekha dengan alasan yang entah apa.


(Mbak Julaekha kok seperti itu? Seharusnya bisa menjaga jarinya dari tulisan yang menyinggung perasaan orang lain. Apa dia tidak berpikir dulu apa dampak dari kelakuannya itu. Bisa saja tingkahnya membuat Keynand malu)


Lika menanggapi cerita Alisa dengan kalimat yang menyiratkan keheranan. Lalu menggelengkan Kepalanya untuk mengungkapkan ketidak percayaan.

__ADS_1


(Entahlah, Ka. Mbak juga syock membacanya. Maksud hati ingin mengakrabkan diri dengan Ipar baru, tapi malah berujung seperti ini. Seumur-umur baru kali ini di katain buruk, nyakitin banget!)


(Tumben murung, biasanya paling getol mengajak gue berantem. Kita berantem saja ayooook)


Reynand menyela curhatan hati Kakaknya yang terasa mulai tidak menyenangkan. Dia merasa membicarakan Isteri dari Adiknya itu tidak akan membuahkan hasil yang menyenangkan. Sebab itulah, Reynand mulai menganggu pembicaraan mereka berdua.


(Elu itu ya Rey, lagi kesel kok di ajak berantem, bukannya meredamkan atau memberikan kesejukan eh malah membuat tambah runyam)


Alisa mengomeli adiknya itu dengan di akhiri mencebikkan bibirnya. Dia menyoroti wajah Reynand dengan pandangan sinis.


Reynand kembali tertawa melihat kesewotan yang diperlihatkan Alisa dalam layar. Obrolan mereka berlanjut menjadi perdebatan antara kakak beradik itu. Sementara Lika hanya bisa memperdengarkan tawanya.


(Jadi elu menghubungi kami hanya untuk ghibah?)


(Iya enggak lah Rey, mbak itu curhat kali! habisnya adik ipar baru elu itu lo! Mungut di mana, sih? si Keynand itu?)


(Astaghfirullah, kok bilang gitu? Bagaimana pun juga Mbak Julaekha Isterinya Abang Keynand sekarang)


(Iya, ya, Astaghfirullah. Mbak keceplosan, Ka. Gara-gara Adik Ipar baru yang enggak punya akhlak itu, jadinya lidah ini mendadak pinginnya ngucapin kalimat bar-bar)


(Adik ipar elu tuh Rey, kok gitu?)


(Adik Ipar Mbak Alisa juga kali? Kok gue aja)


Obrolan mereka terus berlanjut dengan canda tawa dan perdebatan. Reynand meledek Kakaknya itu yang kalah saing dengan adik ipar barunya itu.


(Makanya, elu nikah sama Sultan biar bisa jalan-jalan ke luar negeri habisin duit Suami bukan malah sebagai Pengusaha yang melalang buana ke luar negeri untuk melakukan perjalanan bisnis. Contoh, dong Isteri Sultan)


Alisa kali ini tertawa mendengarkan ledekan Adiknya itu. Bukankah dia juga Isteri seorang Pengusaha yang hebat dan kaya raya. Dia juga sebagai Pengusaha Wanita yang tidak diragukan lagi kesuksesannya. Namun Alisa tidak pernah merasa dirinya sebagai seorang Sultan. Hidup keluarga Ardiaz memang terlihat bersahaja dan tidak suka memamerkan apa yang mereka miliki.


Obrolan mereka terhenti saat Baby Ayana terusik dengan tawa kedua orang tua dan Auntinya.


***


Sementara di sebuah tempat yang berbeda, terlihat seorang Gadis memandang aktivitas para Santriwati dari balik Jendela. Mata bulat besar itu tak mau beranjak dari objek yang di lihatnya. Sesekali dia tersenyum ikut larut dalam guyonan yang terdengar lucu di telinga.


"Bersyukurlah kalian di anugerahi kesehatan sehingga bisa menjalani hidup dengan sangat baik. Di berikan kesempatan untuk berbagi pengalaman dengan orang lain dan bercanda ria," ucap Gadis itu dengan lirih.


Hanya beberapa menit dia bertahan dalam duduknya, lalu dengan langkah lemah dia kembali ke Ranjang tempat dia menghabiskan hari-hari beberapa bulan terakhir ini.


Tubuh kurusnya dia rebahkan dengan hati-hati. Kemudian dengan suara pelan dia membaca ayat kursi yang sudah di hafalnya. Semakin lama suaranya semakin mengecil lalu tak terdengar sama sekali. Bibirnya berusaha mengucapkan ayat selanjutnya, namun bibir itu seakan merapatkan kiri. Dengan sekuat tenaga Gadis itu berusaha untuk membaca ayat-ayat Al-Mu'awwidzatain meskipun bibir itu tak bergerak sama sekali. Gadis itu terus berjuang menyelesaikan bacaan Al-Qur'annya yang pada akhirnya hanya bisa terucap dalam hati.


Tubuhnya mulai melemah bersamaan dengan kedua tangan dan kakinya mulai bergerak-gerak. Awalnya bergerak perlahan lama kelamaan semakin bergerak cepat seakan memberontak untuk melawan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang di baca oleh Pemilik tubuh itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2