Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
Chapter 6


__ADS_3

Habibah Rosy, mematikan Laptop kemudian menyimpannya pada Tas Punggung. Dia melangkah meninggalkan kamar menuju Dapur. Dia mengambil satu centong beras, membersihkan lalu memasukkan pada Panci kemudian mulai menanak Nasi. Dia meninggalkan Dapur untuk melanjutkan pekerjaan yang lain.


Gadis itu melangkah keluar menuju teras rumahnya. Dia menghirup udara sepuas-puasnya sembari memejamkan mata. Tentu udara pagi sangat baik untuk Paru-paru. Saat ini Udaranya masih segar belum bercampur dengan polusi lainnya.


"Alhamdulillah, segarnya. Terima kasih atas segala nikmat yang telah Allah berikan kepada hamba," ucapnya penuh syukur. Dia tersenyum menyambut Subuh dan suara Ayam berkokok membuatnya terhibur. Kini Gadis itu melangkah ke arah Kebun Kangkungnya. Dia mulai memetik Kangkung untuk di jual pagi ini. Gadis itu dengan cekatan memetik Batang-batang Kangkung itu lalu mengikatnya dengan tali yang terbuat dari Bambu. Dia tidak peduli dinginnya air yang menjalari Tubuhnya. Terpenting bagi Habibah, Kangkung-kangkung itu harus selesai dipetik sebelum Matahari terbit.


Jika di Daerah lain Kangkung di tanam pada Tanah sedangkan disini Kangkung ditanam pada tanah yang di aliri air, seperti Ocong gondok.


Tengah asyik memetik Kangkung, terdengar suara orang memenggil nama Gadis itu. Wanita itu berjalan menghampiri Habibah dari Pematang sawah.


"Habibah, Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakaatuh." Habibah membalas salam. Dia menghentikan sejenak aktivitasnya untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan Wanita Paruh Baya itu.


"Sudah Bibah?" tanya Wanita itu mulai menghitung Kangkung yang sudah di ikat.


"Sepertinya sudah Inaq Kake. Coba Inaq Kake hitung, saya juga sebentar lagi selesai memetik Kangkung ini," jawab Habibah. Dia kembali melanjutkan memetik Kangkung sisanya.


Wanita Paruh Baya itu mulai menghitung. Setelah cukup jumlahnya dengan yang diminta. Dia menata Kangkung-kangkung tersebut pada Tas terbuat dari Ketak.


"Sudah ya Bibah, 20 ikat. Saya mau jualan dulu," pamit Wanita Paruh Baya itu meninggalkan Habibah yang sedang menyelesaikan kegiatannya. Gadis itu mengangguk sebagai tanggapan akan kepergian Wanita itu.


Beberapa menit kemudian, Habibah sudah selesai memetik Kangkungnya. Dia keluar dari Sawah yang terisi air ukuran sebetis lalu bergerak dengan cepat mengumpulkan Kangkung-kangkung itu.


"Akhirnya sudah selesai. Saatnya berjualan, semangat Bibah," ucap Habibah mengepal tangan untuk menyemangati diri sendiri. Dia berjalan ke arah rumah untuk mengganti pakaiannya yang basah. Selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian, Habibah memikul beban berat Kangkung itu pada Kepalanya. Dia menelusuri Pematang Sawah menuju Pemukiman Penduduk yang tidak terlalu jauh dari Rumahnya.


Rumah Habibah, jaraknya beberapa meter dari Pemukiman Penduduk. Sawahnya berada di pinggiran Hutan dan di tepi Hutan ada Mata Air berupa Danau kecil dan Penduduk sana menyebutnya Gumbang. Di tengah persawahan itu Rumah Habibah dibangun sehingga terpisah dari Pemukiman Penduduk.


Beberapa menit berjalan, pada akhirnya Habibah sampai di Pemukiman penduduk. Gadis itu mulai berteriak untuk menawarkan dagangannya.


"Kangkungnya Ibu-ibu." Habibah berteriak. Dia menghampiri tempat Ibu-ibu yang sedang berkumpul. Mereka berkumpul disana untuk menunggu Penjual Ikan yang biasa berkeliling menghampiri Rumah penduduk.


"Bibah sini, saya mau Kangkung. Saya mau buat Pelecing," pinta seorang Ibu-Ibu memanggil Habibah yang masih berjalan menuju tempat para Emak berkumpul.


Setelah sampai Habibah menurunkan Bakul yang berisi Kangkung itu dari Kepalanya.


"Silahkan Ibu-ibu, baru dipetik ini. Masih segar dan muda-muda," ucap Habibah memuji dagangannya. Dia tersenyum cerah menebarkan keramahan di sekitarnya.


"Iya, seperti wajah Mbak Habibah yang selalu segar meskipun berkulit hitam manis. Rahasianya apa sih?" sahut seorang Ibu menanggapi ocehan Gadis berkulit cokelat itu.


"Ibu bisa saja, enggak ada rahasia kok. Cukup dengan berpikiran positif saja," jawab Habibah dengan senyum yang terus mengembang.


"Masak sih? wajah mbak Habibah bersih banget. Padahal tiap hari tersengat Matahari dan bersentuhan dengan tanah. Tapi kok tetap bersih terawat." Ibu itu tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Habibah.


"Alhamdulillah, terima kasih Ibu. Jadi mau ambil berapa ikat?" tanya Habibah menyelesaikan obrolan yang akan memperlama dia disana. Belum saatnya berbasi-basi karena waktu yang memintanya untuk tak menyempatkan diri bercengkerama dengan Para Emak.


"Dua Ikat saja," ucap Ibu tadi.

__ADS_1


"Saya satu ikat ya!" ucap Seorang Ibu berbadan Montok.


"Mbak Bibah, boleh Lima ribu dapatnya tiga ya?" ucap seorang Ibu berbadan kurus.


"Boleh Ibu, silahkan," sahut Habibah.


"Kalau begitu saya juga mau, Lima ribu di kasih tiga Ikat ya?" pinta Ibu pertama.


"Boleh," sahut Habibah singkat. Setelah mereka selesai memilih dan memberikan Bayaran. Habibah melanjutkan perjalanannya untuk berjualan.


"Kangkung, Kangkung, Kangkung." Habibah berteriak kembali untuk menawarkan Kangkungnya.


Saat melewati kumpulan Bapak-Bapak, Habibah lantas menyapa sebagai bentuk kesopanan.


"Tabek, permisi Bapak-bapak saya numpang lewat."


"Eh ada mbak Habibah, Ngopi yuk!" sahut seorang Bapak.


"Terima kasih Pak," sahut Habibah ramah.


"Habibah, ada salam dari Adrian. Apa boleh dia Midang ke rumah kamu katanya?" ucap Seorang Bapak. Dia seakan menjadi juru bicara dari Pemuda yang ada di sampingnya. Mungkin saja itu inisiatif darinya untuk menjodohkan Pemuda yang bernama Adrian itu.


Habibah mengarahkan pandangan ke arah Adrian yang terdiam saja. Lelaki itu terlihat sekali ingin protes namun sepertinya tertahan oleh lirikan mata dari Bapak itu.


"Waalaikumussalam. Saya permisi dulu." Habibah tidak menjawab lebih lanjut. Dia enggan untuk meladeni siapapun jika itu sudah menjurus ke ranah pribadi dan hati. Habibah tidak ingin Lelaki mendekatinya apalagi hanya sekedar berbasa-basi dan bermain-main. Dia tidak ingin membuang waktu dan kembali seperti masa lalunya.


"Rupanya Habibah menolakmu Adrian," sahut Bapak itu menepuk bahunya pelan.


"Jangan berkata seperti itu, nanti kamu seperti yang di Tipi, Tipi itu, cinta banget sama Habibah. Itu ada istilahnya, orang-orang suka menyebutnya. Apaan sih, lupa?" ucap seorang Bapak yang menyapa Habibah tadi. Dia mencoba mengingat perkataan Kids zaman now yang sering di dengarnya.


"Apaan sih, ngomong yang jelas?" tanya temannya menunggu Bapak itu yang sedang berpikir.


"Bucin, iya itu Bucin tapi Bucin itu apa sih Nak Adrian?" tanya Bapak itu kepada Adrian.


Bujang berwajah lumayan tampan itu terkekeh melihat kelakuan dan pertanyaan Bapak tadi.


"Bucin itu Budak cinta, Pak," sahut Adrian kemudian.


"Nah itu, kamu bakalan bucin tingkat Pohon kelapa itu," sahut Bapak tadi sembari menunjuk Kelapa di hadapannya yang menjulang tinggi.


"Enggaklah, Habibah itu bukan Gadis idaman saya. Lagipula dia tidak selevel dengan saya. Saya Sarjana, lulusan dari Perguruan Tinggi Negeri terbaik di Daerah ini terus saya juga Guru Negeri jadi wajar dong mencari Gadis seperti Santi." Adrian berkata dengan menekan kalimatnya.


"Jangan sombong dan merendahkan orang lain. Kamu belum tahu siapa Habibah. Dia Gadis ulet, pantang menyerah dan pinter nyari Kepeng. Habibah itu enggak jelek kok, orangnya manis. Terpenting dia itu orangnya baik dan soleha. Mau cari seperti apalagi? sudah paket komplit itu." Bapak yang lain ikut berbicara.


"Cantik dari mana coba? Sedotan pun tak mengakui," sahut Adrian sinis.


"Sudah ah, saya mau melanjutkan pekerjaan. Terima kasih Kopinya. Dan Habibah untuk Bapak-Bapak saja, siapa tahu dia mau jadi Isteri kedua. Terpaksa enggak ada yang mau sama dia. Dari pada nantinya jadi Tedare mosot (Gadis Tua)." Adrian mengolok Habibah. Dia sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Gadis itu. Gadis itu berada tidak jauh dari Berugak tempat Para Bapak-bapak itu berkumpul.

__ADS_1


Habibah tersenyum getir menanggapi ucapan Adrian. Dia menyembunyikan kekesalan dan juga kesedihan. Adrian ternyata sama saja dengan Rizqy. Memandang rendah dirinya yang tak cantik. Apakah di mata para Lelaki cantik itu berkulit putih? Berpakaian minim dan bergaul bebas?.


"Apa salahku jika aku menutup aurat dan apakah dosa jika aku tidak terlibat dalam pergaulan bebas." Kata hati Habibah.


"Habibah, kamu itu kampungan banget sih? mana ada pacaran tidak ngapain-ngapain. Ciuman itu biasa kali, kamunya saja terlalu lebay. Dimana-mana Cowok itu pasti akan minta begituan juga. Sekarang itu pergaulannya seperti itu, iya gitu sedap-sedap betul." Kalimat panjang itu terlontar dari salah satu temannya yang terjun bebas ke jurang dan kepalang tanggung untuk menghindar. Gadis itu tidak mampu mengendalikan nafsu, alhasil pergaulan itupun dijadikan hal lumrah.


"Astaghfirullah, apakah kesucian itu sangatlah murah bahkan di gratiskan. Sungguh miris, jika ternyata kesucian diri sudah tak dianggap bernilai dan berharga." Habibah membatin dalam keperihan hatinya.


Bukankah dia sedikit ternoda. Kesucian bibirnya sudah terampas oleh Lelaki bernama Lalu Rizqy Anggara. Cinta pertama dan cinta itu dia pendam hingga membuatnya melarikan diri menjauh dari Lelaki itu.


Sekarang apa salahnya menolak seorang Lelaki. Dia masih ketakutan dan belum siap untuk memulai kembali.


Adrian, Lelaki itu pernah menjadi teman bermain di masa kanak-kanak. Mereka berdua sepasang Sahabat yang tak terpisahkan. Disana ada Oci disana juga ada Adrian. Adrian seakan menempelkan diri di sisi Oci. Kini Adrian sudah dewasa dan kembali ke Desa untuk mengabdikan diri sebagai Pendidik generasi penerus.


"Kak Oci, Adri nanti kalau sudah besar mau jadi Guru saja. Adri pingin teman-teman pinter semua. Bisa baca, bisa nulis dan bisa ngaji."


Gadis kecil yang umurnya lebih tua tiga tahun dari bocah Lelaki hanya mengangguk. Dia memberikan dukungan untuk cita-cita Sahabatnya. Matanya berbinar-binar saking bahagia dengan mimpi seorang Bocah bernama Adrian Rafeeq.


Habibah menghirup udara untuk melegakan sesaknya. Dia tersadar saat seorang Ibu menegurnya. Dan mendengarkan ocehan para Emak.


"Itu Adrian, kan? tampan sekali ya? saya dengar dia sudah menjadi Guru Negeri dan baru saja lulus CPNS. Dia di tempatkan pada Madrasah Tsanawiyah. Dia baru kembali beberapa hari yang lalu," ucap seorang Ibu bercerita.


"Dia bisa jadi kandidat calon Menantu nih?" sahut seorang Ibu berkhayal.


"Ngimpi, dalam mimpi pun anak kamu enggak layak. Habibah saja ditolak sama Adrian. Nah anak Gadis kamu apa khabarnya?" ucap seorang Ibu berkomentar.


"Adrian itu akan menjadi calonnya Santi. Apa kalian dengar tadi kalau Adrian itu suka sama Santi, si Kembang Desa," sahut Ibu Lia. Dia merupakan Bibi dari Gadis bernama Santi itu. Tentu saja merasa bangga karena Pemuda terbaik di Desa ini menaruh hati pada Kembang Desa itu.


"Adrian rupanya asal nyebut. Enggak mungkin juga suka sama Santi yang pemalas itu. Cantik sih iya tapi bisanya hanya tebar pesona. Rugi Emaknya si Adrian."


Komentar-komentar para Emak kian memanas. Mereka saling sahut menyahut tak ada yang mau kalah dengan pendapatnya masing-masing. Habibah yang berada di antara mereka hanya bisa geleng Kepala dan menggaruk tengkuknya bingung. Dia sudah berusaha menenangkan mereka. Mau kabur pun bukan solusi yang baik. Bagaimana dengan bayaran mereka? Habibah berada di ambang kerugian.


"Ibu-Ibu tenangkan diri kalian. Percuma juga gosipin Adrian. Adrian sudah kabur itu, dia enggak denger," ucap Habibah mengingatkan mereka kembali.


"Ibu-ibu enggak pada masak? nanti perutnya pada demo lo!" lanjut Habibah.


"Benar juga, kalau gitu kita masak saja yuk!" ajak seorang Ibu. Dia bangun dari duduk hendak meninggalkan tongkrongan para Emak.


"Ibu-ibu, bayarannya mana? Kangkung udah tapi uangnya kok belum," ucap Habibah menahan para Ibu yang hendak kabur.


"Eh lupa."


Setelah transaksi belanja selesai, Habibah melanjutkan perjalanan karena Kangkungnya tinggal beberapa ikat lagi.


Hari sudah menjelang siang, Habibah kembali ke rumahnya. Dia menelusuri jalanan menuju Rumahnya. Saat baru sampai Danau Gumbang, Habibah melihat Adrian berdiri memandang sebatang pohon yang tumbuh di pinggiran Danau. Dia ingat, dulu mereka berdua sering menaiki Pohon itu lalu loncat dari atas dahannya menyemburkan diri ke danau untuk berenang.


"Adri, kamu masih ingat Pohon ini?" tanya Habibah dalam hati. Sejurus kemudian pandangan mereka bertemu. Adrian dengan cepat memutuskan pandangan itu dan berlalu begitu saja meninggalkan tepi Danau.

__ADS_1


"Rupanya kamu tidak ingat aku Adri. Aku Oci, Kakak Oci," ucap Habibah lirih hampir tak terdengar.


Bersambung.


__ADS_2