Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
112


__ADS_3

Keynand melirik Rizqy yang tengah asyik dengan Laptopnya. Entah apa yang sedang dikerjakan oleh Lelaki itu. Saat ini mereka ada di Berugak sedang menikmati sunyinya malam.


Sebenarnya Keynand ingin berbicara banyak dengan Rizqia, sehingga dia meminta Gadis itu untuk menemuinya.


Di sinilah Keynand dan Rizqia berada dalam keheningan tanpa adanya pembicaraan. Sesekali mereka saling tatap dan berbicara melalui isyarat yang di pastikan tak akurat.


Keynand menarik nafas panjang. Ada rasa sebal dalam hatinya karena Rizqy tak kunjung beranjak pergi. Kehadirannya tentu saja membuatnya tak leluasa berbicara dengan Gadis pujaan hatinya.


Padahal malam ini adalah kesempatan terakhirnya berbicara dengan Rizqia sebelum kembali ke Selatan esok harinya.


"Kenapa? sepertinya kamu tidak suka saya berada di sini?"


Rizqy menyadari ketidak nyamanan yang dirasakan oleh Keynand. Namun dia tidak memperdulikan hal itu.


"Sudah mengerti kenapa bertanya lagi. Haruskah saya menjawab iya dan meminta kamu meninggalkan kami berdua."


Keynand menumpahkan kekesalannya dengan menanggapi pertanyaan Lelaki di hadapannya. Bukannya mengerti Rizqy masih bertahan dengan duduk bersilanya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan Qia, iya bicarakan saja saya tidak akan mengganggu," sahut Rizqy dengan diakhiri dengan senyum mengejeknya.


"Tidak mengganggu apaan? Dengan adanya kamu di tengah-tengah kita itu namanya mengganggu. Coba saja kalau Lelaki ini bukan Kakaknya Qia sudah dari tadi saya karungin." Keynand menggerutu dalam hati.


Sementara Rizqia hanya tersenyum saja menanggapi perdebatan mereka berdua.


"Kamu mengomeli saya, Keynand?" Rizqy bertanya sembari menatap tajam bola mata Keynand yang menyimpan kekesalan.


"Kapan saya mengomeli anda?sepatah kata pun saya tidak berbicara dari tadi. Tanya saja pada Qia. Dia yang menjadi saksi," sahut Keynand kesal.


Lagi-lagi Keynand melihat senyum tipis yang amat sangat membuatnya tambah kesal. Senyun yang ditunjukkan Rizqy bukanlah senyum ramah yang membuat orang senang melainkan senyuman mengejek.


"Memang iya kamu tidak mengatakannya, tapi raut wajah kamu seakan mengatakan bahwa kamu mengomeli saya dalam hati. Mengaku saja Keynand."


Keynand malas menanggapi. Percuma saja dia berdebat dengan Rizqy karena tidak akan ada hasilnya. Lelaki itu akan tetap diam ditempat. Tentu saja keberadaannya untuk mengawasi mereka berdua.


"Sebenarnya siapa yang tokoh di sini saya atau Rizqy? Kenapa Pria ini selalu berhasil membuat saya mengalah dan menerima segala keputusannya. Okay, boleh saja mengalah dalam debat, tapi saya tidak mau mengalah tentang Qia. Saya pasti akan berhasil mendapatkan hati dan restu kamu, Rizqy." Keynand membatin.

__ADS_1


"Bicara saja, saya tidak akan mendengar tapi hanya melihat apa yang akan kalian lakukan nantinya, tanpa sadar" ucap Rizqy menerangkan. Dia meraih Headset lalu menaruh di kedua telinga.


Keynand pasrah. Memang seperti ini aturan yang ada di Daerah ini. Bagi mereka yang masih menjaga adat dan berpegang teguh pada ajaran agama yang dianutnya. Seorang Lelaki yang berkunjung ke rumah pacar atau Gadis yang di taksir, maka Sang Gadis akan ditemani oleh keluarganya. Tidak dibiarkan mereka duduk berdua karena bisa saja terjadi sesuatu yang tidak inginkan.


Keynand tahu itu, tapi sekarang ia ingin hanya mereka berdua saja tanpa ada orang lain yang menemani.


"Melong, Kakak kamu ternyata posesif juga ya? Kayak saya mau apa-apain kamu saja." Keynand mengawali pembicaraan dengan mengeluh sikap posesif Rizqy.


"Tidak apa-apa Bang, saya malah nyaman dengan adanya Kak Rizqy di sini. Apalagi iman kita pasang surut, bisa saja kita terbawa suasana sehingga melakukan sesuatu yang belum boleh kita lakukan," ucap Rizqia dengan lembut. Dia menunduk tidak berhak dia memandang Keynand selekat mungkin. Meskipun dia ingin sekali memandang wajah rupawan Keynand lebih lama lagi. Namun buru-buru ditepis keinginan itu, karena bisa saja ketampanannya akan menimbulkan hasrat. Itu bahaya bagi dirinya. Rizqia ingin menjaga hatinya agar tidak terkotori oleh pikiran yang mengarah ke arah sana.


Saat ini saja dia tidak berhasil mendamaikan Jantungnya yang bertalu-talu dan berdebar-debar di dadanya.


Keynand menggangguk mengerti. Ditatapnya wajah Rizqia yang menunduk. Malu, itulah yang tersirat dari wajahnya yang kemerah-merahan.


"Gadis ini kini berhasil mendebarkan hati ini," guman Keynand lirih.


"Melong," panggil Keynand menggunakan nama panggilan kesayangan yang telah mereka sepakati.


Rizqia mendongakkan wajahnya sekilas lalu kembali menunduk.


Terasa sangat romantis dan mengundang kemesraan. Meskipun mereka tidak saling bersentuhan dan tidak ada rayuan dan gombalan terucap. Tapi rasanya sungguh berbeda dan Keynand tidak mampu mengurai apa yang dirasakannya melalui kata-kata.


"Kenapa kamu memanggil Abang, Bodak?" tanya Keynand penasaran. Dia hendak mendekat untuk merapatkan jarak. Baru saja mendekat terdengar suara lantang dari Rizqy dengan sorot mata tajamnya.


"Keynand, lebarkan jarak kamu. Apa kamu budeg sehingga ingin memepet ke arah tubuh Qia. Tak akan saya biarkan itu terjadi."


"Ya Allah, posesif banget. Ingin rasanya saya karung Om tua ini biar enggak gangguin terus." Keynand menggerutu. Nasibnya memang apes karena tidak berhasil mendekat dan menikmati wangi yang menguar dari tubuh Gadis berwajah Mawar di hadapannya. Apalagi melihat senyum manis itu secara lebih dekat lagi.


"Kamu merutuk saya lagi, Keynand? Meskipun tak mendengar apa yang kamu ucapkan tapi dari gerak bibir kamu saya tahu kalau kamu berkata buruk untuk saya. Saya harap perkataan burukmu itu tidak menjadikanmu kualat."


Keynand tak menjawab, lagi-lagi dia terjebak di dalam ketidak berdayaan. Kali ini Keynand tidak bisa membela diri karena memang dia yang salah. Lalu Keynand memukul pelan bibirnya, kemudian meminta maaf kepada Rizqy. Dari pada tidak kunjung mendapatkan restu lebih baik mengalah dan mengaku bersalah.


"Ampure Kak Rizqy, bibir saya sedang kesal jadi tidak terkontrol. Harap maklum saja lah!"


Rizqia tertawa kecil mendengarkan perkataan Keynand yang aneh. Sedangkan Rizqy tak mengubris Lelaki itu. Dia memilih melanjutkan pekerjaannya setelah memastikan Keynand membentangkan jarak.

__ADS_1


Huft


Keynand menarik nafas panjang. Dia lega, ternyata Rizqy tak mencuri dengar pembicaraannya. Lelaki itu benar-benar menepati janjinya. Rizqy hanya mengawasi untuk memastikan bahwa dirinya tidak berbuat macam-macam apalagi mencoba mencuri kesempatan untuk menyentuh Adik kesayangannya itu.


"jadi, Bodak maksudnya apa? Kenapa kamu memanggil Abang dengan panggilan itu" tanya Keynand. Dia tidak bisa memendung rasa ingin tahunya. Kini dia serius berbicara dengan Rizqia dan menganggap Rizqy makhluk tak kasat mata. Itu caranya agar membuatnya merasa nyaman dan leluasa untuk mengatakan apapun yang ingin dikatakannya kepada Gadis berparas mawar itu.


Rizqia mendongakkan wajahnya sekilas untuk melihat dua bola mata berwarna cokelat itu sebelum menjawab. Setelah melihat rasa penasaran pada kedua bola mata itu, Rizqia kembali menundukkan wajah dengan senyum manis tersungging di bibir.


Keynand benar-benar gemas, ingin rasanya mencubit kedua pipi mulus itu. Jika tak ingat sorot mata tajam Rizqy, dipastikan sudah dia lakukan. Tangannya dikendalikan sekuat mungkin agar tak terulur menyentuh pipi pualam itu.


"Begini, di Lomboq ini ada yang memiliki Ras yang sangat mirip dengan orang Eropa. Mereka memiliki kulit putih, bukan kulit putih pada umumnya tapi kulit putihnya yang sangat khas terus rambut dan bulu-bulu halusnya berwarna Pirang dengan bermata cokelat terang. Mereka itu bukan keturunan orang-orang barat sana tapi asli dari suku sasak, hanya saja mereka berbeda. Dalam keluarganya hanya salah satu yang memiliki Gen seperti itu sementara yang lainnya sama seperti ras suku Sasak pada umumnya. Jadi mereka itu di sebut Bodak. Mereka seperti Bule tapi bukan Bule."


Keynand mangut-mangut setelah mendengarkan penjelasan Rizqia. Dia terdiam sesaat seperti tengah memikirkan sesuatu. Hal itu membuat Rizqia ikut terdiam tak melanjutkan kata-kata.


"Tapi saya bukan Bodak, saya keturunan Turki, Inggris dan Betawi. Nama itu tidak tepat untuk saya, jadi harus di ganti. Bagaimana kalau di ganti dengan panggilan Habibi."


Keynand terdiam sejenak mencerna perkataannya sendiri. Dia terlihat serius berpikir terbukti dari keningnya yang mengkerut.


"Jangan Habibi, karena Lika sudah menggunakan nama itu untuk memanggil Abang Reynand," lanjutnya dengan mimik serius. Ucapan Keynand itu membuat Rizqia terkejut karena tiba-tiba saja bersuara. Gadis itu menggelengkan Kepala melihat Keynand yang serius.


"Sebuah nama saja membuat Keynand pusing tujuh keliling. Apa salahnya memanggilnya Bodak?" Batinnya.


"Kalau panggil Hubby terlalu banyak yang menggunakannya. Begitu juga dengan panggilan dear." Keynand berguman.


"Bodak saja, lagi pula kita belum ada hubungan apa-apa. Yang ada kita hanya berteman. Terus nama-nama kesayangan yang Abang sebutkan tadi lebih tepat digunakan oleh pasangan Suami Isteri," ucap Rizqia lirih membuat Keynand terkesiap. Lelaki itu membenarkan perkataan Gadis berwajah mawar ini. Dia belum mengikat Rizqia, tapi malah sibuk memikirkan nama panggilan kesayangan.


"Kamu benar Melong, maaf." Keynand berguman lirih. Usai berkata dia menarik nafasnya. Entah apa yang dipikirkannya sehingga antusias mencari nama kesayangan yang tepat untuk mereka berdua.


"Qia, Abang datang ke sini untuk meminta maaf atas kesalahan yang pernah Abang lakukan. Abang menghina kamu dan mempermalukan kamu. Sungguh besar kesalahan diri ini yang telah melukai hati kamu, kehormatan kamu sebagai seorang Gadis dan merendahkan harga diri kamu. Saya sungguh-sungguh minta maaf dan saya berharap kamu memaafkan saya."


Selanjutnya Keynand berbicara serius. Ia mengungkapkan segala penyesalannya. Dalam hati dia berjanji akan meminta maaf setiap hari, meskipun Rizqia bosan dengan perkataan itu.


Keynand menatap Rizqia yang membisu. Hanya helaan nafas yang terdengar. Rizqia menyembunyikan ekspresinya di balik wajahnya yang tertunduk.


"Qia, Abang minta maaf dan maafkan Abang."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2