
"Siapa Gadis itu?"
Keynand bertanya kepada diri sendiri. Dia melihat Gadis itu berjalan dengan langkah cepat keluar dari lorong panjang menuju Lift.
Keynand tersenyum sambil menggelengkan Kepalanya.
"Dady, eleng-eleng napa?" tanya Raski yang bergelayut di Sampingnya. Wajahnya mendongak memperhatikan Keynand.
Duda tampan itu tersadar, dia tak sendiri melainkan bersama Putranya.
"Tidak ada sayang, ayok naik di punggung Daddy."
Keynand membungkuk agar Raski dengan mudah naik di punggungnya. Raski mengikuti arahan Keynand lalu anak kecil itu bergelantungan pada punggung Keynand. Tangannya dia lingkarkan pada leher tempat dia berpegangan.
"Berat juga ternyata, Dadek dikasik makan apa sama Ibu?"
"Maem ikan, oyok, ayur," jawab Raski diakhiri kekehan.
Keynand tertawa mendengarkan cerita dari Raski. Dia sangat menikmati kebersamaannya. Keynand terus saja melangkah, saat berpapasan dengan Pegawainya maka Pegawainya akan menyapa dan memberi salam.
Tak ada satupun yang tak memuji ketampanan Raski Putra dari Direkturnya itu.
"Duh tampan sekali."
"Gemas, pingin cubit."
Ada sebagian dari mereka mencubit Pipi Raski dengan gemas. Raski, anak kecil itu menanggapi dengan cengiran khasnya.
Keynand tak memberikan jarak antara Putranya dengan semua Pegawainya. Dia membiarkan Putranya itu bergaul dengan siapapun dari kalangan manapun asalkan mereka baik. Renia dan Raski dikenal hampir semua Pegawai Hotel Ardiaz. Kedua anak Pengusaha kaya itu tak terlihat seperti anak Sultan. Sangat biasa.
"Akhirnya sampai juga," ucap Keynand.
Dia menundukkan Raski pada sebuah Kursi. Kemudian Keynand mendudukkan diri di samping Putranya.
"Abang disini juga? hallo Raski, Assalamu'alaikum." Rizqy menyapa.
"Amiq Ayi." Raski menjawab sembari memamerkan senyum indahnya.
"Ki, kamu disini juga? bukannya kamu masih merawat mbak Lika, ya?" tanya Keynand begitu mengetahui orang yang menyapanya adalah Rizqy.
Tadi pagi selesai sarapan dia langsung berpamitan untuk mengajak Raski jalan-jalan. Sementara Renia tak ikut karena masih bersekolah.
Riski tidak langsung menjawab, Bujang itu terlebih dahulu mendudukkan diri.
"Kak Lika sudah mendingan, infusnya sudah dilepas. Lagipula ada Abang Reynand yang menjaga. Saya kesini ada Seminar," jawab Riski kemudian.
"Oooh gitu."
Keynand dan Riski memesan minuman dan beberapa snack untuk menemani mereka mengobrol. Setelah itu mereka kembali tenggelam dalam obrolan sembari menunggu pesanannya.
"Seminar apa Ki?"
"Biasa, hasil riset dari seorang Profesor," sahut Riski datar.
"Abang, seperti janji saya semalam, hari ini saya berniat untuk menepatinya," lanjut Riski.
"Janji apa?" Reynand bertanya sembari berusaha mengingat. Dia merasa Riski tidak pernah mengucapkan janji kepada dirinya.
"Aduh, ternyata sudah pikun. Cape deh!" ucap Riski lalu menepuk jidatnya pelan.
"Janji apa? buruan ngomongnya jangan berkelok-kelok seharusnya kayak jalan Bay pass."
Riski tertawa menanggapi berkataan yang ternyata panjang juga.
"Abang juga sih, bertanyanya ndak bisa singkat, padat dan jelas. Eh ternyata ada ekornya, panjang lagi."
"Buruaaan!"
"Hahahaha."
Riski kembali tertawa menyaksikan raut kesal yang dimamerkan oleh Duda itu.
"Gini Bang, semalam saya janji mau kenalin Abang sama seorang Gadis. Nah kebetulan salah satu Gadis yang ingin saya kenalin itu ada disini. Dia sedang ikut seminar, seorang Dosen. Abang mau enggak?" Riski menjelaskan panjang lembar sekaligus bertanya.
"Boleh tapi hanya sebagai teman ya? kalau selebihnya saya tidak terburu-buru memberikan harapan," sahut Keynand serius.
"Okay, yang terpenting kenalan saja dulu."
Dret dret dret
"Panjang umur dia."
Riski segera mengangkat panggilan tak ingin membiarkan orang yang menghubunginya menunggu.
(Riski, Plash disk saya masih ada sama kamu, kan?)
(Iya, maaf saya belum sempat kembaliin. Semalam Kakak saya sakit jadinya merawat dia dulu. Maaf ya mbak)
(Kamu tuh ya? enggak bertanggung jawab banget, sih! iya udah buruan anter ke ruang tempat Seminar. Saya tunggu, cepetan!)
(Santai kenapa? Seminarnya juga belum mulai. Ini juga saya lagi mengisi perut. Bagaimana kalau Mbak yang kesini? sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau saya kenalin mbak dengan Pria tampan dan mapan)
(Ogah, cepetan kesini)
(Yakin? rugi kalau tidak mau)
Hening
(Iya sudah kalau enggak mau. Tunggu saya, mau mengisi perut dulu. Assalamu'alaikum)
__ADS_1
(Enggak sopan banget sih! Wa'alaikumussalam)
Tut tut tut
Sambungan terputus, selepas itu terbitlah senyum jahil pada bibir Bujang itu.
"Dia orangnya judes," ucap Riski memberitahu pentingnya.
"Judes? berarti enggak cocok dengan Raski, dong?" sahut Keynand sepertinya enggan.
"Mungkin sama anak kecil dia menjadi lembut. Tenang saja dia orangnya baik meskipun sedikit judes dan cuek." Riski mengatakan hal-hal yang baik tentang Gadis yang ingin dikenalkan kepada Keynand.
"Okay, kita lihat apakah dia menyukai Raski," sahut Keynand pasrah. Sejujurnya, Keynand masih memikirkan Habibah. Dia belum bisa mendepak Wanita itu di dalam hatinya. Semakin dia berusaha, rasa itu semakin bertahan.
Saat mereka sibuk dengan pikiran, pesanan mereka datang. Waitress dengan cekatan menata pesanan itu di atas Meja.
"Silahkan menikmati," ucap Waitress dengan sopan dan ramah.
"Terima kasih," ucap Keynand dan Riski dalam waktu bersamaan.
Waitress itu mengangguk setelah itu meninggalkan mereka.
"Dadek Raski, biar Mamiq Rari bantuin," ucap Riski dengan sigap membantu Raski yang kesulitan menyuap makanannya. Saat ini Keynand sedang menerima panggilan sehingga tak bisa memperhatikan Putranya.
"Maaci Amiq Ayi," ucap Raski terlihat riang.
Riski mengangguk sembari membantu Raski untuk menikmati makanannya.
"Kamu ya, bikin saya kerepotan saja," ucap seorang Gadis dengan tampilan tertutup. Dia langsung saja duduk di samping Keynand tanpa dipersilahkan.
"Astaghfirullah. Bikin saya kaget, kapan datengnya mbak? kok enggak ada salamnya," sahut Riski mengelus dadanya.
Keynand yang sedang berbicara seketika itu mengakhiri panggilan.
"Loh bukannya ini Gadis tadi, ya?" tanya Keynand dalam hati.
"Maaf, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Keynand dan Riski menjawab dalam waktu bersamaan.
"Udah, kan? mana plash disk saya?" tanya Gadis itu tanpa basa-basi.
"Mbak Lekha bernafas dulu jangan langsung tancap gas," sahut Riski sembari tersenyum.
"Enggak ada waktu, disana ada file penting," ucap Wanita yang dipanggil Lekha itu dengan mimik serius dan tegas.
"Saya faham mbak, kita minum saja dulu, mbak Lekha pasti haus, kan?"
"Iya deh iya, coba enggak kamu yang minta saya mah ogah nurutin orang," sahut Lekha dingin.
Keynand yang di samping Gadis itu hanya terdiam. Dia lebih tertarik membantu Raski menikmati makanannya.
"Oh ya Bang, ini Julaekha Syarifah, Dosen paling cemerlang di Kampus," ucap Riski memperkenalkan rekannya.
"Keynand," sambut Keynand sembari mengulurkan tangannya. Gadis itu menyambut tangan Keynand dengan menyebut namanya.
"Julaekha Syarifah, panggil saja Lekha."
Lekha menampilkan senyum manisnya. Dia tidak menyangka akan berkenalan dengan seorang Keynand Putra Ardiaz.
"Ya ampun tampan banget," batin Lekha tak lepas memandang wajah Duda itu.
"Apa anda Keynand Putra Ardiaz, Pemilik dari Hotel dan Rumah Sakit Ardiaz?" tanya Lekha memastikan.
"Saya memang Keynand Putra Ardiaz tapi saya bukan Pemilik dari Perusahaan ini. Perusahaan ini milik Abang saya Reynand Putra Ardiaz. Saya hanya dipercaya untuk mengelolanya." Keynand menjawab pertanyaan Gadis itu sekaligus meluruskan kesalah fahaman yang terlanjur dipercayai oleh sebagian orang.
"Oh begitu?"
"Saya pikir mbak enggak kenal dengan Abang Keynand?" tanya Riski.
"Tadinya belum kenal sekarang jadi kenal. Kamu sendiri yang mengenalkan, saya hanya sebatas tahu saja. Semua orang mengetahui siapa Direktur Hotel Ardiaz hanya saja saya tidak tahu Reynand Putra Ardiaz. Kenapa kamu enggak kenalin saya dengan Reynand juga, tentu dia lebih penting, kan?" jawab Lekha berterus terang.
glek
Kedua Pria itu saling pandang dan menelan rasa pahitnya.
"Abang Reynand tidak bisa diganggu, dia sudah punya Isteri dan anak. Sedangkan Keynand seorang Duda, jadi boleh dikenalin kepada seorang Gadis," sahut Riski merasa tak nyaman. Dia tak menyangka tanggapan Lekha sangat tak mengenakkan.
"Oooh gitu? saya pikir dia masih lajang. Tapi biarpun dia sudah menikah, sah-sah saja dia menambah Isteri. Dia mampu untuk itu, bukankah seorang Ceo itu tidak lepas dari Sosok Wanita cantik di luar sana. Saya rasa dia tidak puas hanya melihat Isterinya setiap hari pasti mencari yang lain, bukan begitu Mas Keynand? anda sependapat dengan saya, kan?" Lekha berucap panjang lebar memberikan pendapatnya. Lekha tak memikirkan perasaan orang lain dengan ucapannya. Dia seakan menjudge bahwa semua Pengusaha adalah Pemain Wanita.
Raut Keynand dan Riski berubah memerah. Terutama Riski yang tak enak hati karena sudah memperkenalkan Julaekha kepada Keynand.
Melihat perubahan kedua Pria itu, Julaekha buru-buru minta maaf.
"Maaf, bukan maksud saya menyinggung seseorang. Tentu tidak semua Ceo seperti yang saya gambarkan? sekali lagi saya minta maaf, saya hanya menyimpulkan dari apa yang pernah saya alami."
"Tidak apa-apa," sahut Keynand dingin. Dia merasa kehadiran Lekha tak memberikan suasana yang hangat dan ceria dalam hidupnya hari ini. Entah kenapa, Keynand yang suka becanda kini seakan enggan.
"Abang, saya permisi dulu. Saya lupa ada yang saya mau ambil sama Abang Adly," sahut Riski. Dia sengaja meninggalkan Keynand agar lebih leluasa mengobrol dengan Julaekha. Meskipun dalam hati sebenarnya dia sangat menyesal mengenalkan Gadis itu kepada Keynand.
"Maafkan saya Mas Keynand." Lekha sekali lagi meminta maaf. Dia merutuk dirinya yang asal berkata tanpa berpikir.
"Ah bodohnya, asal bunyi saja. Bagaimana kalau Keynand ilfil? baru saja dikenalin sama Pria berkelas eh langsung berkata sembarangan. Lekha, bibirmu itu loh! perlu diruqyah. Kalau begini caranya enggak bakalan ada jodohnya." batin Lekha mengomeli dirinya sendiri. Dia malu sekaligus tidak enak hati karena berkata yang tak seharusnya.
Cukup lama mereka menikmati keheningan dan kecanggungan. Tak ada satupun yang memulai pembicaraan. Keynand lebih fokus melayani Putranya.
"Ini siapa? tampan sekali! hai tampan, saya Tante Lekha."
__ADS_1
Lekha pada akhirnya mampu berkata. Dia tidak menyadari keberadaan anak kecil di samping Keynand. Dia terlalu fokus menikmati ketampanan Keynand sehingga mengabaikan sekelilingnya.
"Dadek Raski Ante," ucap Raski menyambut uluran tangan Lekha lalu mencium punggung tangannya.
"Duh pinter banget," ucap Lekha sembari mengelus pucuk kepala Raski dengan lembut.
Keynand memperhatikan interaksi mereka berdua. Senyum tipis itu terbentuk tatkala mendengarkan tawa mereka berdua.
"Raski ini anak kandung saya," ucap Keynand memberitahu.
Lekha mengalihkan perhatiannya kepada lawan bicaranya. Dia hanya ber oh ria dengan menampilkan senyum manisnya berharap Keynand terkesan.
"Raski dan mendiang Ibunya adalah hidup saya. Semampunya akan membahagiakan Raski demi Ega, Wanita yang saya cinta. Priolitas utama saya adalah kebahagiaan Raski," ucap Keynand panjang lebar. Dia sengaja menjelaskan agar siapapun yang berniat mendekatinya agar memahami.
"Oh begitu? maaf, Ibunya?" tanya Lekha penasaran.
"Isteri saya meninggal sesaat setelah Raski lahir. Selama ini Raski dirawat oleh mbak Lika, Isteri dari Abang Reynand." Keynand menjawab pertanyaan Gadis di sampingnya yang nampak rasa ingin tahunya.
"Kenapa Mas Keynand tidak mencari Ibu sambung untuk Raski?" tanyanya lagi.
Keynand tersenyum, dia masih asyik menyibukkan diri dengan Putranya.
"Belum ketemu," jawab Keynand singkat.
Lekha menarik nafas, dia terdiam mendengarkan jawaban itu. Sepertinya akan sulit mendekati Duda tampan ini. Tidak mungkin tidak ada yang mendekati Keynand, pasti banyak. Hanya saja mereka tidak mampu melunakkan hati Keynand agar memilihnya. Buktinya Jessi dengan gencarnya merambat mendekati Keynand. Tapi nyatanya mendengar ini sudah dipastikan dia tak dihiraukan. Itu artinya Jessi hanya mengaku saja.
Lekha menerka-nerka apa yang terjadi dengan semua Wanita yang berusaha mendekati Keynand. Termasuk dirinya yang mungkin saja akan gugur jika berani mencoba mendekati Sang Duda.
"Mas, sudah lama kenal Riski? bagaimana ceritanya bisa kenal dia?" tanya Lekha mengalihkan perhatian. Dia tak ingin menikmati rasa canggung yang sedari tadi sudah terasa.
"Sudah lama. Dia saudara saya tepatnya dia adik dari mbak Lika, Isteri dari Abang Reynand," sahut Keynand datar.
"Oh My God! pantas saja Riski tak suka saat menyinggung tentang Reynand. Pasti dia berpikiran kalau saya berencana menjadi Pelakor. Lekha, Lekha kamu itu asal nyablak saja." Kembali Lekha memaki dirinya. Dia merasa malu sekaligus tak enak hati dengan teman satu seprofesinya itu.
"Dady, perut Dadek atit. Pingin ke Toilet," ucap Raski mengeluh. Dia memandang Lekha berharap Gadis itu berinisiatif menemani Raski ke Toilet. Dia memberikan kesempatan kepada Gadis itu memperlihatkan kepeduliannya.
Tak menyangka Wanita itu hanya terdiam dengan wajah datar. Dia seolah tak mendengar apa yang terucap dari bibir mungil Raski. Gadis itu lebih memilih memusatkan perhatiannya kepada benda pipih.
"Sakit perut ya sayang, biar Dady anter?" ucap Keynand hendak meraih tubuh Raski untuk menggendongnya.
"Biar Dadek endiri, Dady ama ante aja," ucap Raski berlari ke arah Toilet.
"Iya Mas, biarkan saja agar dia mandiri," ucap Lekha pada akhirnya bersuara.
"Biar Daddy anter." Keynand bangkit dari duduknya hendak bergegas mengejar Raski yang sudah melesat ke arah Toilet.
"Apa yang Mas lakukan bisa memanjakan dia. Biarkan dia belajar untuk mengurus dirinya sendiri. Dia pasti bisa, Raski itu anak yang cerdas," ucap Lekha menahan langkah Keynand.
Keynand urung, dia menatap Lekha yang memamerkan senyum manisnya. Ada rasa khawatir sekaligus rasa tidak sopan meninggalkan teman bicaranya. Akhirnya Keynand memutuskan untuk tetap menemani Julaekha dengan meminta bantuan Pegawai Restaurant untuk mengawasi Raski.
"Mas, temani Raski," ucap Keynand meminta kepada salah satu Pelayan Laki-laki yang mengenal Raski.
"Baik Pak," ucap Pelayan itu bergegas mengejar Raski.
Sesampainya di Toilet, rupanya Raski salah masuk. Dia memasuki Toilet Wanita. Tentu Pelayan Laki-laki itu kehilangan jejak.
"Adek tampan, adek salah masuk Toilet," ucap seorang Gadis saat melihat anak Laki-laki masuk ke Toilet Wanita. Gadis itu menyapa Raski dengan ramah.
"Mau Kakak bantu," ucap Gadis itu sembari mengulurkan tangan. Dengan cepat Gadis itu membantu Raski tanpa merasa jijik.
"Jangan lupa baca doa dulu sebelum masuk Toilet," ucap Gadis itu sebelum masuk ke salah satu Toilet.
"Ibu udah ajar," ucap Raski sambil tersenyum.
Gadis itu tersenyum, sebelum masuk mereka berucap doa.
"Kakak unggu ini," pinta Raski.
Gadis itu mengangguk, dia menunggu di depan Pintu dengan sedikit membuka Pintu itu agar bisa mengawasi Raski.
Setelah hajat berhasil dituntaskan. Gadis itu membantu Raski membersihkannya.
"Sudah bersih, ayok Kakak antar kepada orang tuanya. Ibunya mana?" tanya Gadis itu merasa heran membiarkan anak kecil ke Toilet sendirian tanpa pengawasan orang dewasa.
"Ibu atit, di umah. Dadek ama Dady," jawab Raski tak pudar senyumnya.
Gadis itu sudah selesai memasangkan celana yang dipergunakan Raski. Dia kemudian mengendong anak kecil itu keluar dari Toilet.
"Nama Kakak Rizqia, panggil Kak Qia aja," ucap Gadis itu memperkenalkan diri.
"Dadek Raski."
"Nama yang bagus sesuai dengan ketampanan Dadek Raski." Setelah berkata dia mencubit gemas hidung mancung itu.
"Daddynya mana?"
"Itu!"
Raski menunjuk ke arah Meja tempat keberadaan Keynand dan Jualekha Syarifah.
Gadis bernama Qia itu menyipitkan matanya. Ada gurat ketidak senangan tergambar disana. Dia mengingat ucapan Raski yang mengatakan Ibunya di rumah sedang sakit. Hal Itu yang membuat Gadis itu memanas.
"Dasar Pria breng**k, Isterinya sedang sakit terus anaknya ditelantarkan, eh dia malah asyik berselingkuh. Tidak bisa dibiarkan ini." Gadis bernama Rizqia itu membatin.
Dengan langkah cepat Gadis itu menghampiri. Sesampainya disana dia menggebrak Meja membuat Keynand, Julaekha dan orang disekitarnya terkejut.
"Jadi ini, Isterinya sakit di rumah dan anaknya dibiarkan ke Toilet sendirian, eh malah asyik-asyiknya pacaran. Kalau terjadi apa-apa dengan anak dan Isteri anda, bagaimana? apa anda senang?"
Gadis bernama Qia itu menumpahkan omelannya. Dia seakan tak memperdulikan orang-orang memandangnya dengan heran.
__ADS_1
Bersambung.