Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
81


__ADS_3

Jadi Abang akan menyelidiki ini?" tanya Riski.


Keynand mengangguk dengan diiringi senyum yang membuat sasarannya harus hati-hati.


Orang yang menjadi tujuan semestinya harus waspada dengan seringai yang di tampilkan oleh Keynand. Namun mereka tak tahu senyumnya merupakan sebuah ancaman.


Dia memang bisa di ajak bercanda dan pribadi yang baik dan ramah. Akan tetapi jika mengusiknya apalagi yang berhubungan dengan ketidak tenangan orang yang dikasihaninya maka taringnya dia perlihatkan.


"Sudah saya duga Abang pasti akan bertindak," ucap Riski bergidik dengan aura dingin yang terpancar pada sorot mata itu.


"Sebaiknya kita istirahat agar esok kita tidak kesiangan. Saya mau menemani Rin ke Pasar Selaq," lanjutnya meredamkan gemuruh di dada Pria itu.


"Oh ya jangan terlalu keras mengerjain anak orang. Entar kalau sampai menangis darah kasian juga," lanjutnya


Selesai berkata Riski mengatur posisinya. Tidak lupa dia memanjatkan doa. Usai berdoa Pemuda itu kemudian memejamkan mata.


Sementara Keynand, dia belum ingin memejamkan mata. Pikirannya berkeliaran dari satu kejadian ke jadian lain, ibarat cerita yang menyimpan plot twist. Tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukan oleh seorang Keynand. Tunggu saja tindakannya.


Keynand menguap setelah lama bercengkerama dengan lamunannya. Dia melirik Riski yang sudah terlelap. Dengkuran halusnya menandakan tak terusik sama sekali dengan suara Cangkrik yang ramai berirama.


Keynand mengulum senyum sembari menggelengkan Kepala. Tidak menyangka apa yang dilakukan sekarang adalah sebuah kekonyolan. Ini bukan dirinya dan juga gayanya.


"Ternyata seru juga berkemah, setelah ini akan aku masukkan dalam agenda kegiatan seorang Keynand," guman Keynand pelan takut membuat kaget Cangkrik yang sedang mengeluarkan suara berliannya.


Semumpung berkemah sedang digandrugi oleh para anak muda yang awam, kenapa tidak dia ikut latah juga.


Lagi dia menguap, pada akhirnya Keynand memejamkan mata. Dia berdamai dengan suara Cangkrik yang tidak mungkin di minta untuk berhenti. Hanya Nabi Allah yang bernama Sulaiman AS yang bisa meminta mereka untuk berhenti bersuara, atas kehendak Tuhan tentunya.


Esoknya terdengar suara Orang mengaji dari sebuah Masjid yang ada di sekitar Perumahan Taman Indah. Itu petanda sebentar lagi akan terdengar suara adzan berkumandang.


Keynand membuka mata. Secara perlahan dia bangun dari rebahannya lalu duduk sebentar untuk mengumpulkan kembali kesadarannya.

__ADS_1


Dia melirik sebelah, Sosok Riski sudah tak ada di sampingnya. Itu artinya Pemuda itu sudah bangun terlebih dahulu.


"Ternyata dia berhasil mencuri start," guman Keynand.


Keynand lantas keluar dari tendanya setelah merasakan kesadarannya pulih kembali.


Diluar keadaan masih gelap. Tercium aroma embun yang mampu membuat pikiran rileks. Angin berembus dingin membuat Keynand menggosok tangannya agar terasa hangat.


Dia melakukan pergerakan ringan. Ada rasa segar menjalari tubuhnya. Tubuh yang kaku dan dingin seketika kendor dan menghangat.


"Abang sudah bangun?" tanya Riski yang entah dari mana tiba-tiba sudah berada di sampingnya. Tubuhnya terlihat segar tersapu oleh air. Pun begitu juga dengan wajahnya yang tersihat bersih karena air wudhu.


"Mandi dulu, gih! Selesai Sholat Subuh kita akan pergi ke Pasar, apa Abang mau ikut?" tanya Riski.


"Subuh-subuh begini?" Keynand tak menjawab. Dia malah bertanya, ada keterkejutan yang nampak pada wajah tampannya.


"Rin bukan Abang yang bisa santai dengan hari-harinya. Meskipun sibuk masih ada yang menghandle pekerjaan di Perusahaan Abang. Kalau Rin dan kawan-kawannya, mungkin sebelum Subuh dia sudah siap-siap ke Pasar. Bisa jadi mereka Sholat Subuh di sana. Jika tidak seperti ini, maka mereka akan kehilangan Sepiring Nasi untuk hari ini. Itulah istilahnya," sahut Riski memberitahu perjuangan mereka yang mencari rezeki untuk menyambung hidup dan menentukan masa depan yang lebih baik.


Ada rasa syukur di dalam hati Keynand karena Tuhan memberikan rezeki yang berlebihan untuknya dan keluarga. Dia tidak pernah kesusahan dan tidak tahu seperti apa rasanya susah itu.


"Okay, Abang akan ikut," jawab Keynand serius. Apa salahnya dia mengikuti mereka ke Pasar. Selain bisa mendekati Rizqia, tentu dia akan mendapatkan pengalaman baru.


Riski mengangguk, kemudian tidak berbicara lagi karena memberikan kesempatan kepada Keynand untuk membersihkan diri.


Jika orang lain masih terbuai dalam mimpinya, tidak dengan Rin. Sebelum Subuh dia sudah bangun kemudian ke Pasar untuk mencari barang dagangan yang akan di jual kembali kepada langganannya. Seperti itu rutinitas sehari-harinya. Meskipun tengah hamil, tak sama sekali merasa lelah. Dia bersyukur Tuhan memberikannya kesehatan sehingga bisa beraktivitas dengan lancar.


Riski merasa kasihan melihat perjuangan Rin. Bukan tak pernah menawarkan bantuan. Namun Wanita hamil itu selalu menolak setiap dia menawarkan bantuannya.


Hanya satu yang bisa dilakukannya yaitu menemani Rin ke Pasar dan membantunya membawa barang belanjaannya. Pria itu tidak ingin memaksa Rin untuk menerima bantuannya. Jika itu terjadi, sama artinya dia melukai harga diri Wanita muda itu.


Selang beberapa menit kemudian, Keynand selesai membersihkan diri bersamaan itu pula kumandang adzan Subuh terdengar dari sebuah Masjid. Mereka berdua bergegas menuju Masjid untuk melaksanakan Sholat Subuh.

__ADS_1


***


"Kalian sudah mau berangkat? untung kita tidak telat," ucap Riski saat mereka memasuki halaman rumah Rizqia. Mereka baru saja pulang dari Masjid dan mendapatkan dua Gadis itu sedang bersiap-siap menuju Pasar.


"Iya nih! Apa Pak Hamiz mau ikut?" jawab Rin sekaligus bertanya kesediaan Pria itu.


"Iya, Abang Keynand juga mau ikut. Bagaimana kalau Qia sama Abang keynand saja, terus saya sama Rin ke Pasar Selak," jawab Riski kemudian mengatur posisi.


Rin melihat ke arah Rizqia yang hanya terdiam saja. Wanita hamil itu meminta persetujuan Gadis itu.


Rizqia menghela nafas panjang. Ada ketidak setujuan yang dia pancarkan pada mata belonya.


Sedangkan Keynand berharap agar Gadis ini memberikan peluang kepadanya. Dengan posisi ini dia bisa berdekatan dengan Rizqia dan mengambil kesempatan untuk berbicara kepadanya.


Rizqia masih terdiam dengan pikirannya. Masih menimbang apa yang harus di putuskan. Apa dia harus ikut Keynand atau tidak ikut sama sekali. Entahlah! Mengapa hal sepele ini menjadi rumit tatkala hati tak nyaman dengan seseorang.


Keynand menunggu dengan harap-harap cemas.


"Lama, keburu Sayur-sayurnya pada ngambek terus merajuk lagi," ucap Rin becanda.


"Emang bisa sayuran merajuk? Tanya Riski bingung. Dia menggaruk tengkuknya, di sana juga terlihat keningnya mengkerut tanda berpikir.


Rin tertawa, setelah reda terdengar suara menjelaskan.


"Pak Hamiz sama Mbak Qia ternyata sehati. Apa-apa dipikirin. Tadi saya hanya becanda. Bukan sayur-sayurannya yang merajuk tapi pelanggannya karena mendapatkan Putri malu. Kalau telat, kita hanya dapat sisa-sisa pilihan orang, itu artinya kebanyakan sayurnya sudah tidak segar lagi."


"Oh gitu?" ucap Riski mangut-mangut.


"Iya sudah kalau begitu kita pergi saja," ucap Rizqia tiba-tiba memutuskan.


"Jadi mbak ikut sama siapa?" tanya Rin memperjelas karena Rizqia tidak mengatakan ikut dengan siapa.

__ADS_1


Rizqia tak menjawab. Gadis itu melirik seseorang sebagai jawaban.


Bersambung.


__ADS_2