
Langkah panjang Habibah Rosy terlihat menelusuri koridor Rumah Sakit Bhayangkara tempat Rizqy sedang berjuang melawan rasa sakit.
Air mata mengalir deras menuntunnya untuk meluapkan kesedihan dan kekhawatiran akan keselamatan Sang Suami tercinta.
"Qia, bagaimana Mas Rizqy? Apa Mas Rizqy sudah sadar dan tidak terjadi apa-apa, kan?" Habibah memberondong Sang Adik Ipar dengan pertanyaan setelah ia sampai di hadapan Rizqia.
Rizqia tidak langsung menjawab. Dia berusaha menenangkan diri dari isakan tangisnya yang tidak kalah pilu dari Sang Kakak Ipar.
"Kak Rizqy masih di tangani, Kak. Sedari tadi Qia menunggu, Para Dokter belum keluar memberikan informasi bagaimana keadaan Kak Rizqy."
Dengan diiringi lelehan air mata Qia menjelaskan.
Tubuh Habibah lunglai, hampir saja Wanita hamil itu terjatuh kalau tidak Qia yang langsung menangkap tubuh tak berdaya itu. Qia menuntun Kakak Iparnya untuk duduk di Kursi yang tersedia di sana.
"Kak, Insyaa Allah tidak akan terjadi apa-apa dengan Kak Rizqy. Kak Rizqy itu Suami Kak Bibah yang sangat kuat. Yakinlah Kak Rizqy akan baik-baik saja."
Rizqia berusaha menguatkan hati Kakak Iparnya. Dia mengkhawatirkan kesehatan Kakak Iparnya tersebut. Saat ini Habibah tengah mengandung, sebab itulah ia tidak boleh stres ataupun larut dalam kesedihan. Rizqia sangat takut terjadi sesuatu dengan Kakaknya dan juga janin yang di kandungnya sehingga Rizqia berusaha menghibur dan menguatkannya, meskipun pada kenyataan dia juga sangat rapuh saat ini. Selain memikirkan keselamatan Rizqy, dia juga memikirkan Keynand. Entah bagaimana caranya menyelamatkan Keynand dari hukum sementara Rizqy tidak sadarkan diri.
"Sebaiknya Kak Bibah istirahat. Kak Bibah pasti capek setelah melewati perjalanan jauh apalagi menyetir sendiri. Biar Qia yang menunggu di sini," ucap Qia. Dia melihat wajah pucat Habibah di tambah mata sembabnya membuat Gadis bermata belo itu kian khawatir akan kesehatan Kakak Iparnya.
"Nanti saja, Kak Bibah akan menunggu di sini. Mana bisa Kak Bibah istirahatnya sementara Dokter belum memberitahu keadaan Mas Rizqy. Kak Bibah tidak tenang meninggalkan Mas Rizqy, dek!"
Habibah menolak permintaan adiknya. Dia tidak ingin meninggalkan Rizqy sedetikpun dan memutuskan menunggu khabar dari Dokter baru ia merasa lega.
Rizqia tidak ingin memaksa. Gadis itu terdiam sembari mengelus punggung Habibah yang terlihat sangat bergetar. Sesekali terdengar Wanita itu menghela nafas. Sementara Dzikir dan doa terus terucap lirih.
Ceklek
Pintu terbuka setelah beberapa jam menunggu. Di sana muncul seorang Dokter dengan raut yang terlihat serius dan lelah. Melihat wajah yang tidak terlihat harapan, membuat Habibah dan Qia kian khawatir.
"Dokter bagaimana keadaan Suami saya?"
Habibah langsung menodong Dokter yang menangani Rizqy dengan pertanyaan.
"Alhamdulillah pasien berhasil melewati masa kritisnya. Akan tetapi kita tidak bisa memastikan kapan Suami Ibu akan sadar. Hanya berdoa yang bisa kita lakukan untuk kesembuhannya."
Dokter menjelaskan seperlunya. Setelah itu dia berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya.
"terima kasih Dokter," ucap Habibah yang dianggukkan oleh Dokter tersebut lalu melangkah meninggalkan dua Wanita tersebut.
"Kak Bibah, Qia mau cari makanan dulu. Kakak belum makan kan?" Ucap Rizqia sesaat dokter itu meninggalkan mereka berdua.
Habibah menggelengkan Kepalanya. Nafsu makannya tiba-tiba menghilang. Tapi jika menuruti keinginannya, sama artinya dia mendzolimi janin yang ada di kandungannya. Mau tidak mau Habibah akhirnya mengiyakan keinginan Adik iparnya tersebut.
Rizqia segera berlalu untuk mencari makanan dan membiarkan Habibah menunggu di luar ICU karena Rizqy belum boleh di kunjungi.
__ADS_1
Habibah hanya bisa melihat Sang Suami dari balik kaca.
"Mas cepat sadar ya? Aku dan calon bayi kita sangat merindukanmu." Habibah berucap sembari menyentuh kaca seolah-olah membelai wajah Sang kekasih halalnya.
Air mata kembali bermunculan dengan derasnya. Habibah tidak lagi melanjutkan kata-katanya, padahal banyak sekali yang ingin diceritakan kepada Rizqy, tapi semua itu tidak bisa dia lakukan karena isakan tangisnya yang menghentikan itu. Terasa sesak, hanya tangisnya yang terdengar menggantikan apa yang ingin disampaikannya.
"Bibah, i love you. ...."
Pesan itu yang masuk ke Handphonenya. Mungkin itu pesan yang berhasil di ketiknya di detik-detik terakhir sebelum Mobil itu jatuh ke jurang.
Saat menerima pesan itu Habibah merasa sangat bahagia. Senyuman Wanita itu kian mempesona ketika membacanya. Bahkan tingkahnya seperti anak Gadis yang baru mengenal cinta dan sedang kasmaran. Habibah mempersiapkan segalanya demi menyambut kehadiran pujaan hatinya. Selain membersihkan rumah dan memasak makanan dan minuman kesukaan Suaminya, Wanita hamil itu juga mempercantik diri. Dia melakukan semua itu untuk menyenangkan hati Suaminya. Saat dia menunggu, bukan Sang Suaminya yang datang melainkan khabar buruk. Rizqy kecelakaan dalam perjalanan menuju rumah mereka. Mobil yang dikendarainya khabarnya mengalami rem blong. Rizqy tidak bisa mengendalikan Mobilnya lalu terjung ke jurang saat berada di kawasan pusuk.
Khabar itu membuat Habibah shock. Kebahagiaan yang dirasakan sesaat itu berubah duka yang entah kapan berakhir. Dokter belum bisa memastikan kapan Rizqy akan sadar. Apa itu artinya dia akan koma?
"Mas cepat sadar ya? Aku ingin mas membuatkan rujak. Aku ingin Mas mencarikan buah are. Aku ingin mendengarkan Mas mengaji setiap hari sembari mengelus perut. Aku ingin bersandar di dada bidang Mas seperti biasanya. Aku ingin lengan mas sebagai bantal tempat merebahkan kepala ini. Banyak sekali inginku Mas, apa mas keberatan?"
Habibah kembali berbicara setelah berhasil menenangkan dirinya yang sesak karena tangisnya.
Wanita hamil itu tidak peduli, meskipun Rizqy tidak mendengarnya dia tetap akan berbicara.
"Mas aku rindu, cepat sadar ya? Cepat sembuh. Aku sedih karena tidak ada yang menjahiliku dan aku sedih tidak ada yang menghabiskan masakanku. Apa tidak ingin lagi mengatakan 'sedikit mas makannya' tapi yang dilakukan malah menghabiskan makanan yang ada."
Habibah melanjutkan perkataannya. Dia rindu mengobrol dengan Rizqy. Menceritakan apa yang di temui hari itu dan tertawa bersama, jika ada hal yang lucu mereka dengar. Setiap malam sebelum tidur Habibah akan bertanya kepada Suaminya apa ada tingkah laku dan perkataan yang membuatnya marah.
Kalimat itu terucap dengan tulus dari Sang Suami, tatkala Habibah mempertanyakan apa yang membuat Sang Suami tidak berkenan hari ini.
Habibah masih saja berdiri di sana memandang Sang Suami yang terlelap. Tidak ada suara, hanya suara mesin medis yang terdengar menandakan Rizqy masih hidup.
"Kak Bibah, makan dulu sebentar lagi dzuhur," ucap Rizqia menyadarkan Habibah dari lamunannya. Habibah menoleh ke arah samping dan menemukan wajah Rizqia yang menganggukkan Kepalanya.
Tidak ingin membantah Habibah mendekatinya lalu ikut bergabung bersama adiknya.
Habibah mulai menyuap makanannya, saat ini dia merasa sangat sesak. Bayangan kebersamaan bersama Suaminya seketika menjelma di pelupuk mata. Tawa renyahnya, senyum manisnya dan gombalan-gombalannya silih berganti berkelebat dalam ingatannya. Mulai hari ini dan entah sampai kapan dia tidak akan lagi mendengarkannya, selama Rizqy terbaring tak sadarkan diri di dalam sana.
Rizqia yang melihat kesedihan di pelupuk mata Habibah tidak sanggup untuk mengatakan apapun. Mungkin hanya diam sebagai cara yang ampuh menenangkan hati Sang Kakak Ipar, sebab kata sabar pun tidak lagi perlu terucap karena memang pada kenyataannya sabar itu senantiasa harus dilakukan.
Selang beberapa menit pada akhirnya Habibah menyelesaikan makan siangnya meskipun dengan susah payah dia lakukan. Jika tidak teringat pada bayi yang ada pada kandungannya mungkin saja dia akan mengabaikan dirinya.
***
Sementara Reynand saat ini sedang melaksanakan Meeting penting dengan Para Pemegang saham. Tertangkapnya Keynand Putra Ardiaz, Sang Direktur Hotel Ardiaz sedikit tidak berimbas pada Perusahaan. Untungnya Reynand berhasil meyakinkan para Pemegang saham agar tidak menarik saham mereka.
Reynand sangat bersyukur Perusahaan ternyata dalam keadaan stabil dan tidak goyah sekalipun Sang Direktur di hantam fitnahan. Selain itu para relasi bisnis dan rekan bisnis yang mengenal Keynand tidak langsung percaya begitu saja bahwa Direktur Hotel Ardiaz itu seorang Pemakai apalagi seorang Pengedar. Ini pasti sebuah fitnahan keji yang sengaja digaungkan dari mereka yang tidak menyukai Keynand.
Pun begitu juga dengan Para Pegawai baik di kantor maupun di Hotel Ardiaz tidak ada yang diam-diam menghujat Sang Direktur. Mereka percaya bahwa Keynand Putra Ardiaz tidak bersalah dan itu hanyalah fitnahan disengaja untuk menghancurkan Direktur Hotel Ardiaz tempat mereka bernaung selama ini.
__ADS_1
Saat Meeting berlangsung, terlihat Evan memanggil yang membuat Reynand menghentikan sejenak pembahasan mereka. Dia meminta izin untuk menjawab panggilan tersebut. Setelah mendapatkan persetujuan, tanpa berpikir panjang lagi Reynand langsung menggeser icon berwarna hijau.
("Wa'alaikumussalam. Iya Van ada apa? Nampaknya penting?")
("Iya Bang, Bang Rizqy mengalami kecelakaan di Pusuk saat pulang ke Desa. Khabarnya Mobil yang di kendara Bang Rizqy jatuh ke Jurang dan saat ini Bang Rizqy masih kritis. Khabar buruk lainnya, barang-barang milik Bang Rizqy raib. Tidak ditemukan apapun di Mobil ataupun di sekitarnya.")
("Innalillahi.")
Reynand terkejut. Dia terduduk lesu di Kursi kebesarannya. Wajahnya terlihat sangat shock dengan deru nafas yang terlihat tidak beraturan.
Lika, Adly dan Fitri yang ada di ruangan saling pandang bertanya apa yang terjadi dengan Reynand. Khabar apa yang tengah di dengar membuat Reynand terlihat tidak baik-baik saja.
Sejenak Reynand berusaha mengontrol dirinya dengan beristighfar. Khabar kecelakaan yang dialami Rizqy benar-benar menghantamnya. Dan kini pikirannya langsung tertuju kepada Keynand dan Wanita itu. Amarah yang menggelegak kepada Wanita itu, ketakutannya jika tidak berhasil menyelamatkan Keynand dan kekhawatirannya kepada Rizqy berbaur menjadi satu membuat Reynand frustasi kini.
Setelah dia tenang, Reynand menghentikan Meeting mereka dan akan menjadwalkan meeting pada kesempatan selanjut.
Lika mendekati Reynand, lalu berusaha menenangkannya dengan mengelus punggung Sang Suami sembari melantunkan dzikir.
"Rizqy kecelakaan saat menuju Desa. Ini pasti ulah Wanita itu dan rencana mereka tidak terdeteksi sama sekali padahal kita sudah mewaspadai hal ini," ucap Reynand memberitahu dengan lirih dan penuh dengan emosional di sana.
"Yakinlah Kak Rizqy akan selamat dan dia baik-baik saja. Hanya kekuatan doa yang bisa menyelamatkannya. Yakinlah ya Habibi," sahut Lika penuh dengan keyakinan.
Melihat keyakinan yang terpancar pada wajah Lika, membuat Reynand sedikit tenang. Dia harus bergerak cepat untuk menyelamatkan Rizqy dan bila perlu meminta Dokter terbaik untuk merawatnya.
"Iya kamu benar. Mas tidak boleh panik dan pasrah begitu saja. Ikhtiar dan doa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan Rizqy dan Keynand," ucap Reynand. Dia menggengam tangan mungil Lika lalu menuntunnya keluar dari ruang Meeting menuju Rumah sakit tempat Rizqy berada.
***
"Ada pembekuan darah di Kepalanya akibat benturan keras saat kecelakaan dan Kaki sebelah kanannya patah."
Dokter menjelaskan apa yang terjadi dengan Rizqy. Saat ini Habibah dan Rizqia berada di ruang kerja Dokter yang menangani Rizqy.
"Apa itu artinya Mas Rizqy kemungkinan akan lumpuh?" tanya Habibah.
"Tidak bisa di pastikan. Kita akan memeriksa kembali saat Suami ibu sadar. Dari hasil pemeriksaan kemungkinan mengarah ke sana jika dilihat dari parahnya luka yang di alami Suami Ibu. Semoga saja diagnosa sementara ini keliru. Ibu yang sabar ya? Yakinlah Suami Ibu akan sembuh."
Dokter memberikan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dengan Rizqy, selain itu dia juga menyemangati Habibah dan Rizqia agar tidak putus harapan dan doa. Sejatinya Manusia hanya bisa berusaha dan Tuhan-lah yang Maha menyembuhkan.
"Ya Allah."
Habibah terduduk lemah seakan tidak memiliki kekuatan lagi. Mata Wanita hamil itu memburam lalu dalam hitungan detik dia tidak sadarkan diri.
"Kak Habibah!"
Bersambung.
__ADS_1