
Di kediaman Reynand.
Reynand masih terjaga, suara derasnya hujan membuatnya tak bisa memejamkan mata. Dia merebahkan diri di samping Lika. Memandang wajah lembut itu sembari membelai rambut panjangnya.
"Bang, maaf saya akan memeriksa infuse Kak Lika," ucap Riski setelah dipersilahkan Reynand masuk ke kamar pribadinya.
Reynand mengangguk.
Riski melangkah mendekati ranjang. Dia melihat infuse itu sudah hampir habis. Riski melepaskannya lalu mengganti infuse yang baru. Setelah terpasang, dia mengatur tetesan cairan itu.
"Ini yang terakhir setelahnya infuse Kak Lika akan dilepas," ucap Riski memberitahu.
Reynand berucap syukur, sejujurnya dia tidak tega melihat Lika dengan infuse yang terpasang di lengannya. Dia merasa nyilu saat Lika meringis ketika aliran itu tersumbat dan mengalirkan darah di selang itu. Itu akan terjadi saat dia ke kamar mandi.
"Abang belum ngantuk?" tanya Riski setelah selesai dengan tugasnya.
"Belum," jawab Reynand singkat.
"Bagaimana kalau kita menikmati Teh." Riski memberi usul.
Reynand menyetujui, dia beringsut dari ranjang setelah memberikan kecupan pada dahi Isterinya.
Riski tersenyum melihat cinta tulus yang diberikan Lelaki itu. Tidak ada kekhawatiran lagi akan kebahagiaan Kakak perempuannya. Reynand pasti akan berusaha memberikan kebahagiaan untuk Isterinya.
Dua Pria beda generasi itu berjalan menuju ruang keluarga. Riski berinisiatif membuat minuman untuk mereka. Disaat dia menunggu air mendidih, Keynand menghampirinya dan meminta membuatkan secangkir Kopi hitam.
"Tidak bisa tidur Abang Keynand?" tanya Rizqy. Dia sudah menaruh nampan yang berisi tiga gelas minuman.
"Iya," jawabnya singkat. Dia mengambil Kopi lalu menyeruputnya. Baru kali ini Keynand menginap di kediaman Kakaknya. Karena hujan membuatnya memilih untuk menginap. Apalagi adanya kedua orang tua membuat dia merasa aman dari fitnahan.
Dia tahu, Ipar merupakan maut terutama Saudara Laki-laki bagi seseorang yang bergelar Isteri. Karena itulah setelah Reynand kembali sebisa mungkin menjaga jarak dan tidak berbicara berdua selain ada orang lain bersama mereka. Mengingat itu, jika dia mengunjungi Putranya, dia tidak pernah mau menginap, sebisa mungkin dia akan pulang ke rumahnya. Selama ini dia hanya datang untuk mengunjungi Putranya dan sekaligus menumpang menikmati masakan Lika dan Ibu Fatimah. Selama lima tahun kebersamaan bersama Lika, Keynand mengupayakan untuk tidak menginap di kediaman orang tua Lika kecuali kalau ada Riski dan Rasya di rumah. Itupun dalam keadaan tidak memungkinkan untuk pulang ke rumahnya.
Seperti yang disampaikan Rasulullah 'Ipar adalah maut' karena itulah agar nyaman dalam hidup berumah tangga, sebaiknya kita tidak membiarkan Ipar hidup satu atap bersama kita meskipun dengan alasan apapun. Nasehat itulah yang pernah di dengar oleh Keynand sehingga tahu adap dalam pergaulan antara dirinya dengan Ipar dan keluarganya.
"Kamu kenapa Key? muka kamu suntuk banget?" tanya Reynand memperhatikan wajah adiknya.
Keynand tidak buru-buru menjawab. Dia lebih memilih menikmati Kopinya dan membiarkan Reynand penasaran. Riski yang tahu sebab musabab memilih diam karena tidak sopan rasanya jika dia yang menceritakan. Kecuali jika Reynand bertanya kepada dirinya maka dia akan menjawab, itupun atas persetujuan Keynand.
Tak ada respon, Reynand beralih ke Riski berharap Riski mengetahuinya. Pemuda yang mengerti akan tatapan Reynand memilih menjawab tak faham.
"Saya menyukai Wanita bersuami," jawab Keynand sangat jelas terdengar di telinga Reynand. Pada akhirnya berucap.
Reynand menyemburkan minuman karena terkejut. Dia merasa Keynand sengaja menjawab disaat dia menyeruput Teh. Alhasil, Teh itu menyebar kemana-mana.
__ADS_1
"Apa kamu salah berucap?" tanya Reynand memastikan.
"Tidak Bang, saya jatuh cinta dengan Wanita bernama Habibah Rosy. Abang juga sudah mengenalnya. Wanita yang menolong Raski saat terseret ombak." Keynand menjawab dengan pasti. Dia menghela nafas berharap kalapangan yang dirasakan dadanya, Setelah itu tersenyum getir.
"Bukannya Gadis bernama Habibah Rosy itu masih lajang?" tanya Reynand keheranan.
Melihat raut keheranan dan pernyataan yang diucapkan Reynand membuat Keynand terkejut. Riski juga tertarik dengan pembicaraan mereka berdua. Dia menghentikan aktivitasnya membuat Slide bahan mengajarnya. Dia kini memusatkan perhatiannya ke arah Reynand sembari mencodongkan tubuhnya mendekat.
Merasa dirinya diperhatikan oleh dua pasang mata membuat Reynand tersenyum simpul. Dia merapikan rambut panjangnya, menata alisnya yang rapi bak pagar kemudian menaik turunkan kedua alisnya secara bergantian. "Gue memang Ganteng, Lika saja sampai terpesona tak ingin beranjak dari wajah ini."
Glek
Riski tersenyum kecut, sementara Keynand melempar Reynand dengan Kotak Tissu yang terbuat dari Ketak. Untung saja Reynand cepat-cepat menghindar, kalau tidak wajahnya kian hancur.
"Hahahahahaha."
Tawa terdengar dari Reynand melihat raut adiknya tak sedap di pandang mata.
"Habibah Rosy setahu saya masih lajang, itu saya ketahui dari dia sendiri. Tidak sengaja menangkap pembicaraan dengan Lika. Dia menceritakan asalnya dari Desa hendak mengikuti Pelatihan UKM di Mentaram. Sebelum itu, dia mengunjungi Pantai Selatan karena ingin melihat Sirkuit Mandalika. Tentu saja, keberadaan Habibah merupakan kehendak Tuhan. Dia datang bukan sekedar rekreasi tapi untuk menyelamatkan Raski." Reynand menuturkan apa yang pernah didengar dari pembicaraan Lika dan Habibah.
"Aneh, tidak mungkin Habibah berbohong dan tidak mungkin juga Rizqy bersandiwara." Keynand berguman seakan tidak percaya dengan apa yang disampaikan Reynand. Pengakuan itu dari Habibah sendiri, tentu hal itu memang benar statusnya saat itu. Untuk apa juga berbohong, tidak ada keuntungan untuk dirinya.
"Kapan mereka menikah? bukankah mereka sedang menyelenggarakan pelatihan?" Keynand seperti bermonolog tapi hal tersebut di dengar oleh Reynand dan Riski.
"Menikah itu sebentar Bang Key, apalagi Ijab Kabul enggak sampai hitungan Jam, cuma beberapa menit. Mungkin saja saat mereka bertemu langsung memutuskan untuk menikah. Bisa jadi mereka sudah lama saling mengenal." Riski ikut menyuarakan pendapatnya.
Dia melanjutkan dengan menceritakan saat pertama kali bertemu dengan Lika dan pada akhirnya bersama. Itulah jodoh, ketika bertemu tanpa berpikir lagi Ibu Marisa melamar Gadis bernama Baiq Mandalika. Entah kenapa dia manut saja meskipun hati menolak. Padahal mereka belum mengenal satu sama lain. Baru mereka saling kenal saat lamaran itu terjadi. Jika memang jodoh segala sesuatunya akan dipermudah dan dilancarkan tanpa hambatan apapun. Walaupun ada pihak lain yang berusaha menggagalkan tentu hal itu tidak berarti apa-apa, buktinya akad nikah tetap dilangsungkan.
Keynand menikmati setiap kata yang terlontar dari bibir Kakaknya. Dia membenarkan, saat itu dia tidak terburu-buru mencari tahu tentang Habibah Rosy malah terkesan santai dan mengandalkan keyakinan bahwa dia akan mengetahui cepat atau lambat.
Jika benar dia jodohnya, tentu saat itu Tuhan menuntunnya untuk mencari tahu siapa dia, berkenalan dan tanpa berpikir lagi lansung melamar karena merasa dia Gadis baik dan tepat untuk dirinya.
Nyatanya tidak seperti itu, kan? itu berarti bukan jodohnya, itu merupakan jodoh Riski.
Keynand menghela nafasnya, dia mengangguk sebagai cara mengatakan dia setuju dengan Kakaknya. Mungkin saja dia harus melupakan Habibah, tapi hati kecilnya seakan menolak jika mengingat Rizqy bermain Api di belakang Habibah.
"Tenang Bang Key, nanti saya carikan Gadis untuk Abang. Di kampus banyak Mahasiswi cantik, cerdas dan Insha Allah sebagiannya sholeha. Tinggal Abang pilih saja maunya yang mana?" Riski ikut menimpali dengan menawarkan bantuan kepada Ipar Kakaknya itu.
"Enggak ah, nanti ujung-ujungnya cewek jadi-jadian semua. Saya ngerasa selama ini dikerjain oleh Adly. Masak pergi Midang harus bawa segala macam keperluan Wanita dari bedak hingga pakaian dalam, kenal juga enggak," sahut Keynand. Terlihat sekali kekesalan yang nampak pada raut jika mengingat pengalaman itu.
Reynand tertarik dengan cerita itu, dia membulatkan matanya tak percaya. Dia semakin diam menyimak cerita Adiknya yang sangat menarik perhatiannya.
Keynand melanjutkan ceritanya, kali ini membuat wajah itu mengkerut. Waktu itu Adly mengajaknya Midang ke rumah seorang Gadis di Desa Y. Baru saja duduk dan minuman yang disajikan belum disentuh, ketika ada Pemuda lain memberi salam dan Pemuda itu mencari Sang Gadis. Dengan cepat Adly menyeretnya keluar tanpa apa penjelasan apapun. Tentu hal itu membuatnya bingung sementara Gadis itu tak menahannya meskipun terlihat dia tertarik dengannya.
__ADS_1
"Kesal, kan?"
Reynand tertawa mendengarkan cerita yang menurutnya konyol. Untung saja dia tidak mengalaminya, jika itu dialaminya saat midang ke Lika dulu, tentu saja dia bisa menghancurkan apa yang dilihat tanpa berpikir lagi. Mungkin karena dia tempramental sehingga pengalaman itu tidak dialaminya.
"Itu memang aturan Desanya, jadi ketika kita mendatangi seorang Gadis yang berasal dari sana, meskipun baru saja duduk jika ada orang lain datang bertamu dengan tujuan Gadis itu maka orang yang sudah bertamu terlebih dahulu harus berpamitan dan meninggalkan rumah Gadis itu. Begitu seterusnya, jadi kita tidak tahu siapa Pemuda yang benar-benar menyukai Gadis tersebut. Apalagi jika ada persaingan, mereka pasti akan membawa pasukannya." Riski menjelaskan mengapa hal itu terjadi kepada Keynand pada saat itu. Itu merupakan aturan dari Desa tersebut, entah kenapa itu bisa terjadi? tak ada satupun yang mempermasalahkannya. Para Pemuda menikmatinya dan menganggap itu tantangan jika berhasil menghalau orang lain yang akan mendekati Gadis yang menjadi incarannya.
"Oh gitu?"
Serempak Kakak dan Adik itu berucap. Keynand baru mengetahuinya karena belum mendapatkan penjelasan dari Adly. Ia terlanjur kesal sehingga tak bertanya alasannya pada saat itu. Adly juga tidak ada inisiatif untuk menjelaskannya. Sepertinya dia sengaja tak menjelaskannya.
"Ngomong-ngomong tentang Adly, kapan perkiraan Fitri melahirkan?" tanya Reynand mengalihkan pembicaraan. Pertanyaan itu dia tujukan kepada Keynand.
"Belum tahu, nanti saya tanya ke Adly."
"Harus, jangan lupa memperhatikan semua Pegawai kamu, memberikan hadiah bagi mereka yang melahirkan dan membantu meringankan beban bagi mereka yang mengalami sakit. Jika kita sudah memperhatikan kesejahteraan mereka semampu kita, tentu mereka akan memperhatikannya dan berusaha memberikan tenaga dan pikiran terbaik mereka untuk kemajuan perusahaan." Reynand menjelaskan dan mengingatkan Adiknya agar memperhatikan kesejahteraan Pegawainya. Bagaimana pun juga mereka bergabung dengan perusahaan, tentu mereka merupakan anggota keluarga yang harus mendapatkan kesejahteraan dan perlindungan dari tempat dia bernaung.
"Iya Bang, biasanya Lika yang melakukannya. Saya rasa dia tidak lupa dengan hal itu, dia pasti sudah mendapatkan informasi jika ada Pegawai kita yang dianugerahkan anggota baru." Keynand menjelaskan dengan jelas, bahwa hal itu menjadi tugas Lika.
"Alhamdulillah." Reynand berpamitan setelah Teh habis dan tidak ada lagi yang harus disampaikannya. Dia juga merasa raganya ingin segera beristirahat.
Sepeninggalnya Reynand, Riski dan Keynand melanjutkan obrolan. Riski menjawab pertanyaan Keynand sembari membuat bahan mengajarnya. Sebelumnya dia minta maaf, rasanya tidak sopan jika berbicara tak memperhatikan lawan bicaranya. Keynand tak mempermasalahkannya, dia mengerti.
"Seriusan kamu mau mencarikan saya seorang Gadis? kamu sendiri, gebetan pun tak punya," ucap Keynand memecahkan kebisuan yang sempat terjadi.
Riski mengalihkan perhatiannya, kali ini dia menghentikan kegiatannya. Dia lebih memusatkan diri pada lawan bicaranya yaitu Keynand.
"Saya belum berani menyentuh hati seorang Gadis karena belum siap. Belum siap untuk mengikatnya, karena disebabkan kemapanan itu belum saya raih. Apa yang hendak saya beri jika saat ini rumah pun saya belum punya. Mau ditempatkan dimana, apa di istana pasir terus mau kasik makan apa anak orang? apa Pasir juga?" Riski menjawab alasannya belum mau mendekati seorang Gadis. Dia ingin fokus untuk meraih masa depan yang baik agar mampu mensejahterakan keluarganya meskipun sederhana.
Dia menolak bantuan kedua orang tua dan bantuan Iparnya yang kaya. Dia ingin mandiri dan memperjuangkan kesuksesannya dengan usahanya sendiri. Itulah yang dipikirkan Lalu Hamizan Riski.
Keynand menepuk mau Riski untuk memberikannya semangat. Dia juga mengingatkan bahwa baik dirinya maupun Reynand, kapan pun Riski meminta, dengan senang hati akan membantunya.
"Iya Bang," jawab Riski singkat.
Sejujurnya, dia jatuh cinta pada salah satu Mahasiswinya. Seorang Wanita ulet, bekerja keras dan pantang menyerah. Seorang Wanita yang harus menerima getirnya hidup bersama luka yang tertancap di ulu hatinya. Namun Wanita itu tetap tersenyum dan menikmati hidupnya yang tak mudah.
Di usianya yang masih belia masih belasan tahun, dia harus menjanda dengan mengandung buah hati yang tak diakui oleh orang tua Mantan Suaminya. Dia memilih tak kalah dan menangis, bahkan memilih tegar menjalani hidupnya.
Paginya berjualan sayur-sayuran untuk menafkahi hidup dan Sore hingga malam dia menjadi Mahasiswi untuk memperjuangkan masa depan yang cerah untuk dirinya dan bayi yang sedang di kandungnya.
Itulah Rin, Wanita yang berhasil mengusik kehidupan Riski. Nama Wanita itu telah bertahta di hati dan dia akan memperjuangkan kebahagiaan untuk Janda belia itu.
Bersambung.
__ADS_1
Maaf baru up, lagi terfokus pada kerjaan di dunia nyata. Semoga saja suka, jangan lupa Like dan komentarnya, yaaaa. Untuk Kisah Riski Adik dari Lika dan Rin, mungkin akan membuat kisah yang berbeda.
Terima kasih.