Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2. 78


__ADS_3

". ...Kamu hanya mengada-ngada. Jelas-jelas perusahaan ini milik Suami saya, Rizqylah yang merampasnya lalu mempenjarakan Mamiqnya dengan fitnahan keji. Dasar anak durhaka, sekarang dia menerima karmanya bukan? Sudah jelas sekarang, karena merampas perusahaan yang seharusnya menjadi milik saya sebagai Isteri sah Mamiq Wira Ariadi, dia langsung mendapatkan hukuman dari Tuhan. Kamu pun akan segera mendapatkan hukuman dari Tuhan karena menyebarkan cerita bohong." Wina menyela dengan tatapan nyalang ke arah Rizqia.


"Apa sopan namanya menyela pembicaraan orang tanpa permisi. Anda pasti tahu aturan berkomunikasi, kan Ibu Pejabat? Hargailah kedudukan dan Titel anda yang sudah capek-capek di dapatkan," ucap Rizqia dengan tenang.


"Pak Rizqy tidak sedang menuai karma, tapi beliau bersama Sang Isteri sedang menerima ujian untuk mempertebalkan keimanan mereka berdua. Kita sama sebagai Manusia, jadi jangan suka menghakimi, itu bukan hak kita sebagai Manusia melainkan ranah Tuhan. Oh ya saya berbicara tentu dengan bukti dan anda bisa mendatangi notaris nama siapa yang tercantum di sana."


Tidak ingin berdebat, usai berkata Rizqia memberikan dokumen tentang kepemilikan perusahaan. Tentu saja bukan fisik aslinya melainkan scanan yang sudah di simpan dalam benda elektronik miliknya.


"Sudah jelas siapa pemegang saham terbesar di Perusahaan ini dan ahli warisnya. Mereka adalah pewaris sah perusahaan ini, tidak lain adalah Lalu Rizqy Anggara, Lalu Kiano Anggara dan Baiq Rizqia Anggeraini. Apakah Ibu Wina faham? Jika tidak? Kenapa anda bisa lulus dari uji kompetensi lalu menjabat di lini penting? apa perlu kita pertanyakan?"


Rizqia menghela nafas panjang. Lelah rasanya berdebat dengan orang yang dikuasai oleh sifat tamak.


"Kamu siapa? Kenapa bicaramu sangat panjang dan apa yang kamu buktikan tidak mempan untuk saya. Tetap saja saya yang lebih berhak menentukan siapa yang akan memimpin Perusahaan ini. Kiano sudah tewas, apalagi anak Aisyah bernama Baiq Rizqia Anggeraini yang keberadaannya saja entah dimana. Aku pernah mendengar Gadis itu gila. Apa mungkin orang gila yang di suruh memimpin Perusahaan, yang benar saja? Terus Rizqy sedang sekarat? untuk apa kita menunggu orang yang enggan untuk hidup," ucap Wina menatap Rizqia dengan tatapan tajam penuh dengam kekesalan di sana.


"Saklek sekali perkataan anda Ibu Wina. Jika anda ngotot ingin menguasai perusahaan ini, tentu ada etikanya, kan? Tidak bisa main comot saja lalu langsung menjadi milik anda. Gampang banget, dong? Apa gunanya pemegang saham dan para direksi kalau begitu?" ucap Keynand dengan tegas. Dia menegakkan tubuhnya. Aura kepemimpinannya menguar tatkala dia serius.


"Awalnya saya datang ke sini sebagai pengawal Pribadi calon Isteri saya, Gadis di samping saya ini. Namun karena ambisi Penumpang gelap di depan sana yang ingin menguasai Perusahaan Kak Rizqy membuat saya tidak tahan untuk tidak bertindak. Saya selaku pemegang saham mayoritas sekaligus sahabat dan calon ipar Lalu Rizqy Anggara akan tetap berpihak pada pewaris sah, bukan pada anda yang bukan siapa-siapa di sini. Anda memang Isteri dari Mamiq Wira Ariadi, tapi anda tidak berhak mengambil alih perusahaan apalagi dengan saham anda yang seberapa itu."


Keynand melanjutkan dengan pengakuannya yang membuat orang-orang terkejut, terlebih Rizqia. Gadis itu menatap Keynand dengan tatapan yang entah.


"Nona Baiq Rizqia Anggeraini, tidak inginkah Nona memperkenalkan diri pada Ibu Tiri anda sekaligus memperkenalkan calon Suami Nona agar kedudukan Nona di perusahaan ini semakin kuat,"sambung Keynand dengan nada lembut diiringi anggukan.

__ADS_1


"Iya, mungkin sudah waktunya Ibu Wina mengenal anak tirinya yang di anggap gila, padahal sejatinya saya sehat-sehat saja," sahut Rizqy memberikan senyum termanis.


Desas desus mulai terdengar di antara mereka. Kini mereka mulai ancang-ancang memihak kepada siapa, apalagi melihat keberadaan Keynand di pihak seorang Gadis yang baru mereka ketahui merupakan anak kandung Wira Ariadi dan Aisyah.


"Pertemuan kita yang seharusnya membahas bisnis mengapa menjadi drama keluarga, buang-buang waktu saja," ucap seseorang dengan sinisnya.


"Mohon maaf Tuan, saya pun terjebak dengan drama yang diperbuat oleh Isteri dari Mamiq saya sendiri. Oh ya perkenalkan saya Baiq Rizqia Anggeraini saudara kembar dari almarhum Lalu Kiano Anggara, yang artinya saya adik kandung dari Lalu Rizqy Anggara."


Setelah Rizqia memperkenalkan diri, perdebatan semakin berlanjut. Wina semakin keukeuh dengan keinginan dan meragukan bahwa Rizqia adalah anak kandung Wira dan Aisyah, apalagi dia membeberkan riwayat kesehatan Rizqia yang pernah depresi.


Kenyataan itu menjadi keraguan dari beberapa orang yang memegang keputusan.


Namun berkat dukungan dari Keynand, tidak sedikit orang yang berpihak kepada pewaris sah. Rata-rata dari mereka yang berpikir logis dan benar-benar ingin memajukan Perusahaan.


Panjang lebar Rizqia menjelaskan keinginan Rizqy untuk memperluas bisnisnya. Bukan hanya menghasilkan pundi-pundi uang, Rizqy ingin perkebunannya menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk banyak orang. Rizqy memilih tanaman obat, yang nantinya bisa dikembangkan menjadi obat paten.


Rizqia tersenyum lega saat Wina Winata tidak berkutik. Para Pemegang sahan dan para Direksi tentu saja akan memihak kepada mereka yang merupakan Pemilik sah Perusahaan.


Wina menatap Rizqia dengan tatapan permusuhan. Dia mengepal tangannya berusaha mengendalikan kegeramannya. Jika saja dia tidak ingat siapa dirinya, mungkin saja Wanita itu akan mengamuk.


"Mendengarkan yahanu-yahanu dari Calon Mertua Tiri bikin capek dan perut keroncongan. Kita cari makan yuk? Setelah itu lalu kita Sholat selanjutnya kita ke KUA. Agenda terakhir yang aku demen," ucap Keynand saat mereka berjalan keluar dari ruang meeting.

__ADS_1


"Wah mau garcep, Pak Keynand? Dari Bodyguard langsung Suami, keren emang? Kalau begini mah saya juga demen dengernya," sahut Fathan menggoda Rizqia dan Keynand.


Rizqia tersenyum canggung di hadapan Fathan, sedangkan ke arah Keynand dia mendelik dengan kepalan tangan mengisyaratkan mau mengajak perang.


"Doaian saja Pak Fathan, agar status saya setingkat lebih tinggi dari sekarang. Awalnya Bodyguard langsung menjadi Suami dengan kilat, bila perlu hari ini langsung sah," sahut Keynand meminta dukungan.


Fathan mengamini dengan tawa yang membahagiakan. Sementara Rizqia hanya terdiam saja tidak tahu mau berekspresi seperti apa. Bahagiakah atau malah nelangsa? Yang jelas hatinya menghangat jika itu terjadi, sah menjadi Isteri Tuan Bodaknya.


"Kalau begitu, kita permisi."


Keynand berpamitan dan Fathan hanya mempersilahkan membiarkan kedua sejoli menikmati kebersamaannya, meskipun dalam hati ada niatan untuk menjamu mereka.


"Loh! Motor balapnya, mana? Kok hilang?"


Rizqia panik melihat Motor milik Keynand hilang tak berjejak.


"Apa lupa di mana markirnya? Atau jangan-jangan udah di geret pihak leasing. Tuan Bodak lupa ya nyetor kreditannya?" ucap Rizqia menatap Keynand dengan wajah kebingungan.


Keynand dengan sukses menahan tawa melihat kepanikan Rizqia dan sungguh terlihat lucu. Tanpa sadar Rizqia telah sukses membuat Keynand terhibur hari ini.


"Hahahahaha."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2