Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
76


__ADS_3

"Assalamu'alaikum."


Terdengar salam dari seorang Pria sembari mengetuk daun pintu yang masih tertutup rapat.


Tak lama menunggu dari arah dalam ada suara langkah mendekat.


Ceklek


Pintu terbuka dengan menampilkan seorang Wanita Paruh Baya yang di pastikan merupakan Asisten rumah tangga.


"Cari siapa?" tanyanya sembari menyelidiki Pria tampan yang ada di hadapannya. Menyadari sesuatu, tiba-tiba Wanita paruh baya itu heboh dengan sendirinya.


"Keynand Putra Ardiaz, kan?"


Wanita itu melanjutkan kehebohannya.


Keynand tidak menyangka ternyata dirinya terkenal juga. Bukan hanya di kalangan Pengusaha tapi ternyata merambah ke kalangan Asisten rumah tangga. Itulah resiko mempunyai wajah tampan, banyak yang mengenal.


Keynand tersenyum lalu melanjutkan dengan mengangguk sebagai jawaban.


"Masya Allah, tidak menyangka di datangi Direktur Hotel Ardiaz yang tampan dan kaya raya. Pasti Den Keynand cariin Bibik, ya? Tahu gitu? Kenapa tadi enggak ke salon dulu biar glowing ketemu Bidadara," ucap Sang Bibik semakin heboh.


"Bibik ini ternyata lucu. Enggak nyalon saja udah glowing gini apalagi udah perawatan di Salon pasti semakin glowing." Keynand memuji Sang Bibik dengan ramahnya.


Sang Bibik tersenyum sumringah mendengarkan pujian. Dia semakin menebarkan pesonanya dengan tingkahnya yang semakin centil.


"Jadi lupa mempersilahkan masuk," ucap Sang Bibik kemudian mempersilahkan Keynand untuk masuk ke ruang tamu.


Keynand melangkah mengikuti Wanita paruh baya itu. Setelah sampai baru dia mendudukkan diri pada Sofa yang terbuat dari anyaman Ketak.


"Mau minum apa Den Keynand?" tanya Sang Bibik. Dia masih saja memandang Keynand dengan menampilkan senyum bahagianya. Sepertinya Wanita Paruh baya itu tidak bosan melihat ketampanan Pria di hadapannya.


"Memangnya Rizqia suka minuman apa? Itu aja deh! Kalau tidak merepotkan Bibik," jawab Keynand dengan sopannya.


"Kok repot, sih? Kan Bibik yang nawarin." Sang Bibik hendak beranjak dari duduknya. Nanum tertahan dengan ucapan dari tamunya itu.


"Terima kasih. Sumurnya tidak dalam, kan?"


Sang Bibik tertawa dengan candaan tamunya. dia tidak menyangka Keynand tahu sindiran khas Daerah ini jika minuman tidak kunjung terhidang saat tamu datang.


Sudah menjadi sebuah keharusan jika kita bertamu pasti akan di hidangkan segelas Kopi untuk Laki-laki dan Teh celup untuk Wanita. Itu merupakan cara untuk memuliakan tamu. Kita sebagai tamu pun akan meminumnya meskipun seandainya tidak menyukai Kopi ataupun Teh. Tetap saling menghargai satu sama lain.


"Tenang, meskipun Sumur dalam dan mengering, Galon tetangga masih berisi penuh, jadi jangan khawatir minuman pasti akan tersaji. Apa sih yang enggak untuk Den Keynand yang tampan ini." Sang Bibik menanggapi candaan Keynand dengan candaan pula. Terdengar centil membuat Keynand berusaha menahan tawanya. Tidak sopan rasanya dia menertawakan kecentilan Wanita paruh baya itu. Tetap kesopanan itu di junjung tinggi. Bagaimana pun juga yang tengah di hadapi adalah orang tua, jadi harus di hormati. Keynand memilih tersenyum sebagai cara meluapkan hatinya yang senang.


Beberapa menit menunggu, Wanita Paruh Baya itu datang dengan membawa nampan berisi segelas Jus Melon dan sepiring Kue kering.

__ADS_1


"Silahkan Ganteng, ini minuman kesukaan Non Qia dan ini kue yang dibuat oleh Non Qia," ucap Sang Bibik memberitahu setelah hidangan itu tersaji di Meja.


Keynand mengambil Kue kering itu terlebih dahulu. Bentuknya yang menarik perhatian membuatnya berselera, apalagi Kue itu buatan Rizqia tambah bersemangat ingin mencicipi.


"Kue Tarek," ucapnya sebelum memasukkan Kue itu ke dalam mulutnya.


"Ternyata Den Keynand tahu nama Kue kering ini," sahut Sang Bibik senang.


"Iya, saya mengenal beberapa Kue tradisional khas Daerah ini. Ipar dan mendiang Isteri saya suka membuat Kue tradisional jadinya saya mengenalnya," jawab Keynand setelah selesai memakannya.


"Luar biasa emang Den Keynand. Orang asli sini saja belum tentu mengenal apalagi menyukai kue kering seperti ini, katanya sih udah kolot bukan zamannya lagi. Sedih dan kesel dengernya," ucap Sang Bibik terdengar bersemangat di awal dan lesu di akhiran tatkala mengakui pergeseran selera sebagian masyarakat.


Keynand hanya mengangguk sembari melanjutkan menikmati kue kering yang terasa renyah di Lidah.


"Jangan sedih, masih ada saya yang doyan Kue tradisional apalagi buatan Qia," ucap Keynand menyenangkan hati Sang Bibik.


"Ah Den Keynand manis banget, bikin Bibik merona bahagia," ucap Sang Bibik berbunga-bunga.


Tidak menyangka Keynand ternyata orang yang baik, ramah dan bisa diajak bercanda. Tadinya dia mengira bahwa orang yang bernama Keynand itu orang yang serius, dingin, arogan, kasar dan sombong. Ternyata dugaannya salah total. Beruntung sekali jika Rizqia berjodoh dengan Laki-laki sopan ini.


Dia semalam mencari informasi tentang Keynand setelah diberitahu namanya oleh Rizqia. Untung saja Pria itu tidak menyembunyikan identitasnya sehingga dengan mudah mengakses informasi tentang Sang Direktur tampan itu.


Semalam terlalu bersemangat, dia berteriak histeris. Suara kerasnya menggema membuat pinggang Rizqia encok saking terkejutnya. Gadis manis itu terjatuh dari Ranjang karena salah tumpuan. Apes banget bukan, sementara Sang Bibik menertawakannya dengan rasa tidak bersalah.


"Renyah seperti tawanya. Enak seperti wajahnya yang enak di pandang mata dan manis seperti senyumnya yang berhasil mengalahkan gula," guman Keynand dengan senyumnya.


"Terima kasih," ucap Sang Bibik bahagia. Ada rona merah pada wajah tuanya.


Keynand hanya tersenyum saja. Dia tahu Sang Bibik hanya becanda. Keynand membiarkan saja, hitung-hitung menyenangkan hati orang tua.


"Ngomong-ngomong Qia kok enggak keliatan?" tanya Keynand mulai mengutarakan maksudnya terdampar di rumah ini.


"Bagaimana enggak keliatan wong Rizqia sudah melesat dari tadi pagi," sahut Sang Bibik. Dia sejatinya tahu kalau alasan Keynand berada di sini pagi ini karena ingin bertemu dengan Rizqia.


Namun Rizqia sudah pergi pagi-pagi sekali, seakan yakin bahwa dia akan kedatangan tamu tak di undangnya.


Benar saja Keynand datang lagi, berharap bertemu Rizqia dan bersama-sama menuju ke Kampus.


"Jadi begitu? Berarti saya yang terlambat. Besok-besok saya Kemah di halaman rumah ini deh biar enggak telat jemput Qianya," ucap Keynand terdengar serius.


"Ide bagus, Bibik akan mendukung dengan sepenuh hati seperti mendukung Para Pemimpin yang tak mengenal Rakyatnya," ucap Sang Bibik bersemangat. Wajahnya berseri-seri menggambarkan kebahagiaan yang setiap hari akan bertemu dengan Keynand. Wajah tampan itu akan mampu menyegarkan penglihatannya, mengalahkan hijaunya Pegunungan.


"Emang boleh Bik?"


"Boleh, dong."

__ADS_1


"Kalau begitu saya akan datang ke sini nanti malam. Bibik pastikan kalau Qia tidak akan memgusir saya," ucap Keynand memastikan.


Sang Bibik mengangguk bersama senyum antusiasnya.


Keynand merasa tidak kecewa pagi ini tidak bertemu dengan Rizqia. Tujuannya dia alihkan dengan mendekati orang terdekat Rizqia. Jika dia mendapatkan dukungan dari orang terdekatnya tentu akan mudah mendekati orang yang akan menjadi tujuannya.


"Kok pagi sekali Rizqia pergi ke Kampus? Gerbangnya saja belum di buka," tanya Keynand.


"Kata Non Qia, pagi ini ingin membantu Non Rin berkeliling mengantar sayuran kepada langganan Non Rin. Sebelum Subuh, Non Rin sudah menuju ke Pasar Selak yang ada di Bertais sana untuk mendapatkan Sayur-sayuran sedangkan untuk Ikan laut dan kawannya dia akan mengambil ke Pasar Kota Tua. Ke ujung Timur dulu baru ke ujung barat, setelahnya baru berkeliling menuju perumahan dan kampung penduduk untuk berjualan."


Sang Bibik bercerita tentang aktivitas Wanita yang bernama Rin yang merupakan Sahabat Rizqia. Kerap kali Rizqia membantu Rin untuk berjualan agar memudahkan langkah Wanita itu. Terkadang dia yang akan mengambil Ikan ke Pasar Kota tua agar Wanita hamil itu tidak kelelahan.


"Jadi begitu?" ucap Keynand. Dia merasa kasihan kepada Wanita hamil itu. Baru mengenalnya, Keynand sudah bisa menilai bahwa Wanita itu adalah Wanita yang keras kepala, pantang menyerah dan memiliki kekuatan untuk maju dan sukses seperti harapannya.


Terlalu bodoh mereka melepaskan Wanita sebaik dan sehebat Rin. Seperti halnya Rizqia yang sama hebatnya. Keynand tidak akan melepaskan Gadis bermata belo itu.


Keynand mengorek informasi tentang Rizqia. Untung sekali Sang Bibik bersedia menceritakan kehidupan Nonanya itu.


Lama mengobrol dan mendapatkan informasi yang diinginkan, Keynand akhirnya berpamitan.


Sang Bibik sepertinya enggan melepaskan kepergian Pria tampan itu. Keynand hanya tertawa kecil menghadapinya.


***


"Maaf saya terlambat," ucap Keynand dengan santainya. Dia berani masuk karena yang menjadi mengajar saat ini adalah Riski dan Rizqia mengikuti mata kuliah yang di pegang Riski.


Keynand mengedarkan pandangan dan menemukan Gadis yang di carinya di tengah-tengah mereka. Dia tersenyum lalu melangkah menuju di mana Rizqia berada. Dengan tak sopan dia meminta Gadis di samping Rizqia untuk pindah.


"Hai kita ketemu lagi," sapa Keynand tanpa menghiraukan pandangan mata beberapa Mahasiswa dengan berbagai tanya di benak mereka. Begitu pun dengan Gadis yang di usirnya tadi terlihat sangat kesal.


Riski mendengus kesal. Dia terlihat tidak suka dengan Abangnya itu yang mengganggunya saat dia sedang konsentrasi berbagi ilmu dengan Mahasiswanya.


"Inilah contoh yang tidak baik, jangan di tiru teman-teman. Dalam bisnis, terlambat itu sangat fatal karena akan menyebabkan hilangnya peluang yang sejatinya sudah berada di tangan. Ibarat uang yang sudah berada di tangan, tapi tiba-tiba di ambil. Seperti apa rasanya?" ucap Riski menyindir kelakuan Keynand.


"Kita lanjut," ucap Riski serius.


Sementara Keynand hanya tersenyum tipis. Dalam hati mengaku salah karena telah mengganggu kekhusukan mereka dalam menyerap ilmu. Bagaimana lagi, Rizqia sangat susah di raih.


"Anda, Mahasiswa yang terlambat, silahkan maju ke depan dan jelaskan perbedaan Bank Syariah dengan Bank Konvensional," ucap Riski datar. Pandangannya diarahkan kepada Keynand yang kini tengah asyik memperhatikan Rizqia di sampingnya.


Glek


Keynand cukup terkejut dengan apa yang di lakukan Riski.


Dia sedang mengerjainnya atau sedang mengujinya?

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2