Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
94


__ADS_3

(Tawaran yang menarik! Mari kita bicarakan. Aku tunggu di Restaurant Bening, beberapa menit lagi akan sampai)


Rizqy menulis balasan pesan lewat aplikasi hijau dan langsung di baca oleh Wina.


Tidak menunggu terlalu lama, Wina membalasnya dengan penuh keangkuhan.


(Aku sibuk, tidak ada waktu untuk mendatangi kamu. Lagi pula kamu yang membutuhkanku, jadi seharusnya kamu yang menemuiku di Kantor. Jika memang ingin langsung saja bilang 'Okay' di sini, kenapa harus repot-repot ngajak aku bertemu)


(Ah ya! kamu pasti lagi kangen sama, aku kan?)


Rizqy tersenyum sinis saat membaca pesan. Tanpa berpikir lagi dia membalas dengan jual mahal pula. Sebenarnya dia mengajak Wina bertemu hanya ingin melihat wajah keterkejutan yang di nampakkan oleh Wina saat dia bersedia menerima tawarannya dengan syarat tentunya.


(Ibu Wina yang terhormat, bukan hanya anda saja yang sibuk dan banyak urusan. Saya pun demikian malah hampir tak ada waktu hanya sekedar menyapa. Ini karena pesan dari anda jadi mana boleh di abaikan)


(hampir saja saya lupa bilang, sebenarnya yang butuh itu siapa, sih? Saya atau anda? Biasanya yang duluan menghubungi sebenarnya dialah yang lagi butuh)


Selesai membalas, Rizqy menghidupkan mesin mobilnya lalu secara perlahan meninggalkan Kantor yang kini bukan lagi menjadi tempat menumpahkan segala tenaga dan pikirannya.


Ting


Terdengar pesan yang di yakini dari aplikasi berwarna hijau. Rizqy membukanya lalu membaca deretan kata-kata yang membuat senyum itu terbentuk pada raut wajahnya.


(Okay aku akan ke sana. Apa kamu senang Rizqy?)


Dia tak membalas dan memilih melajukan Mobil ke Restaurant yang di tuju.


Selang beberapa menit dia sampai ke Restaurant tersebut. Sembari menunggu, dia memetik buah melon yang akan di buat Jus dan juga sebagai kudapan.


Rizqy menunggu dengan santainya sembari berbalas pesan dengan Habibah, Sang Isteri. Tidak lupa pula mengingatkan Rizqia agar bersiap-bersiap karena dia akan menjemputnya sebentar lagi.


"Tak bisakah sedikit romantis bila mengajak aku berkencan," ucap Wina begitu saja tanpa berbasa-basi terlebih dahulu. Dia lalu duduk di hadapan Rizqy dengan gaya anggunnya. Badannya sedikit dia condongkan ke depan agar Laki-laki di hadapannya tidak sanggup lagi mengelola detak Jantungnya.


Rizqy tersenyum menawan menyambut kehadiran Wanita itu.


"Inilah yang saya suka dari kamu selalu ceplas ceplos," sahut Rizqy berintonasi datar.

__ADS_1


"Tentu, bukan hanya itu saja melainkan seluruh apa yang melekat pada diriku. Hanya pesonaku yang mampu membuat kamu tak mengalihkan pandangan. Tidak ada Gadis lain lagi yang berhasil membuat kamu jatuh cinta selain aku. Iya, kan? Akui saja," balas Wina dengan jumawanya. Dia yakin Rizqy pasti akan menerima dirinya lagi untuk hidup bersama seperti dulu.


"Langsung saja, tak perlu saya bertele-tele karena tak ada waktu untuk itu," ucap Rizqy terdengar serius.


Wina sangat tertarik dengan sorot mata yang teduh dan sikap yang tenang itu. Rizqy terlihat sangat tampan dengan senyum ramahnya. Ada imajinasi liar tatkala menyentuh aroma maskulin yang menguar dari tubuh Laki-laki itu.


Wina tak bisa menahan keinginannya. Terasa panas dingin ingin segera mendapatkan sentuhan lembut dari tangan kekar itu.


"Saya tertarik menerima tawaran anda mungkin saja akan menerimanya asalkan mau melaksanakan permintaan saya. ..."


Rizqy menggantung kalimatnya dan melihat Wina yang terlihat tertarik dengan apa yang di ucapkannya.


". ...apa? Apapun itu aku pasti akan bisa memenuhinya." Tak tahan Wina langsung memotong kalimat yang diucapkan Rizqy dan mengatakan dengan sangat yakin bahwa dia sanggup mengabulkan permintaan itu tanpa ingin mengetahui terlebih dahulu permintaan apa yang diinginkan oleh Rizqy.


Rizqy tersenyum dengan keyakinan yang dimiliki Wanita itu. Rizqy tidak langsung mengatakan apa yang diinginkannya itu. Dia memilih menikmati Jus yang baru saja di sediakan oleh Pelayan.


"Minum dulu, jangan terlalu serius Ibu Wina," ucap Rizqy usai meneguk Jus Melon yang sudah di pesannya.


Wina mengalihkan perhatian kepada Jus Melon yang terlihat sangat segar. Ada senyum tipis tersungging pada bibir sensual berwarna merah Cherry itu.


"Permintaan saya, saya rasa sangat sulit anda kabulkan. Saya yakin permintaan ini akan membuat anda syock. Saya tidak yakin bahwa anda bisa mengabulkannya." Kini Rizqy sengaja bertele-tele. Sebenarnya dia hanya ingin mempermainkan Wanita di hadapannya.


"Apa kamu sedang meremehkan seorang Wina? Apapun permintaan itu pasti aku bisa kabulkan. Gampang bagi seorang Wina untuk mengabulkan segala permintaan apalagi itu dari kamu, Rizqy," jawab Wina dengan sombongnya.


"Kalau saya minta anda bersedia berjalan menuju Penjara dan bersedia juga berkata jujur dengan segala rahasia di hati, bagaimana? Apa anda bisa mengabulkannya?" ucap Rizqy dengan serius.


Terkejut. Wajah itu yang di saksikan olehnya saat Wina menyimak kata berkata yang terlontar dari Bibirnya. Dia sedikit terhibur dengan ketegangan yang sangat kentara di perlihatkan Wina. Namun itu berlangsung seperkian detik, selanjutnya Wina berusaha bersikap biasa saja seakan tak berarti apa-apa. Wanita itu tahu, Rizqy sangat suka bercanda dan saat ini pun juga dia yakin Rizqy pasti sedang bercanda.


"Kamu tidak berubah Riz, masih saja suka mengerjain aku," ucap Wina berusaha menyembunyikan kegusarannya. Dia tak ingin menanggapi candaan Rizqy dengan serius.


"Itu tahu, tapi kenapa anda menanggapinya dengan ketegangan. Slow Sister, cukup Listrik saja yang bertegangan tinggi jangan anda. Atau jangan-jangan tanpa sengaja anda ingin memberikan Bedil kepada saya," sahut Rizqy dengan santainya.


Wina semakin bingung dengan pembicaraan Rizqy yang tak tahu ujung pangkalnya. Wajahnya kini terlihat kesal dan tentu saja Jus yang menjadi sasarannya untuk meluapkan kekesalannya.


"Jadi bagaimana? Apa Ibu Wina bersedia?" tanya Rizqy kembali mengingatkannya.

__ADS_1


"Apa yang kamu bicarakan Rizqy? Untuk apa saya mengabulkan permintaan konyol kamu. Jangan bermain-main dengan saya dan rahasia apa yang saya simpan seperti yang kamu tuduhkan? Saya benar-benar tidak mengerti. Hati-hati kamu, Riz! Aku bisa menuntutmu dengan berlapis lapis pasal." Wina mulai emosi dan tersinggung dengan permintaan aneh Rizqy. Dia berusaha mengendalikan kegeraman karena Rizqy mengajaknya bertemu hanya untuk mempermainkan dirinya. Wina menatap Rizqy dengan sorot mata tajam mengisyaratkan bahwa dia tengah mengancamnya.


"Apa Rizqy tahu sesuatu?" batin Wina bertanya.


"Jangan di buat serius, kasian skin care mahal yang anda gunakan nantinya tak berhasil memberikan khasiat yang maksimal. Saya suka kue lapis seperti yang Ibu Wina katakan tadi," sahut Rizqy kembali mengajaknya berguyon.


Puas rasanya Pria itu melihat raut wajah Wina yang tak enak untuk di pandang. Bingung dengan yang dibicarakan oleh Rizqy. Syock dengan kalimat yang seperti mengancamnya. Ada kekhawatiran dan ketakutan tentang rahasia yang hanya dirinya saja mengetahuinya dan kini ada orang lain yang membicarakannya. Rasa tak enak itu berkumpul menjadi satu pada dada Wina. Hal itu tentu saja membuatnya tak tenang.


"Tenang saja Ibu Wina, rahasia anda di jamin tidak terdeteksi oleh siapapun selama saya mau menutupinya. Belum saatnya rahasia itu terbongkar. Jadi tetaplah bersembunyi di balik senyum tulus yang anda perlihatkan."


Ucapan Rizqy lagi-lagi membuat Wina kerkejut. Seketika raut wajahnya pucat pasi seperti saat mengetahui kekalahannya dan telah kehilangan semuanya.


"Sepertinya anda tidak akan mampu memenuhi permintaan ini. Jadi, lupakan kalau saya pernah mengatakan tertarik dengan penawaran anda. Terima kasih atas waktu yang sangat berharga ini."


Rizqy mengakhiri percakapan yang tak penting sama sekali. Dia sengaja membuang waktu yang berharga milik Wina untuk mendengar omong kosongnya.


"Kalau begitu Saya pamit dulu Ibu Wina. Saya ingin segera merasakan rasa enak dari Kue lapis yang anda maksudkan tadi. Bibah, Wanitaku pasti bisa membuatnya. Enggak sabaran rasanya ingin berjumpa dengan Kekasihku itu."


Wina lagi-lagi terkejut dengan kenyataan yang baru di ketahuinya. Rizqy sudah memiliki seorang Kekasih. Dan lebih membuatnya tak percaya ada cinta dan kebahagiaan yang terpancar dari pelupuk mata tatkala menyebut nama itu.


Wina merasakan kecemburuan itu menyeruak dari dalam hatinya. Kini baru menyadari, mata itu tak seterang ini tatkala menatap dan menyebut namanya saat dulu menjalin hubungan dengannya.


Terlihat pancaran cinta itu sangat tulus dan sangat besar yang bersemayam dalam hati Mantan Kekasihnya itu untuk Wanita yang baru di dengar namanya itu.


Marah kini telah menguasai Wina karena Rizqy dengan sukses mempermainkan dirinya.


Rizqy tidak peduli seperti apa suasana hati Wina. Dia hanya peduli dengan hati Isterinya yang selalu setia menunggunya.


"Wina, tak selamanya air yang tenang itu akan tetap tenang. Dia akan beriak saat di lempar oleh bebatuan, apalagi batu itu sangat besar yang berhasil memporak-porandakan ketenangan itu. Saya diam menerima semua ini bukan berarti tak ingin membalasnya. Hanya tunggu waktu untuk melihat kesakitanmu itu." Rizqy bermonolog dalam diam.


Cairan bening itu menyeruak begitu saja sebagai cara meluapkan rasa sakit di dalam dadanya. Dia beristighfar berulang-ulang kali agar kelegaan itu dia rasakan.


Seandainya Habibah Rosy ada di sampingnya, tentu dia tidak sesakit yang dia rasakan kini.


"Bibah."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2