
Prang
Prang
Prang
Mendengarkan suara teriakan dan barang-barang berjatuhan seketika keadaan yang semula riang berubah menjadi riuh. Terlihat wajah-wajah ketakutan dari anak-anak yang berusaha di tenangkan oleh orang tua masing-masing.
"Amankan anak-anak," ucap Reynand setenang mungkin agar tidak memperparah ketakutan anak-anak, meskipun Reynand ingin sekali meluapkan kemarahan karena tamu tak diundang yang datang mengusik kebahagiaan keluarga dan para Tetangganya.
Lika mengangguk mengerti. Dia segera mengajak anak-anak menuju ke area paling belakang, tempat rumah panggung dan kawasan outbond berada. Dia menggendong Baby Ayana yang untungnya tidak terusik dengan kekacauan yang terjadi bersama Renia dan Raski yang berjalan di depannya. Sedangkan para Tetua ikut bergabung sekaligus menenangkan anak-anak agar tidak trauma dengan kekerasan yang baru saja di saksikan.
"Mereka siapa?" tanya Ali Hasan yang mengikuti Lika bersama Fatimah di sampingnya.
"Saya juga tidak tahu, Miq? Padahal kita tidak punya musuh, tapi mungkin saja ada yang iri dengki sama keluarga kita terus tidak suka melihat kebahagiaan keluarga kita," jawab Lika. Ada nada sedih terdengar dari suaranya.
"Kasian Dadek Raski, padahal ini hari bahagianya," lanjutnya sembari menatap Raski yang terlihat sedih karena harus menghentikan permainan.
"Dadek Raski jangan sedih, ya? Nanti Papuk ajak jalan-jalan ke Sesaot. Dadek Raski mau berenang, enggak?"
Kakek dan Nenek dari pihak Ibu berusaha menghibur Raski. Dia tidak ingin Raski kecewa dengan insiden yang tidak pernah mereka duga sama sekali akan terjadi.
Raski mengangguk sembari masuk dalam pelukan Kakeknya.
Sedangkan Adly, Hamiz dan Keynand terlebih dulu menghadang para Preman yang dibantu oleh para Laki-laki.
Baku hantam pun tak terelakkan lagi, Mereka berusaha mengusir para preman yang tiba-tiba menyerang kediaman Reynand, tanpa tahu tujuannya apa.
"Kebetulan sudah lama gue tidak meremukkan tulang berulang orang, sini," ucap Reynand marah. Dia menghantam para preman yang mulai mendekat ke arahnya dengan sekali hantaman. Tinjuan dan tendangan yang dilayangkan oleh Reynand tidak sama sekali bisa di tangkis oleh para preman yang menyerangnya. Tidak butuh terlalu lama beberapa preman tumbang dengan keadaan yang mengenaskan.
Kraaaak
Reynand mematahkan salah satu Kaki Preman itu yang membuatnya seketika pingsan.
Saat Reynand, Adly dan Hamiz melumpuhkan para preman, tanpa mereka ketahui ada seseorang yang mendekati Keynand. Tidak ada yang curiga dengan orang tersebut, karena tidak menyerang Keynand melainkan ia membantu Keynand menyerang lawannya.
Namun dibalik itu, orang tersebut dengan gerakan cepat menusuk lengan Keynand dengan sebuah jarum suntik lalu berpura-pura terkena pukulan setelahnya menghindar sebelum Keynand merasakannya.
__ADS_1
"Awwww." Keynand merasakan kesakitan setelah itu tubuhnya langsung ambruk ke lantai.
"Bruuuuk."
"Bang Keynaaand," teriak Qia melihat Keynand yang jatuh tidak sadarkan diri.
Reynand dan Adly tersentak kaget mendengar suara benda jatuh dan teriakan dari Qia yang memanggil nama seseorang. Ketika menyadari bahwa suara jatuh itu adalah Keynand yang pingsan, keduanya gegas menghampiri lalu berusaha menyadarkannya.
"Adlyyy, cepat siapkan Mobil kita bawa ke rumah sakit," ucap Reynand panik. Dia melihat wajah Keynand sangat pucat, hal itu yang membuatnya kian cemas.
Adly tanpa berkata apa-apa gegas meraih kunci Mobil lalu membantu Reynand membopong tubuh Keynand.
"Bang Reynand, tadi saya tidak sengaja melihat orang itu megang sesuatu sepertinya jarum suntik, mungkin saja Abang Keynand tertusuk jarum suntik itu lalu pingsan," ucap Qia memberitahu saat Keynand di bopong menuju Mobil.
Reynand mengangguk mengerti. Bersama Adly, dia membawa Keynand menuju rumah sakit Ardiaz.
Setelah memberitahu apa yang dicurigainya, Qia berusaha mengejar Laki-laki tersebut. Dia yakin orang yang berpura-pura membantu Keynand, merupakan orang yang telah mencelakakan Keynand. Apalagi dia sempat melihat orang tersebut mengeluarkan sesuatu dari saku Jaket yang diyakininya adalah jarum suntik lalu mengarahkan ke lengan Keynand dengan gerakan cepat tak terlihat. Tidak ada yang memperhatikan dan Keynand pun tidak menyadari bahaya itu. Lelaki itu pasti mengira, bahwa dia adalah kawan yang ikut serta menghajar para Preman. Nyatanya itu hanyalah siasat untuk mendekati Keynand lalu melaksanakan misi untuk melumpuhkannya.
Buk
Qia berhasil menjatuhkan lawannya dengan lemparan batu yang tepat mengenai Kepalanya.
Laki-laki itu bangkit, hendak melarikan diri tapi Qia tidak diam saja, dia menyerang Pria itu dengan kemampuan yang dia miliki. Saat mereka berkelahi, datang Hamiz yang siap membantu Gadis itu.
"Biar saya saja yang menghabisinya, Qia menemani Mommy Saja," ucap Hamiz siap membekuk orang yang mencurigakan itu.
"Apa salah saya? Bukankah kalian lihat sendiri saya membantu menghajar para preman tadi," ucap Orang tersebut membela diri. Wajahnya terlihat marah tidak terima dirinya di curigai.
"Kalau kamu tidak bersalah kenapa lari saat Abang Keynand terjatuh. Seharusnya kamu bisa menahan tubuhnya agar tidak tergeletak begitu saja. Bukankah posisi kamu memungkinkan untuk itu," sahut Qia dengan emosi tertahan. Dia menatap tajam Lelaki itu dengan Kepalan tangan yang siap menghajarnya.
"Saya reflek karena terkejut melihat orang terjatuh kemudian tanpa sadar berlari menjauh." Orang tersebut masih saja menyangkal dan tidak mau mengakui kejahatannya.
Buuuk
Hamiz tidak sabar dengan pembelaan Lelaki itu. Dengan sekuat tenaga dia menghajarnya hingga ambruk tak mampu lagi untuk bangkit.
"Alah alasan kamu saja, bilang saja kamu suruhan seseorang, iya kan? Berapa kamu dibayar? Sebut saja? Saya pun sanggup membayar kamu lebih asalkan kamu mengakui kejahatan dan siapa orang yang menyuruh kamu," ucap Hamiz geram. Dia meraih sapu tangan yang terkadang di bawanya lalu mengambil sesuatu dari balik Saku Jaket yang digunakan orang tersebut.
__ADS_1
"Ini apa?" Hamiz memperlihatkan jarum suntik yang ditemukannya.
"Itu hanya jarum suntik mainan, bukan jarum suntik yang biasa digunakan tenaga medis," jawabnya dengan lancar dan sangat meyakinkan, tapi tidak dengan Hamiz. Dia tahu orang tersebut berbohong dan sangat yakin benda itu digunakannya untuk melukai Keynand.
"Apa kamu kira saya bodoh." Usai perkata Hamiz langsung melayangkan pukulannya kembali. Dia lalu melihat Qia yang terlihat sangat geram dengan sangkalan demi sangkalan yang diucapkan oleh orang tersebut. Qia sangat yakin orang tersebut adalah orang suruhan. Dia mengamati dengan seksama wajah mengenaskan itu, lalu ingat bahwa dia pernah bertemu dan berbincang-bincang dengannya.
"Saya ingat sekarang, bukannya kamu Andi, Satpam yang bekerja di kediaman Abang Keynand. Ternyata benar kecurigaan Enah selama ini."
Apa yang dikatakan oleh Qia membuat Hamiz terkejut. Begitu juga orang tersebut yang tidak mungkin bisa menyangkal lagi.
"Kamu orang suruhan, bukan? Apa kamu kira Enah Baby Sitter biasa? Asal kamu tahu Enah itu mata-mata dan tentu saja dia tahu rencana busuk kamu dan Bu Julaekha. Sekarang kamu tidak bisa mengelak lagi, apa yang diketahui oleh Enah, aku pun mengetahuinya. Jadi simpan saja bantahan kamu untuk kamu nikmati di Penjara," lanjut Qia di barengi dengan seringai menakutkan. Wajahnya yang cantik terlihat sangat dingin dengan sorot mata tajam siap menikam. Tapi ada kekhawatiran yang tergambar jelas di sana. Pastinya kekhawatiran atas keselamatan Keynand.
Hamiz bertanya-tanya tentang Enah dan apa hubungannya dengan Qia. Kenapa tiba-tiba kediaman Keynand di susupi oleh Penjahat dan mata-mata. Namun Hamiz tidak ingin tenggelam dalam kebingungan, saat ini yang perlu di lakukannya adalah memberi pelajaran kepada orang yang bernama Andi lalu menyerahkannya kepada pihak berwajib.
"Sebaiknya Qia temani Mommy menyusul Abang Reynand ke rumah sakit, biar saya yang mengurus orang ini dan membuat dia mengakui kejahatannya," ucap Hamiz sekali lagi meminta Qia yang masih saja belum beranjak dari tempat orang itu tergeletak mengenaskan.
Qia mengangguk, sebelum pergi dia menyempatkan diri memberikan tonjokan kepada Andi, hingga meninggalkan luka yang parah di hidungnya. Seketika itu Andi langsung tidak sadarkan diri karena tidak sanggup lagi menahan pukulan demi pukulan dari Hamiz dan Qia.
Qia meninggalkan Hamiz lalu menemui Marisa yang masih duduk dengan tubuh gemetar bersama Alisa yang berusaha menenangkannya.
"Keynand kenapa?" tanya Marisa ketika melihat Qia menghampirinya. Qia duduk di hadapan Marisa dengan wajah sendu dan raut kekhawatiran. Gadis pemilik mata bulat besar itu tidak bisa lagi menahan air mata yang seketika langsung pecah. Tidak ingin menambah kekhawatiran Marisa, dengan cepat menyeka air mata lalu memberikan senyum tipis sebagai penguat rasa.
"Mommy, saya tidak tahu pastinya. Tadi ada Laki-laki yang mendekati Abang Keynand saat melawan salah satu preman terus menusuknya dengan jarum suntik," jawab Qia menerangkan.
"Insyaa Allah tidak akan terjadi apa-apa dengan Abang Keynand. Para Dokter pasti akan menyelamatkan Abang Keynand. Dan yang bisa kita lakukan hanyalah membantu dengan doa agar Tuhan mengabulkan sehingga Abang Keynand tidak kenapa-napa," lanjut Qia dengan tulus penuh dengan pengharapan.
Marisa mengangguk.
Manusia sejatinya tidak mempunyai daya dan kekuatan melainkan pertolongan dari Tuhan. Sekuat apapun Manusia, sehebat apapun Manusia dan sejenius apapun Manusia, jika Tuhan tidak menghendaki, maka Manusia tidak akan bisa berbuat apa-apa.
"Kita menyusul Abang Reynand ke rumah sakit," ucap Marisa mengajak Alisa dan Qia yang dianggukkan oleh mereka. Sebelum pergi mereka terlebih dahulu berpamitan kepada Lika agar Wanita itu tidak mengkhawatirkan mereka. Lika tetap di rumah bersama Fitri untuk menjaga anak-anak. Sementara para preman sudah diamankan oleh Rudi yang mendapatkan informasi langsung dari Sang Isteri, Maemunah dan Hamiz.
***
Sesampainya di rumah Sakit Ardiaz, Keynand langsung di tangani oleh Dokter Aditya dan Dokter Rasyid. Kedua Dokter itu berusaha menyelamatkan Keynand yang sedang kritis.
"Jantungnya melemah, Dok," ucap Seorang Suster memberitahu.
__ADS_1
Bersambung.