
"Apa? Su Suami?" tanya Keynand terkaget.
Habibah mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Pria itu. Dia kemudian menyeruput Orange Jus hingga tandas mengakhiri santap malamnya.
"Maaf Pak Keynand saya duluan," ucap Habibah berpamitan. Dia melihat Keynand sudah selesai menyantap makanannya sehingga Habibah bisa meninggalkan Keynand tanpa rasa tak enak hati. Tadinya Habibah berpikir untuk menemani Pria itu sebagai bentuk kesopanan.
"Iya Habibah, terima kasih sudah mau menemani saya mengobrol," ucap Keynand berbasa basi. Padahal hatinya saat ini sedang melayu. Tadinya bunga sedang bermekaran di hatinya. Namun kini bunga itu mendadak berguguran lalu beterbangan terbawa angin kenyataan. Ia, pengakuan itu ibarat angin yang berhasil memporak porandakan bunga-bunga cinta yang bermekaran di hati Keynand. Baru saja benih cinta itu tubuh, nyatanya harus mati manakala kenyataan itu menumbangkannya.
"Sama-sama Pak Keynand. Saya seharusnya berterima kasih karena Pak Keynand mau menyapa saya yang orang biasa. Bukankah ini suatu keberuntungan saya berkenalan dengan seorang Pengusaha nomor satu di Daerah ini." Habibah berucap sembari memamerkan senyum ramahnya. Setelah itu kembali berpamitan lalu beranjak pergi meninggalkan Keynand.
Keynand menatap punggung Wanita itu tak ingin teralihkan. Netra itu masih saja menikmati Sosok itu hingga hilang dari pandangannya.
"Hem, konyol! saya jatuh cinta dengan Isteri orang. Cinta benar-benar konyol, kenapa hati ini bisa salah memilih. Kenapa saya tidak mencari tahu dulu sebelum menempatkan cinta itu. Entah mengapa saat bertemu dengannya kemaren lalu, saya merasa dia seorang Gadis. Tapi ternyata keyakinan itu tak sama dengan kenyataan. Dia ternyata sudah menikah dan dimiliki orang lain."
Keynand bermonolog. Dia tersenyum getir mendapati dirinya yang menyukai Isteri orang. Bukankah ini suatu kemunduran, seorang Keynand Putra Ardiaz jatuh cinta dengan Wanita bersuami. Apa kata Dunia jika tahu hal itu.
Keynand bergegas meninggalkan Restaurant Hotel. Dia tidak tahu kemana harus membawa dirinya yang merana. Tak mengerti apa yang dirasakan sekarang. Hatinya terasa sakit dan kecewa. Dia sangat kecewa, baru kali ini seorang Keynand tidak mampu menggapai apa yang diinginkannya.
Dia kaya raya dan tampan. Wanita berbondong-bondong mengejarnya. Namun saat ini dia mengejar seorang Gadis dan nyatanya Gadis itu sudah menikah. Keynand merasa itu lucu dan hal yang lucu itu seakan mengejeknya.
Tak sadar langkah Kaki Pria itu membawanya pada sebuah Coffe Shop tidak jauh dari Hotel Ardiaz Mentaram. Keynand memilih menikmati hangatnya kopi dan berharap secangkir kopi mampu menentramkan hatinya.
Keynand masuk kemudian memesan pada Barista yang ada disana. Dia mencoba kopi andalan dari Coffe Shop tersebut. Setelah memesan, Keynand berjalan menuju Kursi yang berada di dekat Jendera agar bisa melihat orang berlalu lalang. Keramaian itu mungkin saja mampu menghibur hatinya yang gundah sekarang.
Beberapa menit menikmati keramaian di malam hari. Tanpa isyarat apapun, air hujan begitu saja tumpah dari langit bersamaan dengan angin yang kencang menambah ketegasan rinai hujan.
Keynand tersenyum, dia menikmati hujan yang terasa menyegarkan jiwa yang menghangat. Dia ingat, bulan ini masih berada dalam musin penghujan jadi hujan akan tetap akan menyentuh tanah secara tiba-tiba tanpa harus ingat kapan.
Pria itu melihat beberapa orang yang berjalan Kaki berlarian meneduhkan diri. Sebagian dari mereka memilih memasuki Coffe Shop sembari menikmati secangkir Kopi. Sedangkan yang menggunakan Kendaran terus melajukan Kendaraan berharap agar segera sampai di tujuannya.
"Ini Pak Pesanannya, selamat menikmati," ucap Pelayan menyadarkan Keynand dari lamunannya. Pria itu hanya menganggukkan Kepala. Biasanya dia akan mengucapkan terima kasih sembari memberikan senyum ramah. Kali ini senyum itu seakan enggan menampilkan diri. Seringai ramah itu seolah faham bahwa Pria ini sedang gundah.
"Mengapa saya tidak bertemu sebelum Habibah menikah? kenapa harus sekarang pertemuan itu terjadi?" pertanyaan itu berkelabat dalam benak Pria itu.
Setelah lama berpikir, Keynand menyadari kemudian dia dengan cepat beristighfar.
"Astaghfirullah. Ini tidak benar, sama artinya saya mengatur Tuhan. Segala sesuatu di dunia ini sudah menjadi kehendak Tuhan. Bukan sesuai dengan keinginan seorang Keynand. Ampuni hambamu ya Allah yang berkata tak benar. Saya seakan tidak beriman yang namanya Qada' dan qadar." Keynand tertunduk menyesali perkataannya. Dia menyadari apa yang diucapkannya tadi seolah menyalahkan waktu yang telah Tuhan tetapkan.
Mungkin saja keinginan Habibah dan Keynand tak sama sehingga tidak dipertemukan disaat mereka masih menyendiri. Kenapa pikiran itu menjebaknya dalam kekeliruan. itu yang ada dalam pikiran Keynand.
"Cinta itu bukan harus dimiliki, bukan? aku akan tetap menempatkan cinta di hati ini untuk Habibah. Biarlah aku menyimpan cinta ini untuk Wanita bernama Habibah Rosy. Sebab cinta itu sudah terlanjur ada. Mengapa secepat itu? aku tak tahu jawabannya. Jangan bertanya mengapa." lagi-lagi Keynand berbicara pada dirinya dalam diam.
Dia kemudian menyeruput Kopinya, menikmati hangatnya cairan berwarna cokelat pekat itu.
Saat sedang menikmati Kopinya, dia melihat seorang Pria berlari menuju ke tempat dia berada. Pria itu berjalan cepat menuju tempat Barista kemudian memesan Kopi yang diinginkannya.
Selesai memesan, dia memendarkan pandangan untuk menemukan Kursi yang kosong. Pandangannya terhenti tepat di Meja keberadaan Pria berparas indo. Pria itu segera melangkah ke Kursi kosong tersebut untuk menunggu pesanannya.
"Permisi, boleh saya duduk disini, Mas," ucap Pria itu meminta izin.
Keynand mengangguk memberi izin, setelah itu baru Pria itu mendudukkan diri.
"Pak Keynand, apa anda Pak Keynand?"
Terucap nama itu dari bibir Pria itu sembari memperhatikan orang yang ada di hadapannya. Keynand yang merasa disebut namanya langsung mendongakkan wajah memperhatikan Pria yang menyapanya.
"Pak Rizqy, anda Rizqy Anggara, bukan?" ucap Keynand begitu mengingat Pria yang ada di depannya.
__ADS_1
"Benar, Pak Keynand. Sudah lama kita tak bertemu, terakhir bertemu saat mengantarkan kepergian Isteri anda," jawab Rizqy sembari menganggukkan Kepala.
"Iya, saya tak menyangka bisa bertemu Pak Rizqy disini. Apa kesibukannya sekarang, apa masih di instansi lama?" tanya Keynand berbasa basi.
"Alhamdulillah, saya masih dipercaya mengemban tugas di Kantor tempat mendiang Mbak Ega dulu bekerja," jawab Rizqy.
Selanjutnya mereka tenggelam dalam obrolan yang akrab. Tentu saja mereka saling mengenal. Rizqy merupakan rekan kerja Ega dan Rizqy juga yang pernah mengatur resepsi pernikahan Keynand dulu. Rizqy memiliki Event Organizer, sehingga keduanya mempercayakan EO yang di kelola oleh Rizqy untuk mengatur resepsi pernikahan mereka dulu.
"Pak Keynand sudah menikah lagi?" tanya Rizqy penasaran.
"Belum, masih mencari jodoh, belum keliatan hilal jodohnya?" sahut Keynand sedikit berkelakar.
"Sabar ya. Jika waktunya sudah tepat pasti akan bertemu. Mungkin saja saat ini waktunya belum tepat, masih ada yang Pak Keynand harus kerjakan. Jadi bersabarlah, Tuhan tahu kapan waktu itu. Saya hanya bisa bantu dengan doa semoga saja waktu itu secepatnya," ucap Rizqy mencoba menghibur Pria itu.
"Aamiin."
Keynand mengamini, selesai terucap kata itu. Nada panggilan menghentikan obrolan di antara mereka. Rizqy menyadari nada panggilan itu berasal dari Handphonenya. Dia tersenyum berbinar tatkala melihat siapa yang menghubunginya. Dia mengangkat dengan cepat sebelumnya meminta izin kepada Keynand untuk menerima panggilan.
(Wa'alaikumussalam. Yaa Zawjatii Habibah Rosy, ini Mas mampir di Coffe Shop dulu. Mas tunggu pesanan yang lagi di buat, Coffe Latte, kan?)
(Iya Mas, Habibah hanya khawatir. Di luar hujannya deras banget, takutnya di jalanan tergenang air)
(Alhamdulillah, Mas baik-baik saja)
"Pak pesanannya," ucap seorang Pelayan menghampiri Rizqy yang tengah asyik berbicara. Rizqy memberi isyarat agar Pelayan tersebut menunggunya sebentar.
(Bibah pesanan Mas sudah jadi, Mas tutup panggilannya. Assalamu'alaikum)
Rizqy mengakhiri panggilan setelah Habibah menjawab salam.
"Ini Pak Pesanannya," ucap Pelayan menyodorkan dua Cup Coffe yang di pesan pelanggannya.
"Pak Keynand saya tidak bisa menemani anda terlalu lama. Saya duluan, Isteri saya menunggu. Next time kita bisa meluangkan waktu untuk ngopi bersama," ucap Rizqy berpamitan.
"Iya Pak Rizqy tidak apa-apa, next time saya akan menagih janji anda," balas Keynand tersenyum akrab.
"Insha Allah, apa nomor anda masih yang lama?" tanya Rizqy sebelum benar-benar pergi.
"Iya, saya tidak pernah mengganti nomor Handphone," jawab Keynand.
"Siiip, kalau begitu saya permisi. Assalamu'alaikum." Setelah memberi salam Rizqy kemudian bangkit dari duduk berjalan menuju arah Pintu keluar. Dengan cepat Rizqy meninggalkan Coffe Shop menuju Hotel Ardiaz Mentaram tempat Isterinya berada.
Sedangkan Keynand masih asyik menikmati kesendirian. Kepergian Rizqy menyebabkan rasa kepada Habibah kian menyeruak. Meskipun kini dia berada di keramaian, nyatanya Penghuni Coffe Shop yang hampir penuh terisi tak menjadikan dirinya terhibur. Dia merasakan sepi di tengah keramaian dan keriuhan suara gelak tawa serta obrolan.
"Yaa Zawjatii Habibah Rosy. Kapan saya memanggilmu dengan panggilan itu, Habibah? apakah diberikan kesempatan?" tanya itu terbersit begitu saja di pikiran Keynand.
Hening tak ada jawaban, memang tak bertujuan mencari jawaban karena tak tahu pasti apa jawaban itu ada untuknya.
Hanya tahu, dia merasa kedudukan yang dimilikinya lebih dari Pria yang menjadi Suami Wanita dambaannya. Pikirnya, aku akan lebih mudah menaklukkan hati Habibah ketimbang Pria yang bernama Rizqy itu. Apa harus menggunakan kekuasaan yang aku miliki agar Wanita itu bertengkuk lutut lalu menghampiriku. Nyatanya tak segampang apa yang ada dalam pikiran negatifnya.
Rizqy bukan orang sembarangan dan Habibah bukan Wanita yang silau akan harta. Jika melihat binar cinta pada raut keduanya, tentu akan sulit memisahkan mereka. Jalan itu sudah buntu. Alangkah baiknya dia berbalik arah lalu pergi membiarkan mereka bahagia. Tapi apakah hati sanggup memikul beban kesengsaraan karena cintak tak terbalas.
"Jadi, Lalu Rizqy Anggara adalah Suami Habibah Rosy? Hem, ternyata sainganku terlalu berat untuk mengambil alih hati kamu Habibah Rosy. Dia Pria baik dan bersih tanpa ada cela. Apalagi pemahaman agamanya sangat cukup untuk membimbing kamu." Keynand kembali bermonolog dalam diam.
"Jika Rizqy tahu ternyata Pria yang sempat dia doakan akan jodohnya ternyata menginginkan Isterinya. Apa kira-kira yang akan Pria itu katakan selanjutnya. Menyesalkah, marah atau mungkin saja tersenyum tanpa sepatah kata pun. Akan saya coba mengambil kesempatan disaat kamu lengah, sejatinya kamu pasti memiliki kelemahan Rizqy dan akan saya manfaatkan kelemahan itu untuk mengambil alih posisi kamu."
Keynand melanjutkan suara hati tanpa ada seorang pun yang mendengar. Dia menyunggingkan senyum tipis hampir tak terdeteksi. Entah apa arti senyuman itu, sangat sulit dimaknai.
__ADS_1
****
Sementara itu, Rizqy sudah sampai di ambang Pintu. Dia mengetuk Pintu dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya menenteng Kantong Plastik berisi dua Cup Coffe.
Tak menunggu terlalu lama. Pintu terbuka bersama sebuah senyum menyambutnya.
"Mas Rizqy."
Habibah menyambut Suaminya dengan rasa bahagia. Dia mengambil sesuatu yang di sodorkan Suaminya. Menaruh dengan cepat di Meja lalu meraih tangan Suaminya untuk di cium.
"Rasanya kelelahan membubarkan diri melihat senyummu," ucap Rizqy. Dia segera meraih pinggang Isterinya lalu memeluknya dengan erat.
"Wangi."
Habibah hanya tersenyum menanggapi ocehan Rizqy. Kini Pria itu tengah asyik menikmati aroma wangi yang menyeruak dari rambut sepinggang Habibah. Tak tahan menunggu terlalu lama, Rizqy menghujani Habibah dengan ciuman.
"Mas bau asem, dari tadi siang belum mandi," ucap Habibah menghentikan aksi liar Suaminya.
"Mas masih wangi kok, kalau tidak percaya coba cium saja," sahut Rizqy menggoda Isterinya. Dia masih tetap memeluk Isterinya dengan erat sebagai cara melegakan kelelahannya.
Setelah pulih, Rizqy baru melepaskan tubuh Isterinya kemudian masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan raganya.
Selang beberapa menit kemudian, Pria itu keluar memamerkan tubuh indahnya. Kini Rizqy terihat segar, tubuh indahnya seakan menghipnotis Habibah yang berdiri mematung. Dia sangat terpesona melihat Pria tampan yang hanya menggunakan Celana pendek sedangkan bagian atas dibiarkan polos.
"Sini sayang, kita menikmati Kopi dulu sebelum bertempur. Apa kamu tak ingat, malam ini malam pertama kita," ucap Rizqy berbinar-binar.
Habibah terkejut dengan pernyataan Suaminya. Seketika itu dia tersipu malu bila mengingat apa yang terjadi tadi siang.
"Tadi siang, kan sudah," ucap Habibah polos.
Rizqy tertawa, dia tidak menyangka Isterinya sepolos itu. Dia meraih raga Habibah, mendudukkan dalam pangkuan. Rizqy memeluk tubuh Habibah dari arah belakang, meletakkan dagu pada bahunya.
"Tadi itu siang pertama dan malam ini malam pertama kita. Apa boleh? Mas enggak memaksa kok kalau kamu tak ingin," ucap Rizqy tak memaksa. Dia meraih Kopi lalu menyeruputnya berlahan menikmati rasa.
Habibah mengangguk ingin, setelah itu dia kembali tersipu malu. Gadis itu berusaha menetralisir irama jantung yang tak beraturan. Dia meneguk Kopinya hingga tak tersisa.
Melihat tingkah Isterinya membuat Rizqy gemas. Dia ingat tadi siang saat pertama kali menyentuhnya. Gadis itu sangat tegang sehingga mengeluarkan butiran keringat. Ada rasa malu, bingung dan juga keinginan untuk memenuhi kewajibannya. Rizqy dengan lembut menuntun Isterinya. Dia terlebih dahulu menciptakan suasana romantis. Memberikan rasa nyaman dan aman agar Habibah rileks untuk menerima itu.
Kini dia ingin kembali mengulang itu. Memberikan rasa nyaman untuk Habibah. Rizqy sangat tahu bagaimana memperlakukan Isterinya dengan baik. Dengan lembut tanpa tergesa-gesa, Rizqy mulai menyentuh sisi sensitif Isterinya. Sebelum itu mereka berdua berdoa agar Setan tak ikut mengambil bagian dalam permainan mereka. Habibah terhanyut dalam sentuhan yang dilancarkan Suaminya. Kini tanpa malu mereka kembali memadu kasih dalam binar-binar cinta yang menguasai hati mereka. Saat mencapai puncak kenikmatan dan menempatkan calon keturunan, terlihat bibir Rizqy bergerak mengucapkan sesuatu "Allahummaj'alnuthfatanaa Dzurriyyatan thayyibah."
Setelah itu tubuh mereka berdua ambruk karena kelelahan. Habibah melelapkan diri karena tak sanggup lagi menggerakkan raganya. Dia seakan kehilangan tenaga. Sedangkan Rizqy, dia tersenyum puas sembari mengucapkan doa yang tak terdengar.
Beberapa menit memulihkan tenaga, dia beringsut dari Ranjangnya. Dia merapikan selimut Habibah yang melorot memperlihatkan sebagian raganya yang polos. Rizqy kemudian masuk ke kamar mandi untuk mensucikan diri. Setelah merasa suci dan bersih, dia keluar lalu mendudukkan diri di sisi Isterinya yang masih tertidur.
Dia meraih Laptop, menghidupkannya lalu mulai melanjutkan pekerjaan. Saat berkutat dengan dokumen, ada panggilan masuk dengan cepat Rizqy mengangkatnya.
(Wanita yang anda butuhkan sedang berada di Club XXX)
(Tahan dia jangan sampai meninggalkan Club, saya akan segera kesana)
Selesai berbicara, Rizqy buru-buru meninggalkan kamar. Dia hanya membawa Handphone dan juga sebuah alat kecil yang tak tahu apa itu. Sebelumnya dia mengecup Bibir Habibah dan berkata "Mas pergi sebentar, tidur yang nyenyak sayang."
Rizqy dengan cepat meninggalkan Hotel Ardiaz Mentaram. Saat di Lobi, Keynand tanpa sengaja menangkap bayang Rizqy yang tergesa-gesa. Pria itu penasaran, tanpa berpikir lagi dia mengikuti kemana langkah Rizqy hendak pergi.
Selang beberapa menit, Rizqy sudah sampai di sebuah Club malam terkenal di Daerah ini. Dengan langkah cepat Pria itu masuk dan tak berlama-lama di dalam, Rizqy keluar bersama seorang Pria yang memapah Wanita yang sedang mabuk berat. Rizqy memerintahkan Pria untuk menempatkan Wanita itu di Jok belakang Mobilnya. Selanjutnya dia memberikan sejumlah uang. Setelah beres dia melesat meninggalkan Club malam dan membawa Wanita tersebut menuju Hotel. Rizqy Cek in lalu membawa Wanita cantik itu ke sebuah kamar Hotel.
"Saya kira kamu Pria baik-baik, nyatanya kamu menghianati Isterimu. Saya akan merebut Isterimu, Rizqy," ucap Keynand tak percaya dengan apa yang di saksikannya.
__ADS_1
Bersambung.