Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2. 22


__ADS_3

Habibah mengakhiri ceritanya dengan menghapus air matanya. Wanita itu kemudian menghela nafas panjang. Helaan itu seakan berusaha menenangkan hati Habibah yang diliputi rasa sesal.


Tak ada yang bersuara, mereka yang ada di sana larut dalam pikiran masing-masing.


"Maafkan Kak Bibah, Qia. Kak Bibah gagal mencegah Pak Keynand bertemu dengan Julaekha. Seandainya Kak Bibah hati-hati dan tidak menabrak orang mungkin saja saat ini kamu masih bersamanya. Ini semua salah Kak Bibah yang ceroboh dan pelupa," ucap Habibah lirih. Wajahnya terlihat sendu dengan rasa bersalah dan sesal di sana.


"Jangan berkata seperti ini. Kak Bibah sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencegahnya, akan tetapi sekuat apapun usaha kita sebagai Manusia, jika berhadapan dengan apa yang sudah menjadi ketetapanNya, maka mustahil bisa kita lakukan dan berharap sesuai dengan keinginan kita," ucap Qia menenangkan kakak iparnya itu. Dia kini sudah bisa menerima kenyataan dan berusaha untuk mengikhlaskan Keynand bersama Julaekha. Kini yang harus dilakukannya adalah menata hatinya dan memperbaiki kualitas dirinya agar lebih baik lagi.


Habibah merangkul tubuh kurus milik Qia, kemudian larut dalam keharuan. Mereka berdua saling mengelus punggung untuk bersama-sama meraih ketenangan dan menyalurkan kekuatan agar tetap tegar.


Mereka yang ada di sana ikut hanyut dalam keharuan.


Usai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Keynand dan Qia, mereka melanjutkan kebersamaan dengan makan siang di iringi dengan obrolan dan canda tawa.


Reynand dan Rizqy memisahkan diri. Mereka berdua terlihat serius dalam pembicaraan yang tidak sama sekali diketahui oleh mereka yang ada di sana.


Reynand terlihat menganggukkan kepala tanda mengerti apa yang diinginkan oleh lawan bicaranya. Sementara Rizqy mengukir selarik senyum penuh makna yang hanya dia sendiri yang tahu maksudnya.


Flashback end


Reynand memarkirkan Mobilnya di Garasi rumahnya. Pria tampan itu benar-benar melaksanakan apa yang di ucapkannya kepada Keynand saat berpamitan. Dia langsung pulang ke kediamannya yang sederhana namun terasa nyaman dan tenang di dalamnya.


"Mas udah pulang? Kok cepat?" tanya Lika yang merasa heran melihat keberadaan Suaminya di rumah saat masih jam kerja.


Reynand tersenyum tipis. Dia mengelus pucuk kepala Isterinya dengan lembut.


"Apa kamu tidak kangen dengan Suami tampanmu ini?" tanya Reynand dengan senyum menggodanya.


"Kebiasaan. Pertanyaan di jawab dengan pertanyaan. Haruskah aku menjawab dengan pertanyaan pula," jawab Lika mendengus kesal.


"Jadi kamu tidak kangen? Kalau begitu bolehkan Mas mencari seseorang yang kangen sama Mas selain...."


"..... Boleh, boleh, boleh asalkan Mas mengizinkan kura-kuranya aku sembelih lalu aku jadikan santapan Ikan ******," sahut Lika serius. Sejurus kemudian dia geli sendiri dengan perkataannya.


"Kamu kok serius, padahal Mas tadi cuma bertanya? Siapa tahu saja dibolehin. Iseng-iseng ada hadiahnya, kalau gagal bisa coba lagi, kan?" ucap Reynand serius.


"Maaaaas, aku juga bercanda siapa tahu saja Masnya ikhlas merelakan Kura-kuranya di sembelih karena kasian sama Ikan ****** yang kelaparan. Mas bersedia, kan? Aku ikhlaskan kok, kura-kura mas gagah ganteng jadi santapan ikan ******, serius! Terus kalau Mas nyari Seseorang yang kangen dengan Kura-kura Mas yang buntung, aku juga tidak keberatan nyari Kura-kura Eropa, kita deal kan, Mas?"


Reynand melotot mendengarkan perkataan Isterinya yang absurd dengan dibarengi senyum nakalnya. Lika menaik turunkan alisnya dengan sedikit bertingkah genit. Senyumnya terlihat menggoda dalam pandangan setiap Laki-laki yang melihatnya tidak terkecuali Reynand.


"Likaaaaa, apakah Mas boleh marah dan menghukummu. Kenapa kamu tidak kangen dengan Suamimu malah ingin mencari Kura-kura Eropa. Oh shiiit, Mas sungguh tak mengerti jalan pikiran Wanita terlebih Isteriku sendiri. Pulang cepat ditanya, pulang terlambat ditanya pula apalagi enggak pulang-pulang nanti dinyanyiin Bang Toyib bang Toyib mengapa kau tak pulang-pulang, anakmu-anakmu ingin bertemu. Kalau udah gitu, capek deh."


Hahahaha


Lika tertawa lebar melihat kekonyolan Suaminya. Dia tidak menyangka Suaminya yang berwajah datar bisa seekspresif itu tatkala mendendangkan lagu terkenal.


"Udah ah Mas lelah," lanjut Reynand berlalu dari hadapan Lika yang masih asyik dengan tawanya.

__ADS_1


Suara langkah Kaki Reynand menyadarkan Lika dari hatinya yang geli dengan tingkah lucu Suaminya. Dia seketika menggelengkan Kepalanya melihat perubahan Reynand yang secepat itu menjadi datar dan dingin.


Lika mengikuti arah Kaki Suaminya yang menuju kamar Pribadi mereka. Sesampainya di sana Lika membantu Reynand membuka Baju kebesarannya yang jarang-jarang dipergunakan oleh Reynand.


"Mas, apa Bang Keynand jadi membawa Raski tinggal bersama mereka?" tanya Lika serius. Dia menatap manik tajam milik Suaminya.


"Katanya sih gitu? Tapi Keynand belum membicarakan kembali niatnya ini," jawab Reynand terdengar ragu. Dia menangkap kegelisahan pada wajah Sang Isteri. Reynand tahu Isterinya itu sangat menyayangi Raski dan sepertinya dia tidak rela berpisah dari keponakannya itu.


"Kok aku enggak rela ya Mas? Rasanya enggak tenang gitu! Ada kekhawatiran, takutnya Raski kenapa-kenapa. Perasaan ini bagaimana gitu? Aaaah sulit aku jabarkan Mas," ucap Lika gelisah.


"Mas juga merasakan hal yang sama, tapi kita juga tidak boleh Su'udzon kepada Julaekha walaupun pada kenyataannya ada perasaan menjanggal pada hati kita. Takutnya Raski merasa tidak nyaman ataupun tenang berada dalam pengawasan Ibu sambungnya."


Reynand juga merasakan hal sama dengan apa yang dirasakan oleh Isterinya. Entah kenapa dia merasa berat melepaskan Raski hidup dalam pengasuhan Keynand. Namun dia maupun Lika tidak bisa berbuat apa-apa karena bagaimana pun juga Keynand adalah Ayah kandungnya. Dia lebih berhak dari pada dirinya maupun Lika yang telah merawat Raski sedari baru lahir.


"Insyaa Allah Raski akan baik-baik saja. Raski tinggal sama Daddynya bukan sama orang lain. Tidak mungkin Keynand akan menelantarkan buah hatinya apalagi Keynand sangat menyayangi Raski," ucap Reynand menenangkan kegelisahan Isterinya itu.


Lika terdiam dengan raut wajah yang masih saja sendu.


"Aku tidak meragukan kasih sayang Abang Keynand, Mas. Tapi entah kenapa aku meragukan Ibu sambungnya," sahut Lika terdengar sedih.


"Coba saja Ibu sambung Raski adalah Qia, mungkin saja aku tidak secemas ini," sambungnya. Lika dulu sangat berharap bahwa Qialah yang akan mendampingi Keynand dan menjadi Ibu sambung Raski. Tapi pada kenyataannya Wanita lainlah yang mengambil peran itu dan lebih parahnya lagi Wanita lain itu tidak terlihat sama sekali ingin mengakrabkan diri dengan Raski dan mencurahkan kasih sayang itu kepada Anak sambungnya.


"Kamu tenang saja sayang. Bagaimana kalau kita mencari seseorang untuk menjaga Raski di sana. Seseorang yang kita percaya bisa merawat Raski dan melindunginya dari niat buruk siapapun," ucap Reynand memberikan usul.


"Maksudnya Babby Sitter?" tanya Lika serius. Matanya tidak berkedip melihat wajah datar Suaminya yang rupawan, namun tersimpan segala rencana di sana.


Reynand mengangguk membenarkan apa yang dimaksudkan olehnya.


"Apakah Abang Keynand akan setuju?" Lika bertanya. Ada keraguan dengan rencana Reynand yang terdengar sangat bagus. Dia juga setuju dengan apa yang disampaikan oleh Suaminya itu. Jika Raski didampingi oleh orang yang dipercayainya, maka dia akan merasa tenang membiarkan Raski hidup bersama Keynand dan Julaekha.


"Kamu tenang saja, Mas akan bicarakan semua ini dengan Keynand. Mas yakin Keynand akan setuju tanpa berpikir lagi."


Lika merasa lega. Terlihat matanya berbinar-binar terang membuat Reynand bernafas dengan nyaman.


"Jadi kamu tidak akan mencari Kura-kura Eropa, kan?" tanya Reynand mengalihkan pembicaraan. Dia meraih pinggang ramping Isterinya lalu mendekapnya dengan erat.


"Tergantung Mas. Kalau Mas masih keukeuh mau mencari orang yang kangen sama Mas, aku bisa apa?" Jawab Lika serius.


"Habisnya kamu tidak kangen sama Mas, kangen dong biar Mas tidak nyari-nyari orang lain yang kangen sama Mas," sahut Reynand sedikit merajuk.


"Maksa!"


"Jadi kamu tidak kangen?"


"Enggak."


"Kangen dong!"

__ADS_1


"Enggak mau."


"Cari yang lain ya?"


"Enggak boleh."


"Berarti kangen, dong!"


"Iiih Mas Reynand percaya diri banget."


"Iya, dong! Emang, kamu kangen sama Kura-kura indo, iya kan? Itu saja enggak mau ngaku."


"Mana pernah, aku enggak kangen tapi Masnya yang kangen," sahut Lika tak mau kalah. Dia menyembunyikan senyum manis dibalik kekesalannya. Entah kenapa dia sangat suka sekali mengerjain Suaminya dengan sifatnya yang tak mau mengalah.


"Iya sudahlah jadi Laki harus ngalah. Bagaimana pun juga Ibu dari dua anakku ini gengsinya gede banget, saking gedenya tuh lihat pipinya ngembang banget."


Mendengarkan perkataan Suaminya membuat Lika cemberut. Dia mendelik ke arah Suaminya yang sejurus kemudian mendengar tawa Ayah Renia dan Ayana itu.


"Iiih Mas Reynand ini, ngalah tapi dalam waktu bersamaan mengolok Isterinya. Sakit hati ini Mas, apalagi di ketawain. Sakit banget rasanya kata para penulis novel bagai di tusuk belati berkarat, Bagaikan di pukul oleh godam terus rasanya bagaikan di timpa reruntuhan, bagaikan di sayat-sayat sembilu terus apalagi ya?" sahut Lika di akhiri tanya dengan raut sedih.


"Udah? Kok lebay ya? Padahal enggak sampai segitunya juga?" Reynand tersenyum sinis seperti mengejek mendengarkan perkataan Isterinya yang menurutnya berlebihan.


"Udah!"


"Kalau udah, bagaimana kalau Mas menghibur kamu dengan meng-hap kura-kura indo milikmu ini? Setuju, kan?"


Reynand menaik turunkan alisnya kemudian mengerlingkan matanya menggoda Isteri cantiknya itu.


"Mas ini, lelah berdebat ujung-ujungnya Mas Reynand yang menang. Ih sebel!" Lika kembali cemberut.


Hahahaha


Reynand kembali tertawa melihat wajah cemberut Isterinya yang terlihat lucu.


Tanpa berkata-kata lagi Reynand membawa Isterinya ke dalam buaian kemesraan. Saat mereka mengawali dengan berpagutan mesra, terdengar suara-suara berisik dari arah luar membuat kemesraan itu harus di sudahi.


"Ibuuuu, Dadek Ayana bangun," panggil Renia yang sudah berada di depan pintu kamar pribadi orang tuanya.


"Iyaaah, gagal berpetualangan Kura-kura indonya," ucap Reynand cemberut.


Lika tertawa kecil melihat Reynand meraup wajahnya yang sudah memerah. Dia harus menahan hasratnya yang belum mencapai puncak kenikmatan yang diinginkannya.


"Aku lihat Baby Ayana dulu, siapa tahu haus," pamit Lika terdengar sensual di Telinga Reynand.


Gleeek


"Sepertinya Babby Ayana tidak rela berbagi dengan Daddynya, alamak tertunda lagi," guman Reynand frustasi.

__ADS_1


Lika hanya tersenyum menanggapi gumanan Suaminya yang masih dapat di dengarnya meskipun sudah berjalan menjauh dari kamar.


Bersambung.


__ADS_2