
Keynand meninggalkan depan rumah Rizqia dengan gontai. Perjuangannya terasa sia-sia karena tidak langsung menemukan Gadis itu hari ini.
Rizqia tidak ada di rumahnya. Rumah minimalis yang menjadi istana Gadis itu terasa hening. Di rumahnya tidak ada dan di kampus juga tidak ada. Lantas Rizqia berada di mana?
Menghindar kah dia?
Tidak mungkin ini?
Pasti Rizqia ada keperluan sehingga tidak ada di kedua tempat.
Tidak ingin lebay meratapi kegagalan hari ini, Keynand menyemangati dirinya bahwa masih ada hari esok yang akan menyambutnya dengan kejelasan.
Dia hanya meninggalkan sebuah pesan agar Rizqia tahu bahwa tujuannya benar-benar dia bukan Gadis lain.
***
"Apa ini?"
Gadis berkerudung Cokelat meraih botol air mineral dalam kemasan yang tergeletak begitu saja di lantai Teras. Di dalamnya tergulung sebuah benda berwarna putih seperti sebuah kertas.
Rizqia membuka tutup botol lalu mengambil gulungan kertas yang ada di dalamnya.
"MENIKAHLAH DENGAN KU."
"Keynand Putra Ardiaz."
Konsisten, tulisan itu sama dengan tulisan permohonan di lembar kertas yang dia dapatkan kemarin di Kampus.
"Rupanya Pak Keynand eh maksudnya Om Keynand tapi tidak layak di panggil Om mungkin Kakak kali ya? Dia seumuran Kakak, sudah tahu rumah ini. Serius juga ternyata Pak Duda itu." Rizqia bermonolog.
"Enggak-enggak, ini hanyalah sebuah jebakan. Nanti sudah di dapatkan kamu bakalan di sia-siakan. Jangan mau diperdaya oleh manisnya rayuan dan pahitnya setelahnya."
Rizqia terus saja berbicara sendiri sambil membawa botol yang di temukannya. Dia membuka Pintu rumahnya dan melangkah menuju kamar tempat dia mengistirahatkan raganya yang lelah.
Sendiri, dia suka itu.
Hening, dibutuhkan untuk menenangkan jiwanya yang bergemuruh karena pahitnya kehidupan yang pernah di alaminya.
Rizqia menaruh Tasnya di Meja belajarnya. Sementara botol itu dia taruh di samping Tasnya.
Brak
Brak
Brak
Gadis manis itu meninju botol itu beberapa kali membuat tampilannya tidak utuh lagi.
"Sejak pertama kali bertemu saya sudah benci dengan anda. Kenapa sekarang mendekati saya? Jangan mengusik saya Pak Duda, saya ingin mendapatan ketenangan." Rizqia kembali mengajak Botol berisi surat dari Keynand itu mengobrol dengan nada kesal.
Setelahnya Rizqia mengeluarkan jurus. Dia meninju dan menendang sebagai cara meluapkan segala apa yang dirasakan. Begitu merasa puas dan lelah dia merebahkan tubuhnya di kasur empuknya dengan perasaan lega.
"Ya ampun Non? Kok kayak Kapal pecah? Sekarang beresin," ucap Wanita paruh baya yang tergopoh-gopoh menghampiri kamar Nona mudanya begitu mendengarkan suara rusuh dari arah sana. Baru saja datang, dia di sambut oleh kebiasaan Nona mudanya. Menunjukkan ekspresi! Katanya, sebagai pembelaan atas kekacauan yang selalu di buatnya
Rizqia nyengir sembari menganggukkan Kepala dengan jempolnya yang selalu mengiringi jika Wanita paruh baya itu memerintah.
"Ada apalagi Non? Apa ada sesuatu yang membuat Non tidak nyaman?" tanya Wanita paruh baya itu mendekat. Dia duduk di samping Rizqia yang sudah mendudukkan diri.
"Hanya kesal saja sama seorang cowok," sahut Rizqia. Dia menunjukkan wajah datar dengan berusaha menyembunyikan kekesalan itu.
"Cieeee."
Hanya kata itu yang diucapkan Wanita paruh baya itu sambil menampakkan senyum sumringah.
Rizqia menatap dengan heran.
__ADS_1
"Non sedang jatuh cinta ya? Kesal karena diabaikan sama cowok? Kok Non payah banget! Enggak seperti Bibi sekali kerlingan langsung sepuluh mendekat," ucap Wanita paruh baya itu dengan jumawanya.
Rizqia melongo dengan menelan cairan di tenggorokan karena keselek. Dia menggeleng tak percaya. Sementara Sang Bibik terkekeh dengan pandangan lurus seperti mengenang.
Tidak di pungkiri bahwasannya Wanita paruh baya ini lumayan cantik. Pasti di gandrungi banyak Pemuda di zamannya.
"Bibik ini, sok tahu sih!" guman Rizqia membuyarkan imajinasi Sang Bibik.
"Salah ya, Non?"
"Iya jelas salah. Saya tuh kesal karena cowok itu lagi getol-getolnya deketin Qia, sementara Qia belum ingin punya pasangan mungkin saja tidak ingin punya pasangan. Rizqia ingin sendiri saja, Bik," sahut Rizqia berterus terang.
"Jangan Non!" Sang Bibik buru-buru menahan keinginan Nonanya itu.
Rizqia menghela nafas panjang. Bukan tidak ada sebab dia memutuskan itu. Selain karena dia tidak percaya dengan adanya cinta dan kesetiaan. Dia di hadapkan dengan kenyataan bahwa dia pernah menjadi Pasien Rumah Sakit jiwa karena Depresi.
"Saya Gila, Bik. Mana ada yang mau dengan Gadis gila jika para Lelaki mengetahui itu," lanjut Rizqia dengan pandangan nanar.
"Non tidak gila, Non hanya Depresi," sahut Sang Bibik berusaha menenangkan Gadis manis yang terenggut hari-harinya dalam kurun waktu cukup lama.
"Apa bedanya?" tanya Rizqia.
"Tunggu, Bibik Searching dulu apa bedanya gila dengan Depresi." Usai berkata Sang Bibik sibuk dengan ponselnya.
Rizqia tergelak melihat Bibiknya yang sibuk dengan gawainya. Terlihat amat lucu tatkala serius mengeja Qwerty.
"Yakin Bibik bisa cari?"
"Non Qia kok ngeremehin Bibik, sih? Gini-gini Bibik bisa main Tok-Tok lo! Bahkan penggemar Bibik banyak, tapi semuanya dari Aki-aki. Kenapa enggak ada dari Daun muda, sedih Bibik." Sang Bibik mengeluh dengan wajah muramnya.
Hahahaha
Rizqia kembali tergelak mendengarkan kejujuran dari ARTnya itu. Tidak menyangka Wanita Paruh Baya yang menemaninya sejak Bayi ternyata eksis di dunia medsos.
Dianya yang terlalu cuek dengan lingkungan apalagi dengan dunia medsos yang bebas dengan ekspresi. Bukan tak gaul, hanya saja Rizqia tak suka dengan dunia itu. Dia lebih senang dengan dunia nyata. Berteman dan bergaul dengan langsung bertemu dan bertatap muka. Mungkin dunia medsos itu seru tapi bukankah lebih seru dengan dunia nyata. Menurutnya.
"Sabar Bik, memang usia sangat berpengaruh. Bibik jangan nyentet ah! Malu sama umur."
Ucapan Rizqia membuat Sang Bibik tersipu malu. Seharusnya sadar diri, sudah tua berharap mendapatkan daun muda. Emang Manusia, terkadang tidak sadar diri.
"Jangan sedih Bik, yang penting Bibik enggak Gaptek." Kembali Rizqia menenangkan hati Wanita paruh baya yang telah menjadi induk semangnya itu.
Wajah Sang Bibik berangsur cerah dalam waktu tidak terlalu lama. Dia tersenyum menampilkan kerutan di kedua Pipinya.
"Gaptek itu apa, Non?" tanyanya dengan tersipu malu.
Rizqia melongo sedetik kemudian menampilkan senyum manisnya.
"Jadi Bibik enggak tahu?" tanya Rizqia tidak langsung menjawab. Dia lihat Sang Bibik menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Katanya eksis di Tok-tok, kok gaptek saja enggak tahu? Meragukan ini!" lanjut Rizqia melanjutkan ucapannya.
"Iiih Non ini, Bibik kan enggak gaul-gaul amat," ucap Sang Bibik membela diri.
"Iya deh, Qia kasik tahu apa itu Gaptek. Gaptek itu kepanjangan dari Gagap teknologi."
"Oh gitu? Kirain Manusia saja yang gagap, Teknologi bisa gagap juga ya?"
Ucapan Sang Bibik membuat Rizqia kembali tertawa. Dia menggelengkan kepala melihat tingkah Wanita Paruh baya itu. Sang Bibik menggelengkan kepala lalu nyengir tatkala menyadari kekeliruannya. Dia ikut tertawa menemani kebahagiaan Nonanya.
Lelah tertawa kemudian mereka terdiam. Hanya keheningan yang terasa pada kamar bernuansa Ungu.
"Non, jangan pernah minder. Memang benar Non pernah di rawat di rumah sakit jiwa tapi jangan jadikan itu sebagai alasan untuk menutupi diri dari pergaulan. Lepaskan masa lalu buruk itu dan melangkahlah dengan pasti menuju masa depan. Di masa depanlah kehidupan yang baik dan indah itu berada. Tergantung langkah Non sekarang. Apa mau tetap membawa keterpurukan itu bersama Non, bisa saja itu membuat masa depan Non suram."
Sang Bibik menasehati. Dia sadar bahwa Nonanya masih di bayangi masa lalunya yang buruk. Masa lalunya itu seperti bayangan yang senantiasa mengikutinya. Akibatnya Rizqia insecure dengan dirinya. Dia meyakini tidak ada cinta dan kesetiaan untuknya. Apalagi jika mereka tahu riwayat kesehatannya, tentu tanpa segan-segan mereka akan menjauh. Mungkin saja mereka akan menghinanya dan mengucapkan kata buruk lainnya yang akan memukul mentalnya. Rizqia sangat takut itu.
__ADS_1
"Qia tidak percaya kalau ada Laki-laki yang setia di dunia ini. Mengapa Laki-laki sangat mudah mendua dan sangat sulit memegang kesetiaan," ucap Rizqia dingin. Dia memegang kuat amarah yang bergemuruh di dadanya.
"Non jangan berkata seperti itu. Orang yang setia sama banyaknya dengan orang yang tidak setia, Mungkin saja lebih. Kelak Non akan menemukan Laki-laki yang hanya mencintai Non sebagai pasangannya dan memberikan kesetiaan itu hanya untuk Non. Percayalah Non! Bukankah Kakak Non sangat setia memegang cintanya kepada satu Gadis sehingga sekarang hidup bersama dalam kebahagiaan. Itu artinya Laki-laki yang setia itu ada, hanya saja mungkin kita yang tidak bisa menemukannya."
Sang Bibik memberikan wejangannya. Dia meraih tubuh Nonanya kemudian membawanya dalam dekapan hangat seorang Ibu.
Rizqia menangis dalam dekapan Sang Bibik. Pembahasan ini membuatnya teringat dengan masa lalu yang pahit itu.
"Bik, kenapa Mamiq tega menghianati Mama? Kenapa Mamiq tidak bisa setia?" tanyanya dengan terisak-isak.
"Mamiq tidak bisa melawan Godaan itu. Mamiq Qia, kan enggak jago Silat sehingga kalah," ucap Sang Bibik dengan wajah polos.
Rizqia mengurai pelukan lalu menghapus air matanya sejurus kemudian dia tertawa.
"Bibik ne, bisa saja. Memangnya Godaan itu master Kungfu, karate, Pencak silat, Wushu," ucap Rizqia setelah berhasil meredakan tawanya.
"Jangan salah, Godaan itu Suhunya para Suhu. Sebab itu lah Manusia sangat sulit melawan godaan itu. Kenapa bisa begitu? Karena segala kemewahan, keindahan dan kenikmatan di perlihatkan. Segala keinginan Manusia ada di sana dan di buka selebar-lebarnya. Jika sudah masuk dalam perangkap Godaan itu, Manusia akan lupa diri. Hanya orang-orang yang imannya kuat tidak terpengaruh sama sekali."
Sang Bibik menjelaskan
Mendengarkan itu Rizqia hanya termenung dengan hidupnya yang tidak ada kejelasan. Inginnya sekarang yaitu menyelesaikan kuliahnya. Seharusnya sekarang dia telah menjadi Wanita karier dengan segala prestasinya. Namun karena Depresi membuat dia kehilangan sebagian masa lalunya dengan cerita buruk yang tidak bisa lagi di hapus jejaknya. Dia pernah menjadi penghuni rumah sakit jiwa. Itulah sejarah kelam dalam hidupnya.
"Emangnya siapa, sih? Cakep enggak cowoknya? Kalau cakep terus Non Qia enggak mau, alihkan saja kepada Bibik," ucap Sang Bibik membuyarkan Rizqia dari termenungnya.
"Enggak tahu Bibik, apa dia cakep atau enggaknya?" sahut Rizqia datar.
"Kok enggak tahu? Emangnya mukanya di pakain Topeng?" tanya Sang Bibik dengan rasa penaran yang tinggi.
"Enggak, sih! Cuma saya enggak mau bilang kalau dia cakep. Ogah! Entar bikin dia gede Kepala," sahut Rizqia dengan tetap memasang wajah datar.
"Bibik bisa nebak, pasti dia cakep, iya kan? Kira-kira dia seperti siapa? Cinta Brian, Antonio Blanco, Eza Gionino, Arya Saloka atau Gionino abraham?" tanya Sang Bibik menyebut aktor yang lagi terkenal.
"Siapa mereka, Bik?" Rizqia bertanya dengan pandangan heran. Dia sama sekali tidak mengetahui siapa orang-orang yang disebutkan namanya itu. Apakah nama seorang Menteri yang seingatnya beberapa kali di ganti? Gadis itu buru-buru menggelengkan Kepala, menolak praduganya itu.
"Maaf ya, Non! Bibik ternyata lebih gaul dari pada Non Qia," ucap Sang Bibik di akhiri dengan kekehannya.
"Iya, sadar kok! kalau Qia kolot. Emang Qia enggak tahu siapa mereka," sahut Gadis manis itu berterus terang.
"Mereka itu aktor yang lagi terkenal dan cakep-cakep semua. Kalau udah melihat mereka akting di sinetron, pingin Bibik bawa pulang terus saya jadiin bantal guling untuk dipeluk. Pasti hangat banget apalagi pada musin dingin gini." Sang Bibik dengan antusiasnya bercerita.
Rizqia geleng-geleng Kepala melihat tingkah yang Bibik yang teramat centil.
"Istighfar Bik, enggak boleh memikirkan Laki-laki yang bukan Suaminya. Itu sama artinya Bibik sedang mendua."
Ucapan Nonanya membuat Sang Bibik terdiam. Matanya yang tadinya berbinar-binar membicarakan para Pria tampan seketika meredup.
"Hehehehe, Bibik khilaf, Non!" ucapnya di awali kekehan. Sengaja dia terkekeh untuk mengelabui dirinya yang sejatinya sedang di landa malu.
"Khilaf tapi tetep saja di pantengin layar televisi dengan pandangan memuja. Terus belum lagi kalau lagi kesel, TV jadi sasaran kemarahan. TV enggak salah di lemparin bantal, gimana?"
Hahahaha
Sang Bibik tertawa menanggapi ucapan Rizqia yang sejatinya benar.
"Dari pada, Non! Kesal sama cowok, kok kamar di berantakin. Kamar salah apa?" Sang Bibik mengembalikan keadaan membuat Gadis ayu itu tertawa menertawakan kekonyolannya.
"Bibik benar, iya sudah Qia mau beresin dulu."
Tidak maksud mengusir Sang Bibik, Rizqia langsung merapikan kembali kamarnya yang berantakan.
"Non, cowok itu namanya siapa?" tanya Sang Bibik membaliknya badan sebelum melangkah keluar.
"Namanya Keynand Putra Ardiaz," jawab Rizqia datar. Dia hanya menghentikan sejenak aktivitasnya karena menjawab pertanyaan Sang Bibik, setelahnya Gadis itu kembali melanjutkan kegiatannya.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara Sang Bibik berteriak membuat Rizqia loncat dari Ranjangnya.
__ADS_1
Bersambung.