
Keynand terbengong melihat Gadis yang berdiri di hadapannya. Gadis itu, entah dari mana berasal tiba-tiba datang dan mengomelinya. Bahkan dengan berani menggebrak Meja.
"Kamu siapa? kenapa berani sekali mengomeli Mas Keynand. Apa kamu tidak tahu siapa dia?" Lekha bersuara mewakilkan Keynand. Dia melihat Keynand terdiam, kesempatan untuknya mengambil alih apa yang terjadi.
"Harus ya saya tahu siapa dia? saya hanya tahu dia Daddy dari Dadek Raski dan mbak? enggak perlu saya harus tahu siapa," sahut Qia dingin.
Qia kemudian berjongkok, dia mengelus lembut rambut Raski penuh kasih sayang.
Pemandangan itu berhasil ditangkap sepasang mata teduh milik Keynand. Elusan itu terlihat tulus dan penuh perlindungan. Keynand tahu mana yang tulus dan mana yang hanya berpura-pura.
"Dadek Raski, Kakak udah marahin Daddy. Maaf ya, jangan ikutin apa yang Kakak lakukan. Kakak hanya emosi. Lain kali jangan ke Toilet sendirian, bahaya. Minta seseorang yang menemani. Takutnya Dadek Raski kepeleset." Qia memberikan nasehat.
Raski mengangguk sembari memberikan senyum manisnya.
"Iya Kak Ia."
"Pinter, Kakak Qia pergi dulu."
Gadis itu berdiri, tanpa berkata apapun dia lantas pergi. Sebelumnya dia menatap wajah Keynand dengan sorot tajam tanda permusuhan.
Keynand masih terpaku, dia melihat kemana arah Gadis itu pergi tanpa mengalihkan pandangan meskipun hanya melihat punggungnya saja.
"Siapa sih? datang-datang ngomel, gebrak meja terus main pergi gitu aja tanpa minta maaf," ucap Lekha sedikit kesal. Dia benar-benar kaget dengan apa yang dilakukan Gadis aneh itu.
Tak ada respon Lekha mendengus kasar sembari menenangkan diri dari gemuruh.
"Mungkin orang itu tahanan rumah sakit jiwa yang lepas," ucap Lekha lagi.
Perkataan itu sontak membuat Keynand tersadar dan mengalihkan perhatian kepada Lekha dengan artian yang sulit dimengerti.
"Kak Ia esih-esih Dadek, ama ayak Ibu," ucap Raski bercerita. Mata terlihat berbinar-binar saat menceritakan itu. Isyarat itu mengatakan bahwa Raski menyukai Gadis aneh itu.
Sementara itu Lekha tak memahami apa yang diucapkam oleh Raski.
"Dadek Raski, hati-hati dengan orang yang tidak di kenal. Bagaimana kalau Dadek dibawa pergi, Daddy akan susah mencari. Dadek Raski mengerti, kan?" ucap Lekha mengingatkan. Dia mengelus pucuk kepala itu memberikan perhatian.
Entah mengapa cara kedua mengelus pucuk kepala Raski seakan berbeda. Lekha terlihat tak berpura-pura dan terpaksa, tapi ada sesuatu yang berbeda dengan yang dilakukan Gadis aneh, terlihat tulus penuh dengan perasaan sayang.
Gadis aneh itu seperti Lika dan Habibah penuh kasih sayang dan keibuan. Itu yang ada dalam pikiran Keynand saat ini.
Raski mengangguk saja, entah apa dia mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Lekha.
"Maaf Pak Keynand, tadi Dadek Raski salah masuk Toilet, jadinya saya tidak berani masuk ke Toilet Wanita. Gadis tadi yang membantu Dadek Raski, saya hanya mengawasi dari kejauhan." Pelayan Laki-laki yang diminta menemani Raski menjelaskan dengan sedikit menunduk karena merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, terima kasih sudah mengawasi Dadek Raski," sahut Keynand datar. Tak ada kemarahan yang terlontar atas kelalain Pelayan itu. Justru dia yang salah karena membiarkan Raski pergi sendirian dan lebih menuruti perkataan Lekha.
Belum saatnya Raski melakukannya sendiri. Seharusnya masih tetap di dampingi orang Dewasa. Keynand kembali lagi melalaikan tugasnya sebagai seorang ayah.
Jika Lika mengetahui ini pasti dia sangat marah. Renia saja yang sudah besar masih di dampingi oleh Lika maupun Reynand.
Katanya Raski adalah prioritas utamanya. Nyatanya hanya sebatas di bibir saja, tidak terbukti dengan tindakan. Dia masih saja mendengarkan pendapat orang lain. Kali ini pendapat Gadis yang baru dikenalnya dia turuti.
Keynand semakin gusar dengan pikirannya. Gadis bernama Julaekha Syarifah ini tak tepat untuk Raski. Dia terlalu mandiri dan terlalu cuek dengan sekelilingnya. Gadis itu menganggap semua orang bisa melakukan sesuatu dengan sendiri, walaupun sekecil Raski. Mungkin karena dia bisa melakukan apapun sendiri sehingga merasa orang lain bisa seperti dirinya.
"Mbak Lekha maaf, Dadek Raski saatnya untuk beristirahat. Saya permisi," ucap Keynand pada akhirnya berpamitan.
"Iya silahkan, mohon maaf apa boleh kita bertukar nomor Handphone." Lekha meminta, dia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk memiliki nomor Handphone Pengusaha kaya raya ini.
Keynand mengangguk, dia mengambil Handphone yang disodorkan Lekha. Dengan cepat dia mengetik nomor itu lalu menyimpannya.
"Terima kasih."
Keynand hanya mengangguk dengan senyum tipis.
Setelahnya, dia bergegas meninggalkan Lekha dengan menggendong Raski.
"Sepertinya saya harus mentraktir Riski karena telah memperkenalkan saya dengan Keynand Putra Ardiaz. Ya Allah, jantungku kenapa berdebar-debar. Pesona Sang Duda benar-benar luar biasa." Lekha bermonolog dengan senyum mengembang. Dia memeluk erat Handphone itu. Disana tersimpan kunci yang akan menghubungkannya dengan Keynand.
Puas, Lekha meninggalkan Restaurant menuju tempat seminar yang sudah dimulai sedari tadi.
***
(Pak, Nona Rizqia sempat marah-marah sama seseorang tapi Alhamdulillah tak lama, emosinya masih bisa dikendalikan)
(Mbak, minta tolong selalu temani Qia. Dia belum stabil. Kata Dokter, Qia belum benar-benar sembuh dari depresi. Saya tidak ingin terjadi sesuatu dengannya. Pastikan suasana hatinya baik-baik saja dan bahagia)
(Iya Pak)
__ADS_1
(Terima kasih)
Seseorang memutuskan panggilan setelah menginformasikan keadaan Gadis bernama Rizqia. Setelah itu dia menggenggam tangan Gadis itu dengan erat penuh dengan kasih sayang.
"Nona Qia, kita pulang."
Rizqia mengangguk dengan menampilkan senyum manisnya. Tak ada yang mengetahui kondisi mentalnya yang tak baik-baik saja.
Rizqia, Gadis itu terlihat normal seakan tak punya beban. Senyumnya selalu mengembang tak ingin tanggas.
Dia sangat peduli dengan sekelilingnya. Tak ingin orang lain merasakan yang sama dengan dirinya, hidup dalam rasa sakit. Jadi mereka harus bahagia. pikirnya.
Sementara itu Keynand menuju Reseptionist. Dia yakin Gadis aneh itu salah satu Tamu Hotel Ardiaz. Dia tidak ingin menyesal, karena itu dia harus mencari informasi tentangnya.
"Namanya Rizqia, Pak. Tadi saya mendengar dia memperkenalkan diri bernama Rizqia kepada Dadek Raski." Pelayan itu memberikan informasi seadanya.
"Mbak, minta tolong carikan data dari tamu Hotel Ardiaz bernama Rizqia," ucap Keynand kepada Reseptionist.
"Baik Pak Keynand."
Dengan cepat melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Direkturnya itu. Reseptionist itu keheranan, tumben-tumbennya Keynand mencari informasi sendiri. Biasanya dia mengandalkan Sekretaris ataupun Asistennya.
"Rizqia, namanya Baiq Rizqia Anggraeni, beralamatkan Kota Bunga. Dia sudah Chek out dan menginap selama tiga hari." Reseptionist itu menerangkan data tamu bernama Rizqia.
"Terima kasih."
Reseptionist itu mengangguk dengan senyum ramah penuh dengan kesopanan.
Keynand meninggalkan Lobi bersama Raski yang selalu dalam gendongannya.
"Namanya Baiq Rizqia Anggaeni, berarti dia asli Daerah ini tapi kenapa alamatnya di Kota Bunga. Apa dia tinggal disana." Keynand bertanya entah sama siapa. Hanya ada Raski yang berada di ruangannya. Tentu dia tak mengerti apa-apa.
Keynand kian penasaran, bukan karena tertarik dengan Gadis itu. Dia hanya ingin mengenalnya dan menjadikan teman Raski. Lagipula umurnya masih belia dan dipastikan masih berstatus Mahasiswi. Tidak mungkin tertarik dengan daun muda. Gadis itu bukan tipe idamannya.
"Cari informasi tentang Gadis bernama Baiq Rizqia Anggraeni. Secepatnya informasi itu harus di dapatkan." Keynand menghubungi seseorang.
Setelah itu dia membaca pesan yang dikirim anak buahnya tentang bukti-bukti perselingkuhan Rizqy. Keynand masih mencari informasi tentang Rizqy dan mengumpulkan bukti-bukti ketidak setiaan Lelaki itu. Hanya saja dia belum mendapatkan bukti yang membuat Habibah tak meragukan apa yang dilihat.
(Di grebek Masyarakat karena Rizqy memasukkan Wanita panggilan ke dalam rumahnya)
"Maruk, tak puaskah kamu dengan Habibah? kasian sekali Isterimu." Keynand bermonolog.
Saat dia sibuk dengan suasana hatinya yang tak menentu, dari benda Pipih terdengar bunyi.
Keynand kembali memusatkan perhatiannya kepada benda itu.
(Mas Keynand, ini Lekha. Apa Mas Keynand masih di Kantor? boleh enggak samaan pulangnya? saya tidak bawa kendaraan tadi nebeng)
(Maaf, saya pulangnya malam)
(Oh begitu, maaf telah menganggu)
(Maaf)
Keynand langsung mengakhiri tak ingin berbasa-basi. Dia tak ingin memberikan kepastian kepada Gadis itu apalagi sebuah harapan. Hatinya tak merasakan ketertarikan. Apalagi dia merasakan Gadis itu ingin menguasainya. Keynand tak mau terkekang, sedari awal dia harus menghalaunya. Dia tak ingin Raski diabaikan seperti yang barusan saja terjadi.
Tok tok tok
Pintu terdengar dalam keheningan. Keynand ingin melepaskan kepenatan dan berharap orang di balik Pintu membawa keceriaan.
"Masuk."
Ceklek
"Assalamu'alaikum."
Terucap salam yang dibalas oleh Keynand. Dari balik Pintu muncul dua wajah yang sangat di kenalnya.
"Pak Bos."
"Eh Adly, Riski. Masuk," sambut Keynand bersemangat.
Riski dan Adly masuk, lalu mendudukkan diri di sofa.
Riski melihat Keynand seperti banyak pikiran.
"Kenapa Bang? nampaknya enggak srek dengan Mbak Lekha? maaf Bang, lagi-lagi gagal."
__ADS_1
"Enggak apa-apa yang penting usaha. Lekha baik orangnya, enak diajak diskusi dan dia cerdas. Hanya saja terlalu koleris, dia sangat mandiri." Keynand menyampaikan alasannya. Sebagai teman Lekha adalah teman yang baik tapi jika sebagai teman hidup, Keynand merasa tak tepat untuk Raski.
Riski mengerti, dia tidak akan memaksa. Lagipula dia hanya memperkenalkan saja tak berharap lebih. Hanya sebatas menambah pertemanan.
"Duh, sepertinya saya menjadi nyamuk tak mengerti arah pembicaraan kalian." Adly menyela pembicaraan. Sedari tadi dia hanya diam menyimak.
"Memang!"
Keynand dan Riski kompak berkata, membuat Adly dirundung nestapa.
"Saya kesini membawa Puding untuk Raski. Tapi seperti ini tanggapannya, enggak enak banget," sahut Adly cemberut.
hahahaha
Kedua Pria itu tertawa, setelah itu ketiganya saling olok mengolok. Tak ada beban terasa saat mereka bersama-sama. Bukannya bekerja, mereka malah bercanda ria.
"Pak Bos, apa sudah mencari Sekretaris baru?" tanya Adly.
"Saya tidak akan mengganti Fitri, jadi saya sudah merekrut salah satu Pegawai yang cekatan dan cerdas. Dia akan menggantikan Fitri selama dia cuti," sahut Keynand serius.
"Siapa?"
"Adly Pradipta," sahut Keynand singkat.
"Astaghfirullah, Innalillahi." Adly mengelus dadanya yang bergejolak. Dia yakin, Keynand sedang mengerjainnya.
"Becanda, kan?" lanjut Adly sembari tersenyum.
"Tidak becanda kok, serius. Kamu bisa belajar dari Fitri," sahut Keynand mengakhirinya dengan tawa membahana.
"Saya itu peracik bumbu-bumbu bukan peracik kata-kata. Ini mah bukan The right Man In The Right Place," ucap Adly kesal.
"Jangan protes, banyak kok orang yang ditempatkan tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Orang Pertanian di tempatkan pada bagian perdagangan. Ini hanya pengecualian untuk kamu, saya yakin kamu pasti mampu." Keynand menepuk bahu Adly memberi semangat.
"Ki, bagaimana ini?"
Riski hanya mengedikkan bahu sambil mengangkat kedua tangannya tak memiliki solusi.
"Alamak, kacau hidupku," ucap Adly lesu. Seorang Ayah yang kini sedang menunggu kehadiran anak keduanya.
Hahahaha
Keynand dan Riski kompak menertawakan kesengsaraan Adly. Sang Koki yang berpaling profesi menjadi Sekretaris dadakan.
Hari menjelang siang, Riski berpamitan dan membawa ikut serta Raski. Dia tak tega membiarkan Raski terlalu lama di Kantor. Sedangkan Keynand entah kapan akan pulang.
Sementara Adly, Sekretaris pengganti itu tertahan di ruang kerja Fitri. Dia sekarang dikelilingi Dokumen-dokumen yang harus diolahnya menjadi data.
"Mana hijaunya, sungguh terlalu," ucap Adly menenggelamkan Kepalanya dalam dokumen-dokumen itu.
"Kata orang banyak belajar banyak lupa. Sedikit belajar, sedikit lupa dan tidak belajar, tidak ada yang lupa." Adly bermonolog. Senyum cerah tergambar disana. Kening yang mengkerut kembali tegak lurus.
"So, jangan di kerjakan jadinya enggak pusing, deh!"
Adly tertawa kecil, dengan langkah hati-hati dia melarikan diri.
Baru selangkah, terdengar suara seseorang menggema.
"Mau kemana Adly, kembali ke tempat."
"Eh ada Pak Bos, kabuuuuuur."
Dengan langkah dua ribu Adly melarikan diri menuju Kitchen, tempat dia seharusnya berada.
Keynand hanya geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah anak buahnya itu.
"Adly, Adly. Terpaksa harus mencari Sekretaris baru Pengganti Fitri untuk sementara waktu."
Keynand kembali ke ruang kerjanya dan menghempaskan diri pada Sofa. Bersamaan saat Handphonenya berdering. Dengan cepat mengangkatnya karena sambungan itu berasal dari orang suruhannya.
(Maaf Pak Keynand, Gadis bernama Baiq Rizqia Anggraeni tak terlancak. Informasi tentangnya sangat dirahasiakan. Saya tidak berhasil mendapatkan informasi apapun. Orang yang bersamanya sangat menjaga keberadaan Rizqia sekaligus informasi tentangnya. Sekali lagi saya minta maaf)
Keynand memutuskan panggilan dengan rasa kecewa. Dia tidak akan berhenti di tengah jalan. Jadi dia harus mendapatkan informasi tentang Rizqia, walaupun informasi itu berada di puncak gunung dan dasar samudra. Bagaimana pun caranya, harus dapat. Titik!
"Siapa Rizqia sebenarnya?"
Bersambung.
__ADS_1