
"Duh pusing banget," ucap Habibah menekan pelipisnya. Dia meraih baju kaos Rizqy yang belum di cucinya lalu mencium aroma tubuh Lelaki itu yang tertinggal di sana.
"Agak mendingan. Mungkin aku tidur aja kali ya? Biar pusingnya hilang," ucap Habibah kemudian merebahkan diri sembari memeluk Kaos berwarna putih milik Rizqy. Habibah memejamkan mata berharap pusing yang dia rasakan akan reda saat mengistirahatkan tubuhnya.
Beberapa jam berlalu, Habibah terbangun dengan rasa pusing yang semakin mendera Kepalanya.
"Aku kenapa, sih? Kepala ini pusing banget, apa anemia lagi ya?"
Habibah berguman pelan. Tidak tahan dengan rasa sakit yang di alaminya, Habibah bangun dari Ranjang lalu berjalan ke Dapur untuk melegakan tenggorokannya yang kering. Setelah air mineral dia teguk hingga tandas, Habibah berjalan kembali ke kamar untuk mengambil Jilbab lalu memasangkan.
"Sebaiknya aku ke Polkedes, biar ketahuan aku kenapa akhir-akhir ini?" Ucap Habibah dalam hati.
Dia keluar dari rumah lalu mengunci Pintu. Setelah itu menuju Polkedes yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Habibah bisa berjalan kaki melalui perkampungan agar lebih cepat sampai.
Saat berjalan menuju Polkedes beberapa warga menyapanya dan Habibah dengan sopan membalasnya dengan senyuman. Dia juga menemani mereka mengobrol jika tidak menyinggung seseorang. Habibah memang jarang ikut berkumpul dengan para Tetangga kecuali kalau ada hajatan atau kegiatan sosial maka dia akan datang untuk membantu. Apalagi jika ada yang sakit ataupun melahirkan, dia dengan segera menjenguk tanpa menunda-nunda.
"Apa mbak Habibah masih kuat berjalan ke Polkedes? Mbak Habibah keliatan sangat pucat, lo!" Ucap salah satu Ibu khawatir melihat keadaan Habibah yang nampak lemas.
"Insyaa Allah kuat, saya tidak apa-apa cuma pusing saja. Kalau begitu saya permisi dulu."
Habibah kemudian berpamitan. Dia bangun dari duduknya lalu melanjutkan langkah ke Polkedes yang jaraknya semakin dekat. Beberapa langkah lagi dia keluar dari Perkampungan lalu bertemu dengan jalan raya besar.
Huft
Habibah menarik nafas panjang karena merasakan nafasnya berat.
"Biasanya aku sanggup berjalan beberapa kilo, ini baru berjalan beberapa meter, kok sudah capek, ya?" Ucap Habibah heran dengan keadaan tubuhnya yang tiba-tiba saja sangat lemah. Habibah tetap saja berjalan dan mengabaikan rasa sakit di Kepalanya. Sebentar lagi dia akan sampai, sebab Polkedes sudah terlihat di depan matanya, dia tinggal menyeberang jalan raya.
Sesampainya di sana, Habibah langsung menemui Bidan Rita dan di sambut ramah olehnya.
Habibah duduk di hadapan Bidan dan langsung mengeluhkan pusing di kepalanya.
"Mbak Habibah tidak anemia, kok! Tengsinya normal dan tidak ada masalah," jawab Bidan Rita setelah selesai mengecek tengsi Habibah.
"Apa saya kecapekan, ya? tapi enggak mungkin kecapekan. Saya hanya ngajar, itupun tidak lama selain itu sesekali mengecek laporan dari UD HR. Biasanya yang saya rasakan hanya pingin jatuh, itupun karena tengsi yang rendah. Kalau udah minum penambah darah, setelahnya pusingnya ilang, tapi ini normal-normal saja, tapi kok masih pusing, ya?. Terus sebabnya apa ya mbak?" Ucap Habibah mendadak mengeluh dan terdengar sangat cerewet.
Bidan Rita hanya tersenyun menanggapi keluhan pasien istimewanya ini.
__ADS_1
"Apa pusingnya di sertai mual-mual?" tanya Bidan Rita mencoba mencari tahu sebab musibab sakit Kepala yang di alami Habibah. Dengan cepat Habibah menggelengkan Kepala.
"Apa mbak Habibah akan merasa pusing atau mual-mual saat mencium aroma yang menyengat seperti bawang atau wangi-wangian seperti parfum," tanya Bidan Rita lagi.
"Tidak, biasa saja. Penciuman saya baik-baik saja dan juga tidak mual-mual. Emangnya ada apa, sih?" tanya Habibah keheranan dengan apa yang ditanyakan oleh Bidan Rita.
"Tidak apa-apa? Mungkin hanya dugaan saya saja, tapi ketika mendengarkan jawaban Mbak Habibah yang biasa-biasa saja saat mencium aroma menyengat dan tajam, saya tidak berani menyimpulkan kalau mbak Habibah sedang ngidam," jawab Bidan Rita dengan hati-hati.
"Ngidam? menurut mbak Rita saya pusing bisa jadi karena saya isi? Itu artinya saya hamil? Orang yang isi belum tentu dia mengalami ngidam, iya kan?" tanya Habibah berbinar-binar. Dia sejenak terdiam mengingat dirinya akhir-akhir ini lebih agresif saat berhubungan dengan Rizqy, terus dia sangat suka menghirup keringatnya setelah pulang dari Sekolah, bahkan dia tidak mengizinkan Suaminya membersihkan diri. Apa tingkah anehnya itu bisa dikatakan dia sedang ngidam?. Jika benar, Habibah sungguh sangat bahagia pada akhirnya doanya di kabulkan Tuhan.
"Ah ya saya ingat," ucap Habibah dengan riang.
"Saya mual saat menggosok gigi. Ketika pasta gigi masuk ke mulut baru saya mual, tapi kalau saya hirup pasta gigi itu, tidak apa-apa. Aneh, kan? Apa itu tandanya saya sedang ngidam?" Lanjut Habibah mendadak menjadi bawel. Matanya berbinar-binar menunggu jawaban dari Bidan Rita yang dengan setia mendengarkan ceritanya.
"Apa Mbak Habibah inget kapan hari terakhir haid?" tanya Bidan Rita memastikan. Dia tidak ingin langsung melakukan tes yang hanya akan membuat Habibah kecewa. Dia sangat mengenal Habibah, sebab beberapa kali pasangan itu berkonsultasi seputar kehamilan. Bidan Rita juga tahu, pernikahan keduanya sudah berjalan cukup lama, namun belum dikarunia anak.
"Seingat saya bulan lalu,deh! Terus sekarang kok saya belum dapet-dapet ya? Baru sadar kalau Mas Rizqy belum liburnya, ngajak ngadon aja tiap malam," ucap Habibah dengan lancar. Dia tidak sadar telah berucap bahasan yang sangat tabu bagi seorang Gadis perawan seperti Bidan Rita yang belum berkeluarga. Melihat wajah Bidan Rita yang merona membuat Habibah tersenyum canggung.
"Duh jadi malu, ini mulut kok enggak punya sopan santun, nyerocos saja kayak rem blong," ucapnya kemudian dengan wajah malu.
"Tidak apa-apa mbak Habibah, dengan kejujuran mbak Habibah jadinya saya yakin ingin melakukan tes kehamilan kepada Mbak Habibah. Daripada menduga-duga yang bikin kita penasaran, lebih baik kita tes saja agar tahu hasilnya, bagaimana mbak?"
Habibah ragu mengambil Tespack itu, tapi rasa penasaran membuatnya berani mencoba, apalagi melihat anggukan Bidan Rita membuatnya kian mantap.
"Apapun hasilnya, mbak Habibah harus terima dengan ikhlas," ucap Bidan Rita diakhiri dengan senyum ramahnya.
Habibah melangkah ke kamar mandi. Tidak lupa dia berdoa kemudian mendahului Kaki kirinya. Beberapa menit kemudian dia kembali dengan benda kecil tergenggam di tangannya. Dia belum melihat hasilnya karena takut benda itu menunjukkan negatif, itu artinya dia tidak hamil. Hal itulah yang membuatnya tidak siap untuk memastikannya sendiri.
Bidan Rita mengambil Testpack yang disodorkan oleh Habibah dengan tangan gemetar.
Habibah menunggu dengan harap cemas apa yang dikatakan oleh Bidan Rita. Ada senyum yang tersungging di bibir Bidan muda itu dengan mata berbinar-binar cerah.
"Selamat mbak Habibah, hasilnya dua garis warna pink dan warnanya sangat cerah," ucap Bidan Rita dengan menunjuk dua garis itu.
"Maksudnya?" tanya Habibah terpaku sesaat. Dia mengambil Testpack lalu mengamati dengan seksama. Dia melihat dua garis pada alat itu, nampak sangat jelas dan terang.
"Itu artinya saya hamil? Saat ini saya sedang ngidam? Ada janin dalam perut ini? Apa itu maksudnya alat ini, iya kan?" tanya Habibah terbata-bata. Matanya terlihat berkaca-kaca lalu retak.
__ADS_1
Bidan Rita mengangguk dengan senyum mengembang.
"Alhamdulillah. "
"Alhamdulillah."
"Alhamdulillah."
Tangisan Habibah pecah, dia lalu tersungkur bersujud di Lantai meluapkan rasa syukur dan kebahagiaannya.
"Mbak Rita, hikz, hizk, hikz."
Usai bersujud, dia memanggil Bidan Rita dengan tangisan. Bidan Rita bangkit dari duduknya lalu meraih tubuh Habibah. Keduanya berpelukan lalu larut dalam keharuan. Beberapa menit kemudian Habibah mengurai pelukan, keduanya kembali duduk pada Kursi masing-masing.
"Saya cengeng banget ternyata, semoga saja anakku bukan tukang nangis," ucap Habibah yang ditanggapi tawa oleh Bidan Rita.
"Untuk memastikannya, mbak Habibah bisa melakukan USG," ucap Bidan Rita sembari mengambil Buku bersampul Pink dengan gambar Pasangan Suami Isteri dengan seorang anak perempuan. Bidan Rita menulis data pasien lalu memberi catatan hasil pemeriksaan pertama.
Habibah mendekap buku itu dengan erat saat beralih dalam genggamannya. Kini dia sudah sah menjadi Ibu hamil dan akan rajin ikut posyandu di Desanya. Mungkin sesekali akan ke Rumah Sakit yang ada di Kota untuk melakukan pemeriksaan dengan USG.
"Ah lupa memberitahu Mas Rizqy," ucap Habibah tidak henti-hentinya menebar senyum, bahkan rasa sakit di Kepalanya tidak di rasakan lagi saking bahagianya. Dia memotret Testpack bergaris dua itu bersama Buku bersampul Pink yang bertulis namanya lalu mengirim hasil fhoto itu ke nomor WA Rizqy. Hanya saja tidak langsung centang itu artinya belum dibaca oleh Rizqy. Habibah tahu saat ini Rizqy masih di Pesawat, tentu saja Handphonenya di non aktifkan.
Habibah kemudian berpamitan kepada Bidan Rita dan berjalan kaki menuju ke rumahnya. Kali ini berjalan dengan riang penuh semangat bersama buku bersampul pink yang didekapnya sangat erat. Sesekali Habibah tersenyum mengekspresikan kebahagiaannya.
"Mas, akhirnya kita akan punya anak. Aku sangat bahagia, Mas. Alhamdulillah," batin Habibah dengan matanya berkaca-kaca. Air matanya terus saja tumpah saking terharunya. Dia menyeka air matanya, namun semakin di seka air mata itu semakin tumpah ruah karena bahagia.
Sesampainya di rumah, Habibah mengambil air minum lalu meneguknya hingga tandas. Dia kemudian duduk untuk beristirahat sembari menunggu nomor Rizqy aktif kembali.
Capek duduk Habibah kemudian merebahkan diri, tanpa sadar dia terlelap dalam buaian kebahagiaan.
Baru saja terlelap dia mendengar deringan telepon, gegas Habibah mengangkat tanpa melihat siapa yang memanggilnya.
"Assalamu'alaikum. Iya!"
Habibah tidak mengenali suara orang yang menghubunginya. Begitu orang tersebut berbicara Habibah terlonjak kaget dengan khabar buruk yang didengarnya.
***
__ADS_1
Bersambung.