Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
Chapter 11


__ADS_3

Ceklek


Terdengar suara seperti pengambilan gambar setelahnya.


Habibah tentu saja terkejut, matanya membola sempurna tak menyangka dengan apa yang dilakukan Lelaki ini. Dia menyadari sepenuhnya kini bibir mereka bertemu dan menempel satu sama lain. Gadis itu setelah tersadar dia berusaha melepaskan diri. Namun Lelaki itu memperelat pelukannya. Tubuh mereka semakin menempel tak ada jarak sesentipun. Habibah berusaha memberontak. Namun sekeras apapun usahanya, Rizqy tidak membiarkan tubuh itu terlepas dari cengkeramannya.


Bibir itu, kian menuntut. Rizqy menggigit bibir itu untuk menembus ciuman lebih dalam lagi. Habibah pasrah, dia tidak mampu melepaskan diri dari cengkeraman Rizqy. Tubuh dan rasa menerimanya sementara Otak dan akal sehat menolaknya. Kini keduanya berperang mempertahankan keinginan masing-masing. Hanya air mata yang terasa lebih jujur sebagai ungkapan bahwa dia terluka.


Berhasil, Lelaki itu ******* bibir itu. Membelitkan lidahnya dan menuntun Gadis itu untuk melakukan hal sama. Tangan Lelaki itu menopang tengkuk Gadis itu dan tangan satunya meraih pinggang rampingnya. Ciuman itu semakin dalam dan semakin panas. Habibah memaki dirinya, kenapa dia mengikuti arahan yang dilakukan oleh Rizqy. Dia ikut hanyut dalam permainan lidah ini.


Munafik jika dia tak menikmatinya. Dia merasakan nikmat itu menjalari tubuhnya. Bukankah ini indah, pengalaman pertama yang mengesankan dan tak terlupakan. Lelaki itu semakin menekannya dan terasa semakin nikmat.


Tubuh itu kian meremang dan kian menegang. Tidak ada penolakan lagi. Habibah merasakan dia membutuhkan sentuhan itu. Dia menginginkan kecupan bibir Lelaki itu. Lelaki yang dicintainya dalam diam.


Kini ciuman itu terasa indah manakala mereka sama-sama menginginkannya. Rizqy semakin mengeksplor bibir yang tak terjamah sebelumnya. Dia sangat bangga bahwa dia berhasil menikmati ciuman pertama Habibah dan tak rela membaginya dengan orang lain.


Pagutan itu terhenti saat Gadis itu kesulitan untuk bernafas. Suara tangisan itu meledak saat bibir itu terlepas. Rizqy baru menyadari bahwa Habibah mengeluarkan air mata. Tidak menunggu terlalu lama Gadis itu memukul dada bidang lelaki itu sebagai cara meluapkan kekesalannya.


"Aku benci Mas Rizqy," ungkap Habibah. Dia terus mengucapkan sembari memukul tubuh Rizqy. Tangisnya kian pecah tak kendali. Dia merasa dirinya sekarang sangat rendah dan gampangan. Dia sangat terluka, orang yang dipercaya akan menjaganya malah tega mengambil kesucian bibir yang dijaganya selama ini. Kenapa Rizqy merampas miliknya? Kenapa dia, Lelaki yang diam-diam dicintainya.


Setelah lelah dia membersihkan bibir itu dengan kedua tangannya. Kedua tangan itu secara bergantian menariknya untuk menghilangkan jejak kecupan yang menempel disana.


Setelah tangis Gadis itu reda dan lelah menyakiti dirinya sendiri. Barulah Rizqy mengambil raga itu lalu memeluknya dengan erat. Lelaki itu berusaha memberikan rasa nyaman untuk Habibah.


"Maafkan Mas Bibah, maafkan Mas. Mas tahu ini pengalaman pertamamu dan ciuman pertamamu. Mas dengan lancang mengambilnya. Mulai malam ini kamu milikku, hanya milik seorang Rizqy Anggara. Hanya aku yang boleh menyentuhmu, mengerti?"


Rizqy membuat pernyataan bahwa Habibah adalah miliknya. Kata-kata yang terlontar itu terdengar posesif dan berhak.


Habibah menangis dalam dekapan Lelaki itu. Yang dia inginkan saat ini bukan hanya sekedar ciuman dan pengakuan bahwa dirinya milik Lelaki itu melainkan sebuah hubungan yang halal. Bisakah Lelaki ini mewujudkannya? bisakah angan itu menjadi nyata?. Hening, tak mampu Gadis itu bertanya untuk mendapatkan kepastian dengan apa yang dilakukan Rizqy kepada dirinya.


Rizqy mengelus lembut punggung itu. Kemudian dia berbisik yang membuat Jantung hampir terlepas dari tempatnya.


Habibah melepaskan diri dan menatap mata Lelaki itu untuk menemukan kejujuran dengan apa yang di dengarnya. Ternyata Rizqy mendengarkan bisik hatinya dan menjawab dengan bisikan pula.


"Jangan ragukan Mas, bibir ini dan semua milikmu hanya Rizqy Anggara yang boleh menyentuhnya" ucap Rizqy mempertegas sembari mengelus bibir ranum milik Gadis itu.


"Sekarang Mas mengantuk. Bolehkah Mas tidur di kamar Kekasihku," lanjut Rizqy.


Belum saja mendapatkan persetujuan. Rizqy langsung masuk ke kamar Habibah dan merebahkan raganya yang lelah. Tidak butuh waktu lama, Lelaki itu terlelap. Sedangkan Habibah, mengambil Tikar dan selimut. Dia memilih untuk tidur di luar dan membiarkan raganya dinikmati oleh angin.


Kekasih dari Rizqy Anggara. Dia merasa dirinya sedang bermimpi dan berharap esok hari mimpi itu menjadi kenyataan.


***

__ADS_1


Subuh pun menjelang, Habibah terbangun dari mimpi indahnya semalam. Dia menggeliatkan badannya untuk melemaskan otot sekaligus untuk melegakan raganya. Dia terkejut, ketika terbangun mendapati dirinya berada di kasur dan selimut masih menempel pada tubuhnya. Gadis itu ingat bahwa semalam Rizqy datang, mencium dan menginap di kamarnya. Dia juga ingat semalan dia memutuskan untuk tidur di teras. Lalu kenapa sekarang dia berada di kasurnya dalam posisi semula.


"Apa semalam saya sedang bermimpi? Mas Rizqy sebenarnya tidak pernah datang." Habibah membatin. Dia meraba bibirnya dan rasa nyeri itu masih terasa. Itu artinya semalam bukanlah sebuah mimpi akan tetapi sesuatu


yang nyata.


"Bekas cekupan ini masih terasa," guman Habibah sedih. Dia beringsut dari kasurnya kemudian mengarahkan langkahnya menuju kamar mandi.


Setelah beberapa menit dengan ritual mandinya. Habibah keluar dari kamar mandi lalu melaksanakan Shalat Subuh. Selesai Shalat, seperti biasa dia membersihkan kamarnya sebelum melakukan aktivitas lainnya. Saat


merapikan kamarnya Habibah menemukan secarik kertas di atas meja belajarnya.


"Bibah, Mas pulang. Mas tidak ingin menyulitkanmu. Muaaaach untuk Kekasihku. Rizqy."


Habibah tersenyum membaca notes yang ditemukan pada Meja Belajarnya. Dia mengira semalam hanyalah mimpi saat Lelaki itu menjadikan dirinya seorang Kekasih. Dan ternyata secarik kertas itu menjadi bukti bahwa Rizqy memang ada semalam dan tulisan itu mempertegas bahwa dia kini menjadi Kekasih seorang Rizqy Anggara.


Habibah menyimpan notes itu sebagai dokumen pribadinya yang tidak boleh hilang. Dia keluar untuk mencari sayuran dan bumbu dapur, karena pagi ini dia akan memasak untuk sarapannya.


Beberapa menit Habibah berkutat di Dapur mini yang ada di dalam Kamar Kost. Dia memasak tumis Kangkung, Ikan Goreng dan tempe mendoan lengkap dengan sambalnya. Setelah selesai masakannya, hasil masakannya dia tata pada meja kecil yang ada di kamar. Saat asyik dengan rutinitasnya, Rizqy tiba-tiba datang mengangetkan Gadis itu.


‘Habibah, kamu masak apa?” tanya Rizqy langsung nyelonong masuk ke arah dapur. Dia mendapati pintu kamar Habibah terbuka sehingga dia masuk begitu saja tanpa permisi.


“Mas Rizqy bikin kaget saja, kok enggak ada suaranya?” ucap Habibah masih asyik menata tempe mendoan yang sudah di gorengnya.


Kembali, sentuhan itu berpadu menjadi satu. Rizqy seolah ketagihan untuk menyentuh kembali miliknya. Nikmat, itu yang terasa di pagi hari saat sentuhan itu kembali mereka rengkuh berdua.


“Manis, maaf aku menikmatinya kembali. Bibir ini membuatku ketagihan,” ucap Rizqy jujur. Dia mengelus lembut sembari membersihkan bibir itu yang terlihat basah.


‘Will you merry Me, Habibah Rosy.”


Rizqy memberikan kejutan kepada Gadis bernama Habibah Rosy. Tangan kirinya masih erat memeluk pinggang ramping itu sedangkan tangan kanannya menyodorkan sebuah cincin emas putih yang berkilauan.


Habibah, lagi-lagi terkejut dengan apa yang dilakukan Lelaki bernama Lalu Rizqy Anggara. Setelah semalam Rizqy berani menciumnya dan pagi ini dia dengan berani dan lantang melamarnya. Apakah Lelaki ini tidak suka


berbasa-basi dengan apa yang diinginkannya.


Habibah hanya terdiam, dia memandang wajah Kekasihnya untuk mencari keseriusan disana. Setelah itu beralih pada cincin yang masih dipegang oleh Lelaki itu.


‘Apa ini mimpi Mas Rizqy?” tanya Habibah lirih.


“Apa kamu sedang tertidur?” Rizqy menjawab dengan pertanyaan. Dia tersenyum mendapati Kekasihnya terbengong dan kebingungan tergambar jelas pada wajah itu. Setelah menyadari pertanyaan dari Rizqy dengan cepat menggelengkan kepalanya menyadari bahwa dia sedang terjaga.


“Kalau begitu kenapa musti bertanya. Apa perlu aku kembali menciummu agar tersadar dari mimpi,” sahut Rizqy menggoda Gadis itu.

__ADS_1


“Tidak, tidak, tidak. Aku sudah terbangun, iya aku sudah terbangun. Aku tadi juga sudah sarapan dengan sepotong tempe mendoan dan …”


Habibah ragu-ragu melanjutkan, dia tersipu dengan momen romantis yang terjadi beberapa menit tadi.


Rizqy menatap Habibah dengan pandangan geli. Dia sangat gemas melihat paras manis Kekasih hati yang kini sedang dipersuntingnya.


“. ... Kenapa tidak menjawab, apa kamu menerimaku?” tanya Rizqy mempertegas kembali.


Habibah tersenyum, dia mengangguk sebagai jawaban. Selanjutnya dia menjawab dengan suara lirih “Iya.”


‘Mas enggak denger, bisa ulang enggak,” ucap Rizqy tersenyum sumringah. Dia bahagia mendapatkan penerimaan dari Gadis yang semalam resmi menjadi kekasihnya.


‘Iya Mas, aku mau menjadi Isteri Mas Lalu Rizqy Anggara,” ucap Habibah dengan jelas.


‘Asyiiiiiik, akhirnya Mas Rizqy tidak lagi bergelar Bujang Lapuk yang tak laku-laku.” Rizqy berteriak histeris sembari memeluk tubuh gadis itu dengan eratnya. Dia merasa bahagia pagi ini, karena pagi ini momen bersejarah untuknya. Dia memutuskan untuk melamar Gadis yang semula hanya sebagai rekan kerja. Rekan kerja yang sering diganggunya. Entah kenapa, Kiss love semalam berhasil meyakinkan hatinya bahwa dialah Gadis yang tepat untuk mendampinginya. Rizqy tidak ingin berbasa-basi pada akhirnya memutuskan untuk melamarnya.


‘Ini cincin untukmu, sebagai bukti bahwa aku serius,” ucap Rizqy setelah melepas pelukannya. Dia memasang cincin itu pada jari manis yang terlihat ramping, panjang dan indah.


‘Pas, cincin ini tanpa sengaja aku membelinya. Saat aku beli, aku belum tahu kepada siapa cincin ini akan aku sematkan. Ternyata cincin ini memilihmu Habibah Rosy. Maaf aku hanya memberikan cincin emas putih bukan berlian. Aku menyukai cincin ini karena sangat unik dan cantik. Itulah sebabnya kenapa waktu itu aku membelinya.” Rizqy menceritakan perihal cincin unik yang kini berada di jari indah Habibah.


‘Makasi Mas Rizqy, aku menyukainya. Cincin ini sungguh indah, cukup ini saja aku tidak menginginkan berlian. Aku hanya menginginkan cinta tulus Mas Rizqy saja,” sahut Habibah lembut. Ada nada ketegasan yang diutarakannya.


“Iya, sami-sami,” sahut Rizqy meraih kembali raga itu lalu menenggelamkan dalam pelukannya.


"Maaf ya, Mas melamar kamu di tempat yang tidak romantis. Aku malah melamarmu di Dapur yang terasa sempit ini. Kita terjebak disini, dan Mas tanpa melihat sikon langsung saja mencomot hati kamu,” ucap Rizqy. Dia terkekeh begitu menyadari dimana mereka berdua saat ini.


"Tidak apa-apa, ini malah lebih menarik, beda dari cara orang-orang diluar sana. Aku menyukainya, ini sungguh berkesan," sahut Habibah tersenyum indah.


"Iya, tak terlupakan. By the Way, setelah rasa ini kenyang kenapa perut Mas kelaperan, ya? kok bisa ya?" ucap Rizqy tersenyum simpul.


"Itu karena Mas Rizqy belum sarapan? bilang saja pingin nyicipin hasil masakan aku, kan? Pingin makan gratis, Mas Rizqy kok malu-malu gitu?" ucap Habibah geli.


"Mas maruk ya? sudah nyipicin bibir kamu eh malah minta incip-incip masakan Kekasihku pula. Aku beruntung banget, nanti kalau kita udah resmi jadi Suami Isteri tiap hari seperti ini ya? incip bibir kamu dulu baru incip masakannya," ucap Rizqy tersenyum nakal. Dia menoel hidung bangir itu membuat Habibah menjerit.


"Kita sarapan yuk! aku sudah masak, tapi ini lepasin dulu, Mas!" sahut Habibah berusaha melepaskan diri dari pelukan Lelaki itu.


Rizqy tertawa menyadari tubuh mereka masih menempel. Dia melepaskan pelukan lalu keluar dari dapur kemudian mendudukkan diri di Lantai. Dia duduk bersila menunggu hidangan yang akan disajikan oleh Habibah, Calon Isterinya.


"Ini Mas, maaf cuma seadanya," ucap Habibah ikut mendudukkan diri. Mereka berdua duduk lesehan sembari menikmati sarapan pagi.


"Mas akan mengajak kamu ke suatu tempat, kamu pasti akan menyukainya," ucap Rizqy di sela dia menyuap makanannya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2