Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.70


__ADS_3

"Hahahahaha."


Tawa menggema di sebuah ruang yang nampak mewah. Disana ada dua orang laki-laki dan dua orang Wanita.


"Kamu memang hebat Martin. Kita berhasil mengantar Rizqy ke Jurang kematiannya dan mengambil bukti-bukti kejahatan yang pernah aku lakukan. Aku juga tidak menyangka anak remaja yang aku bunuh adalah adik dari Rizqy. Pantas saja dia sangat bernafsu mencari bukti apa yang pernah aku lakukan," ucap Evelyn terlihat sangat bahagia. Di tangannya ada chip yang berhasil di rampas oleh anak buah Martin dan di hadapannya ada hasil DNA yang menyatakan bahwa dirinya adalah Evelyn Sanjaya yang sedang bersembunyi dengan wajah Wanita lain.


"Sudah aku katakan kamu tidak akan menyesal bekerja sama dengan Martin Ardiaz, baby," sahut Martin dengan seringaian yang amat mengerikan. Dibalik mata tersimpan hasrat ingin menerkam Wanita itu.


Evelyn tersenyum sinis.


"Okay, kamu memang pembelot dan aku dendam kepada Keynand Putra Ardiaz. Tidak menyangka yang memuluskan dendam ini ternyata sedarah dengan Keynand."


Martin tidak menyahuti, dia lebih tertarik meneguk Wine di tangannya.


"Katanya darah lebih kental dari air, tapi kenapa darah yang kamu miliki tidak sekental itu." Evelyn mengejek Laki-laki di hadapannya yang menanggapinya dengan tawa membahana.


"Iya, iya mungkin saja darah saya sangat encer sebening air dan tidak sekental milik para sepupu," sahut Martin asal.


"Maaf Nyonya, Tuan, laptop ini tidak bisa di buka dan bila dipaksakan akan menghancurkan perangkatnya. Sepertinya hanya pemiliknya yang bisa membuka sekaligus menyelamatkan apa yang ada di dalamnya," ucap seorang Laki-laki tanggung yang sedang serius mengotak atik Laptop milik Rizqy. Tidak menunggu lama laptop itu meledak.


Martin, Evelyn dan dua orang lainnya terkejut melihat apa yang terjadi. Laptop milik Rizqy hancur seketika. Pun begitu dengan Chip yang ikut hangus.


"Sial, rupanya Rizqy sudah mewaspadai hal ini. Dia tidak ingin bukti jatuh di tangan lawan," ucap Evelyn serius. Lalu dia terdiam dengan kening mengkerut tanda dia memikirkan sesuatu.


"Kurang ngajar, cerdik juga pria itu. Tidak ada bukti di sini," lanjutnya kemudian dengan tatapan nyalang. Evelyn mengepalkan tangannya menahan kemarahannya.


"Apa? Jadi kita gagal?"


Martin geram. Dia kembali menegak Wine sebagai cara mendinginkan lahar yang terlanjur memanas.


"Iya," sahut Evelyn singkat menatap Martin dengan sinis penuh ejekan.


"Kita harus menggagalkan usaha mereka untuk menemukan segala bukti yang ditinggalkan Rizqy," ucap Martin berpikir.


"Dekati teman-teman Reynand yang membantunya. Kacaukan kesolidan mereka. Hanya dengan cara itu Reynand tidak akan pernah berhasil menemukan bukti. Sudah di pastikan saat sidang pembuktian, Keynand tidak bisa berbuat apa-apa. Dia akan hidup dalam kepasrahan," lanjut Martin dengan sebuah gambaran keputus asaan Keynand dan orang-orang yang membelanya dalam benaknya. Martin tersenyum mengejek melihat raut Keynand yang menyedihkan. Bukan hanya Keynand, tapi juga Reynand Putra Ardiaz, kakak kesayangannya.


"Ah, senangnya jika itu terwujud. Tante Marisa dan Om David akan menangis darah melihat Putranya di hukum mati. Tidak sabar rasanya menonton penderitaan mereka dengan memberikan tawa bahagia." Martin terlalu mengkhayal sehingga tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya.


"Jadi, apa rencananya?" tanya Evelyn menyadarkan khayalan bahagia Martin.


"Kamu yang bisa melakukannya Julaekha. Dekati salah satu tujuh sahabat, Adly dan Hamiz. Buat salah satu dari mereka berpaling dari Reynand dan dapatkan informasi apa yang mereka rencanakan." Martin menjawab yang kini memberikan tugas kepada Julaekha syarifah. Bukankah dia Musang berburu domba dan diam-dia menggerogoti tempat dia bernaung seperti rayap.


"Aku akan melakukannya."


***

__ADS_1


Reynand dan Evan mendengarkan segala percakapan keempat orang-orang lucknut itu. Tidak menyangka mendengarkan secara langsung apa yang mereka pikirkan dalam Otak cerdas yang Tuhan anugerahkan. Bukan mempergunakan untuk kebajikan, mereka malah dengan sangat bangga mengutarakan kejahatan lalu akan melaksanakan hal itu.


"Okay Martin, tidak akan ada lagi darah Ardiaz pada diri kamu, saya akan mengambilnya dari tubuh kamu," ucap Reynand geram. Sorot mata itu semakin tajam penuh kengerian yang membuat orang yang mendengarkan bergidik.


"Minta tolong Van, simpan baik-baik percakapan ini," sambungnya.


Evan mengangguk mengacungkan tangan membentuk okay tanda siap. Evan kemudian mengetik sebuah pesan kepada seseorang. Setelah pesan itu terkirim dia lalu mengetik pesan ke group tujuh sahabat.


"Saya sudah memberitahu Qia untuk mencari bukti asli yang di simpan Bang Rizqy entah di mana. Tidak menyangka Bang Rizqy berhasil membuat kita shock dan frustasi. Tidak hanya itu saja Bang Rizqy telah sukses melambungkan kebahagiaan Wanita itu setinggi langit lalu menghempaskannya ke dasar bumi tanpa rasa kemanusiaan. Bukankah itu sungguh menyakitkan," ucap Evan panjang lebar.


"Kamu benar, Rizqy sudah menyadari ini pasti akan terjadi. Oh ya saya akan menemui Habibah, mungkin saja dia mengetahui sesuatu. Rizqy tidak mungkin diam saja, dia pasti telah memberikan isyarat kepada Habibah."


Usai berkata Reynand berpamitan. Dia meninggalkan kediaman Evan lalu menuju ke rumah sakit miliknya.


"Alhamdulillah atas petunjuk ini Tuhan," ucap Reynand penuh rasa syukur. Tidak menyangka dia dipertemukan orang-orang baik seperti Rizqy dan ketujuh sahabat. Dia yakin akan mendapatkan bukti-bukti yang berhasil di kumpulkan oleh Rizqy dan kini keberadaannya entah di mana? Rizqy koma dan tidak ada yang tahu kapan dia akan sadar. Sebab itulah dia bergerak cepat untuk menemukannya. Tidak ada waktu lagi untuk menunggu Rizqy sadar, sementara tuntutan hukum Keynand bergerak dengan cepat.


"Terima kasih, Beni Hardian Adha. Kamu telah meninggalkan alat canggih yang berhasil merekam segala kebenaran ini," ucap Reynand dengan tulus.


Lily berhasil menempatkan alat penyadap pada sebuah ruangan yang ada di kediaman Martin saat para Wanita menyusup dulu. Alat Penyadap itu milik Beni. Alat tersebut berbentuk bunga dan dibuat secanggih mungkin. Dia menjangkau seluruh wilayah kediaman Martin dan sekitarnya. Tidak hanya merekam berupa suara, alat itu juga merekam gambar yang berada di tempat alat tersebut di letakkan. Semua hasil rekaman langsung terkirim pada Handphone Pemiliknya.


***


Tok


Tok


Tok


Mendengarkan suara ketukan membuatnya menghentikan sejenak pokusnya. Dia mempersilahkan seseorang di balik pintu untuk masuk menghadapnya.


Ceklek


Pintu terbuka menghadirkan sosok cantik di ambang pintu yang terbuka lebar. Senyum Wanita itu terlihat ramah dengan penampilan yang bisa memporak porandakan keteguhan para Lelaki.


Juna mengernyitkan dahi bertanya dalam benaknya. Tidak di sangka dia kedatangan seseorang yang tengah viral saat ini yang berada dalam misi tujuh sahabat.


"Silahkan duduk mbak," ucap Juna dengan ramah dengan dibarengi senyum menawannya.


"Terima kasih."


Wanita tersebut berjalan dengan sangat anggun lalu sesampainya di hadapan Juna dia duduk pada kursi yang tersedia di sana.


"Apa kita saling kenal?" tanya Juna dengan ramah.


"Tentu tidak, kamu tidak mengenalku," jawab Wanita tersebut dengan sangat jujur.

__ADS_1


Juna tidak bertanya lagi. Dia membiarkan Wanita dihadapannya mengutarakan tujuan kedatangannya. Sebenarnya Juna sangat malas meladeni Wanita itu yang tentu saja sudah tahu siapa dia.


"Aku tertarik denganmu sehingga memberanikan diri untuk berkenalan. Bukanlah pepatah mengatakan Tidak kenal, maka tak sayang. Atas dasar itulah aku ke sini," ucap Wanita tersebut dengan santainya.


"Aku Julaekha Syarifah."


Wanita tersebut mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Juna. Juna menyambutnya dengan ramah, meskipun dibaliknya ada rasa kesal karena Wanita di hadapannya telah membuat waktunya sia-sia. Ternyata ketulusan itu sangat susah untuk di terapkan, apalagi pada Wanita yang jelas-jelas licik.


"Juna," jawabnya singkat.


"Aku tahu, kamu Lalu Mandala Juna, salah satu putra bangsawan Pencity. Iya kan?"


Juna menganggukkan Kepala membenarkan apa yang dikatakan oleh Julaekha Syarifah. Sebenarnya dia ingin menyeret Wanita itu keluar, tapi di tahannya keinginan itu. Juna lebih memilih meladeni agar tahu apa tujuan dari kedatangannya itu.


"Aku tertarik denganmu, Juna. Kamu tampan, terlahir dari keluarga kaya raya dan lebih membuat aku tertarik lagi kamu memiliki darah bangsawan. Kamu bikin jiwa ini kian bergelora." ucap Julaekha mulai melancarkan rayuannya.


Dia berjalan ke arah Juna lalu mendudukkan diri pada Meja persis di hadapan Lelaki itu.


Juna terkejut tak percaya dengan apa yang dilakukan tamunya.


"Aku menawarkan sebuah kenikmatan dan juga kekayaan," ucap Julaekha sembari membelai wajah tampan milik Juna.


Juna berusaha meredamkan gejolak yang ada pada tubuhnya. Dia pria normal tentu hasrat terpancing, tapi bukan Wanita di hadapannya yang dia inginkan. Juna berusaha untuk tidak bergeming.


"Tidak tertarik, bibir sudah basi. Milik rame-rame mana enak, udah ilang manisnya," batin Juna kesal.


"Katakan apa itu?" tanya Juna memancing.


"Kamu bisa menikmati service hingga puas," jawab Julaekha dengan senyum genitnya.


"Sebaiknya kamu jajakan keinginanmu itu dengan hidung belang. Aku tidak termasuk bagian dari mereka," ucap Juna pada akhirnya bersuara. Dia bangun dari duduknya lalu dengan cepat menggeser kursinya ke belakang. Dengan gerakan cepat tanpa di sadari oleh Wanita itu Juna menarik Julaekha sehingga membuatnya jatuh.


Kedebuk


Suara tubuh Julaekha yang terjatuh menggema di ruang kerja Juna.


"Maaf saya tidak bisa membantu, saya sedang dalam hati yang tega," ucap Juna menyaksikan Julaekha yang meringis.


"Juna, tidakkah ingin memenuhi kebutuhan bathinmu? Aku tahu sedang berhasrat sekarang?"


Julaekha bangkit dan kembali mencoba menggodanya.


"Katakan apa imbalan dari tubuhmu? Saya rasa setelah kamu membuat kita melayang berbarengan kamu pasti akan meminta sesuatu dari saya? Saat itu saya pasti menyanggupinya karena rasa bahagia itu, Iya kan? Sayangnya saya tahu itu," ucap Juna santai.


"Kamu tidak mampu membeliku Julaekha Syarifah, meskipun yang kamu tawarkan seluruh kekayaanmu dan tubuh molekmu itu. Enyahlah sekarang dari hadapanku," lanjutnya dengan sarkas. Juna ternyata bisa marah, jika hati nurani terusik.

__ADS_1


"Niat busukmu sangat mudah terbaca dan saya tidak tertarik. Pergiiiii!"


Bersambung.


__ADS_2