Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
Chapter 13


__ADS_3

Hubungan Habibah dan Rizqy kian terjalin. Mereka berdua diam-diam sudah mulai mempersiapkan rencana pernikahan mereka. Mulai melihat desain gaun Pengantin dan mencoba beberapa Gaun Pengantin yang ada di Boutiq yang mereka datangi. Saat ini mereka sedang mencari Gaun Pengantin yang akan mereka kenakan saat prosesi akad nikah.


"Bagus enggak Mas?" tanya Habibah memamerkan Kebaya sederhana berwarna putih dengan bawahan jarik. Kebaya itu melekat pada tubuh rampingnya yang berwarna eksotis.


"Bagus, kamu terlihat cantik dan Sexy," sahut Rizqy terpana. Dia memandang tubuh tinggi semampai itu dengan pandangan tak berkedip.


"Serius, Mas? jangan-jangan jelek lagi. Kulit aku tidak putih jadi susah mencari kebaya yang cocok dengan warna kulit ku yang gulem ini," sahut Habibah sedih.


"Maaf Mas? Mas mendapatkan calon Isteri yang jelek," lanjut Habibah dengan wajah yang kian minder.


"Kamu cantik kok, Mas suka kulit kamu, Mas suka paras kamu, Mas suka dengan segala apa yang kamu miliki. Jadi kamu jangan minder, ya?" ucap Rizqy menenangkan Habibah. Dia mengelus lembut rambut Habibah berusaha mengembalikan kepercayaan dirinya.


"Bibirmu sangat nikmat sayang apalagi bagian lainnya yang belum aku sentuh. Apakah cinta itu hanya sebatas aktivitas di ranjang dan rupa yang menawan? tidak seperti itu? aku merasa nyaman bersama kamu dan merasa tenang memandang wajah kamu yang manis ini. Berikan aku senyum saja maka kelelahan seketika itu akan sirna." Rizqy melanjutkan dengan kata-kata lembut yang murni tertuang dari hatinya. Dia sekali lagi meyakinkan hati Habibah bahwa kecantikan seorang Wanita itu relatif, karena setiap orang mempunyai pendapat yang berbeda mengenai hal itu. So jadilah diri sendiri dengan pesona yang kamu miliki. Kita tidak tahu dari sisi mana Lelaki itu tertarik.


"Terima kasih Mas karena telah memilihku," sahut Habibah. Dia membentuk sebuah senyum bahagia. Senyum itu berhasil membuat Rizqy kian terpana.


Setelah mereka menemukan Gaun Pengantin yang cocok dan sesuai dengan selera. Rizqy dan Habibah melanjutkan dengan makan siang pada Cafe yang ada di sekitaran Kota Mentaram. Beberapa jam berjalan, waktu Dzuhur pun tiba, Rizqy mengajak Habibah untuk melaksanakan kewajiban pada Masjid terbesar yang ada di Daerah ini. Selesai itu baru mengantarkan Habibah ke Kostnya.


"Habibah, Mas pulang dulu. Kamu istirahat dan tidak usah kemana-mana lagi," ucap Rizqy berpesan.


"Nggih Mas, laksanakan," sahut Habibah sembari hormat.


"Iya, Mas pulang nih? kamu jangan rindu, soalnya langkahku semakin berat nih," ucap Rizqy bergurau. Dia terkekeh menyaksikan kelucuan yang nampak pada raut Habibah sebagai tanggapan atas ucapannya.


"Kata Dilan rindu itu berat dan kata Habibah, ringankan dengan rasa syukur," sahut Habibah tersenyum merekah.


"Iya. Oh ya, Senin sore Mas ada tugas ke Pulau Samawa selama tiga hari. Apa enggak apa-apa kamu sendirian yang mengecek Gedung tempat resepsi. Nanti kalau kamu suka langsung hubungi Mas biar Mas langsung boking tapi kalau tidak suka cari yang lain saja," ucap Rizqy memberitahu.


"Nggih Mas, aku bisa mengecek sendiri. Mas bekerja dengan baik saja di sana," sahut Habibah menyetujui.


"Sip, Mas pulang dulu. Assalamu'alaikum," ucap Rizqy berpamitan.


"Waalaikumussalam Warahmatullahi." Habibah membalas salam sembari melambaikan tangannya.


***


Hari Senin pun tiba, Habibah sangat bahagia menyambut pagi ini. Dia melaksanakan kewajiban sebelum aktivitas paginya. Setelah selesai baru bersiap-siap menuju Kantor. Sudah menjadi kebiasaan dia datang pagi dan membuka Pintu ruangan untuk pertama kalinya.


Saat mendekati ambang Pintu ruangan. Habibah mendengarkan pembicaraan antara dua Lelaki yang di kenalnya. Isi pembicaraan itu membuat Habibah terdiam dalam kesakitan.

__ADS_1


"Selamat Bapak Lalu Rizqy Anggara, kamu berhasil memenangkan taruhan. Tidak menyangka Habibah Rosy mau menyerahkan kesuciannya. Selamat, selamat dan selamat," ucap seorang Pria menjabat tangan Rizqy yang hanya terdiam. Lelaki itu tak menanggapi bahkan menolak tangan itu.


"Kenapa kamu menolak, ini pencapaian terbaikmu. Kita rayakan kemenangan ini. Bagaimana kalau di Pulau Samawa kita merayakannya, disana banyak Gadis cantik dan Sexy. Kamu tinggal memilih yang mana dan semalam suntuk mereka akan mengangatkan tubuhmu. Bagaimana, apa kamu menyukainya?" lanjut Pria itu memprovokasi Lelaki itu.


"Saya tidak sebajingan kamu Dion," sahut Rizqy tegas. Pada nada suara terselip kemarahan dan kegusaran.


"Hahahahaha." Dion tertawa sembari memandang dengan pandangan mengejek.


"Masak? apa kamu sedang menutupi kebobrokan dan dosa besar kamu. Pinter sekali kamu mengelabui siapapun. Kamu tersenyum tulus dengan kata-kata lembut membuat para Gadis terharu. Apa mereka tidak tahu kalau mereka sedang tertipu." Dion menyahuti dengan penuh ejekan. Dia dengan terang-terangan memprovasi Rizqy. Dion sengaja memancing kemarahan Rizqy dengan mengungkit kebusukan Lelaki itu.


"Jaga bicara kamu Dion. Jangan pernah memprovokasi saya. Jika itu kamu terus terusan melakukan itu, lihat saja apa yang bisa di lakukan oleh Rizqy Anggara untuk merobek mulut kotormu itu," ucap Rizqy tersulut. Dia menggertakkan giginya sembari mengepal tangannya menahan amarah.


"Hahahahaha."


Dion kembali tertawa dan tawa itu seakan mengejek perkataan Lelaki bernama Rizqy.


"Benarkah? saya akan menunggunya. Satu hal, kira-kira apa yang terjadi dengan Habibah Rosy jika tahu dia ternyata menjadi objek taruhan antara saya dan kamu, Rizqy Anggara. Taruhannya sangat nikmat, kamu hanya mencium dan mengambil kesucian Gadis itu maka saya akan memberikan kamu Vespa antik yang kamu idam-idamkan. Kamu berhasil Rizqy dan sekarang aku akan memberikannya untuk kamu. Ini surat berharganya, Ini STNK, BPKP dan surat pertanyaan yang menyatakan ini hadiah dari taruhan yang melibatkan Habibah Rosy sebagai Objek taruhan dan Lalu Rizqy Anggara sebagai Subjek taruhan. Bukankah ini sah. Kamu simpan baik-baik jangan sampai Habibah Rosy tahu. Jika Gadis itu mengetahuinya mungkin saja dia akan melompat dari Gedung ini karena tertipu oleh Lelaki alim yang ternyata seorang bajingan." Dion kembali mengompori Lelaki itu.


"Bajingan kamu Dion. Jangan pernah kamu berbicara apapun kepada Habibah. Kamu juga menyetujui kesepakatan kita. Kalau saya berhasil mengambil kesucian milik Habibah maka kamu tidak akan pernah mengganggunya, camkan itu! laksanakan saja kesepakatan itu. Tentang Habibah, itu akan menjadi urusanku." Rizqy berucap dengan tegas. Dia tidak ingin Dion menekannya dan mengintimidasinya.


"Okay, saya akan mengindahkannya. Bukti keberhasilan kamu memenangkan taruhan ini saya anggap asli dan otentik. Apa saya boleh menyimpannya," sahut Dion memancing kemarahan Lelaki berparas tampan itu. Rizqy langsung merampas Handphonenya dan tak berpikir lagi dia menghapus bukti itu.


"Benar, kamu tidak ingin mengingat jejaknya. Ternyata Habibah tidak berarti apa-apa di hati seorang Rizqy. Dia kalah dengan sebuah Vespa. Saya baru tahu ternyata Vespa Antik milikku lebih bernilai daripada kesucian dari Habibah Rosy. Kamu benar-benar luar biasa Rizqy." Dion tidak henti-hentinya mengejek Rizqy. Dia mengeluarkan kata-kata yang memojokkan bahkan tak mampu dibantah oleh Lelaki itu. Hanya kepalan tangan yang berusaha menekan kemarahan yang kini telah sampai ubun-ubun.


Sementara itu, Habibah tidak sanggup untuk mendengarkannya lagi. Dia terduduk lemah dengan air mata yang mengalir dengan derasnya. Dia berusaha menutup mulutnya agar suara tangisnya tak terdengar oleh siapapun.


Habibah tak sanggup lagi, dadanya sesak. Setiap kata yang terucap dari Rizqy maupun Dion seperti godam yang menghantam tubuh rapuhnya. Rizqy kini berubah menjadi belati berkarat yang menikam hatinya. Menikan berulang-ulang sampai hati itu tak berbentuk lagi. Kini hanya luka yang Habibah rasakan.


"Mas Rizqy jahat," ucap Habibah perih. Dia melangkahkan kaki dengan berlahan berusaha tak terdengar. Dia menuju Toilet untuk menumpahkan air matanya. Rasa sakit dan perih itu kini sedang menyerangnya. Dia memaki dirinya yang bodoh. Bodoh mempercayai Lelaki tak terjangkau itu akan mencintainya. Dia telah bodoh mencintai seorang Rizqy Anggara. Habibah tahu cinta yang dia punya tidak mempunyai kesempatan menjadi bahagia. Dia tahu itu, namun angannya berusaha ingin menggapainya hingga menjadi nyata. Dan sekarang, Lelaki itu mencabiknya.


Ternyata cinta Rizqy hanya sebatas taruhan. Dia melakoni drama ini dengan sempurna. Dia menghayati perannya dengan sangat sempurna. Sangat sempurna sehingga Habibah tak mendeteksinya.


Sedangkan pernikahan, apa itu bagian dari naskah yang terlanjur tertulis dalam kesepakatannya. Apakah pernikahan bagian dari taruhan itu juga?. Tanya itu menusuk hatinya jika jawaban ternyata benar. Habibah merana, semua segala kebersamaannya selama ini seperti racun yang mematikan kenangannya. Dia terkapar tak berdaya.


Kini dia hanya menangis, hanya itu yang mampu menguatkan hatinya yang remuk. Apa yang diperbuat lagi, dia tak berharga, dia tak bernilai, dia tak berkelas di mata siapapun apalagi di mata Rizqy Anggara. Dia tidak lebih sebuah objek taruhan yang sangat hina.


Malu itu kita menguasai diri Habibah. Dia ketakutan, dia minder dan kini dia insecure dengan dirinya. Semua rasa itu kini menghantuinya.


"Mas Rizqy jahaaaaaaaat."

__ADS_1


Habibah hanya mampu berteriak dalam hati, menjerit dalam hati dan memaki dalam hati. Air mata pun memburamkan penglihatannya. Isakan itu kini telah menekan nafasnya.


Sesak


Dia tak peduli, jika saat ini dia tak bernafas lagi. Siapa yang peduli. Rizqy, Lelaki itu takkan peduli. Kini dia sedang bahagia menikmati kemenangannya.


Sakit


Hatinya sangat sakit, sakit dan sakit. Habibah tidak mampu menahan itu. Dia terjatuh, dia terpuruk dan dia se akan tak memiliki harapan lagi.


"Kapan kamu akan membuangnya? saya juga ingin merasakan tubuhnya. Tak mengapa, bekas kamu Rizqy," ucap Dion dengan pandangan mesum. Pandangan itu lagi-lagi mengejek Rizqy yang berusaha menahan amarahnya.


"Apa mungkin Apem Habibah sangat nikmat sehingga kamu tidak mau membagikan dengan orang lain. Tak menyangka Pelemeng kamu hanya mau menghentak Apem milik Habibah. Kamu sungguh payah Rizqy. Kamu menyukai Gadis dari kelas rendahan." Dion tak henti-hentinya memprovokasi Rizqy. Lelaki itu tidak tahan dengan segala kata yang diucapkan rekannya itu.


"Jaga bicara kamu?" teriak Rizqy menggema di ruang kerjanya.


Braaaaak.


Praaaaaang.


Rizqy menggebrak Meja kerja dengan sekuat tenaga. Membuat Meja yang dilapisi kaca itu pecah berserakan dan membentuk beling yang berhamburan. Tentu saja Meja itu patah menjadi dua. Seperti gambaran hati Habibah yang tanpa sengaja Rizqy membentuknya.


Habibah bergegas membersihkan wajahnya. Dia menyamarkan bengkak pada wajahnya dengan bedak bayi yang selalu dibawa. Dia juga mengolesi bibirnya dengan lip gloss berwarna pink agar terlihat segar. Dia mendengar suara gebrakan membuatnya dengan cepat menghampiri sumber suara itu.


Disana sudah ada beberapa Pegawai yang sudah berdatangan. Mereka terkejut mendengar suara benda di pukul dan suara pecahan terdengar nyaring. Saat sampai ruangan itu, mereka lagi-lagi terkejut dengan penampakan yang terlihat disana.


"Pak Dion, Pak Rizqy. Apa yang terjadi?"


Bersambung.


Hai, Saya mengucapkan terima kasih karena sudah berkenan membaca dan maaf pada chapter ini tokoh utamanya Rizqy dan belum menampilkan Keynand. Ini masih berada dalam masa Lalu Habibah ya..!


Tokoh Rizqy itu ada dan saya terinspirasi darinya. Bisa dibilang saya dulu pernah mengaguminya. Serius, dia konyol, cuek, usil tapi baik hati. Bagiku dia seumpama bintang yang bersinar paling terang dan saya tidak mampu menyentuhnya. Saya menyayangi dalam hati tapi tak ingin diketahuinya.


Kedubraaaak.


Maaf saya curhat.


Ini tetap fiksi ya...!

__ADS_1


Jangan lupa Like, Vote dan komentarnya. Terima kasih.


__ADS_2