Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
Chapter 22


__ADS_3

Habibah sangat menikmati kemesraan yang kini sedang mereka tuai. Dia melepaskan tangan suami yang dia cium. Pun begitu dengan Rizqy yang mengurai sentuhan pada pucuk Kepala Isterinya.


"Mas akan rapat di ruang Anggrek mungkin hingga malam. Maaf sayang malam ini Mas melewatkan makan malam bersama kamu," ucap Rizqy memberitahu. Dia masih duduk berhadapan dengan Habibah.


"Iya Mas, Bibah mengerti Kok! Ini demi tugas Daerah dan kemajuan Daerah kita. Lagipula Mas rapat di tempat yang sangat horor," balas Habibah sembari tersenyum.


"Kok horor?" Tanya Rizqy penasaran.


"Iya horor? kalau ruang rapatnya di ruang Anggrek itu sudah kelasnya berbeda. Biasanya yang harus hadir Pimpinan tinggi dan minimal Administrator. Bibah sedikit heran saja kenapa Mas yang masih menjabat Pengawas harus ikut serta pada rapat di ruang anggrek. Biasanya Pengawas dan Pelaksana Rapatnya di Gedung Sangkareang atau enggak di Gedung Graha. Berarti penting banget dong Mas, berhadapan langsung dengan Bapak Gubernur."


Rizqy tersenyum mendengarkan penjelasan dibalik kata horor. Dia mengelus Pipi mulus Isterinya, lalu berkata " Itu karena Mas juga sebagai Pejabat Pembuat Komitmen, jadi bersilaturahminya sering ke ruang Anggrek."


"Mas PPK juga?"


Rizqy menganggukkan Kepala. Dia bangkit dari duduknya kemudian mengganti Sarung tenunnya dengan Celana Kain. Sedangkan Habibah melipat alat Shalatnya.


Habibah kini mengetahui pekerjaan Suami sangat banyak dan berat. Selain sebagai Kepala Seksi Pelatihan dan ternyata dia menjabat sebagai Pejabat Pembuat Komitmen. Dimana Jabatan itu berkaitan dengan Pengadaan barang / jasa pemerintah. Di tangan PPK-lah semua Pengadaan itu terealisasi. Pantas saja Rizqy sesibuk itu bahkan tidak sempat mengalihkan pandangan dari Laptop.


"Kita makan siang bareng setelah itu Mas baru menuju ruang Anggrek. Sedangkan kamu lanjutkan untuk mengikuti Diklat. Semoga ilmu yang kamu dapatkan berguna di usaha kalian. Belajar yang rajin sayang!" ucap Rizqy. Dia sudah selesai merapikan diri.


"Iya sayang," balas Habibah. Dia menyematkan Papan nama pada bagian tubuh sebelah kiri lalu Pin Garuda di sebelah kanan sebagai atribut ASN. Saat ini Seragam yang digunakan adalah Tenun sesuai dengan aturan seragam dinas di lingkungan Pemerintah.


Setelah Habibah selesai memasangnya. Rizqy meraih pinggang ramping Isterinya lalu memeluknya erat.


"Terima kasih kamu mau bersamaku Habibah," ucap Rizqy menatap wajah manis Isterinya.


"Iya Mas, aku juga mengucapkan terima kasih karena telah memilih Gadis biasa ini. Mas adalah sumber kebahagiaan karena itu aku tidak ingin terpisah dari sumber kebahagiaanku," balas Habibah tulus.


"Iya, Mas akan berusaha tetap setia dan membahagiakan kamu."


Selesai berucap Rizqy menyentuh bibir ranum milik Isterinya. Memagutkan diri untuk menikmati rasa manis itu.


"Bibir kamu rasanya nikmat sekali sayang. Mas kecanduan dan semua yang ada pada dirimu adalah sesuatu yang sangat berharga untukku. Kamu bagaikan candu yang mampu melegakan hasratku. Kamu sangat menggairahkan sayang."


Rizqy meracau, setelah puas dia kembali menikmati bibir ranum milik Habibah. Bibir yang sangat dia suka.


"Mas, udahan ya? nanti Mas terlambat. Terlambat semenit saja nanti Mas di usir dari ruang Anggrek," ucap Habibah mengingatkan Suaminya.


"Hem, Mas akan menghubungi Bapak nomor satu di Daerah ini dan memintanya menunggu kedatangan Mas sebentar saja dengan alasan terlalu asyik menikmati bibir sexy Isteriku, beliau pasti mengerti," sahut Rizqy terdengar konyol. Dia tertawa melihat raut tak percaya Habibah.


"Memangnya Mas Rizqy siapa? berani banget mengatur waktu beliau," ucap Habibah tertawa geli.


"Suami dari Habibah Rosy," sahut Rizqy bangga.


"Udah ah, aku lapar."


Habibah melepaskan diri dari pelukan Suaminya. Dia mengambil Tas lalu menyampirkan di bahunya. Sedangkan Rizqy mengecek dokumen penting. Setelah Dokumen-dokumennya sudah berada pada Tas ranselnya baru meletakkan Tas tersebut pada Punggungnya.


Mereka berdua berjalan menuju Pintu lalu keluar bersamaan. Saat keluar, Rizqy bertemu dengan rekan kerjanya di Lorong.


"Pak Rizqy?" ucap rekannya itu terkaget menyaksikan Rizqy keluar bersama dengan Wanita berhijab dari satu kamar Hotel. Rekannya itu seorang Ibu-Ibu yang terkenal dengan gosipannya. Melihat Rizqy bersama seorang Wanita disisinya dan keluar dari kamar yang sama tentu saja memantik tanya. Seketika itu anggapan negatif berkiaran dalam benaknya.


"Gosip terhangat ini," batin Wanita itu.


"Siang Bu, saya harap apa yang Ibu lihat tidak menjadi seperti bola liar yang bergelinding kesana kemari. Saya permisi dulu Bu," ucap Rizqy sembari menempelkan Jari telunjuknya pada Bibir. Isyarat itu mengartikan agar Ibu itu menutup vokalnya.


"Yaa Zawjatii, ayok ke Restaurant. Mas laper juga sayang," ucap Rizqy merangkul Pinggang Isterinya sedikit posesif.

__ADS_1


"Hah! apa tadi? Pak Rizqy memanggil Wanita itu dengan panggilan sayang. Pria dingin dan super cuek di Kantor kepergok kencan bersama Gadis berhijab di kamar Hotel. Ini gosip paling hot dan bakalan gempar di kantor kalau tahu Pria terdingin dan tercuek Ngamar dengan Gadis berhijab di kamar Hotel. Enggak nyangka Pria yang terlihat alim ternyata suka cek in di Kamar Hotel juga."


Di benak Wanita itu sudah berkiaran dengan pikiran negatifnya. Dia tidak memahami kalau Rizqy telah mengakui kalau Wanita bersamanya adalah Isterinya. Mungkin saja Ibu itu tidak mengerti panggilan dalam bentuk bahasa Arab itu berarti 'Wahai Isteriku'.


Sesampainya di Restaurant, Rizqy dan Habibah menikmati santap siang penuh dengan rasa syukur. Selang beberapa menit mereka menikmati makan siang yang sudah lama beranjak. Rizqy berpamitan meninggalkan Habibah yang masih asyik bertengger.


"Mas pergi dulu, nanti saya hubungi sampai jam berapa selesainya. Mas enggak tahu pastinya, pembahasannya bisa saja berubah-ubah" ucap Rizqy. Dia meraih Tas ransel lalu menempatkan di punggung.


"Iya Mas, hati-hati," balas Habibah membentuk sebuah senyum manis untuk Pria itu.


Rizqy mengangguk, menaruh tangannya sejenak di Kepala Habibah sebelum dia berlalu dari hadapannya.


Selepas kepergian Rizqy, Habibah meninggalkan Restaurant Hotel Ardiaz menuju Room tempat pelatihan itu masih berlangsung.


Habibah menghampiri Meja tempat Daftar kehadiran peserta di simpan. Disana ada dua Pegawai dari Dinas yang bertugas menangani para Peserta.


Habibah menulis nama di Daftar kehadiran lalu masuk ke Room tempat Pelatihan itu berlangsung.


"Habibah Rosy, jadi ini nama Gadis yang bernama Pak Rizqy tadi. Dia ternyata UKM, apa dia sengaja mendekati Pak Rizqy agar mendapatkan bantuan. Ternyata Habibah ini pintar juga merayu Duda tampan padahal wajahnya enggak cantik. Apa dia menggunakan senggeger sehingga Pak Rizqy melekat begitu saja."


Wanita itu tanpa sengaja berkomentar yang berhasil didengar oleh rekan kerjanya.


"Ngomong apa sih? jangan bergosip. Apa yang dilihat dan didengar belum tentu sesuai yang ada dalam pikiran buruk kamu. Bisa saja Wanita tadi sahabat dari Pak Rizqy. Terus Wanita tadi ayu kok!" sahut rekannya sembari menggelengkan kepala tanda tak mengerti jalan pikiran temannya itu.


"Ini bukan gosip, saya lihat dengan mata kepala sendiri, Wanita tadi keluar dari kamar Hotel bersama Pak Rizqy dan Pak Rizqy juga memanggil dengan panggilan sayang. Ngapain Pak Rizqy di Kamar bersama Wanita tadi kalau bukan beradu senjata. Coba kamu perhatikan, Wanita tadi pucat sekali terus tadi juga Pak Rizqy terlihat segar seperti baru mandi besar gitu? menurut mbak, mereka ngapain kalau enggak beradu senjata," sahut Wanita itu berkata-kata penuh keyakinan dan beralasan dengan apa yang dilihatnya.


"Jangan bergosip dan memfitnah orang tanpa bukti. Bisa jadi Pak Rizqy numpang mandi terus Mbak tadi lagi kurang enak badan. Ada beberapa kemungkinan terjadi, berpikiran positif saja. Sudah ah, kita lanjut kerjanya bukan malah bergosip," sahut rekan Wanita itu menasehati. Dia meminta agar tak mencampuri urusan pribadi Atasan Langsung mereka.


***


"Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saya tidak menyangka ketemu Habibah disini, dia sendiri lagi. Berarti dia memang jodoh seorang Keynand." Keynand bermonolog. Pada wajahnya tergambar kebahagiaan. Kebahagiaan yang sulit disamakan dengan mendapatkan keuntungan dan tender besar. Bertemu dengan Habibah lebih dari itu.


"Jangan panggil saya Keynand kalau tidak berhasil memenangkan hati kamu My Sweety," ucap Keynand tersenyum. Jiwa Play boy tiba-tiba bergejolak ingin segera mendekati Gadis incarannya itu.


Keynand melangkah dengan pasti menuju tempat Habibah berada.


"Permisi, apa boleh saya duduk disini?" Keynand meminta izin kemudian dia menaruh Piring yang berisi penuh dengan Nasi dan lauk pauk. Lalu dia mendudukkan diri pada Kursi yang berhadapan dengan Habibah. Keynand sangat santai menikmati hidupnya, tidak seperti CEO pada umumnya yang selalu di dampingi Asisten, Sekretaris dan Bodyguard. Mereka yang senantiasa melayani apa yang di mau oleh Ceo-nya. Tidak membiarkannya bersusah payah mengantri dan mengambil. Semua keperluannya sudah tersedia di hadapannya. Hidup Keynand tidak seteratur itu dan juga tidak ada perintah dan merepotkan orang lain. Dia punya kedua tangan untuk apalagi mengandalkan tangan orang lain jika dia bisa sendiri mengatur hidupnya.


Habibah, Gadis itu tertegun melihat kedatangan Pria yang dikenalnya. Dia terlambat mengangguk karena Keynand terlebih dahulu menempatkan diri.


"Akhirnya bisa bertemu kembali denganmu Habibah, kamu masih ingat sama saya, kan?" ucap Keynand sekaligus mempertanyakan daya ingat Gadis ini.


"Iya masih, saya tidak menyangka bertemu kembali dengan anda," jawab Habibah ramah. Habibah mana mungkin tak ingat dengan Pria yang dikenalnya sebagai Tukang Cat dan Pria itu juga adalah Ayah dari bocah tampan bernama Raski Ananda Ardiaz. Habibah juga tahu Pria ini adalah Direktur Hotel Ardiaz. Dia mengetahui dari para Perawat rumah sakit yang sedang bergosip. Dan tak sengaja di dengar oleh Habibah.


Habibah melanjutkan menikmati makanan. Pun begitu dengan Keynand. Dia menyuap makanannya sembari menikmati paras manis Gadis di hadapannya. Pandangan Keynand terpusat pada Habibah. Sedangkan Habibah hanya diam tanpa berbicara apapun. Dia fokus dengan makanannya dengan sedikit menunduk untuk menjaga pandangannya.


"Habibah, mohon maaf apa boleh saya berkenalan lebih akrab lagi dengan kamu?" tanya Keynand mulai serius.


Habibah sedikit terkejut dengan pernyataan Pria yang ada di hadapannya. Dia bertanya-tanya akan maksud pernyataan itu.


"Maaf Habibah, saya ingin mengenal kamu lebih dalam lagi. Terus terang saja saya ingin dekat dengan kamu mungkin saja pada akhirnya nanti menjadi orang berarti dihidup kamu," ucap Keynand melanjutkan keinginan. Dia melihat Habibah tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk menanggapi. Hanya keheranan yang berhasil di tampilkan, itu sangat mudah terbaca oleh Keynand.


"Sesama muslim itu bersaudara. Sudah sepatutnya kita saling kenal mengenal agar terjalinnya tali silaturahmi," jawab Habibah ramah.


"Oh ya bagaimana khabar Dadek Raski?" tanya Habibah selanjutnya. Dia sengaja mengalihkan obrolan agar tak merembes ke hal yang lebih prinsip.


"Kamu kenal Putra saya?" tanya Keynand heran.

__ADS_1


"Iya, saya bertemu Dadek Raski hari Sabtu. Waktu itu sedang berjalan-jalan di Pantai Kute dan tidak sengaja melihat anak kecil terseret ombak. Saya berusaha menyelamatkannya kemudian membawanya ke Rumah Sakit Ardiaz. Disana saya bertemu mbak Lika dan juga Pak Reynand." Habibah menceritakan pertemuannya dengan Raski dan juga perkenalannya dengan Reynand dan Lika.


"Masha Allah, jadi kamu yang menyelamatkan Putraku. Terima kasih Habibah, dengan cara apa saya harus membalasnya," ucap Keynand trenyuh. Mata Keynand berbinar-binar suka. Desiran cinta terasa semakin nyata saja di hatinya.


"Sama-sama Pak Keynand. Sudah sepantasnya kita saling tolong menolong. Saya tidak mengharap imbalan apapun, saya ikhlas yang terpenting Dadek Raski baik-baik saja," balas Habibah tulus.


"Alhamdulillah Dadek Raski baik-baik saja. Dia sekarang berada dalam pengasuhan Lika dan Abang Reynand. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih."


Habibah mengangguk menanggapi perkataan Keynand. Selanjutnya Habibah tak mengetahui apa yang ada dalam pikiran Pria itu. Tatapan itu tentu saja membuatnya tak nyaman. Sementara itu Keynand terdiam sembari memandang Habibah penuh harapan.


"Habibah, kamu telah menyelamatkan Putraku itu artinya kamu telah menyelamatkan hidupku. Kini aku semakin yakin kamu-lah Gadis yang tepat untuk menjadi Ratu dan bersanding dengan Ega di hati ini." Keynand bermonolog. Dia ingin mengutarakan itu. Baru saja bibir bergerak berencana mengatakan itu. Terdengar nada panggilan Handphone. Baik Habibah dan Keynand secara bersamaan mengambil Handphone dan memeriksanya.


"Maaf Pak Keynand, dari Handphone saya. Saya angkat dulu, permisi," ucap Habibah memberitahu karena dia melihat Keynand memeriksa Handphonenya juga.


(Waalaikumussalam warahmatullahi Wabarakaatuh. Iya Mas?)


(Kamu sudah makan?)


(Ini lagi makan Mas, terus Mas sudah makan belum?)


(Ini Mas mau makan juga, Mas dapat Nasi kotak dan makan di tempat. Rapatnya belum selesai mungkin sekitar satu jam lagi)


"Siapa itu?"


"Isteri saya."


"Wah ternyata Pak Rizqy sudah menikah, selamat ya."


Terdengar seseorang menyapa Rizqy dan memberikan ucapan selamat. Suara itu terdengar di Telinga Habibah. Habibah juga mendengar suara orang-orang berbicara tentang materi rapat yang sedang mereka bahas.


Habibah tersenyum mendengarkan keriuhan itu. Senyum itu tak luput dari penglihatan Keynand. Keynand sangat menikmati senyum itu dan Jantungnya semakin berdebar-debar tak karuan.


(Maaf Bibah, teman-teman ini pada heboh semua. oh ya Mas makan dulu, tunggu Mas di Kamar ya!)


"Cieeeee yang sudah punya Isteri dan minta tunggu di Kamar. Ayo mau ngapaen?"


Terdengar kembali ledekan dari teman-teman Rizqy.


"Bapak-bapak kalau udah di Kamar ketemu Isteri, terus apa yang akan dilakukan? masak iya hanya diam saja memandang paras cantik Isteri tanpa dibarengi dengan tangan yang terus bergerilya. Apa enggak ingin menikmatinya, tuh?"


"Kamu tuh Riz, bikin inget bini kedua saya saja."


"Nah lo! ketahuan." Rizqy berucap sejurus kemudian memperdengarkan tawanya. Apa yang terjadi dengan seorang Bapak yang keceplosan. Hanya Rizqy yang mengetahui. Habibah ikut tersenyum menikmati senda gurau yang tak sengaja di dengar.


(Habibah, udah dulu ya, Mas mau makan dulu. Assalamu'alaikum)


Habibah membalas salam lalu menaruh Handphone di saku Gamisnya.


"Maaf Pak Keynand, membuat anda menunggu terlalu lama," ucap Habibah tak enak hati. Dia terlalu lama mengobrol dengan Rizqy dan membiarkan Pria itu menunggu terlalu lama.


"Tidak apa-apa, nampaknya kamu sangat bahagia berbicara dengannya. Pacar kamu ya?" jawab Keynand sekaligus bertanya siapa orang yang menghubungi Gadis incarannya. Ada rasa tak suka melihat Habibah tersenyum bahagia menikmati pembicaraan mereka.


"Bukan pacar saya, dia Suami saya," jawab Habibah dengan jelas.


"Apa? Su Suami?" Keynand terkaget mendengar pernyataan Habibah.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2