Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
83


__ADS_3

"Gawaaaat," teriak Bapak-bapak tadi dengan tubuh gemetaran.


"Gawat kenapa?" tanya Pedagang itu mewakilkan.


Semua pandangan tertuju kepada Pria Setengah Tua karena teriakannya. Rasa ingin tahu mereka dengan apa yang kini terjadi sangat jelas terbaca pada raut wajah masing-masing. Apakah ini tentang identitas Laki-laki tadi? Penyebab Pria Paruh Baya ini terlihat gelisah. Jelas, dia yang begitu semangat menyudutkan Pria tadi. Dugaan masing-masing.


"Isteri saya minta di beliin Keong terus saya belum dapat saking asyiknya ikut julidin orang," jawab Sang Bapak dengan wajah pucatnya. Perkiraan mereka meleset ternyata. Takut Isteri rupanya.


Huuuuu


Terdengar suara mereka heboh mengolok Pria itu. Sedangkan Pria tadi mesam mesem berusaha menutupi rasa malu dan tergambar jelas ketakutan yang dia nampakkan.


"Siapa suruh ikut campur urusan orang lain. Siap-siap saja kena omel Isteri tersayang selama tujuh hari tujuh malam." Entah siapa yang berkata. Sang Bapak membenarkan itu semua. Dia gegas pergi mencari dan berharap ada seekor yang tersisa, jika tidak ingin kena omel sepanjang jalan kenangan. Untungnya tidak ada jalan Kenangan di sini, kalau ada bisa berabe, kan?


Seketika itu kerumunan kecil yang ada dengan sendirinya membubarkan diri dan mencari jalan masing-masing.


Keynand dan Rizqia masih berada di area itu. Mereka berdua masih bisa mendengarkan obrolan mereka. Saat ini mereka belum beranjak pergi karena masih menata Ikan Laut dan Kepiting yang mereka beli.


"Apa enggak apa-apa Mobil mewahnya di tumpangi sama Ikan laut? Bau amis lo, Pak!" tanya Rizqia sembari menutup Bagasi Mobil.


"Tidak masalah. Kalau kotor tinggal di bersihin terus kalau bau tinggal di kasih parfum. Itu saja di pusingin," jawab Keynand santai.


Dia sangat bahagia pada akhirnya Rizqia mengajaknya mengobrol.


Keynand dan Rizqia kemudian masuk ke dalam Mobil, lalu tidak menunggu lama Mobil bergerak meninggalkan area Pasar.


Saat di perjalanan, Matahari mulai menampakkan diri. Dunia yang semula gelap kini terlihat terang benderang disebabkan oleh Matahari yang kembali melaksanakan tugasnya.


Di sepanjang jalan, keheningan kembali terjadi. Hanya suara deru Mobil yang kini memanjakan Telinga mereka.


Keynand melirik Rizqia, jelas perjalanan ini sangat membosankan, karena tidak ada pembicaraan yang berarti.

__ADS_1


Keynand orang yang tak tahan dengan kebisuan. Dia mulai ribut sendiri. Pria itu memutar musik lalu mulai bernyanyi mengikuti Penyanyi aslinya.


"Maaf Pak Keynand, saya matiin. Berisik saya tidak suka," ucap Rizqia sedikit mengeraskan suaranya. Dia mengulurkan tangannya mengecilkan volumenya.


"Apa saya boleh mematikannya," lanjutnya meminta persetujuan Keynand.


"Boleh, maaf saya tidak tahu bahwa kamu tidak suka musik," jawab Keynand datar.


"Saya minta maaf karena telah mengganggu kesenangan anda." Gadis itu berucap lirih merasa tidak enak dengan Keynand. Dia menghela nafas, ada kegelisahan yang berusaha di sembunyikannya.


"Tak apa, saya hanya bosan saja makanya ingin menghibur diri," ujar Keynand berkata terus terang apa yang di rasakan kini.


Rizqia kembali menarik nafasnya. Sudah terlihat jelas bahwa dirinya tidak mungkin bisa di satukan dan hidup bersama dengan Keynand atau Pria lainnya. Itulah salah satu alasan mengapa tak ingin memiliki perasaan cinta untuk seorang Pria. Dia sadar, apa ada Pria yang bisa memahami dan mengerti dirinya. Tidak ada sama sekali, terbukti Keynand merasa bosan dengan situasi yang kini sedang terjadi.


Huft


Berulang-ulang Rizqia menarik nafasnya. Lalu terdengar suaranya yang sangat lirih.


"Jika bersama saya, rasa bosan itu akan terjadi. Bahkan kini Pak Keynand mulai merasakannya. Sebaiknya Pak Keynand jangan becanda lagi dengan niatan itu."


Keynand merasa hatinya mencelos. Apa yang di katakan oleh Rizqia seakan memukulnya untuk mundur. Itu berhasil membuatnya terjerebab jatuh. Ah dia salah lagi, seharusnya lebih berhati-hati untuk berkata-kata. Kini kata bosan yang terlanjur di ucapkan begitu saja membuat Rizqia tambah meyakinkan hatinya bahwa dirinya bukan orang yang tepat untuk seorang Keynand.


Satu-satunya cara untuk mendapatkan Rizqia adalah mengerti dan memahami dirinya. Mungkin karena derita yang pernah dialaminya membuatnya sensitif dan menameng dirinya dengan baik.


"Jujur, saya tidak suka dengan keheningan saat ada orang lain bersama saya. Bisakah kita berbicara membahas sesuatu yang penting atau berbagi cerita. Itu yang saya maksud, bukan saya bosan dengan keberadaan dirimu Qia." Dengan hati-hati Keynand menjelaskan apa yang diinginkan sebenarnya.


Rizqia melirik sebentar ke arah Keynand yang fokus menyetir. Tak ada balasan dia memalingkan kembali tatapannya.


Tak ada suara hanya helaan nafas yang terdengar. Keynand melirik Rizqia yang tengah fokus memandang jalanan yang mereka lewati.


Tak ada tanda Gadis itu akan berkata, Keynand kembali fokus dengan jalanan di depan.

__ADS_1


"Maaf, saya tidak mampu memenuhi keinginan Pak Keynand. Setidaknya untuk saat ini," ucap Rizqia pada akhirnya bersuara. Kalimat itu seakan membangun sekat yang tak terlihat. Itu artinya akan percuma berusaha mendekati Gadis ini apalagi menyentuh hatinya.


"Apakah saya tidak boleh berjuang?"


Ah pertanyaan Keynand memberatkan perasaan Rizqia. Ada ketidaktegaan di sana, tapi jika keinginan itu tak kunjung ada, apa sebaiknya dia harus tega. Dia tidak ingin perjuangan Laki-laki di sampingnya berakhir sia-sia.


"Apa boleh kita bicarakan nanti saja, Pak Keynand," jawab Rizqia mengakhiri obrolan ini.


Keynand hanya menghela nafasnya. Dari setiap helaan tersirat ketidak setujuannya. Jujur dia tidak sabar, namun tidak pula ingin memaksa.


Keynand mengangguk mengiyakan. Dia ingin memberikan ruang dan waktu untuk Rizqia berpikir. Mungkin saja ini mengejutkannya dan belum siap untuk itu.


Hening kembali terasa. Keynand mulai detik ini harus belajar menyelami suasana ini. Rasa canggung yang sebenarnya sedari awal telah terasa. Hanya saja Pria itu berusaha menikmatinya. Dia percaya Gadis di sampingnya sebenarnya orang yang ramah dan sepertinya periang. Hanya kesabaran yang akan berhasil melihat keriangannya itu.


Mobil terus melaju membiarkan kedua insan itu di penuhi pikiran masing-masing, hingga tak terasa Mobil memasuki perumahan tempat rumah minimalis Rizqia berdiri. Keynand berbelok ke arah kanan menelusuri jalan Raden Patah.Tidak lama berkendara, dia masuk ke halaman sebuah rumah lalu menghentikan Mobil saat terpakir dengan sempurna.


"Alhamdulillah, kita sudah sampai," ucap Keynand menyadarkan Gadis di samping dari pikirannya.


Rizqia berguman mengucapkan rasa syukurnya. Sejurus kemudian dia menoleh ke arah Keynand. Merasakan itu, Keynand kemudian memalingkan wajah menyambut pandangan Gadis di sampingnya. Sejenak mereka menikmati keindahan rupa masing-masing. Tatkala sadar wajah cantik itu menunduk.


"Terima kasih," ucapnya lirih.


"Iya, Qia sama-sama. Tidak ada yang enggak buat kamu," jawab Keynand. Selesai berucap dia memberikan senyum menawannya berharap sambutan dari Gadis itu.


"Gombal," ujarnya singkat.


"Itu menurutmu, tapi kenyataannya tidak," balas Keynand dengan cepat.


Rizqia tak menjawab, dia kembali terdiam tidak melanjutkan obrolan. Hanya senyum tipis yang diperlihatkan meskipun tak lama.


"Saya keluar," ucapnya kemudian. Dia memalingkan wajah lalu meraih Pintu Mobil.

__ADS_1


"Qia, bisakah kamu memberikan kesempatan diri ini untuk selalu bisa melihat senyummu? bagaimana pun caranya akan saya lakukan."


Bersambung.


__ADS_2