
Keynand terlihat bersemangat membuat sebuah Cincin dari akar yang ditemukan di Hutan. Akar yang menurutnya lumayan kuat dan unik itu ditemukan saat menjalani tantangan yang diberikan oleh Rizqy.
"Yakin mau buat cincin dari akar ini?" tanya Riski tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Keynand. Dia belum tahu hasil pembicaraan Keynand dengan Rizqia maupun Rizqy. Semalam dia pergi mancing bersama orang-orang yang baru dikenalnya. Kebetulan mereka menginap di rumah singgah yang mereka tempati sehingga Riski ikut bergabung.
Sementara Renia dan Raski semalam di jaga oleh Habibah sehingga tidak mengganggu Keynand yang ingin berbicara serius dengan Suami dan adik Iparnya.
"Yakin, hanya untuk sementara saja sebelum Cincin yang sebenarnya akan saya sematkan di jari manis Qia," jawab Keynand mantap. Dia tidak mengalihkan perhatiannya dari akar yang sedang dirangkainya.
"Apa itu artinya Rizqia sudah setuju menjadi Ibu sambung Raski?" Riski bertanya antusias. Dari apa yang dilakukan Keynand hendak membuat cincin dari akar untuk Rizqia menyimpulkan bahwa hubungan mereka selangkah lebih maju.
Keynand menggelengkan Kepala. Tentu saja jawaban itu membuat Riski terhempas dari ekspektasinya. Sudah saja dia senang dengan prasangkanya bahwa mereka berdua telah menjalin hubungan serius dan segera melangkah ke jenjang pernikahan.
"Saya belum berbicara dengan Qia perihal ini. Semalam kita hanya berbicara mengenai kesalah fahaman yang pernah terjadi. Syukurnya Qia mau memaafkan saya. Itu merupakam awal yang baik untuk hubungan kita ke depannya."
Keynand menceritakan apa yang mereka bicarakan semalam. Termasuk Rizqy yang mempertanyakan keseriusannya terhadap adiknya.
"Jadi, Abang Rizqy telah memberikan restu?" tanya Riski penasaran.
"Iya, tapi tetap saya harus menunggu Qia menyelesaikan kuliahnya baru boleh menikahinya. Keputusan yang diberikan Rizqy sama dengan keputusan yang diberikan oleh Qia saat itu. Padahal saya ingin menikahi Qia secepatnya," jawab Keynand sedikit lesu. Tadinya dia berharap ketika restu itu didapatkan bersama itu pula Rizqy mau membantunya untuk meyakinkan adiknya agar mau menerimanya saat itu juga dan mau menikah dengannya. Namun harapannya ternyata pupus. Dia harus bersabar dan menunggu dalam jangka waktu yang lumayan panjang.
"Terima saja Bang, toh juga cuma menunggu kurang lebih satu setengah tahun. Kira-kira selama itu jika Qia sanggup menyelesaikan skripsinya lebih cepat."
Riski menyemati Duda satu anak itu. Lebih baik menunggu dari pada kehilangan kesempatan untuk mempersunting Gadis sebaik Rizqia.
Menurutnya hanya Rizqialah Gadis yang pantas mendampingi Keynand Putra Ardiaz dan Ibu sambung yang tepat untuk Raski.
"Jalanin saja Bang, itung-itung sebagai penguji kesetiaan kalian berdua. Selama menunggu, selama itu pula kalian berdua bisa mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk mengarungi baktera rumah tangga yang dipastikan akan berbeda rupanya dengan yang pernah Abang jalani bersama Mbak Ega. Pastinya akan bahagia, tapi jangan lupakan perselisihan kecil dan segala cobaan yang tidak mungkin tidak akan ada. Mungkin Abang bisa mengatasinya berdasarkan pengalaman, tapi Qia bukan Mbak Ega tentu pikirannya akan berbeda."
Riski menyemangati Keynand. Tidak disangka Pemuda yang terkenal begadulan itu dan kerap kali membuat para Gadis patah hati ternyata bisa berkata bijak.
Riski kemudian menepuk bahu Keynand memberikan kekuatan untuk melangkah dengan harapan agar waktu yang akan ditunggunya nanti berakhir bahagia bersama Rizqia.
Keynand tersenyum. Tangan cekatannya segera menyelesaikan Cincin yang berbahan akar itu. Dia ingin mempersembahkan Cincin buatannya itu kepada Rizqia sebagai ikatan bahwa Gadis itu adalah miliknya. Keynand memutuskan untuk mengkitbah Rizqia dan pada waktunya nanti akan langsung melamarnya.
"Alhamdulillah, jadi juga dan hasilnya tidak terlalu buruk," ucap Keynand memperlihatkan cincin buatannya.
__ADS_1
"Amazing, ini sejarah baru dalam sebuah kisah cinta. Seorang Direktur memberikan Cincin akar kepada seorang Gadis. Benar-benar memanfaatkan Pepatah 'Tidak ada Berlian eh maksudnya rotan akar pun jadi'. Abang benar-benar luar biasa. Saya menjadi terharu dengan keromantisan yang akan benar-benar terjadi."
Riski mengungkapkan kegembiraannya.
Pikirnya, bukan perkara Cincin yang terbuat dari apa, melainkan kesungguhan dari pemberi Cincin itu untuk mengikat pujaan hatinya dengan ketulusan dan penuh cinta.
Di sinilah pembuktian akan seperti apa rasa itu sesungguhnya. Jika seorang Wanita melihat dari sisi harta, maka dipastikan akan menolaknya. Sebaliknya jika melihat dari segi agamanya, maka tidak akan ada penolakan, meskipun tak ada Cincin yang mengikat.
Keynand yakin, Rizqia akan melihat ketulusannya bukan melihat bahan Cincin yang akan tersemat di jarinya.
"Daddy sama Mamiq Rari ternyata ada di sini?"
Renia bergabung bersama Raski yang ikut mengiringi di belakangnya.
Keynand dan Riski tersenyum menyambut kedatangan dua bocah tampan dan cantik itu.
"Sudah dari mana saja sayang?" tanya Keynand kepada keduanya.
"Jalan-jalan di Pematang sawah, Daddy. Terus kita di ajak petik rambutan sama Kelengkeng tapi Kelengkeng sama rambutannya belum mateng semua." Renia menjawab dengan lancarnya. Dia memperlihatkan rambutan dan Kelenceng yang baru di petik. Terlihat buah rambutan itu belum berwarna merah sepenuhnya.
"Tapi rasanya manis Daddy, Raski suka banget," imbuh Raski sembari mengunyah buah tersebut.
"Maaf Daddy, Raski lupa," sahut Raski merasa bersalah. Keynand menanggapi dengan senyuman sementara Riski mengelus puncuk Kepala dua bocah itu secara bergiliran. Tidak lupa memuji kepintaran keduanya.
Selanjutnya mereka larut dalam senda gurau sembari menikmati buah-buahan. Senyum dan tawa menemani kebersamaan mereka. Sungguh liburan yang berkesan dan penuh kegembiraan. Apalagi Tuan rumah menyambut mereka dengan baik dan penuh kekeluargaan.
Namun nyatanya kebersamaan itu harus berakhir jua. Hari ini mereka harus kembali pulang karena Keynand tidak mungkin meninggalkan pekerjaan, meskipun ada Reynand yang menghandle semuanya.
Ingin rasanya memperpanjang waktu liburan, tapi tidak enak rasanya merepotkan tuan rumah yang telah menerima mereka dengan baik di kediamannya.
"Rupanya ada di sini? Maaf apa saya mengganggu?"
Rizqy mendatangi Keynand dan keluarganya yang sedang asyik menikmati kebersamaan di tepi danau.
"Tidak apa-apa, kita sedang santai saja sembari menikmati segarnya angin di pagi hari dan jernihnya air danau ini. Rasanya kita enggan beranjak dari tempat ini," jawab Keynand diakhiri dengan senyum tulusnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Oh ya Kakak Renia dan Dadek Raski, seneng ya liburan di sini?" tanya Rizqy mengalihkan perhatiannya kepada keduanya. Dia mengelus pucuk Kepala Raski dengan lembut. Ada rasa bahagia tatkala bercengkerama dengan kedua anak pintar itu. Kerinduannya terhadap hadirnya buah hati semakin menggelegar saja. Namun Rizqy berusaha untuk tidak menampakkannya karena tidak ingin melihat Habibah bersedih. Dia akan tetap bersabar menunggu hingga Tuhan memberikan anugerah itu kepada keluarganya. Sekarang, yang bisa dilakukan hanya berikhtiar dan berdoa lalu memasrahkannya kepada Tuhan. Karena hanya Tuhan yang memiliki kuasa untuk mengabulkan hajatnya.
"Seneng Mamiq, di sini tempatnya indah terus banyak buah-buahannya," jawab Renia dengan mata berbinar-binar menunjukkan kebahagiaan.
"Raski juga seneng Mamiq. Raski bisa berenang di danau dan juga mandi di air pancur, rasanya segeeer." Raski tidak ketinggalan mengungkapkan rasa bahagianya berada di Desa selama dua hari ini. Terlihat senyumnya mengembang, akan tetapi kerinduannya kepada Ibu dan ayah membuat keduanya mau tidak mau harus meninggalkan Desa danau gumbang meskipun di akui mereka kerasan di sana. Rindu kepada Ayah dan Ibu tidak mampu mereka bendung lagi.
"Tapi hari ini kalian berdua akan pulang, tentu saja meninggalkan rasa sedih di hati Mamiq, Inaq dan Kak Qia," ucap Rizqy sedikit melow. Di akui kehadiran Putri dari Reynand dan Putra dari Keynand memberikan warna berbeda di kehidupannya terutama Habibah. Wanita itu terlihat sangat bahagia menemani kedua Bocah itu bermain dan belajar. Kehadiran keduanya mampu mengobati kesedihan Habibah selama ini.
Puas mengobrol dan menikmati indahnya pemandangan, mereka kemudian beranjak ke Berugak. Di sana sudah tersaji makanan dan minuman beserta buah-buahan untuk mereka santap di waktu pagi ini.
"Sarapan bersama dan kebersamaan selama dua hari ini sepertinya akan selalu diingat. Banyak hal yang kita rasakan di sini. Selain menikmati indahnya alam yang tersembunyi, kita juga menikmati kehangatan keluarga dan akrabnya sebuah persahabatan. Tentu saja pengalaman ini akan selalu membekas dalam ingatan, terutama ingatan Abang Keynand tertambat di sini," ucap Riski mengungkapkan apa yang dirasakan saat ini. Kegembiraan dan juga rasa syukur karena mengenal keluarga Rizqy. Bujang itu sempat-sempatnya menggoda Keynand. Godaan itu sukses membuat Duda itu salah tingkah. Sementara Rizqia tertunduk malu.
"Syukur Alhamdulillah jika Pak Keynand dan Riski serta anak-anak mendapatkan pengalaman yang menyenangkan di sini. Tujuan liburannya berhasil dong? Bahagia gitu?" ucap Habibah mengomentari perkataan adik dari Lika itu. Bibirnya tak lepas dari senyum dan tawa apalagi tatkala mendengarkan celotehan dua bocah cerdas itu.
"Enggak enak rasanya," ucap Keynand saat Habibah tidak lagi melanjutkan perkataannya.
"Apanya yang tidak enak? Apa hidangannya?" tanya Habibah heran dengan wajah terlihat pias.
"Bukan hidangannya, tapi panggilannya. Seharusnya tidak lagi di panggil Pak Keynand, melainkan di panggil Adik. Dipanggil Arik pun boleh, setuju 'kan Kak Habibah," jawab Keynand diakhiri senyum malu-malunya.
Semua terdiam mendengarkan jawaban Keynand yang terdengar manja.
"Duh, ilak sekebon. Pingin banget kayaknya dipanggil Adik, padahal dia yang paling tua di antara kita," ucap Rizqy sedikit sinis. Sejurus kemudian terlihat senyum mengejek diarahkan kepada Keynand.
"Masak saya lebih tua dari Calon Kakak Ipar? Mungkin iya dari segi usia tapi dari segi wajah saya baru tujuh belas tahun berjalan," sahut Keynand jumawa. Bibirnya membentuk senyuman menawan tak kalah mengejek. Tidak lupa mengambil kesempatan mengerlingkan mata saat Rizqia mendongakkan wajah.
Rizqy mencebikkan bibirnya, sementara Habibah tertawa kecil melihat Keynand yang kecewa karena secepat kilat Rizqia memalingkan wajah menyembunyikan ronanya.
Apes, kerlingan matanya terpental.
Riski tak kalah dengan tawanya menemani apa yang dirasakan Habibah.
"Cincinnya bisa di kasik sekarang, kan?" ucap Riski mengingatkan Keynand.
"Cincin?"
__ADS_1
Tiga pasang mata menoleh ke arah Keynand yang terlihat salah tingkah.
Bersambung.