Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.10


__ADS_3

"Kalau kamu suka, nikahi Qia!"


Qia sadar dengan apa yang diucapkan oleh Umi Ika, dengan cepat dia menggelengkan Kepala menolak apa yang diperintahkan olehnya. Kemudian dengan tegas Wanita itu menolaknya.


"Tidak mau."


"Siapa yang berbicara ini?" tanya Umi Ika ingin memastikan.


"Qia, Umi. Qia tidak ingin menikah dengan orang itu. Orang itu tidak percaya dengan adanya Tuhan. Dia tidak memiliki agama, Umi. Islamnya hanya tercetak di KTP saja."


Qia menuturkan apa yang diketahuinya mengenai orang yang diyakini telah menyebabkan dia terbaring lemah seperti ini. Seorang Pemuda yang menjadi teman dalam meraih mimpi. Teman yang sangat cerdas dalam pemikiran dan juga sangat pandai bergaul. Namun satu hal yang baru di ketahuinya yakni pemikirannya yang sangat sesat.


"Jadi kamu tahu siapa orangnya?" tanya Umi Ika penasaran. Dia menarik nafas berat dan menyayangkan jalan hidup yang diambil oleh Pemuda itu. Lantunan istighfar berulang-ulang terucap dari bibirnya.


"Qia meyakini bahwa dialah orangnya," jawab Qia diakhiri tarikan nafas yang berat. Ingatannya kembali pada kejadian-kejadian di luar nalar yang pernah dia lewati. Tidak ada kecurigaan sama sekali karena temannya itu terlihat biasa-biasa saja. Dia asyik di ajak mengobrol dan sangat cerdas. Apalagi ketika mereka berdiskusi membahas tugas kuliah, maka ilmu itu dengan cepat mereka tangkap.


"Jika Qia yakin yang melakukannya adalah dia, maka jangan di beberkan kepada siapapun tentang dirinya. Cukup mengetahuinya untuk diri sendiri bukan untuk diketahui oleh orang lain. Takutnya akan menjadi fitnah karena mungkin saja ini hanya keyakinan Qia saja, apalagi jika itu datangnya dari Jin. Sudah dipastikan itu hanya kebohongan belaka."


Umi Ika panjang lebar menasehati Qia agar menerima cobaan ini dengan ikhlas dan berlapang dada. Dibalik semua ini, akan ada hikmah yang luar biasa menantinya jika dia mau bersabar menjalaninya.


Setelah berbicara panjang lebar, Umi Ika kembali melanjutkan Rukyah yang sempat terjeda karena obrolan mereka.


Qia kembali merasakan rasa sakit dan berusaha untuk tidak berteriak dengan digantikan istighfar sebagai mengurangi rasa sakit itu. Namun usaha kerasnya agar tidak berteriak ternyata berakhir sia-sia. Qia pada akhirnya berteriak histeris yang terdengar memilukan.


"Qia, cukup hari ini, Umi sudah lelah. Terlalu kuat Jin yang ada pada mata kiri kamu," ucap Umi Ika mengakhiri pengobatan hari ini. Dia sudah tidak memiliki tenaga untuk melanjutkan rukyahnya apalagi melihat Qia yang terkulai lemah tak bertenaga. Sekedar menggelengkan Kepalanya saja Gadis itu tidak mampu.


"Jika di paksakan bisa saja Qia yang pergi bukan Jinnya," sambung Umi Ika terlihat kelelahan. Wanita keibuan itu menyeka keringat yang menempel pada dahinya.


Sedangkan Habibah dengan cepat memberikan sari kurma agar Qia memiliki tenaga lagi.


"Kak Bibah," panggil Qia dengan sangat lemah. Kaki dan tangannya masih saja bergerak dengan gerakan cepat dan Kepalanya terasa sakit. Habibah mendekat, lalu menyalakan murottal melalui Handphone agar Qia merasa sedikit tenang.


"Sebaiknya istirahat saja, dek," ucap Habibah lembut. Qia hanya mengedipkan mata sebagai jawaban. Gadis itu tidak sanggup lagi menggerakkan tubuhnya. Tubuhnya seakan tidak memiliki aliran darah dan sangat lemas tak ada tenaga sedikit pun. Hanya tangan dan kakinya yang masih aktif bergerak diluar kendalinya dan Qia tidak bisa langsung menghentikannya. Dia hanya mampu bertahan menunggu gerakan itu berhenti sendiri. Gerakan itu bukan kehendak dari tubuhnya, tapi gerakan tangan dan kakinya dikendalikan oleh penyakitnya.


Umi Ika berpamitan sebelumnya memberikan semangat kepada Qia agar tidak putus asa dan yakin bahwa kesembuhan itu akan segera terjadi atas kehendak Tuhan.


Selepas kepergian Umi Ika, Rizqy menghampiri Qia yang terbaring lemah pada sebuah Tikar dengan Habibah yang tetap menemani di sisinya.


"Dek, Insyaa Allah secepatnya derita yang kamu alami akan berakhir. Kamu harus semangat," ucap Rizqy menyemangati adik satu-satunya itu. Terlihat kasih sayang itu terpancar di kedua pelupuk matanya. Mata yang terlihat menahan kesedihan. Kakaknya itu selalu tersenyum hangat seakan memberikan ketenangan pada jiwa Qia. Senyuman itu seolah mengatakan semua akan baik-baik saja dan ada Kakak di sisinya, jadi tidak ada yang harus dikhawatirkan.

__ADS_1


Malam harinya, Rizqy tak sama sekali memejamkan mata. Dia tetap terjaga di samping Ranjang Qia yang terlihat tenang dalam tidurnya. Di tahannya rasa kantuk itu dengan sesekali menguap.


"Dek, tumben malam ini tidak ada kegelisahan dalam tidurmu. Semoga saja penyakitmu tidak kumat malam ini dan malam-malam seterusnya. Bukankah itu pertanda kamu akan segera terbebas dari derita ini?"


Usai berkata Rizqy merapikan kembali selimut yang menyelimuti tubuh kurus nan ringkih dengan hati-hati. Dibelainya pucuk Kepala Gadis itu kemudian terdengar lantunan doa. Sebuah pengharapan agar ketenangan itu di rasakan di hati Qia yang masih lelah.


Ceklek


Di keheningan malam, Pintu terbuka menampilkan Sosok Habibah dari baliknya. Wanita berparas manis itu baru saja selesai Shalat malam lalu menghampiri Suaminya yang masih terjaga.


"Mas," panggil Habibah lirih takut membangunkam Sang Adik Ipar. Dia duduk di sisi Rizqy lalu merebahkan Kepalanya pada bahu Kokoh Suaminya.


"Bibah, terima kasih," ucap Rizqy tulus. Lelaki itu tidak tahu harus berkata apalagi untuk membalas segala kebaikan Wanita di sampingnya.


"Untuk?" Bukan kali ini saja Suaminya itu berterima kasih kepadanya, bahkan hampir setiap waktu. Selalu dijawab dengan anggukan dan senyum tulus. Namun kini dia penasaran sehingga pertanyaan itu terlontar juga dari bibirnya.


"Untuk kesetiaan kamu, untuk cinta kamu, untuk kasih sayang kamu, untuk pengorbanan kamu dan seterusnya yang tidak bisa Mas uraikan secara rinci," jawab Rizqy tulus. Hanya itu yang bisa dilakukannya untuk Sang Isteri untuk saat ini. Ke depannya jika Qia sudah sembuh, maka dia akan melakukan apapun yang diinginkan oleh Isterinya. Dia akan mengusahakan mengabulkan permintaan Habibah, meskipun seandainya di luar nalar sekalipun.


"Iya Mas sama-sama. Aku tidak keberatan untuk melakukan ini. Mas adalah Suami aku dan Qia adalah adik aku juga, jadi sudah sewajarnya tetap berada di sisi kalian dalam keadaan apapun. Bukankah kita keluarga jadi sudah sepatutnya untuk saling menyayangi dan saling menjaga satu sama lain," jawab Habibah tidak kalah tulus. Dia masuk ke dalam pelukan Suaminya yang terlebih dahulu merengkuh tubuh Sang Isteri.


"Mas beruntung memiliki kamu."


Habibah mengutarakan apa yang ada dalam hatinya. Sebuah kebenaran yang tak mengada-ngada karena memang Suaminya sebaik itu.


"Alhamdulillah, mas bahagia dengan kalimat yang membuat Mas tersipu malu." Rizqy memperlihatkan rona bahagia bahkan wajah malunya sengaja dia tampilkan untuk menggoda Sang Isteri.


Habibah terkekeh kecil melihat raut lucu yang dinampakkan oleh Rizqy.


Baru malam ini mereka berdua bisa bercengkerama setelah menghabiskan malam-malam yang tegang semenjak Qia sakit. Bayangkan, pasangan Suami Isteri itu harus menghadapi penyakit Qia yang kumat tidak mengenal waktu. Terkadang ada rasa takut saat melihat keadaan Qia yang sangat lemah tak memiliki harapan hidup. Rasa was-was dan takut kehilangan sering kali menghinggapi benak keduanya.


Pada titik lemah yang di hadapi Qia, Rizqy dan Habibah berusaha menyemangatinya. Keduanya menyerahkan kesembuhan Qia dalam tawakkal yang semestinya harus dilakukan.


"Mas senang melihat kamu tertawa setelah melewati kesedihan sepanjang waktu. Rasanya malam ini sungguh indah. Lihatlah Qia tidak kumat," ucap Rizqy melirik adiknya itu yang tidak terusik sama sekali.


"Iya, iya Mas, biasanya di jam-jam ini Qia kumat terus sekarang jam itu sudah terlewatkan. Aku berharap makhluk itu benar-benar pergi dari tubub Qia." Habibah berucap penuh pengharapan akan kesembuhan adiknya itu.


"Aamiin, sebaiknya kamu istirahat."


Rizqy menuntun Sang Isteri menuju kamar. Sesampainya di sana Rizqy memeluk tubuh Habibah dengan hangat. Semenjak Qia sakit, pasangan Suami Isteri itu tidak memiliki waktu untuk mereka berdua. Pikiran keduanya terfokus untuk merawat Qia dan berusaha berikhtiar untuk menyembuhkannya.

__ADS_1


"Maafkan Mas Bibah, mas telah lalai dari membahagiakan kamu. Betapa payahnya laki-laki ini, bahkan hanya sekedar menciummu Mas tidak sempat."


Ada kesedihan di setiap kata-kata yang terucap dari bibir berwarna merah itu. Habibah yang melihat kesedihan itu membingkai wajah Suaminya. Dia tidak pernah menyalahkan Suaminya yang akhir-akhir ini tidak memiliki waktu untuknya. Selain merawat Qia yang sakit, Suaminya itu juga harus mengurus perusahaannya yang mulai menggeliat menuju kesuksesan. Dia juga mengambil alih perusahaan Wira Ariadi, di mana Keynand turut andil membantu Rizqy menghancurkan Wira Ariadi sebelum menyeretnya di jeruji besi.


Masih segar dalam ingatan Rizqy dan Qia tatkala menyaksikan kehancuran perusahaan yang menjadi kesombongan Ayah kandungnya itu. Dan juga melihat Pria itu menderita di Penjara dalam kurun waktu yang lama.


Sementara Wina Winata, Sang Ibu Tiri hingga sekarang menabuhkan genderang perang kepada dirinya. Wanita itu berambisi ingin mengambil alih Perusahaan yang merupakan hak Rizqy, Qia dan Kiano yang selama ini tidak mau diungkit-ungkit oleh Rizqy.


Rizqy melabuhkan rindunya kepada Sang Isteri dengan mengecup bibir berwarna Gojiberry matang alami itu dengan rakus. Mungkin saja sudah terlalu lama mereka berdua tidak bersentuhan membuat rasa itu kian bertabuh.


***


Pagi harinya, Qia terbangun dengan rasa yang berbeda. Semalan dia tertidur nyenyak tanpa di hantui oleh penyakitnya yang setiap tengah malam selalu mendatanginya. Dia bersyukur, malam tadi penyakitnya itu tidak kambuh membuat subuh ini terasa ada tenaga. Qia mengucapkan rasa syukur itu diiringi senyum cerah.


"Kak Bibah, Kak Rizqy," panggilnya dengan ceria meskipun masih terdengar sangat lemah. Dia berjalan menuju kamar Kakaknya itu dengan pelan karena tubuhnya masih lemah. Sesampainya di ambang Pintu kamar, dia menghela nafasnya yang ngos-ngosan kemudian menyeka keringat dingin yang bercucuran. Sebenarnya dia merasa gemetar, hanya karena ingin sembuh Gadis itu berusaha untuk kuat dan mengabaikan rasa itu.


Ceklek


Pintu terbuka menghadirkan Habibah di sana.


"Kak Bibah, Qia pingin jalan-jalan di sekitar sini, apa boleh?"


Habibah terpaku melihat perubahan Qia yang terlihat begitu bersemangat hendak menjalani hari di pagi ini. Tanpa sadar Habibah menganggukkan Kepala memberikan izin.


"Terima kasih, Kak."


Setelah berpamitan, Qia meninggalkan Habibah dengan langkah pelan.


Habibah memandang adik iparnya itu hingga hilang dalam pandangannya. Rupanya Wanita itu belum sadar dengan apa yang tengah terjadi.


"Eh Qia, hati-hati," teriaknya ketika tersadar dari bengongnya.


Sementara itu, Qia melangkah ke arah taman. Di sana dia mengistirahatkan tubuh lelahnya yang mulai lemah dan gemetar. Dia tidak menyadari keberadaan Pemuda yang sedari tadi memperhatikan.


"Masha Allah, cantiknya!" guman Pemuda itu memuji Qia yang masih asyik memandang di jauhan.


"Tunggu, tunggu sepertinya saya pernah bertemu dengan Gadis ini sebelumnya, tapi di mana ya?" sambung Pemuda itu tengah berpikir.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2