Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
67


__ADS_3

Pagi pun menjelang.


Reynand dan Lika terlihat berjalan-jalan di kawasan Kuta. Selesai Shalat Subuh mereka berdua langsung menuju tepi Pantai. Menelusuri bibir Pantai yang terlihat eksotis sembari menikmati angin pagi yang masih bersih jauh dari polusi.


Puas menikmati keindahan Pantai dengan berjalan Kaki. Kini Dua sejoli itu melangkah menuju tempat penyewaan Sepeda yang ada di kawasan Pantai.


"Kita Sepedaan yok!" ucap Reynand mengajak Isteri. Lika mengangguk dengan senyum mengembang.


Mereka berdua kemudian berjalan ke arah Sepeda yang berjejer rapi. Lika mengambil satu buah Sepeda kemudian bersiap-siap untuk bersepeda.


"Ka, biar Mas yang bonceng," ucap Reynand menahan pergerakan Lika. Lika memperlihatkan senyum manisnya dan juga anggukan patuh.


"Iya Mas," jawab Lika kemudian menyandarkan kembali Sepeda itu di tempatnya.


"Kamu lagi hamil, bahaya kalau bersepeda sendiri. Kita berboncengan agar bisa menikmati kemesraan ini berdua," ucap Reynand menyunggingkan senyum indahnya.


"Cieee romantis juga Suamiku ternyata," sahut Lika riang.


"Baru tahu ya? kok telat?"


Lika dan Reynand tertawa bahagia. Wanita hamil itu mendudukkan diri pada boncengan sedangkan Reynand bersiap-siap mengayuh Sepeda dengan tidak lupa membaca doa.


"Sudah siap Ka?"


"Udah Mas. Siap, sedia, yak," sahut Lika. Persamaan kata terakhir itu Reynand mulai mengayuh Sepeda mengelilingi kawasan Pantai Kute yang terkenal indah dan eksotis.


Dua sejoli itu tampak bahagia menikmati kebersamaan. Senyum indah itu tak pudar dari wajah masing-masing.


"Kamu bahagia, Ka?" tanya Reynand disela terpanaan angin menyapa wajahnya.


"Tentu, karena aku bersama Mas Reynand," sahut Lika riang.


"Mas akan berusaha membuat kamu bahagia disetiap detik, menit, jam dan hari. Jika kamu tidak bahagia disetiap detik, menit, jam dan hari tegurlah Mas agar bisa memperbaiki diri dan mencari tahu apa yang bisa membuat kamu bahagia." Reynand melanjutkan kata-katanya. Dia seperti mengikrarkan janji untuk selalu membahagiakan Isterinya.


"Tidak perlu berlebihan Mas, cukup Mas bersikap baik dan setia saja aku sudah sangat bahagia," sahut Lika tulus.


"Mas bersyukur dan beruntung memiliki kamu."


"Aku juga Mas." Lika menimpali pengakuan dari Sang Suami.


Setelahnya hanya senyum bahagia yang mewarnai sepasang Suami Isteri itu.


Saat Matahari memendarkan cahayanya dengan terang, barulah Reynand melajukan Sepedanya menuju Hotel Ardiaz.


Selang beberapa menit pada akhirnya mereka sampai di Perataran Hotel Ardiaz.


"Alhamdulillah kita sudah sampai," ucap Reynand sembari mengerem. Lika berucap syukur kemudian turun dari boncengan.


"Pak minta tolong Sepedanya di kembaliin," pinta Reynand kepada Satpam yang berjaga disana.


"Siap Pak Bos," sahut Pak Satpam itu sembari hormat.


"Biasa kali Pak, memangnya Mas Reynand Anggota yang harus di hormati," ucap Lika berkelakar.


Pak Satpam tersenyum sumringah diiringi dengan candaan. Mereka tertawa lepas seakan tidak ada jarak. Memang, Reynand dan Lika tidak pernah membuat jarak antara diri mereka dengan semua Pegawainya sehingga keakraban itu terjalin dengan baik.


Puas mereka mengobrol dengan hangat, Satpam itu berpamitan untuk mengembalikan Sepeda yang digunakan oleh Reynand. Hanya ada satu orang Satpam yang akan menjaga Post.


Baru saja Satpam itu hendak mengayuh Sepeda dan Sepasang Suami Isteri itu melangkah. Terdengar bunyi klakson yang begitu nyaring membuat orang-orang disana seketika menoleh ke sumber suara.


Lika yang terkaget mengelus dadanya sembari membaca istighfar. Kelemahannya adalah tidak bisa dikagetkan, untung saja dia tidak memiliki Penyakit Jantung. Kalau itu terjadi mungkin saat ini dia sudah tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Kalau jalan itu jangan di tengah, apa kalian tidak lihat ada Mobil mewah dan mahal milik saya mau lewat," ucap Penumpang Mobil mewah itu dari arah dalam. Dia membuka sedikit kaca Mobilnya dan pandangannya dia arahkan kepada Reynand dan Lika. Dia menampilkan senyum sinis dan merendahkan ke arah mereka berdua.


"Aduh Bu, baru punya mobil kayak begini saja sombongnya minta ampun. Saya setiap hari mengendarai Mobil lebih mewah dari ini saja tidak sombong tuh! biasa saja. Baru punya Mobil satu gayanya selangit, apalagi jika seperti saya yang bebas memilih Mobil mana yang hendak digunakan so pasti sombongnya hingga lapisan ketujuh," ucap Satpam dengan jujurnya. Dia membalas senyum sinis dan mengejek dengan hal serupa.


Lika berusaha menahan tawanya begitu juga dengan Reynand. Dia menutup mulut dengan tangannya agar tawa itu tidak meledak. Tidak sopan rasanya menertawakan orang lain. Namun tetap saja sangat jelas terlihat meskipun keduanya berusaha menyembunyikannya.


Lucu, Satpam itu berhasil membalas kesombongan itu. Wajah Wanita itu terlihat merah padam menahan amarahnya.


"Eh kalian berdua, apa yang kalian tertawakan? tidak ada yang lucu di sini," ucap Wanita itu ketus.


"Ibunya yang lucu, baru punya Mobil ya? makanya jadi lucu gini?" sahut Satpam itu kembali mengejek Wanita itu.


Sedangkan Reynand dan Lika melanjutkan langkahnya. Mereka berdua memilih untuk tidak meladeni tingkah polah Wanita itu.


"Mas tahu siapa Wanita tadi. Dia Kekasih dari Pak Anton yang akan mengajukan kerja sama dengan Hotel kita. Tidak menyangka Pak Anton ternyata mengirim Kekasih gelapnya untuk memuluskan niatnya itu." Reynand tiba-tiba berkata. Saat ini mereka sudah berada di kamar. Mereka berdua memilih mengistirahatkan tubuhnya di Sofa.


"Kok tahu?" tanya Lika penasaran.


"Orang suruhan Mas yang menginformasikannya," jawab Reynand.


"Gerak cepat rupanya. Boleh dong saya menggunakan orang suruhan Mas Reynand untuk mematai-matai Mas Reynand jika ternyata di belakang punggungku Mas mempunyai Kekasih gelap," ucap Lika serius.


Ucapan Lika membuat Reynand tergelak. Dia mencubit hidung mancung itu sangat pelan penuh rasa.


"Jujur banget dan sangat terang-terangan. Kenapa musti menggunakan jasa mereka, kamu sendiri bisa melakukan dengan sangat cepat dan akurat," ucap Reynand kemudian setelah puas membelai wajah Isterinya.


"Kira-kira menurut kamu, Mas bakalan selingkuh atau enggak?" Reynand melanjutkan dengan pertanyaan.


"Untuk saat ini masih setia, tidak tahu besok-besoknya. Hati seseorang siapa yang bisa mendeteksinya," sahut Lika serius.


"Hari ini dan hari esoknya akan tetap sama begitu selanjutnya. Mas hanya ingin bersama kamu dan anak-anak menjalani hari-hari bahagia. Mas tidak ingin menyesal dan hancur karena kehilangan kalian. Mas tidak ingin tergoda karena pada dasarnya mendua itu membawa kita ke dalam penderitaan. Mas tidak ingin menikmati kenikmatan yang sesaat tapi menderitanya mungkin saja seumur hidup." Reynand panjang lebar mengemukakan pendapatnya. Selalu kesetiaan yang ingin diberikan kepada Isteri dan hal itu menjadi tameng untuk menghalau segala godaan.


"Poligami di perbolehkan, lo!"


"Memang poligami di perbolehkan tapi Mas tidak sanggup menunaikan syarat yang menurut Mas sangat berat. Cukup kamu saja sayang."


"Aku terharu, semoga Mas tidak akan tergoda dengan Wanita lain. Semoga saja Mas Reynand hanya tergoda dengan diriku yang biasa ini," ucap Lika. Wanita hamil itu kian merona. Wajah ayu itu semakin memendarkan aura cantiknya membuat siapapun akan terpana.


"Cantiknya Isteriku, sayangnya Mas sedang berpuasa kalau tidak sudah Mas sergap dari tadi."


Lika hanya tersenyum menanggapi perkataan Suaminya. Dia kemudian bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah kamar mandi.


"Mau kemana? kok enggak ngajak," tanya Reynand melihat Isterinya berlalu dari sisinya.


"Mau mandi Mas. Kalau aku ngajak Mas takutnya Kura-kura berbuka lebih awal. Sia-sia dong perjuangan Mas Reynand untuk menjinakkan Kura-kuranya. Lagipula belum saatnya Mas, sabar ya!"


Selesai berkata Lika melanjutkan dengan senyum simpul yang indah.


Reynand hanya terdiam berusaha menahan gejolak di hatinya. Untung saja dia masih bisa menahan diri sehingga ibadahnya aman.


"Pandai sekali dia menggodaku sekarang. Gadis berhias malu itu kini telah mengikat hatiku." Reynand bermonolog. Dia teringat perjumpaan untuk pertama kali di Pantai Tanjung An.


Pertama kali melihatnya dia sudah mengagumi. Bukan karena jatuh cinta pada pandangan pertama tapi kagum akan sosoknya yang mandiri.


Penasaran, hal itulah membuatnya melakukan hal konyol. Mengajak Gadis tenun itu bertengkar. Dia mengira Gadis tenun itu bisa dia intimidasi, tapi dalam kenyataan Gadis tenun itu tidak mau di tindas dan direndahkan.


Gadis tenun itu melawannya. Gadis itu melawannya dengan Duri Eufhorbia dan duri itu berhasil menancapkan benih-benih rindu pada hatinya. Dia mengelaknya, semakin tak diakui semakin menyeruak ada.


Itulah kisah Reynand dan Lika, akhirnya bersama meskipun sempat berpisah dalam waktu yang lama.


Reynand tersadar dari lamunan tatkala mendengar suara Sang Isteri memanggil.

__ADS_1


"Mas, kita ke rumah sakit dulu baru pulang. Kasian juga Renia dan Raski kita tinggal terlalu lama di rumah."


"Iya Ka, kalau begitu Mas bersih-bersih dulu," sahut Reynand. Dia bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selang beberapa menit berlalu, Reynand sudah rapi dengan baju hem polos berwarna putih dipadukan dengan celana berwarna Abu-abu.


"Sudah ya?" tanya Lika memastikan kesiapan Suaminya. Wanita hamil itu bangun dari duduknya lalu berjalan menuju Pintu disusul oleh Reynand.


Sesampainya di luar baru berjalan berdampingan. Saat melangkah mereka berdua berpapasan dengan sepasang kekasih. Mereka saling menyapa dengan senyuman dan anggukan.


Mata Lika terlalu jeli, dia melihat warna merah pada leher kedua pasangan itu. Apa suara aneh yang di dengar olehnya semalam itu berasal dari mereka yang sedang memadu kasih. Wanita itu tersenyum geli tatkala mengingatnya.


Sesampainya di rumah sakit, Fitri dan Adly sedang bermain-main dengan Athaya dan Bayinya. Terlihat Athaya mengajak Adiknya bermain. Tawa renyah anak itu melihat kelucuan adiknya menebarkan gelak tawa dari kedua orang tuanya.


"Boleh saya gendong?" pinta Reynand yang terlihat gemas.


"Boleh, pingin rasa ya?" sahut Adly. Dia mengambil bayinya lalu memberikan kepada Reynand.


"Bagaimana ini udah bener belum?" ucap Reynand kaku.


Melihat itu sontak membuat Lika dan Fitri tertawa.


"Jangan biarkan Bayi saya mendongak Pak Bos?"


"Oh gitu? kenapa emang?" tanya Reynand bingung.


"Entar lehernya pegel. Pak Bos mulai sekarang harus belajar bagaimana caranya menggendong Bayi dengan baik. Jangan hanya gendong Lika saja bisanya."


Ucapan Adly membuat para Wanita kembali tergelak. Sedangkan Reynand hanya menampilkan senyum tipisnya. Dia terlalu bahagia menimang Bayi Adly sehingga mengabaikan perkataan Ayah dari Bayi tersebut.


"Assalamu'alaikum Babby Nine. Saya Om Reynand, selamat datang di dunia fana ini," ucap Reynand hangat. Wajahnya terlihat berseri-seri penuh dengan kebahagiaan.


"Cantik ya Mas, mirip Kak Adly hanya hidungnya yang mirip dengan Fitri," ucap Lika ikut bermain-main dengan Bayi Nine.


"Iya iyalah mirip Adly Pradipta, masak mirip Pak Bos," sahut Adly di akhiri dengan kekehan.


"Emangnya tidak mau Putrinya mirip dengan saya? saya ganteng lo?" ucap Reynand becanda.


"Tidaaaaak," ucap Adly dan Fitri bersamaan.


Hahahahaha


Reynand dan Lika tak kuasa menahan tawa saat melihat raut wajah kedua pasangan itu.


"Kok takut? padahal saya enggak serem lo!" lanjut Reynand sembari asyik menimang Bayi Nine.


"Takut, enggaklah. Saya hanya khawatir saja jika ternyata saat ngidam Isteri saya ternyata ngidamnya pingin nabok wajah Pak Bos saja. Untung saja enggak kejadian," sahut Adly menyanggah.


"Ops sorry." Adly buru-buru minta maaf sembari mengacungkan tangannya membentuk huruf V tatkala melihat sorot mata Elang Reynand yang siap mencabik.


"Adly! mana kamu pilih mau saya pangkas benda pusaka kamu atau Baby Nine akan menjadi bayi saya," ucap Reynand datar.


"Jangan Pak Bos, dua-duanya sangat berharga bagi kami berdua," ucap Adly memelas.


"Siapa suruh berkata seperti itu," sahut Reynand serius.


Adly menggaruk kepala yang tak gatal sementara Fitri hanya terbengong dengan segala apa yang terjadi.


"Ka, ayok kita bawa Baby Nine, nanti kalau anak kita sudah lahir sepertinya Mas sudah mahir menggendong baby," ucap Reynand tak menghiraukan ekspresi yang ditunjukkan oleh kedua orang tua Baby Nine tersebut.


"Alamak, Pak Bos jangan gitu!"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2