
"Inget juga sama Mamiq kamu, Qia?" tanya Wira dengan ketusnya.
Rizqia memberikan senyum tulus kepada Laki-laki paruh baya yang masih terlihat tampan, meskipun keadaannya tidak sebaik dulu. Wajah yang dulu terawat kini nampak tirus. Tubuhnya yang dulu kekar karena rajin berolahraga kini nampak kurus dan rapuh.
Rizqia meraih tangan Wira yang diletakkan di Meja lalu mencium punggung tangan yang keriput itu dengan takzim.
Semarah-marahnya anak pada orang tuanya, pasti ada rasa ingin berbakti dan tetap memperlakukan mereka dengan baik. Tentu kesopanan itu tidak boleh di tinggalkan. Itu yang dilakukan oleh Rizqia, selalu bersikap baik kepada Ayahnya.
Usai Rizqia bersalaman dengan Wira, kini giliran Keynand melakukan apa yang dilakukan oleh Rizqia meskipun Wira terlihat enggan dan menarik diri.
"Qia tidak pernah lupa sama Mamiq. Mamiq saja yang tidak ingat sama Qia dan tidak mau menerima keberadaan Qia," ucap Rizqia pada akhirnya menanggapi apa yang di tanyakan oleh Wira.
"Apa yang telah kamu lakukan pada Mamamu? Kenapa kamu mempermalukannya? Padahal Mamamu hanya ingin mengambil haknya."
Rizqia tersenyum tipis. Tidak menyangka Ibu sambungnya mengadu kepada Wira, hanya ingin mencari dukungan. Wina berharap Wira berbicara kepada anak-anaknya agar mau memenuhi keinginannya itu. Niat sekali ingin menguasai milik orang lain.
"Qia hanya mempertahankan apa yang seharusnya di pertahankan. Tante Wina memang Isteri Mamiq, tapi Tante Wina bukan siapa-siapa, jika Mamiq masih ingat itu. Mengenai hak Mamiq, Kak Rizqy akan tetap memberikannya, tapi bukan untuk Tante Wina," jawab Rizqia dengan tegas.
Wira menarik nafas panjang. Dia tahu seberapa kerasnya hati kedua anaknya. Salahnya telah memberikan luka terlalu dalam kepada kedua anaknya hingga Rizqia sempat mengalami depresi. Apalagi Wanita yang menjadi penyebab kehancuran keluarganya adalah calon Isteri Putranya sendiri. Siapa yang tidak kecewa?
"Jadi apa tujuan kamu menjenguk Mamiq?"
Wira masih saja bersikap dingin dan tidak mau mengakrabkan diri dengan Puterinya. Dia merasa dirinya paling benar dan menurutnya apa yang dilakukan selama ini tidaklah salah.
"Qia hanya ingin memperkenalkan seseorang," jawab Rizqia dengan tenang. Gadis itu tidak mau terpancing dengan sikap dingin Ayahnya yang seakan ingin menjauh darinya. Bukan seperti ini maunya, tapi Ayahnya sendiri yang enggan berdamai dan mengaku salah. Ingin rasanya membenci karena Ayahnya sendiri sebagai penyebab terbunuhnya Ibunya, tapi percuma dia dendam yang hanya akan membuatnya menjadi jahat. Biarkan Penjara yang menghukumnya dan tentu saja siksaan di akherat jika belum sempat bertobat. Baik Rizqy dan Rizqia tidak ingin itu terjadi. Bukannya telah memaafkan hanya saja sebagai Manusia pasti tidak ingin hal-hal buruk terjadi.
__ADS_1
"Lelaki ini? Apa dia pacar kamu?" tanya Wira melirik Keynand dengan tatapan tajam. Dia mengulas senyum tipis terlihat meremehkan.
"Kenalkan Miq, saya Keynand Putra Ardiaz. Saya berasal dari Jakarta dan mulai menetap di Lomboq sekitar delapan tahun yang lalu. Tepatnya saya merupakan warga kota raya dan saya bekerja di Hotel Ardiaz yang ada di kawasan Mandalika."
Keynand mulai memperkenalkan dirinya dengan lancar penuh dengan kesopanan.
"Kapan kalian bertemu dan dimana?" Tanya itu terucap juga dari Lelaki paruh baya yang ketampanannya masih terpahat di usianya tak lagi muda.
Keynand menceritakan pertemuannya dengan Rizqia. Seperti apa awalnya mereka sehingga rasa itu tumbuh lalu dengan mantap mengkitbah Rizqia.
"Negara mana asalmu? Apa kamu seorang mualaf?" Pertanyaan itu berlanjut dan terdengar sangat mengintimidasi Keynand. Ada rasa tidak suka tergambar jelas pada raut wajah Wira.
"Daddy saya keturunan Turki dan Inggris sementara Mommy saya Betawi asli. Saya muslim sejak lahir karena kedua orang tua saya beragama islam. Keluarga saya murni memeluk agama islam," jawab Keynand dengan jujur tanpa ada yang ditutupinya.
Raut wajah Wira terlihat muram. Wajah penolakan terlihat jelas di sana. Tidak ada sikap hangat yang ditujukan kepada calon Menantunya.
"Nggih, Miq. Saya sudah melamar Rizqia pada kakaknya, sebab itulah saya ingin melamar secara langsung kepada Mamiq dan memohon agar Mamiq berkenan merestui kami. Bagaimana pun juga Mamiq adalah orang tua Qia, jadi wajib bagi saya meminta Rizqia secara langsung kepada Mamiq," jawab Keynand dengan sungguh-sungguh.
"Kamu tahu siapa Qia, kan? Dia keturunan bangsawan Lomboq. Saya menginginkan anak saya menikah dengan keturunan yang sama dengannya. Kamu mengerti maksudnya?" ucap Wira dengan tegasnya. Dia tidak menolak Keynand secara langsung, tapi dari ketegasannya, Wira menutup kemungkinan restu itu akan diberikan kepada Keynand.
"Miq, Qia tidak harus menikah dengan Lalu, kan? Bukankah rasulullah menyampaikan kriteria tentang jodoh, yakni harta, keturunan, paras dan agama. Dari segi agama Abang Keynand sudah faham akan tugasnya. Abang Keynand tidak pernah meninggalkan Shalatnya selain itu dia hafal beberapa surah Alqur'an meskipun belum 30 Juz, tapi Abang Keynand sedang mengusahakannya untuk hafal 30 juz. Dari segi materi, Abang Keynand sangat mapan. Dia bisa memenuhi kebutuhan keluarganya tanpa kekurangan. Dari segi keturunan, Abang Keynand dari keluarga yang baik dan religius. Apalagi kurangnya? Apa hanya gara-gara Abang Keynand tidak ada nama Lalu di depan namanya sehingga Mamiq tidak mau menerimanya? Ini pilihan Qia, jadi Qia harap Mamiq memberikan restu."
Rizqia menuturkan siapa Keynand sebenarnya. Seperti apa keseharian Laki-laki itu tanpa menyinggung kasus yang pernah dilalui oleh Keynand. Rizqia berharap dengan menceritakan hal baik tentang Keynand akan membuat Ayahnya tersentuh lalu mempertimbangkan niat baik mereka berdua.
Wira bergeming, pertanda keputusan tidak bisa diubah.
__ADS_1
Keynand menarik nafas panjang. Tidak ada secercah harapan terlihat di sana. Dari sikapnya saja Wira benar-benar menolaknya.
Wira menatap Keynand dengan nyalang penuh amarah dan ketidak sukaan tergambar jelas pada wajah tuanya.
"Saya tahu kamu seorang Pengusaha dan orang yang bersengkokol dengan Rizqy untuk menjatuhkan saya kemudian mengambil alih Perusahaan. Saya baru inget sekarang, nama Keynand Putra Ardiaz tidak pernah hilang dari ingatan tua ini. Tidak menyangka kamu juga menginginkan Puteri saya. Ternyata kamu sangat tamak Keynand."
Nada suara Wira terdengar penuh amarah. Dia baru mengingat tentang sebuah nama yang menjadi sebab musibab dirinya hancur dan sekarang mendekam di Penjara.
Awalnya dia tidak mengenal siapa Keynand Putra Ardiaz dan seperti apa rupanya. Ia tidak menyangka bertemu dengan Keynand dan menatap wajahnya secara langsung, tepat di hadapannya.
"Jika saja kamu tidak ikut campur, Rizqy tidak akan mungkin berhasil mengambil alih Perusahaan. Setelah mengambil semuanya, sekarang kamu meminta restu. Apa menurutmu saya akan merestui kalian, hah?"
Kemarahannya tidak bisa di bendung lagi. Raut wajah tua itu terlihat merah padam dengan tangan terkepal Kuat. Tergambar jelas ketidak sukaan Wira terhadap Laki-laki blasteran di hadapannya. Tidak bisa disembunyikan lagi, sangat terang-terangan.
"Apa Mamiq menyalahkan Abang Keynand? Abang Keynand hanya melakukan apa yang benar menurutnya. Dia membantu Kak Rizqy, itu semua karena kesalahan Mamiq sendiri. Apa Mamiq tidak sadar telah menzolimi kami bertiga dengan menguasai Perusahaan yang sejatinya merupakan hak kami bertiga. Perusahaan itu merupakan milik Mama bukan milik Mamiq apalagi Wina. Sudah cukup Mamiq menguasainya dan memanjakan Tante Wina dengan kemewahan sampai-sampai Perusahaan hampir saja bangkrut tanpa Mamiq sadari. Untung saja Abang Keynand berbaik hati membantu hingga perusahaan berjalan dengan baik kembali."
Wira terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Rizqia. Tidak di sangka anak-anaknya mengetahui keadaan keuangan perusahaan yang hampir lumpuh, resesi itulah yang terjadi akibat Wina sesuka hati mengambil uang perusahaan.
"Jika ditambahkan dengan kasus penggelapan uang Perusahaan, tidak menutup kemungkinan hukuman Mamiq akan bertambah. Tapi Kak Rizqy tidak melaporkan hal itu. Kami berdua masih berbaik hati kepada Mamiq dengan harapan Mamiq bertobat dan menyesali kejahatan Mamiq terhadap Mama."
Lagi-lagi Wira terbungkam dengan apa yang dikatakan oleh Rizqia. Gadis itu terlihat tenang, tapi dibalik itu semua tersimpan kesedihan dan kekecewaan yang berusaha tidak dinampakkan.
"Jangan pernah membantah Mamiq, Qia. Sampai kapanpun Mamiq tidak akan merestui hubungan kamu dengan Laki-laki ini. Kalau kamu tetap ingin menikah dengan Laki-laki ini Mamiq tidak akan ridho dan Mamiq lebih suka melihat kamu menjadi Perawan tua," ucap Wira dengan tegas.
Bersambung.
__ADS_1