Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2. 42


__ADS_3

"Tadi Enah menelpon dan menceritakan keinginan Dadek Raski," ucap Lika memberitahu apa yang disampaikan oleh Enah.


Reynand mendengarkan dengan seksama cerita yang mengalir dengan lancarnya. Dia berpikir sebentar lalu senyumnya terbit saat mendapatkan ide yang sangat menarik untuk mewujudkan keinginan Raski.


"Kita akan mewujudkan keinginan Dadek Raski di Hari Ulang Tahunnya," ucap Reynand mengiyakan keinginan keponakan tersayangnya itu.


"Termasuk mengundang Qia?" tanya Lika.


"Of course. Bukan masalah, kan? Kehadiran Qia merupakan keinginan terbesar Dadek Raski, So kita tidak boleh mengecewakannya," jawab Reynand serius. Dia tidak pernah setengah-tengah dalam melakukan sesuatu, apalagi ini menyangkut kebahagiaan salah satu anggota keluarganya. Raski merupakan Keponakan yang telah di rawat oleh Sang Isteri sedari baru lahir. Sudah sewajarnya memberikan yang terbaik untuk Sang Putra kesayangan.


"Baiklah, aku akan mempersiapkannya dengan sebaik mungkin," ucap Lika bersemangat. Dia kemudian beringsut mendekat ke arah Sang Suami lalu menyusupkan diri pada pelukan hangat Pemilik hatinya itu.


"Ada pesan dari penggemar Mas. Kamu balas, gih!" ucap Reynand setelah mendapati Handphonenya di susupi oleh Wanita yang hendak merebut hatinya dari Sang Isteri.


"Lagi? Memanglah Suamiku ini sangat tampan, jadi aku harus gencar berpatroli dan melibas habis Calon Pelakor," ucap Lika kemudian meraih Handphone yang diberikan Reynand.


Semenjak Reynand memutuskan memperbaiki wajah buruk rupanya agar Baby Ayana tidak takut kepadanya, semenjak itu pula para Gadis dan Para Wanita berbondong-bondong mengejarnya. Sudah tampan, kaya raya dan juga Sholeh siapa yang tak akan ngiler. Mereka berusaha memikat hati Ayah dari Renia dan Ayana itu, tapi sayangnya selalu terpental oleh gaya Reynand yang cuek dan masa bodoh. Reynand tidak mau memberikan kesempatan kepada Para Wanita untuk mendekatinya. Sekedar mendapatkan senyuman saja mereka tidak berhasil apalagi di ingat keberadaan mereka. Reynand benar-benar memberikan kesetiaan kepada Lika dan anak-anak, bukan hanya sekedar cinta yang sangat gampang terucap dari lisan Laki-laki.


"Sudah beres, sekarang waktunya kita tidur," ucap Lika sudah berhasil mengacaukan perasaan Wanita yang hendak menggoda Suaminya. Lalu langkah terakhir adalah memblokir nomor tersebut.


"Kamu tidak ingin memberikan sesuatu pada Suamimu ini, Lika?" tanya Reynand melihat Sang Isteri mulai memejamkan mata.


"Memangnya Mas mau apa?" tanya Lika dengan mata terpejam.


"Masih nanya juga, memangnya kita nikah baru kemaren sore ya?"


Hahahaha


Lika tertawa lebar mendengarkan nada suara Suaminya yang merajuk.


"Oh."


"Apa? hanya oh? Enggak peka banget, sih?"


"Iya udah, sini cup cup cup Bayi besarnya Lika jangan rewel, dong! Entar di angkat oleh Bebodo, mau?" sahut Lika berusaha menenangkan Sang Suami yang mendadak rewel. Tidak seharusnya seperti ini, karena Reynand sangatlah tidak cocok. Tidak ada lucu-lucunya sama sekali. Wajahnya tetap saja datar dan minim senyum, apalagi yang sedang merajuk.


Lika tersenyum lalu terdengar suaranya yang merdu mendendangkan sebuah Lelakaq.


Ri rincik


kukelaq gedeng antap

__ADS_1


Leq sedi kusisik


Lek tengaq kuangkat


Ri Rincik


Kurebus daun kacang


Dibagian pinggir kusisir


Yang tengah ku angkat


Merasa dirinya berada di tengah membuat Lika dengan cepat memindahkan tubuhnya ke pinggir kemudian menempatkan Reynand ke posisi tengah.


"Nah, Mas Reynand yang bakalan di angkat oleh Bebodo. Sekarang kalau tidak mau di angkat sebaiknya tidur dan pejamkan mata," ucap Lika di akhiri dengan tawa bahagia.


"Likaaaa, kamu curang, tadi Mas yang di pinggir. Seharusnya kamu yang di angkat bukannya malah, Mas. Emangnya kamu sanggup angkat tubuh gede Mas ini?" Ucap Reynand menoel hidung mancung Lika dengan gemas.


"Siapa yang cerdik, dia dong yang menang," sahut Lika di akhiri dengan tawa lepasnya.


"Aih sudah mulai pintar berkelit ya? Memangnya Mas tidak tahu apa itu akal-akalan kamu agar terbebas dari tugas memanjakan Kura-kura. Ayo pilih mana encok atau menjerit nikmat?"


Reynand membuat pilihan yang sama-sama tidak menguntungkan bagi Lika saat ini.


"Sakit tahu, dari pada berteriak kesakitan lebih baik berteriak keenakan. kita beribadah yuk, biar tidak diganggu oleh siapapun. Selain mendapatkan kebahagiaan, kita juga mendapatkan pahala juga lo!"


Reynand mempengaruhi pikiran Lika yang terlihat gamang. Dan benar saja Wanita mungil itu sangat mudah terpengaruh oleh rayu-rayuan Reynand dan bisikan-bisikan syahdu yang membuat kulitnya meremang. Mata itu tidak lupa mengerling nakal membuat Lika pada akhirnya luluh.


"Tapi kita mendendangkan Lelakaq dulu, siapa yang di tengah akan menuruti apapun kemauan yang di pinggir, bagaimana setuju, kan?" Ucap Lika membuat penawaran.


"Okay siapa takut. Ayo kita mulai, satu, dua dan tiga."


Secara bersamaan keduanya kembali melantunkan Lelakaq atau pantun yang merupakan penghibur saat menjelang tidur.


Ri rincik


kukelaq gedeng antap


Leq sedi kusisik


Lek tengaq kuangkat

__ADS_1


Ri Rincik


Kurebus daun kacang


Dibagian pinggir kusisir


Yang tengah ku angkat


Bersamàan Lelakaq itu selesai diucapkan, Lika dan Reynand mencari posisi di pinggir agar tidak kalah sesuai isi Lelakaq yang di lantunkan. Reynand meraih Bantal guling, lalu menempatkan bantal itu di sebelah kanan Lika, secara otomatis posisi Lika berada di tengah.


"Nah kan Mas menang, kamu kini berada di tengah dan Mas berada di pinggir," ucap Reynand tersenyum jumawa.


"Mana ada, kita sama-sama di pinggir lo, Mas," sahut Lika tidak mau kalah.


"Itu apa? Ada bantal guling di belakang kamu, itu artinya kamu yang di tengah. Mas dan bantal Guling yang di pinggir. Berarti kamu yang seharusnya di angkat oleh Bebodo. Berhubung Bebodonya takut sama otot-otot Mas, mendingan Mas saja yang angkat."


Reynand dengan cepat meraih tubuh Sang Isteri lalu mengajaknya berputar-putar bersama tawa yang semakin memperelat hubungan mereka.


"Kamu senang, Ka?"


"Iya, ternyata seru juga ya?" jawab Lika sembari menatap Sang Suami dengan sangat lekat. Saat ini dia masih berada dalam gendongan Reynand dengan menikmati hidung yang saling bersentuhan.


Selanjutnya pasangan Suami Isteri itu kembali beribadah. Memupuk kesetiaan dan menumbuhkan kepercayaan akan cinta yang semakin lama semakin bersemi di hati masing-masing.


Jika Habibah dan Rizqy di uji dengan belum hadirnya buah hati dalam pernikahan mereka. Dan Keynand yang diuji dengan Julaekha, Sang Isteri yang hendak mencelakakannya. Berbeda dengan pasangan Lika dan Reynand yang harus di uji melalui kesetiaan. Beruntungnya Reynand bukan Pria yang mudah goyah oleh godaan para Wanita yang gencar memikatnya. Justru dia semakin mempertebal keimanannya agar selalu berpegang teguh pada keinginan membahagiakan keluarga kecilnya.


***


Hari pun berlalu beranjak menuju hari spesial Raski Ananda Ardiaz. Di mana Lika, Maemunah dan Fitri bahu membahu mempersiapkan kejutan untuk Putra kesayangan Keynand Putra Ardiaz itu.


Semua nama yang di sebut oleh Raski sudah hadir memenuhi undangan, tinggal satu orang yang belum menampakkan dirinya yaitu Mama Qia.


Sebelum acara inti di mulai, terlebih dahulu mereka melaksanakan Zikir dan doa, selanjutnya akan ada permainan tradisional untuk anak-anak yang berkumpul di kediaman Reynand.


Usai Zikir dan doa, semua berkumpul di halaman belakang untuk mengikuti permainan Tradisional berupa makan Kerupuk, terompah gajah dan Lari Karung.


Raski sangat antusias ingin segera mengikuti semua permainan, apalagi semua teman-teman dan sepupunya sudah berkumpul di sana, termasuk Andreas yang bela-belain datang dari Jakarta.


Julaekha, Sang Ibu sambung juga mengambil bagian dalam acara Raski. Dia mendadak menjadi Ibu sambung yang manis dan sangat perhatian kapada Bocah tersebut.


Namun kelembutan yang diperlihatkan mendadak lenyap dalam sekejap saat Keynand asyik bermanja ria dengan seorang Wanita yang diketahuinya sedang berusaha mendekati Keynand.

__ADS_1


Plaaaak


Bersambung.


__ADS_2