
"Makanannya habis," ucap Rizqy lesu. Dia duduk di Kursi memandang ke arah Meja makan dengan tatapan sendu. Nasi dan lauk pauk yang dipersiapkan oleh Habibah untuk makan malam mereka ludes tak tersisa. Hanya tertinggal tulang, kuah dan beberapa butir Nasi yang nyempil di bakul.
"Tidak apa-apa, kita bisa makan diluar," ucap Habibah.
"Ah iya, Mas masih punya Sepotong Ayam Goreng Ipin ipin yang berhasil diamankan."
Rizqy beranjak ke arah lemari tempat penyimpanan makanan. Dia mencari sesuatu, setelah ditemukan dengan cepat kembali ke Meja makan.
"Ini Bibah, kita makan sama-sama Sepotong," ucap Rizqy. Dia memisahkan daging dengan tulangnya lalu Daging Ayam goreng itu di potong menjadi dua. Rizqy menyodorkannya kepada Habibah.
Habibah mengambil potongan daging itu dengan wajah berseri. Mereka menikmatinya dengan suka cita.
"Bibah, kamu tahu enggak kalimat Sasak yang terkadang dilontarkan oleh Inaq-Inaq untuk menggambarkan sesuatu." Rizqy berucap setelah selesai menikmati sepotong paha ayam goreng.
Habibah menggeleng sebagai jawaban karena mulutnya sedang mengunyah. Namun ada ketertarikan yang dia tunjukkan dengan memperlihatkan mata membesarnya.
"Kata Inaq-inaq, Satu makan daging dan satunya makan tulang. Maksudnya, kalimat itu menggambarkan keegoisan salah satu pasangan Suami Isteri. Salah satu pasangannya menguasai pasangannya dan tak memberikan kesempatan untuk merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan. Istilahnya satu bahagia dan satunya tidak merasakan kebahagiaan itu. Contoh misalnya dari segi finansial, Sang Isteri menguasai penghasilan Suami untuk diri sendiri dan keluarganya tanpa memberikan sedikit saja untuk Suaminya, Pun begitu juga sebaliknya."
Rizqy menjelaskan maksud dari kalimat yang disampaikannya. Dia menerangkan lebih lanjut secara detail. Habidah memahami apa yang diterangkan Suaminya. Dia jadi teringat suatu kejadian saat dia masih di Kantor yang sama dengan Rizqy dulu.
Saat itu, dia diberi tugas untuk meminta sumbangan kepada semua Pegawai. Berdasarkan kesepakatan bersama dalam penggalangan dana di intern untuk di sumbangkan bagi korban bencana yang terjadi pada saat itu. Habibah dengan bersemangat door to door mengetuk hati semua Pegawai agar dengan ikhlas memberikan sebagian Rezekinya. Nah ada satu oknum, dengan rasa malu dia memperlihatkan Dompetnya yang kosong dengan ucapan permintaan maaf.
Miris!
Habibah berlalu meninggalkan seseorang itu dengan perasaan kasihan. Ternyata ada yang lebih parah dari dirinya. Meskipun dia tak berpunya setidaknya Dompetnya tidak kosong dengan yang namanya uang. Tentu saja selembar Gambar Fattimura yang senantiasa menjadi Penghuni Dompetnya. Setidaknya ada, tidak sama sekali kosong melompong seperti yang diperlihatkan oleh Bapak itu.
Apa seperti itu kehidupan yang dinamakan satu makan daging satunya lagi makan tulangnya. Jika dilihat, Beliau termasuk orang yang tak susah. Karier bagus, Suami Isteri menjabat, punya Mobil bagus dan tak berhutang seperti yang lainnya. Lantas kenapa pecahan nominal yang paling kecil pun tak dia miliki?.
Terkadang dia mengambil makanan yang sesuai dengan isi Dompetnya. Jika terlalu mahal maka dia tidak jadi memesannya meskipun ingin. Dia berusaha menekan selera dan memilih yang termurah untuk mengganjal perutnya. Terpenting terisi dan kenyang, mungkin itu yang ada dalam pikirannya.
Berbeda dengan potret Isterinya, kebalikan dari Sang Suami. Makanan yang dinikmati tentu saja enak dan pastinya mahal di tempat yang berkelas.
Habibah mengelus dada dan beristighfar tatkala mengingat itu. Bukan maksud mengusik kehidupan orang, hanya saja menggambarkan kalimat yang disampaikan Suaminya.
Ia tak ingin menjalani kehidupan seperti itu dalam rumah tangganya. Karena itulah, jika dia makan daging maka Suaminya akan makan daging seperti apa yang dia makan, pun begitu juga sebaliknya. Untuk mewujudkan itu diperlukan sikap saling mengerti dan memahami kebutuhan masing-masing.
"Bibah."
Rizqy memanggil Habibah yang terlihat melamun. Sedari tadi dia memperhatikan kening Habibah yang tampak mengkerut. Isterinya itu sedang berpikir keras sehingga mengabaikan ucapannya.
"Mas, maaf," sahut Habibah setelah tersadar dari lamunannya.
"Kamu mikirin apa, sih? sepertinya berat banget?" tanya Rizqy. Tak lepas pandangannya dari wajah Habibah.
"Tidak ada," ucap Habibah sambil mengumbar senyum menyembunyikan lamunan.
"Alhamdulillah jika tak ada apa-apa."
__ADS_1
Setelah berkata, Rizqy kembali menyodorkan dua ATM dengan Bank yang berbeda. Satunya ATM Gajinya sebagai Abdi Negara dan satunya merupakan penghasilan dari Perusahaan Wedding Organizernya.
Tanpa berpikir lagi, Habibah mengambil ATM yang berisi Gaji sebagai Pegawai Pemerintah. Dia tahu berapa besarannya, mungkin saja tidak sebesar Penghasilan Rizqy di Perusahaan EO Wedding miliknya.
"Mengapa tidak mengambil yang ini?" tanya Rizqy heran.
"Cukup yang ini saja, Suami aku seorang Pegawai Pemerintah bukan sebagai pengusaha jadi aku hanya berhak menikmati keringatnya sebagai Abdi negara." Habibah menjawab dengan tegas. Dia tidak tergiur sama sekali dengan nominal uang yang lebih besar dari apa yang diambilnya.
"Baiklah, Mas akan menyimpannya, nanti kalau kita membutuhkannya maka uang ini akan kita gunakan," ucap Rizqy kemudian menyimpannya kembali.
"Oh ya, Mas masih laper, mana mungkin kenyang dengan sepotong paha Ayam. Bagaimana kalau kita makan di luar." Rizqy mengajak Habibah, yang disetujui olehnya.
Mereka akhirnya memutuskan mencari makanan di Taman Malomba. Di sana ada Sate Bulayak yang diinginkan Habibah.
Baru saja mereka melangkah dengan mengendarai Sepeda Motor, tanpa isyarat apapun tiba-tiba rinai hujan turun dari langit. Tentu hal itu membuat sepasang Suami Isteri itu urung berpergian.
"Alhamdulillah hujan berarti kita tidak jadi makan di luar," ucap Habibah tak kecewa. Berbeda yang ditunjukkan oleh Rizqy, ada gurat kekecewaan disana. Habibah dengan cepat berusaha menghapus rasa kecewa itu dengan suatu nasehat yang membuat Rizqy beristighfar.
"Kamu benar Bibah, tak seharusnya Mas menyalahkan rinai hujan karena keinginan yang tak bisa dilakukan." Rizqy berucap penuh penyesalan. Dia segera beristighfar dari kekhilafan yang tidak seharusnya terjadi.
Terkadang Manusia suka bertingkah sekehendak hati dan sering kali menyalahkan keadaan jika itu menghalangi keinginannya. Kita menganggap keadaan itu menggagalkan tujuan padahal sejatinya ada kejadian yang membuat keinginan itu tertunda. Mungkin saja disana ada bahaya yang sedang menunggu sehingga Tuhan menghalangi kita dari bahaya tersebut. Jadi berpikir positif dan menerima segala sesuatu dengan sabar penuh dengan rasa syukur.
"Kita bisa menikmati semangkok Mie lengkap dengan sayur dan sebutir telur," ucap Habibah bersemangat.
Rizqy mengangguk menyetujui, dia meraih tangan Habibah untuk digenggam. Tanpa berkata, Rizqy mengajak Habibah masuk ke dalam rumah.
Rizqy tak lepas memandang Isterinya yang terlihat begitu mempesona, menurutnya. Dia sangat menikmati momen ini, menemani Isterinya memasak.
Tak tahan, dia beranjak mendekati lalu meraih pinggang Habibah untuk dipeluk. Tentu saja tingkahnya itu membuat Habibah terlonjak kaget.
"Enggak sabaran, harum banget menggugah selera."
Habibah tersenyum mendengarkan ucapan Suaminya. Dia membiarkan Rizqy memeluknya dari arah belakang. Sementara tangannya tetap bergerak menyelesaikan tugasnya.
"Jadi," ucap Habibah setelah beberapa menit memasak. Dia membagi Mie kuah menjadi dua bagian kemudian membawanya ke meja makan.
"Mari kita makan," ucap Rizqy diawali dengan basmalah.
Habibah melakukan hal sama. Mereka berdua tampak menikmati hidangan seadanya.
Makan malam mereka terkesan romantis diselingi pembicaraan ringan bersamaan suara hujan yang terdengar semakin deras.
"Hujan-hujan gini enaknya kita tidur," ucap Rizqy disaat mereka selesai menikmati makan malam.
Habibah mengerti arah tujuan dari perkataan Suaminya. Dia tersipu malu, tak kuasa memperlihatkannya sehingga memilih menunduk.
Rizqy tentu saja gemas melihat tingkah Isterinya. Dia semakin menggoda dan sangat suka membentuk rona merah di kedua Pipi Habibah.
__ADS_1
"Aku ingat, Mas Rizqy pernah menatapku saat kita berada di Musholla Kantor. Saat itu aku tak mengerti arti dari tatapan Mas Rizqy. Aku mengartikan wajah ini sedang ada nodanya sehingga aku malu berpapasan wajah dengan Mas Rizqy."
Selesai berkata, Habibah kembali menunduk. Dia teringat dengan perasaannya dulu. Canggung, itu yang terjadi. Dia merasa sangat sulit menyentuh hati seorang Rizqy.
Mengapa sulit? Karena Sosok itu terlihat dingin dan cuek.
Kini dia menjadi Isteri dari Pria yang dicintainya dalam diam. Tak pernah menyangka Rizqy memilihnya untuk dicintai dan bersama-sama menjalani hidup dalam ikatan halal.
"Itu karena Mas tertarik denganmu."
Rizqy bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Habibah. Dia meraih wajah malu-malu Sang Isteri agar bisa dinikmati dengan leluasa.
"Dulu kamu sering memalingkan wajah saat Mas memandangmu. Mas tahu itu karena kamu malu dan berusaha menyembunyikan rasa di hatimu untuk Mas. Sebisa mungkin kamu menyembunyikan debaran jantung tak beraturan tatkala kita berpapasan. Tentu saja Mas bisa menebak dan mengetahuinya. Mas sungguh tertarik, kamu jatuh cinta kepada seorang Rizqy tapi kamu berusaha untuk tidak menunjukkannya. Kamu juga tidak berusaha mengejarku dan memilih mencintai dalam diam."
Habibah tak kuasa menahan butiran bening yang mulai merembes. Dulu, dia pikir cintanya bertepuk sebelah tangan karena Rizqy mengabaikannya. Saat itu dia tidak berani bermimpi akan kebersamaannya dengan Rizqy apalagi menjadi Isteri. Itu sangat mustahil terjadi.
Kini harapannya menjadi nyata, Habibah menghamburkan diri dalam pelukan Suami. Dia merasai kehangatan yang diberikan Rizqy tanpa penolakan.
"Jangan sedih, tidakkah ingin menikmati malam dingin ini. Mas menginginkan kehangatan dari kamu," ucap Rizqy mulai bertingkah manja. Dia membopong tubuh Isterinya lalu membawa ke kamar untuk memadu kasih.
Baru saja hendak memulai, deringan Handphone membuyarkan kekhusukan sepasang insan itu. Rizqy mendengus kesal karena panggilan itu. Dia memilih mengabaikan dan melanjutkan kegiatan bersama Isterinya.
Selang berapa jam, Rizqy mengistirahatkan raga setelah berjuang mencapai kenikmatan. Dia memeluk tubuh Isterinya yang berbaring di sampingnya.
Mereka belum terlelap sepenuhnya, tatkala deringan itu kembali terdengar. Rizqy memutuskan untuk mengangkat panggilan. Dia yakin, seseorang itu tidak akan berhenti menghubunginya. Tidak ada pilihan lain selain menerima panggilan itu.
Rizqy mengucapkan salam, setelah berbasa-basi, dia menanyakan tujuannya. Tidak mungkin terus-terusan menghubungi jika tidak ada sesuatu yang diinginkannya.
(Ayolah Pak Rizqy, anda bisa mengaturnya dan saya menjanjikan fee yang besar jika Perusahaan kami memenangkan tender itu)
Rizqy mengernyitkan dahi tak percaya dengan kegigihan salah satu rekanan yang berusaha mendapatkan tender itu meskipun melalui jalan pintas.
(Bukankah saya sudah menegaskan, urus legalitas dan jangan menggunakan Bendera orang lain. Kita punya standar, kriteria dan persyaratan yang jelas sedangkan Perusahaan anda tidak memenuhinya. Mana mungkin meloloskan Perusahaan abal-abal)
(Jangan kaku seperti itu Pak Rizqy, kita bisa mengaturnya. Orang lain bisa kenapa anda tidak bisa melakukannya. Kita bisa bekerja sama dengan baik dan tentunya saling menguntungkan)
(Kita sudah memutuskan siapa yang berhak menerima Proyek itu jadi hargai keputusan itu)
Rizqy berucap dengan tegas, dia hendak mengakhiri panggilan. Namun orang yang berada di seberang masih keukeuh berjuang meluluhkan hati Rizqy agar mau merubah keputusan. Tidak goyah sedikitpun, Rizqy dengan tegas kembali menolak. Mereka tidak layak mendapatkan Proyek itu jadi tak ada alasan untuk merubah semua. Tegasnya!
(Pak Rizqy, saya akan mengirimkan hadiah untuk anda. Saya yakin hadiah ini akan mampu merubah keras kepalanya anda. Seorang Gadis Perawan)
Murka, tentu saja itu respon dari apa yang didengarnya. Rizqy tidak ingin orang lain menekannya apalagi berniat bermain curang, dengan segera memutuskan panggilan tanpa menghilangkan adap.
Habibah yang melihat perubahan Suaminya, segera menenangkannya.
"Mereka ingin menjebak Mas."
__ADS_1
Bersambung.