
Sementara di kediaman Evelyn seorang Pelayan berkulit sawo matang dengan kaca mata besar membingkai wajah ovalnya sedang mengawasi aktivitas mereka. Wanita misterius itu berhasil merekam percakapan antara Evelyn dan Martin. Ada gurat amarah yang tercetak pada wajah ayunya yang tersamarkan. Tangannya mengepal cukup kuat untuk meredamkan kekesalan di dalam hatinya.
"Kamu ingin menggoda Suamiku, Uda Lexi Aditama, ya? Belum saja kamu terlihat olehnya, kamu duluan terpental? Coba saja!" batinnya berbisik meluapkan kekesalan.
Wanita yang menyamar sebagai Pelayan adalah Baiq Ega Fajrina atau Lily, Isteri dari Lexi Aditama.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Lily bergerak dengan cepat menuju ruang lain yang menjadi tujuannya. Di sana sudah ada tiga orang Wanita yang sama-sama menyamar menjadi seorang Pelayan. Wanita berkulit putih dengan mata sipit sedang bergerak menuju ruang kerja Martin sedangkan Gadis berkulit putih pemilik mata bulat besar itu melangkah dengan cepat menuju kamar Martin.
"Kita harus cepat sebelum dua Manusia lucknut itu menyadari kalau Pelayan-pelayannya sedang tertidur nyenyak," ucap seorang Wanita manis dengan mata tajamnya bergerak mengawasi sekeliling.
Keduanya menganggukkan Kepala sambil mengacungkan jempolnya. Satu Wanita berhasil masuk ke ruang kerja Martin lalu dengan gerakan cepat penuh dengan kehatian-hatian mencari bukti-bukti kejahatan Lelaki itu. Cukup rapi dan sangat rahasia, tapi tidak membuat Wanita itu sakit kepala untuk menemukan apa yang akan di cari. Beberapa menit dalam pencarian dia berhasil menemukan beberapa dokumen penting terkait dengan bisnis hitam Lelaki itu.
Wanita itu tersenyum senang lalu dengan cepat merapikan kembali tempat-tempat yang sempat diobrak abriknya agar terlihat seperti semula.
Saat keluar dia menemukan rekannya yang sudah berada di tempat titik kumpul dengan tangan yang tidak kosong.
Keempat Wanita itu lalu bergerak cepat meninggalkan kediaman Martin dengan senyum penuh kemenangan. Di sana, tidak jauh dari istana Martin, terparkir Mobil yang siap membawa mereka untuk melarikan diri.
"Aman semua?" tanya Sang Sopir melihat ke Kursi Penumpang untuk memastikan keempat penumpangnya sudah berada di Kursi masing-masing.
"Aman Kak Bibah," jawab Gadis bermata bulat besar itu mewakilkan.
Wanita dipanggil Kak Bibah itu berdoa lalu tancap gas melajukan Mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di belakang terlihat para Pengawal sedang membututi Mobil tersebut.
"Ibu Lika, ada yang menyadari kalau kediaman Martin di datangi tamu tidak di undang. Mereka mengejar dan Kita akan berusaha menghalangi mereka."
Dari alat komunikasi, salah satu Bodyguard memberitahu keadaan setelah mereka berhasil keluar dari Istana megah milik Martin.
"Eratkan sabuk kalian, saya akan ngebut," ucap Habibah lalu menaikkan Spido meternya dengan kecepatan tinggi.
Wuuuuus
Mobil tangguh anti peluru itu melesat membelah jalanan. Mobil tersebut terlihat seakan terbang saking lajunya untuk menghindari anak buah Martin yang sedang mengejar.
"Ibu Bumil ternyata jago juga ngebutnya. Saya yakin nantinya si Baby akan menjadi Pembalap kelas dunia," ucap seorang Wanita bermata sipit diakhiri kekehan kecilnya.
Tidak ada ketegangan di sana, wajah mereka terlihat amat sangat tenang.
Habibah tersenyum menanggapi candaan dari Isteri Reynand itu. Dia hanya mengaminkan saja jika itu sesuatu yang baik.
Mereka kemudian larut dalam obrolan khas Emak-Emak, hanya Qia saja yang terlihat banyak diam karena belum merasakan bagaimana pusingnya Para Emak jika harga barang pokok merangkak naik dan bingung besok mau masak apa?.
__ADS_1
Sejenak keheningan terjadi saat obrolan tidak berlanjut. Itu terjadi saat Lika mendapatkan sambungan telepon dari Sang Suami. Mereka memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraan dan hanya diam menyimak apa yang disampaikan oleh Reynand. Setelah sambungan itu berakhir, keadaan benar-benar hening. Hanya suara deru Mobil yang memanjakan pendengaran mereka.
"Sebaiknya kita sambung ayat," usul Lily.
"Boleh."
Lima Wanita yang terdiri dari Wanita bermata sipit tidak lain adalah Lika, Gadis bermata belo bernama Qia, Lily, Maemunah dan Habibah kemudian membaca taawudz terlebih dahulu lalu dengan sangat merdu sebuah surah dibacakan oleh Lily setelah selesai membaca beberapa Juz dilanjutkan oleh yang lainnya secara bergiliran.
Habibah tetap melajukan Mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesekali dia melirik kaca spion untuk memastikan para pengawal berada di Posisi masing-masing.
Lantunan Al-qur'an tetap menggema di dalam Mobil yang bergerak. Habibah yang selanjutnya mendapatkan giliran mulai membaca ayat dari surah Al kahfi dengan sesekali melirik kaca spion. Saat matanya terpusat mata kaca spion Habibah melihat Mobil yang berbeda bukan lagi Mobil para Pengawal. Dengan tenang Habibah meningkatkan kecepatan dan bibirnya tetap melantunkan ayat-ayat Al-qur'an yang di hafalnya. Setelah selesai beberapa ayat dibacanya kemudian bacaan Alqur'an di sambung oleh Maemunah dengan membaca Al-qur'an yang ada dalam Handphonenya.
"Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon Pertolongan."
Habibah membaca arti dari ayat 5 dari surah Al-Fatihah sembari tangannya dengan gesit mengemudikan Mobil.
Brak
Anak buah Martin berhasil mengejar Mobil yang di Kendarai oleh Habibah. Mereka menabrak Mobil itu dari belakang membuat Mobil yang dikemudikan Habibah sempat oleng. Namun tidak ada teriakan histeris di sana, kelima Wanita itu terlihat tenang dan tetap melantunkan Al-qur'an. Pun begitu juga dengan Habibah yang tidak terpengaruh sama sekali. Dengan tenang dia mengendalikan Mobilnya lalu begitu ada kesempatan Isteri dari Rizqy Anggara itu kembali melajukan Mobilnya dengan secepat mungkin.
***
"Saya punya bukti keterlibatan anda Dokter Rafli. Wanita yang sedang anda lindungi adalah seorang buronan Polisi yang telah mendapatkan hukuman seumur hidup. Apa jadinya anda jika Polisi tahu kalau Dokter terbaik Negeri ini turut andil dalam menyembunyikan keberadaan Evelyn Sanjaya."
Dokter Rafli bergeming. Lelaki paruh baya yang masih terlihat segar itu menyangkal tuduhan dari Rizqy.
"Jadi kamu ke sini hanya ingin mengertak saya? Kamu siapa yang telah berani-beraninya menuduh saya melakukan sesuatu yang tidak pernah saya lakukan. Sebaiknya pergi sebelum Polisi menyeret anda dari rumah saya," sahut Dokter Rafli dengan sombongnya.
"Silahkan saja, itu malah menguntungkan buat saya. Saya tidak perlu capek-capek mengeluarkan suara emas hanya demi membuat Dokter berbicara, biarkan para Penegak hukum yang bekerja. Apa Pak Dokter tidak keberatan?" Rizqy tidak mau kalah. Dia lalu memainkan pengalamannya sebagai seorang mata-mata. Tidak ingin membuang waktunya dan berbasa-basi, Rizqy memperlihatkan sebuah bukti kebobrokan Lelaki cerdas itu.
Dokter Rafli terkejut, wajah tampannya mendadak menjadi pusat basi. Tidak ada lagi kesombongan dan senyum meremehkan yang dia tampilkan seperti tadi.
"Kamu siapa?" tanyanya gemetaran dengan terbata-bata.
"Saya bukan siapa-siapa, hanya orang biasa yang sedang berusaha mencari keadilan untuk mendiang adik saya dan juga sedang berikhtiar untuk menghukum Evelyn Sanjaya yang memang sudah mendapatkan putusan dari Pengadilan dengan hukuman seumur hidup, tapi berhasil lolos lebih tepatnya kabur karena berkat bantuan anda," jawab Rizqy dengan santai.
Dokter Rafli terdiam tidak sanggup lagi berkata-kata. Tumbuhnya melorot lemah memperlihatkan ketidak berdayaan di sana.
"Apa anda tetap membela Penjahat yang telah merusak generasi dan juga merugikan Negara, Pak Dokter Rafli? Terserah anda jika itu maunya? Tapi ingat di akherat nanti hukuman yang anda terima lebih perih dari hukuman di dunia. Bahkan dosa sebiji Zarahpun tetap di hisap apalagi kesalahan anda yang luar biasa besar."
Rizqy kembali berkata dengan nada yang tenang tanpa kemarahan ataupun intimidasi dalam suaranya. Namun apa yang dikatakannya sangat mengena hati nurani yang mendengarkannya.
__ADS_1
Huft
Dokter Rafli menarik nafas panjang lalu dia meminta Rizqy untuk menunggu pada ruang tamu yang terlihat sangat mewah.
Tidak lama menunggu Dokter Rafli kembali dengan membawa sebuah amplop berwarna cokelat. Di sana tersimpan dokumen penting saat melakukan prosedur operasi dan hasil DNA yang diam-diam dilakukan oleh Dokter Rafli yang menyatakan Wanita itu adalah Evelyn Sanjaya. Dokter Rafli sadar dia telah melakukan sebuah kesalahan karena itulah dia mengumpulkan bukti-bukti terkait perubahan identitas dan wajah Evelyn menjadi wajah Wanita lain. Dokter Rafli juga memberikan sebuah cip yang menyimpan semua bukti-bukti pada kejadian itu dan kejahatan Evelyn.
"Segera berikan bukti ini kepada Polisi, saya khawatir Evelyn akan memusnahkannya. Wanita itu sangat licik," pesan Dokter Rafli. Ada kekhawatiran yang terpampang pada wajahnya.
Rizqy meyakinkan Dokter Rafli bahwa bukti-bukti yang didapatkannya akan segera dia serahkan ke Kantor Polisi bersama Evelyn yang harus mempertanggung jawabkan kejahatannya.
Rizqy keluar dari rumah Dokter Rafli dengan sebuah rencana. Dia sadar Evelyn tidak menghadangnya dalam perburuannya mencari identitas dan bukti kejahatannya. Wanita itu membiarkan Rizqy dengan mudah mengumpulkannya. Namun di ending cerita dia telah menyiapkan rencana untuk memusnahkan bukti itu. Dia membiarkan dirinya di tuntut di hadapan hakim, tapi pada saat bukti itu akan menjadi alat bukti di Pengadilan, pada saat itu dalam sekejap mata semua bukti akan musnah tanpa jejak. Siapa akan bersalah? Tentu saja Rizqy yang akan menjadi tersangka dan telah berani mencemarkan nama baiknya. Evelyn sanggup membalikkan keadaan. Rizqy menyadari itu.
***
Mobil Habibah masih berusaha menghindari Mobil Bodyguard Martin yang kian mengejar. Wanita hamil itu terlihat tenang, tidak ada raut ketakutan di sana. Lantunan Al-qur'an masih menggema dari para Penumpangnya.
"Sayang, pulanglah ke rumah dan tunggu Mas dengan berpakaian Lingerie. Malam ini Mas pingin, jadi tugas kalian sudah selesai. Saatnya Laki-laki yang mengambil alih."
Suara seorang Pria menggema pada alat komunikasi yang menempel di Telinga salah satu Wanita yang ada di Mobil Habibah. Seketika itu pipi seorang Wanita bermata sipit tersebut terlihat bersemu merah.
"Cieeee, PakSu Reynand ternyata jujur banget. Tidak ada rahasia-rahasiaan malah mengumunkan pada dunia dia ingin ninuninu nanti malam bersama Isteri tercinta. Jomblo dan Suami jauh siap-siap di pojokan menyendiri."
Maemunah gerak cepat menggoda Lika.
Lily dan Habibah hanya tersenyum simpul. Kedua Wanita itu terkejut tidak percaya dengan apa yang dikatakan Reynand. Lelaki berwajah datar itu, sempat-sempatnya membuat orang-orang di sekelilingnya bertraveler.
Sementara Sang Gadis, Qia hanya menampilkan senyum malu lalu menaruh kedua tangannya di Telinga berpura-pura tidak mendengar.
"Rupanya aku telah terkontaminasi," batin Gadis itu.
Dor
Dor
Dor
Duaaaaaar
Tiba-tiba terdengar tembakan yang membuat salah satu Mobil oleng tidak terkendali. Dalam hitungan detik Mobil itu menabrak Pembatas jalan dan dalam sekejap mata Mobil tersebut terbalik bersamaan dengan orang-orang yang berada di dalamnya berusaha menyelamatkan diri.
Bersambung.
__ADS_1