Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.21


__ADS_3

"Pikirkan ini Key. Jangan menyiksa Gadis itu dengan memperlihatkan Sosok Laki-laki tampan yang sangat dia cintai. Berikan kesempatan padanya untuk menyembuhkan luka hatinya karena kamu urung menikahinya. Seharusnya kamu sadar, mungkin saja Qia sangat sulit melupakan kamu, karena mungkin saja kenangan bersama kamu masih hadir baik dalam mimpi, lamunan dan ingatannya. Agar dia mudah melupakan, lebih baik kalian berdua jangan bertemu lagi," lanjut Reynand tegas seperti sebuah titah yang harus dilakukan oleh Keynand.


"Abang gampang sekali berbicara, apa Abang tidak mengerti keadaan aku? Apa yang terjadi itu semua karena permintaan konyolnya yang tidak masuk akal," ucap Keynand kesal.


"Kenapa kamu membebankan Qia dengan apa yang kamu alami ini, apa kamu menyalahkannya? Abang tidak menyangka kamu sangat bodoh Key. Ah ya kamu benar-benar bodoh dan sangat mudah terperdaya."


Keynand menghela nafas panjang. Dia membenarkan apa yang dikatakan oleh Reynand. Tidak seharusnya dia menyalahkan Gadis itu. Dia yang tidak percaya dengan cinta yang dimiliki Qia untuknya. Seharusnya dia tidak mudah tertipu oleh perkataan orang lain tentang Gadis yang dicintainya.


"Kamu sendiri bilang Qia tidak mungkin merelakan Kekasih yang dicintainya di serahkan kepada Wanita lain. Apa mungkin Qia sebodoh itu, tidak, kan? Dan kamu meyakini itu, tapi kenapa malah dengan sukarela menyerahkan diri kepada Julaekha untuk dijebak olehnya."


Reynand panjang lebar berkata terdengar seperti mengomeli adiknya itu. Dia gregetan dengan Keynand yang tak awas dan sangat mudah sekali terjebak oleh wanita itu yang berpura lembut, polos dan juga baik. Julekha memang telah sukses menyembunyikan bisa dibalik jinak dan bersahabatnya dia.


"Udah ah Abang permisi. Capek juga ngomong sama batu, mendingan gue pulang bercengkerama dengan Lika dan anak-anak. Lama-lama ngobrol sama elu bikin kepala ini pening."


Reynand meninggalkan adiknya setelah memberikan salam yang dibalas sangat lirih oleh Keynand.


Dia tahu Keynand saat ini sedang frustasi. Terlihat bagaimana dia memperlakukan rambutnya dengan kasar. Sebab itulah Reynand membiarkan adiknya itu menyendiri dan berpikir apa yang akan dilakukan ke depannya. Reynand berharap adiknya itu mau mendengarkannya dan tidak mengusik kehidupan Qia lagi. Bukan karena tidak ada sebab mengapa dia meminta Keynand tidak lagi mencari keberadaan Qia. Lebih tepat mempertimbangkan apa yang di sampaikan oleh Sang Isteri, Lika.


Lika sangat mengkhawatirkan keadaan Qia setelah mereka bertemu di Pesantren. Bisa saja Julaekha akan bertindak jahat jika mengetahui Keynand diam-diam menemui Qia. Entah kenapa hati Lika tidak tenang dengan kehadiran Julaekha di tengah-tengah keluarga Ardiaz. Ada sesuatu yang membuatnya dan Reynand berpikir negatif kepada Isteri Keynand itu. Dia Ibarat rayap yang mungkin saja secara diam-diam menggerogoti tanpa sisa lagi. Namun Lika dan Reynand memilih untuk tidak su'udzon terlebih dahulu, karena ini mungkin saja prasangkanya saja. Toh juga biarlah Keynand yang memperbaiki semuanya tanpa dia dan Suami harus ikut campur dalam setiap permasalahan rumah tangga Keynand.


Ia, Reynand dan Lika berkunjung ke Pesantren setelah mendapatkan informasi keberadaan Qia dan apa yang terjadi pada Gadis itu. Bersama Mamiq Ali, Fatimah,Hamiz dan anak-anak, rombongan itu bertolak ke pondok pesantren tempat Rasya mengabdikan diri. Tujuannya ingin menjenguk Rasya sekaligus ingin melihat keadaan Qia.


Melalui Qia kebenaran itu terungkap. Dia sama sekali tidak pernah menulis surat untuk Keynand dan juga tidak pernah mengirimkan pesan suara dari Handphone. Semua ini mungkin saja rekayasa Julaekha untuk memisahkan mereka. Tidak itu saja, Habibah juga mengungkapkan rahasia membuat yang mendengarkannya tercenang.


* Flash back *


"Benar apa yang disampaikan oleh Qia. Ini semua rekayasa Julaekha dan dia pula yang menjebak Keynand agar Keynand bersedia menikahinya." Usai berkata, Habibah terlihat sedih dan ada rasa bersalah tercetak pada wajahnya. Rizqy yang ada di sampingnya merangkul bahu Sang Isteri yang terlihat bergetar.


"Kak Bibah tidak berhasil mencegah Keynand untuk tidak bertemu dengan Julaekha hari itu," lanjut Habibah parau.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Lika penasaran.


"Waktu itu saya tanpa sengaja mendengar pembicaraan Julaekha dengan seseorang untuk mengatur siasat untuk menjebak Keynand dengan menggunakan aturan Desa. Kita tahu sendiri aturan Desa yang tidak memperbolehkan warganya pulang larut apalagi seorang Gadis. Jika kedapatan seorang Gadis pulang larut malam dan diantar oleh seorang Laki-laki, maka mereka berdua akan dinikahkan. Saya yakin itu yang terjadi dengan Keynand. Dia mengantar Julaekha pulang melewati batas kunjungan tamu yang telah ditetapkan oleh pihak Desa. Setelah itu mereka berdua di grebek meskipun tanpa melakukan tindakan asusila. Mau tidak mau Keynand harus menyetujui itu karena mana mungkin bisa membela diri dari warga yang sudah mengepungnya."


Habibah melanjutkan cerita yang mungkin saja itu yang terjadi pada Keynand. Dia yakin Keynand tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada keluarga sehingga mempertanyakan ini semua kepada Qia.


"Waktu itu saya sempat merekam rencana itu, setelahnya saya menghubungi Mas Rizqy agar menghubungi Keynand untuk memintanya tidak bertemu dengan Julaekha, tapi sayangnya handphone saya lowbat. Dengan baterai yang tersisa saya berusaha mengirim pesan baik kepada Mas Rizqy dan Qia, tapi naas pesan itu benar-benar tidak terkirim karena handphone saya langsung mati. Dalam keadaan kalut saya memutuskan untuk pulang dan melajukan kendaraan dengan cepat, tapi lagi-lagi saya tertimpa masalah. Saya menabrak pengendara lain dan harus berurusan dengan mereka."

__ADS_1


Habibah menghentikan sejenak ceritanya. Dia menarik nafas panjang karena merasakan dadanya sedikit sesak.


"Setelah saya menyelesaikan urusan itu, dengan cepat mengendarai motor pulang. Sesampainya di rumah saya menemukan Bibik keluar dari rumah dengan keadaan kacau. Dia berteriak meminta tolong." Habibah kembali menghentikan ceritanya dan mengingat apa yang terjadi saat itu.


"Ada apa Bik? Kenapa berteriak meminta tolong?"


"Nak Bibah, itu Non Qia." Bibik terbata-bata memberitahu. Dia hanya bisa menyebut nama Qia dan menunjuk ke arah dalam.


"Itu, Non Qia pingsaaan," lanjut Sang Bibik pada akhirnya bisa berbicara.


"Apaaaa?"


Habibah bergegas menuju ke dalam. Dia menemukan Qia sudah terbaring di lantai kamarnya.


"Astaghfirullah, Qia apa yang terjadi?"


Habibah panik menemukan Qia dalam keadaan tidak sadarkan diri dan wajahnya terlihat pucat. Habibah dengan cepat membawa Qia ke rumah sakit bersama Sang Bibik mengekor di belakangnya. Setelah ditangani oleh Dokter barulah dia ingat belum menghubungi Rizqy. Saat dia hendak menghubungi Rizqy baru dia sadar Handphonenya mati. Dia meminta tolong Sang Bibik untuk menghubungi Rizqy yang sedang ada keperluan di luar. Saat itu Habibah benar-benar lupa dengan apapun yang akan menimpa Keynand. Dia terlalu khawatir dengan keadaan Qia yang tidak sadarkan diri.


"Kak Bibah, bagaimana keadaan Qia?" tanya Rin yang baru saja sampai di rumah sakit. Saat mengetahui Qia di larikan ke rumah sakit tanpa berpikir apa-apa Rin langsung bergegas ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan Sahabatnya itu.


Rin melihat sahabat baiknya itu terbaring di atas brankar dalam keadaan mata terpejam. Tidurnya terlihat damai, meskipun wajah itu terlihat pucat.


"Apa Keynand tahu kalau Qia sakit?" tanya Rin.


"Astaghfirullah, saya baru ingat. Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan Keynand," ucap Habibah panik. Dia baru ingat dengan rencana Julaekha dan keinginan untuk mencegah pertemuan itu terjadi. Namun nyatanya hari telah berganti dan itu artinya kemungkinan Wanita itu telah sukses mengatur siasatnya.


"Bibah, apa yang terjadi? Kenapa wajah kamu pucat?" tanya Rizqy melihat wajah pucat Isterinya saat Rin menyebut nama Keynand.


"Coba hubungi Keynand, aku takut terjadi sesuatu dengannya. Semoga saja Keynand tidak menemui Julaekha hari itu," ucap Habibah khawatir sekaligus berharap.


Rizqy mendengarkan perkataan Habibah yang terdengar ambigu mengerutkan dahinya bingung.


"Mas Rizqy kenapa bengong? Cepat hubungi Keynand," pinta Habibah sedikit keras masih terdengar panik.


"Iya, iya."


Rizqy segera menekan nomor Keynand. Tapi nomor handphonenya tidak bisa dihubungi.

__ADS_1


"Tidak bisa dihubungi," ucap Rizqy memberitahu.


"Coba lagi Mas," pinta Habibah.


Rizqy menuruti permintaan Isterinya. Dia berulang-ulang menghubungi Keynand. Berulang-ulang pula nomor itu tidak bisa dihubungi.


Rizqy menggelengkan Kepala memberitahu Handphone Keynand benar-benar tidak bisa dihubungi.


Saat Rizqy sibuk menghubungi Keynand yang tak kunjung menjawab panggilan, di saat itulah Rin mendapatkan khabar mengejutkan dari Group yang ada di berlogo gagang telepon itu. Pada group terdapat Vidio prosesi akad nikah Dosen Wanitanya yang bernama Julaekha itu. Bukan itu yang membuat Rin terkejut, tapi dari Laki-laki yang mengucapkan kabul yang membuat Jantungnya seperti mau copot. Laki-laki itu adalah Keynand.


"Tidak mungkin ini?" Pekik Rin tak sadar kalau saat ini dia berada di ruang rawap inap Qia. Dia menutup mulutnya menutupi keterkejutannya selanjutnya menggeleng tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Habibah dan Rizqy mengalihkan perhatiannya. Mereka berdua saling pandang dengan tanya di benak masing-masing.


"Ada apa Rin? Kenapa kamu mengagetkan kami?" tanya Habibah di rundung penasaran.


Rin tidak langsung menjawab. Dia memandang Qia dengan mata berkaca-kaca. Ada guratan kesedihan yang berhasil terbaca oleh Habibah dan Rizqy.


"Rin, apa yang terjadi? Kenapa kamu terlihat sedih?" tanya Habibah. Dia menghampiri yang berdiri di samping brangkar Qia.


"Abang Keynand, dia menikah hari ini dengan Ibu Julaekha Syarifah," jawab Rin dengan lirih, setelahnya air matanya mengalir deras lalu diiringi isakan.


Habibah luruh di Lantai dengan terus menggelengkan Kepala tak percaya. Sementara Rizqy menampakkan raut terkejut dan tidak menunggu lama raut itu berubah menjadi kemerahan. Dia meminta Handphone Rin untuk mengetahui kebenaran yang dibicarakan oleh Sahabat adiknya itu.


Setelah melihat Vidio prosesi ijab kabul itu, wajah Rizqy berubah memerah dengan tangan meremas Handphone Rin seakan dia meremas tubuh Keynand.


"Habibah jaga Qia, Mas akan membuat perhitungan dengan Laki-laki bajing*n itu," ucap Rizqy geram. Dia menyerahkan Handphone itu kepada Rin lalu melangkah keluar dari kamar rawat inap Qia.


Belum saja menutup pintu terdengar suara suara alat medis berdengung menandakan pasien tidak baik-baik saja.


Rizqy menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badan melihat ke brangkar Qia. Pun begitu juga dengan Habibah yang terduduk di lantai dengan Kepala menunduk seketika mendongak untuk melihat apa yang terjadi dengan Qia.


"Astaghfirullah, Qiaaa."


Mereka bertiga serempak memanggil nama Gadis yang sedang menghadapi masa kritis itu dengan wajah panik.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2