
Habibah terkejut, dia memandang punggung teman kecilnya itu hingga tak terlihat.
Baru ia menghirup udara untuk melegakan diri.
"Aku yang terlebih dahulu mencintai Kak Oci bukan Om Rizqy tua itu."
Kalimat itu menggema dan terngiang-ngiang di telinga Habibah.
"Sejak kapan? tidak mungkin dari sejak kecil?"
Pengakuan itu membuat Habibah gelisah. Bukan karena dia menyukai itu tapi karena dia tak ingin Adrian terluka dengan rasa yang tak seharusnya ada.
Habibah tak ingin terjebak dalam perasaan Adrian. Dia harus melepaskan diri dan tidak memikirkannya. Dia yakin Adrian hanya mencoba jujur dan tidak bermaksud menjadikan dirinya pengganggu.
Huft
"Astaghfirullah."
Habibah beristighfar dan mencoba untuk bersikap tenang. Dia akan membicarakan ini dengan Adrian dan berharap Adrian melupakan rasa yang tak mampu dihalaunya sehingga terlepas.
Dia melihat jam di tangannya, jarumnya menunjukkan jam 02.00 siang. Sudah saatnya dia pulang, Habibah merapikan kembali lembar jawaban kemudian menyimpannya. Berkas lainnya tak luput dari perhatian.
Setelah semua berkas-berkas tersimpan dengan baik, Habibah berjalan keluar melewati kelas perkelas. Dia melihat kelasnya belum di tutup, Habibah melangkah ke arah sana untuk mengecek keadaan.
Saat dia hendak keluar, mata Habibah menangkap bayangan Adrian yang berjalan menuju belakang gedung sekolah. Pemuda itu terus berjalan dan berhenti ketika menemukan sebuah pohon yang terlihat rindang. Dia memanjat pohon itu lalu mendudukkan diri pada salah satu dahan.
Pada pohon itulah tempat dia dan Habibah dulu bermain. Mereka berdua belajar disana, selesai belajar kemudian menikmati makanan yang mereka bawa. Ada canda tawa dan juga keseriusan yang terjadi disana. Sungguh, kenangan masa kecil yang indah.
Usai puas bermain di atas pohon, dua bocah itu akan turun lalu merebahkan diri beralaskan rumput sambil memandang Gunung Rinjani yang menjulang tinggi di hadapan. Terlihat nyata tak ada sekat. Dari arah kelas, Gunung Rinjani pun akan terlihat.
Habibah menarik nafas dalam, sejenak dia kembali dalam romansa kanak-kanak yang tak mengenal apa itu ketertarikan dengan lawan jenis. Hanya tahu bermain dan belajar.
Setelah puas mengingat, dia melangkah pergi dan tak ingin menghampiri Adrian. Jika dulu dia pasti akan lakukan, tapi tidak dengan sekarang. Tidak etis dia menghampiri Laki-laki lain sementara dirinya sudah bersuami.
Hal itu membuat Habibah memilih meninggalkan Sekolah dan membiarkan Adrian merenung. Semoga saja teman masa kecilnya itu legowo sebelum rasa itu semakin menjadi-jadi dan meminta keinginan itu harus dipenuhi.
Habibah berjalan ke parkiran, menemukan Motornya lalu karena rasa rindu kepada Suaminya membuat sesegera mungkin melajukan kendaraannya.
Selang beberapa menit berkendara, pada akhirnya sampai jua di rumahnya. Dia memarkirkan Motor pada halaman yang luas bersebelahan dengan Mobil Rizqy.
Habibah melihat sekelilingnya dalam keadaan tertata rapi. Mulai dari taman bunga dan tumbuhan apotik hidup. Terlihat sudah bersih dan rapi. Tidak lupa pohon-pohon yang berada di sekitar rumah sudah dipangkas dan ranting-rantingnya sudah dikumpulkan dalam satu tempat.
Habibah tersenyum mendapati rumahnya dalam keadaan rapi dan bersih. Pasti yang melakukan ini semua adalah Rizqy. Dia tidak menyangka Suaminya itu ternyata rajin dan mau mengerjakan pekerjaan rumah.
"Mas Rizqyyyy?" panggil Habibah sebelumnya dia mengucapkan salam namun tak ada balasan. Dia memilih masuk ke dalam rumah menggunakan Kunci cadangan. Dia menuju kamar, setelah dibuka tak menemukan Rizqy disana. Dia beralih ke ruang yang lain namun Sosok Rizqy tak terlihat dimana pun.
Habibah keluar dari dalam rumah menuju kebun Kangkung berharap ada Rizqy disana. Namun tak ada siapapun disana. Ia berkeliling mencari namun tidak menemukan Sosok Suaminya
"Kemana Mas Rizqy?"
Dia kembali ke dalam rumah untuk mengambil Ponsel, setelah menemukan benda itu dengan cepat menghubunginya namun hasilnya di luar jangkauan.
"Apa Mas Rizqy pergi ke dalam hutan, ya?" tanya Habibah. Dengan cepat dia kembali keluar rumah. Kini tujuannya adalah Hutan yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Saat dia melewati jalan setapak, terdengar suara obrolan dan canda tawa dari arah hutan.
Habibah bisa melihat dengan jelas, rombongan beberapa Ibu-Ibu dan Bapak-bapak berjalan beriringan menujunya.
Dalam rombongan itu terlihat Suaminya berjalan. Habibah tersenyum lega, dia tidak lagi melanjutkan langkahnya untuk mencari Suaminya.
"Bibah, kamu hendak mencari Mas, ya?" tanya Rizqy menghampiri Sosok Isterinya yang tengah menanti di ujung jalan setapak.
Habibah menjawab dengan anggukan. Dia tersenyum menyapa para pencari kayu bakar yang bersama Rizqy.
"Cieee, kamu takut kalau Suamimu ini hilang ya?" Rizqy bercanda diiringi dengan tawa renyahnya.
"Jadi Mas tampan ini Suami kamu Habibah? tadi kita bertemu di tengah hutan. Entah apa yang dia cari pada akhirnya membantu kita mencari kayu bakar," ucap seorang Wanita paruh baya memberitahu.
"Iya, hampir saja saya mau meculik dia dan menjadikan Menantu. Saya pikir tadi penghuni Hutan ini dan karena melihat kecantikan anak Gadis saya jadinya menampakkan diri," ucap seorang Ibu bercanda. Dia bersama anak Gadisnya yang tersipu malu. Sesekali Gadis itu melirik Rizqy untuk mencuri pandang tapi Rizqy tak memberikan kesempatan kepada siapapun untuk menggodanya.
"Inaq-inaq, saya itu Suaminya Habibah. Tadi saya ke hutan untuk memikat burung, eh tidak tahunya ketemu Inaq-inaq dan Amaq-amaq," ucap Rizqy. Setelah itu berpamitan meninggalkan mereka yang sama-sama melanjutkan perjalanan.
"Memangnya Mas bisa memikat burung?" tanya Habibah tak percaya.
"Bisa dong? mikat kamu saja berhasil, masak mikat burung tidak berhasil, sih?" ucap Rizqy diakhiri dengan kekehan.
"Mana?"
"Lepas sayang, dia minder bersanding dengan kamu. Kalah indah katanya," sahut Rizqy.
"Gombal!"
__ADS_1
"Kok gombal? orang Mas sedang jujur." Seusai berkata, dia mendapatkan tangan Habibah mendaratkan ke lengan memukulnya dengan lembut. Rona merah itu ditampakkan dengan senyum malu-malu.
"Duh Isteriku tambah manis saja, madu bakalan kalah saing, nih!" lagi-lagi Rizqy menggombali Isterinya. Dia mencubit pipi mulus itu dengan gemas.
"Haneh, bisa tidak? tidak mencubit? sakit tahu." Habibah menggerutu. Dia mengelus pipinya yang terasa sakit.
"Mas minta maaf, habisnya kamu ngegemesin. Sini sayang Mas elus biar hilang rasa sakitnya."
Sepasang Suami Isteri itu terus saja bercanda. Sang Suami menggombal sedangkan Sang Isteri merajuk. Setelahnya tawa itu membahana dari keduanya.
"Di hutan ngakunya dapet burung tapi dapatkan Mertua burung, cieeee cieeeee mau dijadiin Menantu." Habibah meledek Suaminya. Tangannya usil mencolek Pipi dan hidung mancung Rizqy.
"Aislah, seneng kayaknya di datengin madu. Kira-kira kalau Mas melamar dengan dua buah are dan secentong tanah, di terima enggak ya?" tanya Rizqy serius. Terlihat dahinya mengkerut lelah berpikir.
"Mau buat Ibu orang marah, ngolok mah ini namanya?" sahut Habibah serius.
"Enggak jadi deh, buah arenya enggak ada terus tanahnya juga enggak mungkin dikasik sama kamu?" sahut Rizqy serius yang tak dibuat-buat.
"Emang niat Mas Rizqy ini."
"Iya, kok tahu, sih? ngintip hatinya Mas ya? cieeee ketahuan?" Rizqy tersenyum cerah berhasil menyegarkan suasana siang ini. Isterinya itu ternyata meladeni gurauannya.
"Iya, aku ngintip hati Mas, apa disana ada Kupu-kupu beterbangan," sahut Habibah senyam senyum.
"Ada?"
"Ada, gara-gara itu membuat mata aku bintitan."
Hahahahaha
"Pasti ngintipnya pas Mas lagi mandi, kan? enggak sopan banget sih ternyata."
"Udah ah Mas, aku capek becanda melulu dari tadi," ucap Habibah beranjak meninggalkan Rizqy yang masih tertawa lebar.
"Cieeeee cieeee, enggak nahan pingin di rayu dan di manjain. Mau beli apa sayang? Kita ke Moll nyok!"
"Mas Rizqyyyy, ngolok, udah tahu disini tidak ada Moll eh malah sengaja berkata seperti itu. Aku sudah tahu akal bulus Mas."
Habibah masuk ke dalam rumah dengan menggelengkan kepala mengingat candaan mereka tadi. Sejenak dia melupakan rasa tidak enaknya kepada Adrian.
Hahahahahaha
Dia masuk, di dalam rumah dia menemukan Habibah tengah berkutat di Dapur. Rizqy tersenyum, dengan sangat perlahan dia mendekati Habibah. Sesampainya di belakang Isterinya dia meniup Telinga itu.
Wuuuuuz
Angin dadakan itu menerpa Telinga Habibah, ada rasa sejuk mengaliri sedetik setelahnya gerah kembali.
Wuuuuuz
Lagi Rizqy meniup telinga itu membuat Habibah merasakan lagi rasa sejuk. Dia tidak menyadari itu merupakan perbuatan Suaminya.
"Kok ada angin tiba-tiba datang dan tiba-tiba pergi. Mungkin hanya numpang lewat," ucap Habibah masih asyik mengaduk Tumis Kangkungnya.
Rizqy berusaha menahan tawa. Dia kembali melakukan aksinya setelahnya berlalu meninggalkan Habibah dengan rasa ingin tahunya.
"Siapa sih? usil banget deh," gerutu Habibah sambil membalikkan badannya.
Sunyi
Tidak ada siapapun di sekelilingnya membuat Habibah terbengong. Dia seketika bergidik sambil membaca ayat-ayat pendek.
"Mas Rizqy?" panggil Habibah.
Tak ada jawaban, sepi dan hening.
Habibah mengernyitkan dahi berpikir. Tadi dia merasa angin menerpa daun telinganya seperkian detik dan beberapa kali. Setelahnya tidak ada lagi terasa dan lenyap begitu saja. Apa tadi hanya perasaannya saja. Sungguh aneh, dia tidak pernah merasa hal aneh seperti ini.
Saat kebingungan, Rizqy keluar dari arah dalam kamar dengan keadaan segar. Dia sedang mengeringkan rambut basahnya.
"Mas Rizqy?"
Rizqy melihat Habibah dengan membentuk senyumnya. Dia melihat kebingungan pada wajah Isterinya.
"Kenapa bingung?" tanya Rizqy.
Habibah memandang Suaminya dari atas hingga ke bawah. Kenapa obrolannya semalam membuatnya parno apalagi setelah mendengarkan cerita salah satu Teman Rizqy.
Temannya itu bercerita, saat duduk di teras rumah pada waktu malam. Isterinya tiba-tiba menghampiri lalu duduk di sampingnya sambil merebahkan kepala pada bahu Suaminya. Tidak ada pembicaraan seperti biasanya hanya keheningan yang terjadi. Sang Suami menikmati kemesraan yang tak biasa. Ketika dia beranjak masuk, saat itu pula Sang Isteri beranjak. Dia masuk ke dalam kamar tidur dan mendapati Isterinya yang sedang tertidur pulas.
__ADS_1
"Lantas tadi itu siapa?" Sang Suami bertanya-tanya, jika Isterinya sedang tertidur di kamar? mana mungkin secepat itu berada di kamar sementara mereka bersama-sama ke arah dalam rumah. Seketika itu Sang Suami memperhatikan belakang dan sekelilingnya. Tidak ada yang aneh, hanya keheningan yang terasa. Menyadari itu dia bergidik lalu dengan cepat menutup pintu lalu menguncinya. Dengan segera masuk ke dalam selimut untuk menyembunyikan ketakutannya.
"Hey, Bibah."
Rizqy kembali memanggil Habibah yang masih terbengong. Dia tidak mendengarkan Suaminya yang sedari tadi memanggilnya.
"Maaaas!" Habibah terkejut. Dia menatap Rizqy, berharap tidak terjadi yang sama seperti cerita temannya itu.
"Kamu kenapa? bengong dari tadi, mikirin apa sih?" tanya Rizqy untuk sekian kalinya.
"Eh enggak apa-apa, tadi lagi masak aku lanjutin," sahut Habibah berbalik arah menuju Dapur.
Kini giliran Rizqy yang terbengong. Dia mengikuti langkah Isterinya lalu mendudukkan diri pada kursi sambil mengamati Isterinya.
Habibah menyelesaikan masakannya lalu menyajikan di atas meja. Setelah semua tertata di Meja makan. Rizqy meraih pinggang Isterinya mendaratkan pagutan seperti biasa pada bibir merekah itu.
"Kamu kenapa sayang? apa ada yang membebanimu?" tanya Rizqy sambil memperelat pelukannya.
Habibah menggeleng, matanya menatap wajah Suaminya selekat mungkin. Mereka saling mengunci dan tak ingin ada orang lain dalam tatapan mereka.
"Apa Mas mengusilin aku lagi?" tanya Habibah serius.
Rizqy tergelak, tawanya memenuhi seluruh ruangan.
"Jadi kamu merasakannya?"
"Mas ini, tadi saya pikir Makhluk lain seperti cerita teman kita dulu, inget ceritanya Zulkarnain? semalam Mas mengulang cerita itu" ucap Habibah kesal.
"Hahahahaha." Rizqy tergelak lagi. Dia berusaha meredakan tawanya dan pandangan tak dia alihkan dari wajah Habibah yang sedang cemberut.
"Ini nih, gara-gara keseringan baca novel horor terus kebawa cerita si Zul jadinya mengira Mas bukan Suami kamu, kan?"
Habibah menjawab dengan anggukan dan disertai tatapannya yang semakin intens.
"Aku parno Mas?" Habibah berterus terang. Entah kenapa semenjak dia mendengar cerita tentang Zul semalam membuatnya selalu dihampiri rasa was-was kalau Suaminya bukan Suaminya.
"Sudah enggak usah dipikirin, itu hanya cerita belum tentu kebenarannya. Kita memang mempercayai adanya Makhluk bernama Jin tapi kehidupannya berbeda dengan kita. Kita tidak bisa hidup di dunianya dan sebaliknya mereka tidak bisa hidup di dunia kita. Kalaupun mereka bisa menyerupai kita, itu karena kehendak Tuhan dan berdoalah agar kita tetap dalam perlindungan-NYA dan tidak diganggu. Lagipula ini siang bolong sayang mana ada itu." Rizqy menenangkan pikiran Habibah dan mencoba mengikis rasa parno itu.
Habibah tersenyum, dia melepaskan diri dari rangkulan Suaminya.
"Kita makan Mas?"
"Okay, kita makan siang yang sudah beranjak pergi," sahut Rizqy melepaskan rangkulannya.
"Maaf."
"Tak apa sayang, kita sama-sama sibuk. Kamu sibuk di Sekolah sedangkan Mas sibuk memikat burung." Usai berkata Rizqy menerima Piring yang berisi Nasi dan lauk pauk yang di sodorkan Habibah.
"Makasih sayang."
"Iya Mas, Bibah juga mengucapkan terima kasih karena sudah membersihkan rumah dan halamannya," ucap Habibah dengan tulus.
"Sama-sama, selama cuti Mas akan menjadi Petani. Mas ingin menanam buah-buahan di dalam hutan. Mas lihat banyak pohon yang ditebang dan tidak di tanam lagi. Lama-lama hutan bisa gundul dan kalian akan kehilangan sumber air. Tidak itu saja, akan terjadi longsor dan banjir bandang." Rizqy menjelaskan rencana yang ada dalam benaknya.
"Mas serius?"
"Iya, kamu juga bantu ya?" jawab Rizqy di sela suapannya.
"Okay, aku juga selalu menanam pohon di pinggiran hutan tapi karena sendiri jadi hasilnya enggak maksimal," ucap Habibah menjawab dengan bahagia. Dia sangat bersyukur bahwa ternyata Suaminya juga berpikiran yang sama dengan dirinya. Untuk melindungi hutan, Habibah selama ini menanam pohon dan merawatnya sendiri. Dia pernah mengajak Remaja-remaja disini untuk menanam pohon di sekitar hutan tapi tak ada satupun yang serius mau.
Mereka hanya mau menebang untuk mengambil manfaat dari hutan tanpa mau untuk menjaganya. Mereka tidak berpikir lambat laun pohon-pohon itu akan habis dan hanya meninggalkan bencana saja.
"Satu lagi, Mas minta bantuanmu boleh?" ucap Rizqy. Dia menatap Habibah dengan wajah penuh harap.
"Minta bantuan apa?" tanya Habibah serius.
"Mas ingin berbagi hati, jadi ikhlaskan Mas untuk memberikan sebagian tenaga, pikiran, waktu dan uang untuk orang lain," jawab Rizqy dengan wajah memelas penuh harap agar Isterinya itu mengabulkan keinginan hatinya.
Deg
Bersambung.
Assalamu'alaikum.
Hai teman-teman saya ucapkan terima kasih karena bersedia meluangkan waktu untuk membaca karya saya yang amat biasa ini. Semoga suka, jangan lupa like, vote dan komentarnya ya.
Saat ini ceritanya masih landai saja belum mencapai konflik. Mau menuju kesana tapi tidak nyampe-nyampe. Maklumlah alurnya seperti Siput yang lagi ikut peragaan busana jadi lambat. Ah garing!
Maaf.
__ADS_1
Saya lanjutkan dengan mengucapkan selamat menunaikan Ibadah puasa bagi yang melaksanakannya. Semoga puasa kita lancar-lancar saja dan ibadah puasa kita diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Aamiin.