Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
Chapter 27


__ADS_3

"Kebiasaan deh tuh anak suka melesat tanpa suara," ucap Lika menggelengkan Kepalanya.


"Iya Ibu, tadi Mamiq Rari Riski bilang apa ya?" Renia menjawab sambil berpikir. Lika dan Reynand memusatkan perhatian pada Putrinya itu. Mereka berdua menunggu apa yang ingin disampaikan Renia.


"Ah ya, ingat. Mamiq Rari Riski mau jemput Oma sama Opa," ucap Renia kemudian.


"Oma dan Opa? mereka mau ke sini? kok enggak bilang-bilang?" tanya Reynand heran. Tumben-tumbennya kedua orang tuanya tidak menghubungi dirinya dan juga Keynand. Apa sekarang posisinya sudah digantikan oleh Riski. Hal itu tidak luput dari perhatian Reynand.


"Iya," jawab Renia singkat sembari menganggukkan Kepala. Renia terlihat menggemaskan dengan senyum mengembang.


"Sebentar, Ibu akan menghubungi Oma untuk memastikannya."


Lika segera meraih Handphone yang berada di atas nakas lalu menekan nomor Ibu Mertuanya. Tidak terlalu lama menunggu, Wanita paruh baya itu mengangkatnya.


(Assalamu'alaikum. Mommy apa khabar? sehatkah?)


(Wa'alaikumussalam. Alhamdulillah Mommy sehat-sehat saja sayang. Ini Mommy sama Daddy sudah sampai di Bandara, baru saja landing)


(Jadi benar Mommy dan Daddy bertolak ke Lomboq?)


(Iya sayang, Mommy sama Daddy kangen sama cucu-cucu disini. Mommy juga kangen sama kalian semua, terus kamu juga lagi sakit karena ngidam, iya, kan?)


(Oh gitu, Lika baik-baik saja kok Mom, cuma ngidam kali ini terasa berat terus bawaannya mual dan pusing)


Lika mengarah ke arah Reynand karena dia melihat Suaminya itu ingin mengatakan sesuatu.


(Mommy, kok enggak bilang-bilang kalau ke Lomboq? terus Mas Reynand, protes apa posisinya sudah digantikan oleh Kiki, katanya)


(Hahahahaha)


Terdengar suara tawa membahana dari arah seberang dan Lika ikut tertawa bukan karena Ibu Mertuanya melainkan karena melihat wajah Suaminya yang cemberut.


(Sayang, Mommy tahu kalau jam segini baik Reynand dan Keynand pasti sibuk. Lebih gampangnya meminta bantuan Riski. Tidak ada yang perlu dia repotkan, dia kan masih bujang terus gerak cepat pula)


(Oh gitu, iya dah Mommy hati-hati, Kiki sudah Otw semoga saja tuh anak tidak nyangkut dulu di rumah cewek)


(Iya sayang, kalau Riski nyangkut dulu di rumah cewek nanti Mommy akan jewer dia, tenang saja)


Lika tersenyum mendengarkan ocehan Ibu Mertuanya. Dia menyudahi obrolan karena Riski sudah terdengar suaranya disana. Lika sangat bersyukur mendapatkan Mertua yang sangat baik dan menyayanginya. Keluarga Suami adalah anugerah terindah dan tidak menyangka hidupnya dilimpahi kasih sayang. Dia mendapatkan Suami yang sangat mencintainya. Meskipun dia sempat berpisah selama lima tahun lamanya dan kini pasangan hati telah kembali. Kembali untuk merajut kebersamaan selanjutnya.


"Kamu kenapa?" tanya Reynand meneliti wajah Isterinya yang terlihat berembun.


"Iya, Ibu kenapa?" tanya Renia segera mendekati Lika.


Lika tersenyum sembari meraih tubuh Renia dan Raski kemudian membawa mereka ke dalam pelukannya.


"Tidak ada apa-apa Mas, hanya saja Lika terharu karena mendapatkan Mertua sebaik Mommy dan Daddy. Alhamdulillah, aku juga mendapatkan Suami sebaik Mas Reynand," sahut Lika.


"Iya, Mas juga beruntung bertemu dan memiliki kamu. Mas juga sangat bersyukur mendapatkan Mertua sebaik orang tua kamu. Jika dulu kita tidak bertemu, entah apa yang akan terjadi dengan hidupku sekarang. Mungkin saja aku masih terpaku dengan dunia tanpa mengenal Tuhan. Sayang, bertemu denganmu adalah anugerah terindah dari Tuhan dan sebagai cara untuk aku kembali ke jalan yang seharusnya aku tempuh yaitu beribadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala." Reynand berucap penuh keharuan. Dia mengingat perjuangannya untuk mempersunting gadis ini. Dia juga mengingat, karena tempramental nyaris saja dia menewaskan Lika.


"Alhamdulillah. Ah ya, Mommy dan Daddy sebentar lagi dateng sementara aku belum membersihkan kamar yang akan mereka tempati. Aku mau bersih-bersih kamar dulu" ucap Lika beringsut dari kasurnya.


"Kakak Renia dan Dadek Raski main sama Ayah aja ya? maaf sayang Ibu enggak bisa nemenin," lanjut Lika kepada kedua anaknya.


"Iya Ibu," sahut Renia tak keberatan. Dia mengandeng tangan Raski hendak membawanya ke kamar bermain. Sedangkan Reynand menyusul Lika yang beranjak ke kamar yang akan di tempati kedua orang tuanya.


"Kamu istirahat saja sayang, biarkan Saik Inah yang melakukannya." Reynand menahan pergerakan Isterinya. Namun tak berhasil, Lika telah sampai di Kamar sebelah dan sudah mulai membersihkannya.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa Mas, masih kuat ini," sahut Lika bersemangat. Sejatinya dia merasakan tubuhnya lemah. Entah kenapa begitu mendengarkan kedua Mertuanya datang, tenaga itu tiba-tiba saja menyemangatinya.


Beberapa menit Lika membersihkan dan merapikan kamar itu. Terlihat kegembiraan pada wajah pucatnya. Reynand sebenarnya sangat khawatir dengan kesehatan Isterinya. Namun apa yang bisa dilakukan jika Lika sudah berkeinginan. Sangat sulit menghalau segala apa yang diinginkannya. Kata jangan tidak mampu melawan keras kepalanya. Reynand hanya bisa terdiam sembari terus mengawasinya.


"Akhirnya bersih juga," ucap Lika riang. Dia melihat kamar itu dengan tatapan puas. Selesai di kamar, Lika beranjak ke Dapur untuk memasak. Dia ingin menghidangkan sesuatu untuk makan siang dengan memasakkan makanan kesukaan kedua Mertuanya. Baru saja Lika memulai, entah kenapa aroma bumbu yang sedang di tumisnya membuat dia mual seketika itu.


"Huek."


Lika berlari ke kamar mandi untuk menghilangkan rasa mualnya. Reynand yang mendengarkan suara Isterinya segera menghampiri.


"Sayang, mendingan kamu istirahat saja, biarkan Saik Inah yang memasak," ucap Reynand sembari memijat tengkuknya lembut.


"Iya Mas," sahut Lika tak ingin membantah lagi. Selesai membersihkan diri, Lika berjalan ke arah Dapur dan meminta tolong Saik Inah melanjutkan masakannya.


"Nggih Nak Lika, istirahat saja dulu biar Saik yang menyiapkan hidangan makan siang," ucap Saik Inah. Dia terlihat khawatir dengan keadaan Lika.


"Kenapa saya mual mencium aroma bumbu apalagi bumbu isi ceraken (Ceraken Nama wadah tempat bumbu rempah-rempah di simpan. Bentuknya segi empat dengan kotak-kotak yang berupa sekat. Pada kotak-kotak itu Ketumbar dan sejenisnya di simpan)," ucap Lika dengan raut kebingungan.


"Nah ketahuan dah, berarti ngidam kali ini Nak Lika tidak bisa mencium dan memakan segala hidangan yang ada bumbunya. Nanti Saik Inah memasak sayur bening, semoga saja Nak Lika berselera makannya," sahut Saik Inah yakin. Pasalnya selama ini dia menghidangkan menu-menu yang kesemuanya berbumbu. Mungkin hal itu membuat Lika tak berselera dan sering mual.


"Oh iya benar juga, kalau saya makan harus ada sambalnya. Mengapa sekarang jadi enggak doyan ya, heran?" ucap Lika kebingungan.


"Itulah orang ngidam, terkadang dia tidak menyukai makanan favoritnya dan malah kebalikan. Dia menjadi doyan makanan yang sangat dihindarinya." Saik Inah menjawab kebingungan Ibu hamil itu. Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Wanita paruh baya itu dengan gesit melanjutkan memasak.


"Iya sudah, kamu istirahat saja. Kita menunggu Mommy dan Daddy di ruang keluarga," ucap Reynand. Dia merangkul bahu Lika dan menuntunnya untuk duduk di Sofa yang tersedia disana.


***


Mertua yang ditunggu pun datang. Lika menyambut kedatangan Ayah dan Ibu mertuanya dengan senyum sumringah.


"Mana kedua cucu Opa?" tanya David Ardiaz mencari Renia dan Raski.


David Ardiaz segera meraih tubuh kedua cucunya. Baru saja mereka berada dalam gendongan. David Ardiaz mengeluh kesakitan.


"Duh encok pinggang Opa," keluh David Ardiaz sambil berusaha menggendong kedua bocah itu.


"Nah itu, kan? sudah tua juga masih ngerasa diri anak muda baru lahir kemaren pagi. Sadar diri-lah, tenaga sudah enggak fit, eh sempat-sempatnya ngelirik cewek muda," sahut Marisa menanggapi keluhan Suaminya.


"Iya kah itu Daddy?" tanya Lika penasaran. Dia terkekeh melihat raut tak enak dari Ayah Mertuanya itu.


"Namanya juga mata, bisa melihat yang indah-indah. Mata itu enggak bisa tua dan lelah kecuali kalau sudah tidak bisa melihat lagi baru dah tuh kagak lirik-lirik cewek cantik" sahut David Ardiaz membela diri. Dia sengaja menggoda Isterinya dengan kedipan mata. Ah mesranya.


Renia yang mendengarkan pembicaraan ikut menimpali "Opa, kata orang, kita tidak boleh memandang wajah lawan jenis yang bukan keluarga nanti bintitan."


"Hahahahaha."


Terdengar suara tawa menggema mendengarkan ungkapan Renia. Sedangkan Gadis kecil itu kebingungan. Kenapa semua orang dewasa yang ada disana menertawakan perkataannya.


"Apa kalimat Kakak Renia salah ya Oma? kalau begitu nanti belajar bahasa Indonesia dengan benar," ucap Renia serius.


"Tidak sayang, apa yang Kakak Renia sampaikan itu benar semua. Kita ketawa karena Opa dikalahkan oleh Kakak Renia. Kakak Renia dapat lima bintang." Marisa menjawab pertanyaan Cucunya. Dia kemudian mengelus pucuk kepala Renia dengan lembut.


"Oh gitu," ucap Renia singkat. Dia berpikir sejenak sejurus kemudian ikut terkekeh, membuat orang yang melihatnya gemas.


"Kakak Renia dan Dadek Raski, sini sama Mamiq Rari saja. Kasian Opa, Opa lagi sengsara karena kenak skakmaknya Kakak Renia yang pintar. Tambah encok pinggang Opa nanti." Riski mengambil alih kedua Bocah itu lalu membawanya ke ruang keluarga. Sebelumnya dia sempat membisikkan sesuatu di Telinga Marisa.


"Mom, minta tolong pinggang Daddy di urut soalnya entar malem Kiki mau ajak Daddy midang. Nanti kalau pinggang Daddy encok saat bersama Tedare inges, kan berabe."

__ADS_1


Setelah berbisik, Bujang itu segera melarikan diri sebelum tangan Marisa mendarat di telinganya.


"Riskiiiiii, enggak punya akhlah sama Mommy ya?" teriak Marisa menggema di ruang tersebut. Sedangkan Riski tertawa menanggapi teriakan itu. Dia segera menyelamatkan diri sebelum terjadi sesuatu.


Lika hanya mampu menggelengkan kepala tak berkata apapun. Sedangkan Reynand menampilkan seutas senyum menyaksikan keakraban antara Ibu kandung dengan adik iparnya itu.


***


Siang pun menjelang, sebelum waktu Dzuhur datang. Keluarga Ardiaz sedang menikmati makan siangnya. Keynand juga menyempatkan diri untuk hadir. Hari ini dia melaksanakan Meeting di Hotel Ardiaz. Tadi setelah selesai berolahraga di Lapangan umum Mentaram, Duda tampan itu langsung bertolak ke Hotel Ardiaz yang berada di kawasan Mandalika.


"Bagaimana Key? apa para Rider nyaman menginap di Hotel kita?" tanya Reynand. Dia tahu sebagian Rider dan tim menginap di Hotel Ardiaz. Karena Keynand berada di Hotel Ardiaz Mentaram, maka Reynand-lah yang menyambut kedatangan salah satu Rider beserta timnya.


"Belum ada keluhan, sepertinya mereka sangat menikmati keindahan Pantai yang berada di kawasan Mandalika. Saya rasa mereka sambil menyelam minum air, balapan sembari berlibur," sahut Keynand datar. Dia terlihat tak bersemangat seperti ada sesuatu yang mengganjal di ulu hatinya.


"Siapa mereka Mas?" tanya Lika penasaran


"Marc, Alek dan para Rider. Mereka akan mengikuti test sebelum bertanding nanti pada bulan maret," jawab Reynand memberitahu. Setelah berkata dia menyuap makanannya.


"Marc? Pembalap tampan itu?" ucap Lika berbinar-binar.


"Marverick, Pedrosa, Lorenzo, duh lupa nama yang lainnya? sudah pada dateng belum? kok enggak bilang-bilang sama Lika, sih? kalau tahu gitu, saya bisa ikut Mas Reynand menyambutnya. Pingin fhotoan sama mereka. Marc pasti tampan banget apalagi Marverick. Mereka jago banget ngebut-ngebutnya," lanjut Lika terlihat bersemangat. Matanya berbinar-binar mencerminkan kebahagiaannya.


Uhuk uhuk uhuk


Reynand terbatuk mendengarkan Isterinya menyanjung ketampanan Pria lain. Meskipun para Rider itu tak dikenal dan tak mungkin menjadi teman tapi tetap saja Reynand cemburu.


"Mas Reynand pelan-pelan dong!" ucap Lika sembari menyodorkan segelas air putih. Reynand mengambilnya lalu meminumnya hingga tandas.


"Besok Mas mau operasi plastik dengan wajahnya mirip Marc, Maverick atau Pedrosa. Mas juga akan alih profesi menjadi Pembalap agar Isteriku ini tak menyanjung lagi kehebatan para Rider itu," ucap Reynand terdengar serius.


Semua orang yang mendengarkan ucapan Reynand sejenak terbengong namun sejurus kemudian terdengar suara tawa membahana. Keynand yang semula mendung kini paling keras tawanya. Sedangkan Lika hanya terbengong menyaksikan wajah cemberut Suaminya.


"Mas cemburu?" tanya Lika setelah tersadar.


"Enggak hanya jealous," sahut Reynand singkat.


"Sama saja kali Mas! untuk apa, agar apa Mas melakukan itu?" tanya Lika penasaran.


"Agar saya tampan dan dikagumi sama cewek-cewek cantik setelah itu Isteriku tidak akan pernah berpaling dan menyanjung ketampanan Pria lain," sahut Reynand serius.


"Mas becanda, kan?" Lika menyelidik keseriusan dari ucapan Reynand.


"Memangnya Mas terlihat becanda?"


Huft


"Jika Mas ingin operasi plastik dengan tujuan untuk mempertampan diri dan mengganti wajah tentu hal itu tidak diperbolehkan. Itu namanya tidak mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan. Lika tidak setuju jika Mas berkata seperti itu." Lika menanggapi keseriusan Suaminya. Dia menampilkan wajah ketidak sukaannya.


"Kenapa? apa kamu takut Abang Reynand akan berpaling? secara, kan Abang Reynand tampan dan kaya raya pada akhirnya nanti banyak para cewek cantik menghampiri dan menempel di sisinya. Lama kelamaan tidak mungkin dia tidak akan tergoda," ucap Keynand menimpali. Dia sengaja memancing kecemburuan Wanita hamil itu.


Lika terdiam mencoba untuk mencerna perkataan Adik Iparnya. Sedangkan Reynand melirik wajah pucat Lika dengan ujung mata.


"Tidak, jika Mas Reynand tergoda pada cewek cantik, sexy dan lebih muda, aku akan mengalah. Aku tidak akan bertengkar untuk memperebutkan seorang Pria yang tak lagi menginginkanku. Untuk apa? apa untuk mempermalukan diri? capek!. Aku akan merelakan dan mengatakan terima kasih karena kehadiran cewek cantik itu membuat aku tahu bahwa Suamiku tidak setia." Lika berucap panjang lebar mengutarakan perasaannya.


Reynand memandang wajah Isterinya yang pucat dan terlihat sangat lemah. Lika hanya memakan sayur Bening bayam dengan sedikit nasi. Itu pun dia menelannya dengan susah payah. Namun dia harus tetap makan demi nutrisi bayi yang dikandungnya.


"Maaf Mas dan semuanya saya ke kamar," lanjut Lika menyelesaikan makan siangnya. Dia merasa pusing dan tubuhnya terasa tak bertenaga. Lika secara berlahan-lahan menjauh dari Meja makan dengan rasa tak menentu.

__ADS_1


"Nah lo!"


Bersambung.


__ADS_2