Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
115


__ADS_3

Berdua memandang satu sama lain. Menyelami rasa yang tersembunyi di hati dan mendengarkan detak Jantung masing-masing yang bertalu-talu berirama cinta.


Keynand memandang Rizqia yang sedang menunduk malu. Kini mereka berdua berada di tengah-tengah danau dan duduk di dalam sebuah Sampan.


"Baiq Rizqia Anggeraini."


Keynand mengawali pembicaraan dengan memanggil Gadis itu dengan nama lengkapnya.


Rizqia mendonggakkan wajah dan disambut senyum bersahaja dari Pria yang memanggil nama lengkapnya. Panggilan itu terdengar lembut di telinga Gadis berparas mawar itu.


"Deweq."


Rizqia menjawab dengan halus yang bermakna sangat dalam. Deweq berarti 'saya' dalam bahasa sasak pada tingkatan alus utame.


Sejenak mereka terdiam merasakan desiran hati masing-masing di temani semilir angin pagi yang menyejukkan.


"Saya tidak ingin berbasa-basi lagi. Ini tentang kita, hubungan kita. Saya ingin merajut hari-hari bahagia bersama kamu. Merenda cerita-cerita penuh makna bersama kamu. Dan tentu saja menjadikan kamu makmum dalam ibadah kita. Mari kita beribadah bersama. Maukah Qia?"


Keynand berucap panjang mengutarakan bahasa hatinya. Dia memandang Rizqia yang menunduk dengan sangat lekat penuh cinta. Tidak ada sentuhan, hanya semilir angin yang menerpa wajah merona milik Gadis itu.


Suasana sungguh romantis dibarengi jarak mereka yang saling berjauhan, tapi mampu menghadirkan debar-debar yang sangat syahdu.


Rizqia terpaku sesaat melihat kesungguhan dan ketulusan yang menyertainya di sepasang mata Keynand.


"Mari kita jadikan jalan kita searah. Beranjak bersama-sama mencapai tujuan akhir yang bahagia. Apa kamu bersedia Qia?" Lanjut Keynand sembari menatap Gadis itu yang masih terdiam menikmati hati yang bertalu-talu.


"Aku ingin bertanya, kali ini apa alasan Abang?" tanya Rizqia serius. Dia memberanikan diri menatap sorot mata tajam yang menyimpan keteduhan di sana.


"Saya telah jatuh cinta kepada kamu, Qia." Keynand menjawab tanpa keraguan yang terselip disetiap kata-katanya.


Rizqia terdiam sembari mencerna setiap kata yang terucap dari bibir maskulin itu. Dia merasakan ketulusan itu, tapi komitmennya tidak bisa diruntuhkan saat ini oleh tulusnya perasaan Keynand. Dia tetap teguh pada pendiriannya ingin meraih cita-cita terlebih dahulu. Menyelesaikan pendidikannya lalu memperjuangkan kariernya. Atau mungkin saja melanjutkan kembali pendidikannya nanti.


Gadis itu tidak sependapat dengan untaian kata yang selalu digaungkan sebagian orang-orang. Kalimat itu seakan menghentikan langkah kaum Wanita.


"Untuk apa Sekolah tinggi-tinggi, toh pada akhirnya jadi Ibu Rumah tangga."


Kalimat sakti yang membelenggu sebagian Wanita dari mereka yang masih berpikiran dangkal seperti itu.


Menjadi Ibu rumah tangga harus cerdas, bukan hanya diperuntukkan untuk Wanita karier. Bukankah begitu?


Mengapa?


Karena seorang Ibu Madrasah pertama bagi anak-anaknya dan bukan hanya itu saja seorang Isteri akan menjadi teman mengobrol yang baik bagi Suaminya.

__ADS_1


Apa jadinya jika kita tidak cerdas dan berwawasan luas. Setiap pembicaraan sepasang Suami Isteri akan menjadi pasif karena ketidak sanggupan Sang Isteri untuk menangkap dan menjadi lawan bicara yang baik bagi Sang Suami.


Apalagi dirinya jika ditakdirkan menjadi seorang Isteri Pengusaha. Sudah dipastikan orang-orang akan memperhatikan segala tingkah laku dan latar belakang keluarga dan pendidikannya. Tentu dia harus cerdas agar selaras dengan kepribadian Sang Pengusaha yang pastinya cerdas, berpendidikan tinggi dan berwawasan luas.


Mutlah, menurutnya seorang Ibu rumah tangga yang berkelas harus berpendidikan tinggi, cerdas dan juga berwawasan luas selain memiliki karakter lemah lembut, bersahaja dan bermartabat.


Rizqia ingin menjadi Isteri yang dibanggakan oleh Suaminya dengan talenta yang dimiliki. Karena itulah dia harus cakap disegala bidang. Untuk mewujudkan biduk rumah tangga yang diimpikannya itu, dia harus berjuang menimba ilmu hingga akhir hayat.


"Apa yang kamu pikirkan lagi? Masih adakah keraguan di lubuk hati kamu, Qia? Saya harap kali ini kamu tidak menolakku lagi. Jangan buat hatiku remuk tak berbentuk."


Keynand membuyarkan lamunan panjang Gadis di hadapannya. Cukup lama mereka berdua terdiam membuat Keynand penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh Rizqia. Dia ingin menggodanya, tapi urung melihat Rizqia menghirup udara dengan rakusnya. Gadis itu berusaha menentramkan hatinya yang bergemuruh tak karuan.


Jujur saja saat ini Rizqia sangat bahagia dengan pengakuan tulus itu. Akhirnya Keynand memiliki cinta itu untuknya. Apalagi yang diharapkan selain adanya rasa itu untuk mengikat hati mereka berdua. Selain itu, Keynand tidak ada cela. Dari segi agama, dia sosok yang religius dan dari segi harta pun dia sudah mapan malah sangat mapan. Lantas apalagi yang harus dipertimbangkan? Sungguh rugi jika menolak calon Suami idaman seperti Pria di hadapannya. Dia juga mendapatkan bonus yang sangat istimewa, apalagi kalau bukan ketampanannya.


Rizqia larut dalam pikirannya kembali. Sementara Keynand masih menunggu jawaban dengan penuh harapan.


"Saya mengerti dengan impian kamu dan raihlah. Saya tidak keberatan untuk menunggu."


Rizqia mendongakkan wajah mendengarkan kalimat yang diharapkannya. Sejenak mata mereka kembali bertemu, mengunci satu sama lain. Dentingan hati menjadi melodi sepasang insan yang tersihir oleh tatapan mata masing-masing. Tidak ketinggalan kicauan Burung dan gemericik air mengiringi kesyahduan hati Keynand dan Qia.


Benar adanya ungkapan 'dari mata turun ke hati. Ungkapan itu kini dirasakan oleh Pria berparas tampan menyandang Duda itu. Dan dari mata juga dosa itu berawal. Karena itulah para Lelaki yang memegang teguh agamanya diharuskan untuk menundukkan pandangan jika berhadapan dengan kaum hawa yang bukan mahromnya.


"Sungguh indah memang sepasang mata bulat besar kamu, Melong. Sorotnya sangat jernih mengalahkan jernihnya air danau yang kini menampung kita." Keynand bermonolog. Getar hatinya semakin merdu saja mengalunkan rasa itu. Keynand lantas tersadar. Dia terlalu larut dalam keindahan yang semestinya belum saatnya dia rasakan.


Keynand mengalihkan pandangan dengan menundukkan wajah. Dia tersenyum kikuh sembari mengelus tengkuknya yang menjadi sasaran salah tingkahnya.


"Dosa, kah ini? Ampuni hamba Tuhan karena menikmati paras tampan Abang Keynand. Dia sangat tampan membuat Jantung ini tak sehat." Rizqia membatin dengan menampilkan senyuman dan gelengan Kepala.


"Kenapa? Apa sekarang baru tahu kalau saya sangat tampan."


Keynand tertawa melihat ekspresi tak terima dari Gadis di hadapannya. Bibirnya seakan menyangkal kesombongan Keynand yang menyanjung diri. Namun matanya menunjukkan binar-binar memuja. Bukankah itu tidak selaras dan sangat kentara.


Hahahahaha


"Bodak, anda terlalu percaya diri. Menurut saya anda tidak tampan tapi inges," sahut Rizqia lantang. Terlihat senyum mengejek pada bibir ranum milik Gadis itu.


hahahahaha


Keynand kembali tertawa lepas. Tidak menyangka Gadis ini berani mengejeknya.


"Hey, saya Pria maskulin bukan Pria kemayu. Apakah kamu meragukan keperkasaan seorang Keynand?"


Keynand menggoda Rizqia habis-habisan. Gadis itu berani mengejeknya dan jangan salahkan dirinya membalas dengan menggodanya.

__ADS_1


"Atau jangan-jangan kamu sebenarnya mengakui kalau saya tampan tapi malah enggan mengungkapkannya. Kalau begitu sebagai pembuktian kamu harus menerima saya. Bagaimana Qia?" lanjut Keynand serius.


"Menerima untuk apa?" tanya Rizqia pura-pura tak memahami. Sudah jelas sebenarnya apa keinginan Keynand, tapi dia ingin memastikan kesediaan Keynand yang mau menunggunya.


Keynand memperbaiki posisi duduknya, kemudian pandangan matanya dia arahkan kepada wajah Rizqia yang lagi-lagi menunduk. Lelaki itu terlihat serius. Tidak menunggu terlalu lama terdengar basmalah terucap.


"Qia, di tempat indah ini saya Keynand Putra Ardiaz mengkitbah kamu kemudian selanjutnya setelah kamu menyelesaikan kuliah, saya bersama kedua orang tua saya akan melamar kamu untuk menjadi Isteri dan juga Ibu untuk Putra saya Raski ananda Ardiaz. Apa kamu bersedia Qia?"


Dengan lancar Keynand mengutarakan niatnya. Dia terlebih dahulu mengkitbah Gadis itu atau mengikatnya agar tidak ada Laki-laki yang boleh melamarnya.


Rizqia terpaku mendengarkan permintaan Keynand. Hatinya merasakan hangat dan memintanya untuk menerima perasaan Duda tampan itu. Dia tidak sanggup untuk menolak perasaan yang tulus itu. Apalagi Keynand memberikan waktu untuk meraih cita-citanya terlebih dahulu. Jadi, tidak mungkin dia mematahkan harapan Keynand.


"Qia, saya mohon jangan tolak saya lagi. Jangan buat saya ngeringsang setiap malamnya. Terus jangan buat Renia kembali mengatakan kalau Daddynya kurang tampan karena ditolak berulang-ulang oleh kamu," ucap Keynand memohon. Dia terlihat risau dengan apa yang terjadi sesaat lagi.


Rizqia tertawa kecil mendengarkan kejujuran Keynand. Tidak menyangka Gadis kecil itu tidak mengakui ketampanan Daddynya.


"Kamu menertawakan saya, Melong? Duh saya merasakan sakit di sini," ucap Keynand memegang da*da bidangnya sembari meringis.


"Abang, apa yang terjadi?" Rizqia panik melihat Keynand yang berusaha menahan rasa sakit. Sementara Keynand melanjutkan aktingnya. Lelaki itu sukses membuat Rizqia khawatir. Gadis itu beringsut mendekat dan berusaha menggapai bagian yang dirasakan sakit oleh Keynand. Dengan ragu Rizqia mengulurkan tangannya.


"Bagian mana yang sakit, bang?" tanya Rizqia kian khawatir.


"Hatiku jika kamu tolak," jawab Keynand serius.


Rizqia hanya terdiam kemudian menarik kembali tangannya yang hampir saja menyentuh bagian tubuh Keynand. Dia melihat senyum penuh siasat dari Keynand membuat keinginannya urung.


"Abang mengerjain aku, ini tidak lucu bang!" Rizqia mendengus kesal karena Keynand telah berhasil mengerjainnya. Tidak tahu saja kalau dia sangat mengkhawatirkan Keynand. Ada rasa takut jika terjadi sesuatu dengannya.


"Maafkan saya Qia, ini reaksi yang mungkin saja terjadi jika kamu menolak saya. Maka karena itu kamu harus menerima saya agar hati ini baik-baik saja dan tetap sehat menyimpan cinta untuk kamu." Keynand tak mau patah semangat. Dia berusaha meyakinkan Gadis impiannya agar mau menerima perasaannya.


"Jika saya menerima Abang, apa yang Abang akan lakukan?" tanya Rizqia mengulur jawaban.


"Abang akan menceburkan diri di Danau ini," jawab Keynand serius.


"Lakukan."


"Hah?!"


Rizqia tertawa lebar menyaksikan kepolosan Keynand. Tidak menyangka wajah tampan Keynand yang cerdas dan berwibawa ternyata bisa menampakkan kepolosannya.


"Itu artinya? Ah Qia, I Love You My Cerry."


Tanpa hitungan mundur Keynand langsung menceburkan diri pada danau tempat mereka berada kini.

__ADS_1


Byuuuuuur


Bersambung.


__ADS_2