Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.73


__ADS_3

"Astaghfirullah, kita di hadang."


Tidak bisa melanjutkan perjalanan karena di hadang oleh gerombolan genk motor terpaksa Reynand dan Lika meminggirkan Mobilnya di bahu jalan. Begitu juga dengan Lexi dia memarkirkan Mobilnya lalu keluar.


Kemacetan pun terjadi, sebab tidak ada jalur lain lagi. Di sisi kanan jurang dan di sisi kiri tebing.


Tin


Tin


Tin


Suara klakson penggema dari dua arah mencoba meminta pengendara tetap melanjutkan perjalanan mereka. Namun adanya segerombolan genk motor yang menghadang membuat pengendara lain tidak bisa melanjutkan perjalanan mereka.


"Jalan woiiii."


Teriakan pengendara bersama klakson dari mobil maupun motor saling sahut menyahuti. Sementara Genk motor itu tidak mengubris teriakan maupun suara klakson yang meminta mereka tidak menghalangi jalan.


"Astaghfirullah. Mereka benar-benar tidak ada akhlak, sudah tahu jalan raya pusuk ini sempit dan kawasan hutan, tebing maupun Jurang kok malah ngajak tawuran. Kalau mau ngajak berantem iya cari tempat yang lapanglah. Dasar, memang otak jongkok." Juna mengomel dengan kekesalan yang sudah memuncak.


"Baru tahu ternyata Abang Juna bisa ngomel seperti emak-emak. Enggak jangka saya, kalau diperhatikan Abang Jun jarang bersuara, cool dan juga cuek habis, tapi ini bikin kepala saya geleng-geleng," sahut Adly tidak percaya dengan Juna yang tiba-tiba saja mengomel dengan sangat jelas. Menurutnya Juna merupakan pribadi yang tertutup dan pendiam. Dia jarang berbicara, tapi ramah dan murah senyum. Itulah penilaiannya tentangnya saat beberapa kali bertemu, berbeda dengan teman-temannya yang terkesan rame.


"Baru tahu dia, kalau Abang Juna sudah kesel, kalah emak-emak dibuatnya," timpal Evan.


Terlihat Reynand dan Lexi sudah maju diikuti Juna yang merangsek ke depan. Evan, Hamiz dan Adly ikut bergabung, sedangkan Dipta dan Rian tidak diizinkan untuk mendekat takut para musuh mengetahui keduanya yang merupakan bagian dari sahabat Reynand.


"Hei kalian, berani-beraninya menghadang jalan para pengendara, apa jalan raya pusuk ini milik Tuan kalian, hah? Sini biar saya rujak kalian semua."


Juna tiba-tiba berteriak lantang. Dia sudah membawa Jungkat milik leluhurnya. Jungkat merupakan senjata tradisional sejenis tombak.


Evan, Hamiz, Adly dan Lexi saling pandang.  Mereka berempat tahu seperti apa warga Pencity yang terkenal pemberani dan tidak takut mati. Bukankah dua Desa di wilayah selatan itu dulunya tidak pernah akur dan sering kali bentrok masa, salah satunya adalah Pencity, desa kelahiran Juna.


"Wadowh bangsawan Pencity ngamuk. Itu pusaka leluhur sampai di bawa pula," ucap Hamiz tidak percaya dengan apa yang ada di tangan Juna.


"Juna benar-benar mempersiapkan semuanya," sahut Lexi. Dia sangat mengenal sahabatnya itu, sedari kecil Lexi dan Juna berteman jadi sangat tahu seperti apa karakter Juna. Dia sangat baik, perhatian, sabar dan juga suka membantu, tapi jika ketenangannya terusik dia bisa menjadi orang yang sangat kejam bahkan sangat sulit memaafkan.


"Abang tenang saja, kalau pemilik jungkat sudah turun tangan kita hanya menjadi penonton saja. Abang tahu sendiri wilayah selatan itu terkenal tak gentar, mereka ditakuti dan tidak ada orang berani macem-macem apalagi bermusuhan dengan mereka," ucap Lexi dengan senyum mengembang.


Reynand sudah mendengar bagaimana pemberaninya masyarakat di wilayah selatan dalam hal membela diri mereka dari orang-orang yang mencoba mengusik kedamaian hidup mereka.


Hiaaaaat


Buk

__ADS_1


Bak


Buk


Juna mulai mengarahkan Jungkatnya, melibas segerombolan genk motor itu. Dia hanya memukul tidak berani menggunakan ujung tombaknya yang bisa saja membunuh lawannya.


Melihat itu Reynand, Evan, Hamiz, Adly dan Lexi langsung ikut bergerak membabat habis yang menghalangi mereka. Tidak ada waktu untuk meladeni mereka, sebab sidang Keynand beberapa jam lagi akan dimulai. Karena itulah mereka harus menyingkirkan para anak buah Wanita itu.


"Merepotkan," ucap Evan ikut bertarung. Biasanya Evan selalu berada di depan Laptop, tidak pernah ikut terlibat secara langsung. Dia bagiannya menyerang melalui teknologi, tapi sekarang keadaannya berbeda. Dia berada di kawasan hutan, tentu saja tidak ada CCTV yang harus di retas.


Bak


Buk


Plak


Berkelahian terus berlanjut dengan kemampuan bela diri masing-masing. Para pengendara yang tidak tahan harus menunggu ikut membantu Reynand dan teman-temannya termasuk Rian dan Dipta ikut membantu secara tak kentara. Sementara Lika dan Rizqia juga ikut membabi buta. Untungnya Rizqia sedang menyamar sehingga segerombolan genk motor itu tidak menyadari siapa dirinya.


Plash back end.


***


Sementara persidangan tetap berlanjut dan kini Keynand sedang menghadapi sidang putusan Hakim. Beberapa tahapan acara dilewati oleh mereka yang hadir di sana termasuk Keynand yang duduk di tengah ruangan menghadap ke arah para hakim berada. Keynand nampak tenang, meskipun saat ini jantungnya berdebar-debar kencang. Selain itu dia dirundung gelisah menantikan kehadiran Gadis bermata belo. Semenjak kehadirannya di pengadilan sebagai saksi dan membeberkan kejahatan Wanita yang sejatinya bernama Evelyn Sanjaya, usai itu dia tidak terlihat lagi. Keynand hanya melihat senyum terakhir yang diberikan olehnya, setelah itu dia membebaskan diri dari pandangan Keynand.


Tuk


Tuk


Tuk


Palu di ketuk sebanyak tiga kali mengesahkan keputusan Hakim atas kebebasan Keynand Putra Ardiaz.


"Alhamdulillah."


"Alhamdulillah."


"Alhamdulillah."


Lantunan syukur menggema di ruang sidang.


Keynand meneteskan air mata. Dia terpaku sesaat. Saat menanti kata perkata yang terucap dari Hakim, hanya zikir yang terucap di dalam hatinya. Dilihatnya Hakim tersenyum sembari menganggukkan Kepalanya. Keynand tersadar, dia langsung bersujud mengucapkan rasa syukur.


"Maha suci Allah yang maha tinggi. Terima kasih atas segala kasih sayang-MU pada hamba yang jauh dari kata baik ini. Maha suci Allah yang maha pengampun, ampuni segala dosa dan segala kesalahan, baik sengaja maupun yang tidak sengaja hamba lakukan."

__ADS_1


Keynand melantunkan doa dalam sujud syukurnya. Setelah usai dengan lantunan syukurnya dia bangun lalu berjalan menuju hakim kemudian menyalami semua yang ada di sana dengan ucapan terima kasih.


David Ardiaz dan Reynand berpelukan penuh dengan keharuan. Pun begitu juga dengan Marisa, Alisa dan Lika, ketiga wanita itu berpelukan sembari meneteskan air mata kebahagiaan.


"Dipta kamu enggak mau nangis?" tanya Adly yang kini mulai akrab dengannya.


"Kalau kamu bersedia buatin saya Nugget, pasti dengan sukarela akan saya lakukan. But, Huaaaaaa saya tidak tahan melihat mereka, nangis ah saking bahagianya," sahut Dipta menyeka air matanya. Dia sebenarnya ingin mewek melihat keharuan keluarga dari Reynand, apalagi melihat Keynand yang tanpa malu-malu mengeluarkan air matanya, tapi Dipta berusaha menahannya.


"Ah judulnya ini, ku menangis membayangkan betapa bahagianya dirimu atas kebebasanmu. ... Lanjutkan Jun," ucap Evan dengan suara cemprengnya membuat orang yang mendengarkannya tersenyum geli.


"Memangnya Abang Jun, pencipta lagu ya? Saya pikir tadi Doyan mendaran yang lagi mengamuk. Aksi Abang Jun yang melibas genk motor itu keren banget, lo!" imbuh Hamiz sembari mengacungkan dua jempolnya.


"Dia lagi khilaf waktu itu, makanya kesurupan." Rian ikut menimpali.


Juna hanya terdiam dengan tenangnya. Terlihat sangat cool penuh dengan pesona.


"Saya tahu, diri ini tampan," ucap Juna kemudian menarsiskan diri sembari menaik turunkan alisnya. Dia menyadari semua pasang mata dari teman-temannya mengarah kepadanya membuat dia bergaya sok cool.


"Haneeeeh."


Kompak berucap sembari menatap Juna dengan pandangan kesal.


"Pletaaak." Rian tak kalah kesal, seperti biasa dia menjitak kepala sahabatnya itu.


"Nyesel saya sanjung, enggak jadi, deh! Maaf saya khilaf tadi." Hamiz berkata dengan mencebikkan bibirnya.


Hahahaha


Juna tertawa lebar yang tertular oleh semua yang ada di sana.


Sementara Reynand dan David masih berada dalam keharuan.


"Adikmu bebas, nak. Terima kasih atas kerja keras kamu dan teman-teman kamu," ucap David Ardiaz berbisik di telinga Reynand.


"Oh ya, mana calon menantu Daddy? Kenapa dia tidak ada di sini?" tanya David Ardiaz sembari mengedarkan pandangannya di sekeliling ruang sidang.


"Dia sudah pergi, Dad," jawab Reynand serius.


"Oh gitu? Daddy berniat ingin melamar Baby sitter Raski untuk Keynand. Namanya Enah kan? Jika Daddy tidak bisa mendapatkan Qia menjadi menantu, tidak apa-apa Enah saja, toh dia juga sama baiknya dengan Qia. Daddy tidak akan memaksa Qia untuk menerima Keynand kembali," ucap David Ardiaz kemudian setelah lelah mencari Wanita culun berkaca mata bulat besar itu.


Reynand hanya termangu sesaat tidak langsung menyahuti. Dia masih mencerna keinginan Sang Daddy di tengah-tengah bebasnya Keynand.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2