Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
95


__ADS_3

Sementara Rizqy disibukan dengan kepindahannya. Lain lagi dengan Keynand yang di sibukkan dengan agenda yang sangat padat. Belum terlihat celah sama sekali untuk menghantarkannya melihat senyum manis Rizqia dari kejauhan.


Dia baru saja pulang dari Ibu Kota untuk membicarakan kerja sama dengan salah satu perusahaan di sana.


Namun satu hal yang tak pernah di tinggalkan adalah menemui Putra semata wayangnya. Seperti saat ini, dari Bandara Keynand langsung menuju kediaman Reynand yang letaknya lebih jauh dari tempat tinggalnya sendiri yang berada di Praya City.


Selang beberapa menit berkendara dia telah sampai di rumah Reynand saat sore menjelang. Di pastikan Pemilik rumah ada sehingga tidak perlu menunggu terlalu lama di luaran.


Lika tidak pernah mengizinkan Keynand untuk memasuki rumah bila Suaminya tidak ada di rumah. Meskipun Keynand Iparnya, tetap saja Wanita itu memperlakukan Keynand seperti orang lain. Jika Keynand butuh istirahat, maka dia akan menempati rumah panggung yang terpisah dari rumah induk.


Baru saja keluar dari Mobil, Dua bocah kecil menyambutnya dengan suara memekakkan Telinga. Siapa lagi kalau bukan Renia dan Raski.


"Asyiiiiiiiik, Daddy sudah pulang."


Keynand menyambut Raski dengan langsung memeluk tubuh mungil itu.


"Kakak Renia kok enggak di peluk, Daddy. Kan, sama kangennya dengan Dadek Raski. Daddy pilih kasih, nih! Kakak Renia mau ngambek, ah!" Ucap Renia terdengar cemburu dan menampakkan kecemberutannya. Beberapa hari tak melihat Keynand tentu saja membuatnya kangen. Renia memang sangat dekat dengan Keynand dan lebih menunjukkan sifat manjanya kepada Keynand dari pada Ayahnya sendiri. Maklum saja dari baru lahir dia sudah bersama Keynand yang di anggapnya Ayah. Sementara Reynand, baru di kenalnya saat berumur lima tahun.


"Jangan merajuk dong Nona manis, entar kurang cantik. Sini Daddy peluk juga." Keynand meraih tubuh mungil Renia dan bersama Raski dia berada dalam pelukan yang sama.


"Anak-anak Daddy udah cantik, Ganteng dan wangi. Siapa sih yang mandiin?" tanya Keynand mulai bergurau dengan keduanya.


"Ayah," jawab mereka kompak.


"Terus siapa yang pakaikan baju, bedakin dan lain-lain?" tanya Keynand lagi.


"Ayah juga. Biasanya sih Ibu tapi Ibu lagi banyak kerjaan terus Ayah pulang cepat, jadi di ajak main air dulu baru di jadikan cantik dan Ganteng seperti ini," jawab Renia bercerita dengan antusiasnya.


"Iya, Daddy." Raski menimpali dengan diiringi anggukan membenarkan cerita Kakaknya itu.


"Oooh Ayah, baik banget Ayah ya? Udah bilang terima kasih, belum?" tanya Keynand dengan memandang keduanya secara bergiliran. Terlihat Renia menggelengkan Kepala dan di susul oleh Raski melakukan hal yang sama. Selanjutnya kedua kompak memamerkan senyum malu-malu.


"Lupa," ucap Renia lirih.


"Siapa pun yang membantu kita jangan lupakan untuk berterima kasih. Meskipun itu Ayah dan Ibu yang melakukannya," ucap Keynand mengingatkan.


"Eh iya, Ayah dan ibu juga bilang yang sama dengan apa yang di ucapkan Daddy," sahut Renia tatkala mengingat apa yang di ajarkan orang tuanya.


"Iya Daddy. Ayah sama Ibu suka banget bilang Terima kasih, Ganteng, waktu menaruh Gelas bekas minum Dadek di Meja dapur." Raski ikut menimpali dengan cerita. Meskipun tak lancar bercerita, Raski nampak mengingat setiap apa yang dilakukan dan di katakan oleh Reynand maupun Lika.


Keynand dengan sabar menyimak cerita kedua bocah cerdas itu. Ada kelucuan mengalir dari setiap kata-kata yang terucap. Gerak tawa pun tidak bisa di elakkan lagi.


Keynand bercanda ria dengan keduanya, hingga Reynand datang bergabung dengan mereka.


"Baru nyampe?" Tanya Reynand menyapa adiknya itu.


"Iya, Bang. Ini di sambut langsung sama Pangeran dan Putri. Kangen katanya terus di ajak bercanda, deh!" jawab Keynand dengan membentuk senyum bahagia. Meskipun kelelahan sedang dia rasakan. Melihat kelucuan keduanya, rasa lelahnya seakan memberikan energi.

__ADS_1


"Kak Renia dan Dadek Raski, sini sama Ayah dulu. Daddy baru pulang, terus sekarang pasti sedang capek. Kalau lagi capek, kita butuh apa?" tanya Reynand. Dia mengambil alih keduanya dari Keynand.


"Butuh tidur," sahut Raski bersemangat.


"Bukan, tapi butuh makan. Daddy pasti laper karena di pesawat enggak ada Dapur tempat masak. Iya, kan Daddy? Kalau tidur, Daddy kayaknya enggak ngantuk, iya kan Daddy?" Renia menimpali jawaban dari Raski.


"Salah, dong," ucap Raski sedih.


"Tidak ada yang salah, kok! Jawaban Dadek Raski dan Kakak Renia itu benar, hanya saja belum tepat. Saat ini Daddy butuh istirahat sebentar. Bisa saja saat istirahat Daddy laper terus makan, deh! terus mengantuk ketiduran, deh," ucap Reynand membenarkan jawaban keduanya dan menjelaskan secara sederhana yang mampu di pahami oleh keduanya.


"Oh gitu? Berarti sekarang Daddy butuh istirahat. Ayah istirahat itu, apa sih?" tanya Renia penasaran.


Keynand dan Reynand saling pandang. Pertanyaan Renia menerbitkan senyum pada bibir keduanya.


"Daddy istirahat dulu, biar Ayah yang akan menjelaskan," ucap Keynand menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab itu pada Reynand. Dia berpamitan, lalu melangkahkan Kaki menuju ke rumah panggung.


Sepeninggalnya Keynand, ketiganya duduk di Berugak. Dua bocah itu terlihat tak sabaran ingin mendengarkan jawaban dari Reynand, Sang Ayah.


"Jadi istirahat itu seperti ini gambarannya. Kakak Renia sedang merapikan tempat tidur. saat melakukan itu lama kelamaan pasti Kakak Renia merasa capek terus berhenti deh ngerapiin tempat tidurnya dulu. Saat itu bisa saja Kakak Renia duduk dulu, atau mungkin minum dan bisa jadi rebahan. Setelah Kakak Renia enggak merasa capek, baru di lanjutkan lagi ngerapiin tempat tidurnya. Nah saat berhenti ngerapiin tempat tidur untuk sementara waktu karena capek itulah di maksudkan istirahat."


"Oh gitu ya Ayah?" Renia terlihat nampak mengerti kemudian terbitlah senyum cerianya.


Keseriusan mereka berhenti saat Sang Ibu datang untuk memintanya masuk ke dalam rumah. Karena hari menjelang Magrib, di sarankan untuk masuk ke dalam rumah dengan menutup Pintu dan Jendela dengan rapat. Datangnya Senja di sebut Sande kala, di mana Para sesama Jin sedang berperang. Hal itu bisa saja membuat kita celaka atau pun menjadikan tubuh kita sebagai tempat persembunyian.


Saat masuk rumah, Reynand sengaja memperlambat langkah dan membiarkan Renia dan Raski terlebih dahulu masuk menuju ruang keluarga.


Sreeeeet


Reynand menaruh Jari telunjuk ke Bibirnya dengan di iringi kedipan mata.


"Ada apa, sih Mas?" tanya Lika bingung dengan kelakuan Suaminya. Dia melirik Suaminya dan beralih kepada kedua anaknya yang terus berlalu sambil berceloteh.


Serasa aman dengan cepat menghampiri Lika.


"Lirikan matamu membuat Jantung ini tak berkutik, diam karena terpesona memandang kecantikan parasmu duhai Isteri." Tanpa aba-aba, tiba-tiba Reynand menyerangnya dengan kata-kata romantis.


Lika terpaku demi mencerna apa yang terucap dari Bibir indah yang merupakan dambaan bagi setiap Wanita.


"Apa Mas masih waras?" tanya Lika dengan raut keheranan.


Reynand giliran terpaku dengan pertanyaan yang tak di sangka-sangkanya. Maksud hati ingin membuat Sang Isteri terpana lalu mendapatkan hadiah istimewa, eh malah gagal total Bro. Mungkin karena tak biasa jadi terdengar aneh. Reynand menggaruk tengkuknya, rasa malu itu tak terelakkan lagi. Dia ingin menyalahkan siapa? tak mungkin menyalahkan keadaan, kan? selain memberikan jawaban yang akan memperindah apa yang di katakan tadi.


"Iya, keindahan wajah dan akhlakmu membuat aku gila karena mendamba. Duhai Lika, Isteriku. Kamu pun tahu bahwa laki-laki ini telah kehilangan kewarasan karena teramat mencintaimu," jawab Reynand dengan lancar penuh ketulusannya.


"Tumben pandai merangkai kata-kata puitis? Lagi ada maunya pasti ini?" tanya Lika menanggapi kalimat puitis Suaminya dengan pandangan menyelidik. Dia berusaha menahan senyum melihat Suaminya yang salah tingkah. Dia bertanya-tanya hal apa yang merasuki pikiran Suaminya, sehingga mendadak menjadi puitis.


"Ini gara-gara keseringan denger lagu-lagu dangdut lawas yang di puter sama Pak Mamat, jadi terinspirasi, gitu!. Mas enggak tahu bagaimana caranya bersikap romantis jadinya nyontek sebagian lirik lagu. Enggak kreatif banget ternyata Suamimu ini, sayang," jawab Reynand panjang lebar. Salah tingkahnya semakin terlihat jelas.

__ADS_1


Lika tak berkata apa-apa. Dia sesungguhnya sangat bahagia mendapatkan kata-kata puitis yang terdengar kaku. Meskipun Sang Suami terinspirasi dari lirik lagu. Namun dia yakin itu merupakan bahasa hatinya yang ingin dia suarakan.


"Maaf kalau kamu tidak suka?" ucap Reynand dengan lirih. Dia terlihat bingung bagaimana caranya mengekspresikan hatinya. Maklum saja kekakuannya benar-benar mendarah daging. Mungkin saja saat dia mengucapkan kata-kata itu wajahnya terlihat datar tak meyakinkan. Dia benar-benar tidak ekspresif membuat Sang Isteri tak percaya. Gagal deh romantisnya.


Hahahaha


Tanpa angin topan, mendadak Lika memperdengarkan tawanya, saking tak tahan melihat wajah kaku Suami. Terlihat amat sangat lucu dalam pandangannya.


"Aku suka, kok! Hanya saja bertanya-tanya dalam rangka apa, tumben?" Tak tahan pada akhirnya Lika mengakhiri keterpakuannya.


"Dalam rangka mencintai kamu. Mas inget bukankah tanggal dan bulan ini pertama kali kita bertemu di Tanjung An."


Jawaban Reynand sukses membuat Lika tak berkata-kata lagi saking terharunya.


"Mas ingat?" Pada akhirnya mampu berkata setelah dalam waktu lama terdiam dalam keharuan.


"Tentu saja," sahut Reynand lembut. Dia mengikis jarak lalu mendekap tubuh yang tampak berisi. Lika memperelat pelukan dengan keharuan yang kian menyeruak.


Tak sabar, Reynand mendaratkan sentuhan pada bibir mewarna Stawberry itu. Baru saja menikmati rasa, bersamaan itu pula terdengar suara yang membuat keduanya harus menahan diri.


Fluiiiiit


"Langkah tegak maju jalan."


Suara itu sangat familiar di telinga. Siapa lagi kalau bukan Duda ngenes yang lagi usil.


"Keynaaaaand, ngapain di sana gangguin orang saja," gerutu Reynand meneriaki Adiknya itu.


"Ini lagi ngajarin Nyamuk baris-berbaris," sahut Keynand serius.


"Apa?"


Reynand dan Lika saling pandang lalu memandang Keynand dengan tatapan pedang terhunus.


Keynand tertawa lebar kemudian dengan langkah seribu dia bersiap melarikan diri dari amukan pasangan Suami Isteri itu karena telah mengganggu kesenangan mereka. Duda itu tahu setelah ini Reynand pasti akan memburunya.


"Mau lari kemana kamu?" teriak Reynand dengan langkah seribu berlari mengejar Keynand yang terlebih dahulu melesat.


Hahahahahahaha


Tawa pun pecah di ruang keluarga yang luas. Reynand berusaha menangkap adiknya yang tak punya akhlak itu. Sementara Lika geleng-geleng Kepala melihat tingkah bocah tua. Tak ketinggalan Renia dan Raski juga ikut berlarian seakan meramaikan gelak tawa mereka.


"Ampuuuuuuun."


Terdengar suara teriakan dari salah satu Bocah tua itu yang membuat lainnya ikut tertawa.


Hahahaha

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2