
"Apa-apaan, sih? ganggu tidur saja," gerutu Sang Isteri dengan menahan kantuknya.
"Saya membangunkan kamu untuk Sholat. Apa kamu sholat atau sedang berhalangan?" tanya Keynand bernada dingin berusaha untuk menekan kekesalannya.
"Aku Sholat kok. Tapi ini terlalu pagi mas. Tidak bisakah mas membiarkan aku menikmati tidur. Perkara ibadah itu akan menjadi urusan pribadi masing-masing sebaiknya Mas tidak perlu repot-repot untuk mengurusinya," sahutnya panjang lebar. Ada kekesalan yang sengaja di dengarkan dari setiap kata yang diucapkannya. Wajah cantik itu menyimpan amarah karena Keynand telah mengusik tidurnya.
Keynand berdiri mematung menyaksikan tingkah polah Isterinya yang berani mengomeli bahkan membatahnya.
"Saya hanya melaksanakan kewajiban sebagai Suami yang mengingatkan Isterinya akan kewajibannya. Sekarang kamu itu Isteri saya, jadi kamu harus patuh dengan apa yang saya perintahkan selagi itu tidak bertentangan dengan agama," ucap Keynand dengan tegas. Dia tidak menyangka Wanita yang dinikahinya semalam ternyata memiliki watak yang keras dan pemberontak. Wanita itu tidak butuh waktu lama untuk menyembunyikan sifat aslinya.
"Mas Keynand membicarakan kewajiban seorang Suami. Mas benar, itu salah satunya mengingatkan Isterinya. Tapi mas lupa dengan hak seorang Isteri. Berhak hidup bahagia, mendapatkan nafkah lahir dan bathinnya. Dan semalam apa yang Mas lakukan. Mas malah tidak sama sekali menyentuh dan mengabaikan nafkah bathin yang seharusnya aku terima semalam. Semalam itu malam pertama kita. Malam yang ditunggu-tunggu oleh sepasang Pengantin. Apa yang Mas lakukan, malah tidur dengan nyenyaknya. Aku merasa terhina karena Suami sendiri tidak berminat menyentuh Isterinya."
Sang Isteri menumpahkan apa yang ada dalam pikirannya dan rasa kecewa yang di rasakan semalam. Sungguh sakit rasanya di abaikan bahkan Laki-laki yang sah menjadi Suaminya tidak mau memenuhi permintaannya.
"Mas, aku tahu mas tidak sama sekali memiliki rasa cinta untukku. Di hati mas hanya ada Qia dan Ega. Tapi bisakah mas memiliki cinta sedikit saja untuk Wanita ini yang kini menjadi Isteri mas. Apa bisa?" Wanita itu melanjutkan kembali keluh kesahnya.
"Saya butuh waktu," sahut Keynand dingin. Dia melangkah keluar dan mengabaikan Isterinya yang tak terima. Ada amarah yang tercetak pada wajah cantik itu dan Keynand melihatnya dengan jelas.
"Keynand, apa kamu lupa aku terlebih dahulu mencintaimu bukan Qia, Gadis depresi itu. Memang iya pernikahan kita terjadi atas permintaan Gadis gila itu. Segitu tidak berharganya kamu di mata Qia yang gila itu sehingga rela memberikan kamu kepada Wanita lain. Seharusnya kamu sadar, dia tidak pantas untuk kamu cintai. Kamu dengar Keynand, Gadis gila itu tidak pantas untuk kamu cintai."
Wanita itu terus meracau menumpahkan kekesalan meskipun Keynand tidak ada di hadapannya.
Keynand mengeratkan Kepalannya. Meskipun dia marah dengan Gadis yang dulu pernah di kitbahnya. Namun dia tidak rela Gadis yang teramat di cintainya itu di hina sedemikian rupa.
Keynand melangkah dengan pasti sembari membawa amarahnya. Masjid adalah tujuannya membawa hatinya yang kini kecewa. Dengan bersujud hatinya terasa tenang dan beban hidupnya lepas begitu saja.
__ADS_1
***
Usai shalat, Keynand tidak langsung beranjak pergi dari duduknya. Dia termenung dengan takdir yang kini harus di jalaninya. Dalam sekejap mata hidupnya berubah arah bukan lagi arah yang sama bersama Gadis yang diperjuangkan cintanya.
Seharusnya nama Rizqia yang diucapkannya dalam ijab kabul, namun pada kenyataannya berubah menjadi Wanita lain. Dalam keterpaksaan dengan berusaha menerima kenyataan, nama Julaekha Syarifahlah yang terucap. Dialah Isterinya sekarang, Julaekha Syarifah.
Keynand menarik nafas panjang. Ada rasa sesak di dalam dadanya dan rasa sesak itu entah sampai kapan berakhir? Apakah selamanya, karena Wanita lain yang menggantikan Gadis pujaan hatinya. Demi permintaan Qia, dia harus menikmati rasa sakitnya kini.
Puas mendamaikan hati dan membiasakan diri dengan rasa sakit itu, Keynand meninggalkan Masjid dengan langkah berat.
Tidak terlalu jauh berjalan, pada akhirnya sampai di kediamannya. Sesampainya di dalam rumah keadaannya masih sepi. Tidak terlihat sang Isteri yang sibuk dengan rutinitas hariannya. Biasanya seorang Isteri pagi-pagi sudah bergelut dengan urusan Dapur tapi sepertinya Isterinya itu salah satu Wanita yang anti dengan Dapur.
Keynand menarik nafas lelah. Dia memilih menyiapkan sendiri sarapannya. Untungnya ada bahan makanan yang tersedia di Kulkas. Tidak di sangka atas inisiatif Lika yang menyimpan bahan makanan di kulkas menyelamatkannya dari kelaparan pagi ini.
Keynand dengan cekatan membersihkan beras lalu menanaknya. Sembari menunggu Nasi matang Lelaki tampan itu menggoreng tempe yang terlebih dahulu di baluri garam dan Bawang putih yang sudah dihaluskannya.
"Wow sarapan sudah tersedia, siapa yang masak? Tidak mungkin mas, kan?" Sang Isteri tiba-tiba ada di hadapan Keynand yang sedang sibuk menata hasil masakannya.
"Apa aku boleh ikut sarapan?" Lanjutnya antusias. Dia dengan cepat menggeser kursi lalu mendudukkan diri di sana.
"Beneran mas yang masak?"
Keynand menjawab dengan anggukan. Dia sibuk menikmati makanan dalam diam.
"Tidak menyangka Suamiku ternyata pintar memasak, mana enak gini."
__ADS_1
Julaekha mengomentari hasil masakan Keynand dengan pujian. Wanita itu tampak menikmati sarapan dengan lahap.
"Suamiku benar-benar keren. Aku beruntung menjadi Isteri Mas. Sudah tampan, kaya raya eh ternyata jago masak," ucap Julakha di sela-sela dia menyuap makanan.
"Terus terang aku tidak bisa memasak. Masa airnya pun bikin panci gosong," lanjut Julakha di akhiri dengan kekehan kecil.
Keynand hanya terdiam tak menanggapi segala ocehan Isterinya. Sebenarnya dia terkejut dengan pengakuan Julaekha. Namun berusaha menutupi dengan ekspresi datarnya dan Julaekha tidak sama sekali menyadarinya.
"Walaupun aku tidak bisa memasak, mas beruntung, kan memiliki Isteri seperti aku?" tanya Julaekha penuh harapan. Dia berharap Keynand akan menjawab betapa beruntung ia memilikinya. Beberapa menit menunggu senyumnya merekah ketika Keynand menjawab dengan anggukan.
"Seorang Isteri harus tetap bisa memasak. Menurut saya, Wanita yang sangat istimewa itu adalah Wanita yang pandai memanjakan lidah pasangan dan anggota keluarganya." Keynand melanjutkan dengan kalimat panjang yang sepertinya mengusik pikiran Julaekha.
"Apakah mas Keynand menginginkan aku bisa memasak? Tapi sayangnya berkutat di Dapur bukan style aku. Untuk apa menjadi nyonya Keynand jika tidak bisa membayar Koki pribadi," batin Julaekha menanggapi ucapan Keynand yang sepertinya mengharapkan Isterinya pandai memasak.
"Menurut aku, menjadi wanita istimewa itu tidak harus bisa memasak. Untuk itu saya tidak sepaham dengan mas. Untuk apa memiliki banyak uang, kalau membayar Gadi Pembantu saja tidak mau. Mas tidak akan memaksa saya untuk bisa memasak, kan? Saya tidak ada waktu untuk melakukan itu, jadi lebih baik membayar Pembantu."
Keynand menarik nafas panjang mendengarkan tanggapan Isterinya yang tidak sudi menyibukkan diri di Dapur.
Bersambung
Kok Keynand menikah bukan dengan Qia?
Sebab ada sesuatu yang terjadi dengan, Qia?
Sebenarnya apa yang terjadi dengan hubungan Keynand dan Qia sehingga tak bersama?
__ADS_1
Di tunggu kelanjutannya.