Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.86


__ADS_3

Esoknya Ruang rawap inap Rizqy ramai dengan orang-orang yang mengunjunginya. Ada Reynand, Lika, Evan, Amanda, Keynand dan tidak ketinggalan Juna.


Dia yang paling antusias ingin menimang bayi-bayi tersebut mengalahkan Sang Ayah kandung tercinta. Kalau bisa dia akan menggendong kedua-duanya.


"Saya yang gendong," ucap Rizqy berusaha mengambil alih Bayi perempuannya. Karena keterbatasan geraknya membuat hal itu mustahil terjadi. Dia saat ini sedang terduduk di kursi, sebab satu Kakinya lumpuh. Untuk bisa berjalan kembali secara normal Rizqy harus terapi, itupun membutuhkan waktu yang lama.


"Saya saja, Abang Rizqy gendong Nune saja," sahut Juna membalikkan badannya.


"Nune masih disu su1, saya ini Mamiqnya," ucap Rizqy masih berjuang mengambil alih putrinya dengan menggeser Kursinya.


"Saya Mamiq Kakenya kalau anda tidak lupa," sahut Juna tidak mau kalah.


"Hadowwwh! capek, deh! Kalian berdua drama banget." Reynand ikut berkomentar sembari menggelengkan Kepalanya. Sedangkan yang lainnya tersenyum melihat tingkah konyol kedua Laki-laki yang sama-sama di panggil Mamiq itu.


"Abang sendiri tahu bagaimana rasanya menggendong Bayi, seru banget apalagi Bayi yang sangat menggemaskan kayak ponaanku ini. Uluh uluh lucu banget," sahut Juna di sela-sela dia bercengkerama dengan Putri Habibah itu.


"Iya, sangat menyenangkan," jawab Reynand ikut antusias. Lelaki dua anak itu selalu menyediakan waktu luang setiap hari untuk menyapa Renia dan Ayana. Sedangkan hari Minggu, dia memberikan seluruh waktunya untuk keluarganya. Dia akan menemani anak-anaknya bermain, memandikan Bayi Ayana, menimangnya dan juga menina bobokkan dengan lantunan ayat-ayat pendek lalu ikut terlelap bersama keduanya.


Hidup Reynand terasa sempurna memiliki dua Malaikat dan satu Bidadari cantik nan sholeha di sisinya. Cukup satu Bidadari cantik dan Sholeha itu yang akan menemani hari-harinya hingga dia menutup matanya nanti.


"Nah itu tahu," ucap Rizqy.


"Makanya Bang Jun cepetan nikah, jangan hanya menimang bayi orang, menimang Bayinya, dong!" ucap Amanda ikut berkomentar.


"Mau nikah sama siapa?"


"Cari, dong!"


"Cari di mana? Wong jodoh saya masih tersesat, jadi sabarlah. Kamu sih enggak nuntun dia ke sini" jawab Juna asal.


"Kok aku? Abang, dong yang harus bergerak menemukannya?" sahut Amanda sembari menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan jalan pikiran Bujang lapuk yang satu ini.


"Kalau Abang ikutan nyari, enggak bakalan ketemu-ketemu, dong? Entar arah jalan kita beda. Saya ke Utara terus dianya ternyata di Selatan. Saya yang sibuk nyari, eh dia udah sampai di rumah. Dari pada sibuk nyari mendingan di tunggu saja dengan santai."


Amanda dan Evan kompak mendengus kesal. Selalu saja ada jawaban dari Bujang lapuk itu. Apa mungkin Juna belum move on dari sahabatnya? Entahlah!


"Terus bagaimana kalau saling tunggu?" tanya Habibah ikut melibatkan diri dalam pembicaraan Juna dan Amanda.


"Pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan," jawab Juna dengan entengnya.


"Enggak bakalan ketemu-lah, kecuali kalau saya atau dia tanpa sengaja dipertemukan oleh orang lain," lanjutnya.


"Itu mah Abang manja namanya, pantesan jodohnya enggan ada," sahut Habibah dengan raut wajah tak karuan.


Habibah menghela nafas panjang. Sedangkan Juna tersenyum dengan tampangnya yang tetap biasa-biasa saja. Kalem tampa beban.


Sementara Amanda lebih memilih tidak bersuara lagi karena terlanjur lelah dengan usahanya.


"Saya juga kepingin menimang Bayi lagi, jadi kapan Bang Rizqy akan menikahkan saya dengan Rizqia?" ucap Keynand bertanya. Dia sedari tadi hanya diam menyimak dan saat inilah momen yang tepat mempertanyakan hal itu.


"Apa kamu yakin saya bakalan menikahkan kamu dengan Rizqia? Bagaimana kalau saya tidak setuju?"


Deg


Jawaban menohok dari Rizqy membuat Keynand langsung terbungkam. Dia tidak menyangka Rizqy telah membuat harapannya terpental.


Rizqia yang mendengarkan hal itu hanya terdiam dan tidak tahu harus berkomentar apa.

__ADS_1


"Kasian! Ada teman saya ngejomblo," sahut Juna dengan mimik bahagia.


"Abang Keynand jangan khawatir, entar saya buatin Baliho besar-besar di sepanjang jalan rumah Kak Rizqy. Gini tulisannya pilih Keynand Putra Ardiaz sebagai Adik Ipar Lalu Rizqy Anggara. Unutma!"


Lika ikut berkomentar dengan rencana yang sungguh konyol.


"Keren itu, saya juga mau dibuatkan Baliho dengan fhoto paling tampan sejagat Baliho. Abang Keynand mari kita bersaing!"


Juna yang asyik menimang Putri dari Rizqy ikut terlibat dalam pergolakan batin Keynand. Sepertinya ia sengaja menghadirkan kekesalan dalam hati Duda dua kali itu.


"Bagaimana Adik Ipar setujukah saya menjadi Adik Ipar?" lanjutnya bertanya pada Rizqy yang saat ini sedang menggendong Putranya.


"Adik ipar menjadi Kakak Ipar atau Kakak Ipar menjadi adik ipar. Gimana judul yang bener, nih?" ucap Evan dengan keningnya yang mengkerut.


"Dari pada merusak bahasa, mendingan saya aja," sahut Keynand dengan wajah penuh dengan permohonannya.


"Pusing saya denger kalian berdua. Nih buat kamu saja Keynand. Ada di pakai gantung diri," ucap Rizqy sembari memberikan lima buah Tali.


Keynand menerima dengan pandangan melongo sedangkan orang-orang yang mengerti maksudnya mendadak diam dengam raut wajah yang entah.


"Itu artinya Rizqia akan dinikahkan dengan orang lain," ucap Juna menampilkan wajah cerianya.


"Benarkah?" tanya Keynand tidak percaya. Tidak menyangka kisah cintanya harus kandas. Dia melihat Rizqia yang terdiam dengan wajah sendu. Ada anggukan lemah darinya yang membuat Keynand merana.


"Tentu saja iya? Kau masih tidak percaya?" jawab Juna dengan wajah serius.


"Qia apakah kamu setuju?" Kini pertanyaan itu beralih kepada Rizqia.


"Bukankah saya sudah mengatakan kepada Abang Keynand, bahwasannya saya akan mengikuti apapun yang dikatakan oleh Kak Rizqy. Kak Rizqylah wali saya, terus apalagi kita gagal mendapatkan restu dari Mamiq," jawab Rizqia dengan lemah. Hatinya sungguh getir menerima kenyataan ini. Rizqia tidak bisa membantah apapun yang terucap dari lisan Kakaknya. Meskipun dia tidak suka, tapi pada kenyataannya dia harus melakukannya.


"Qia tidak bisakah bersama-sama memperjuangkan kebersamaan kita. Kamu itu Gadis merdeka, kamu berhak mengemukakan pendapat dan tidak harus manut saja."


Benarkah dia tidak berjodoh dengan Rizqia, Gadis bermata belo itu? Sungguh rasanya ingin menyangkalnya ataupun berteriak menolaknya. Takdir memang tidak bisa di tentang. Apakah ini sudah mutlak? Keynand belum yakin hal itu selama Rizqia belum diikat dengan ijab kabul jadi dia masih memiliki kesempatan.


"Sudahlah Key, jangan menentang kenyataan. Rizqy sudah memberikan keputusannya jadi hormati dia. Apalagi Pemuda yang akan menjadi calon Suami Rizqia juga Pemuda yang baik dan juga Sholeh. Bahkan kamu sangat mengenalnya," ucap Reynand dengan wajah datarnya. Dia menepuk bahu Keynand untuk menyemangatinya.


"Siapa?"


"Saya akan menghubunginya. Saat ini dia berada di Madinah."


Bukan Reynand yang menjawab melainkan Rizqy. Dia meraih Handphone lalu menekan beberapa digit angka.


Tidak butuh lama terpampang seseorang dalam Vidio call yang di hubungkan pada layar.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam. Sepertinya sedang kumpul nih? Sebentar saya absen dulu."


Keynand membeliak kaget saat melihat seraut wajah teduh muncul di dalam layar.


"Lalu Rasya Fauzan? Apakah dia pemuda yang akan di jodohkan dengan Qia?" Keynand membatin belum bisa melepaskan diri dari keterkejutannya.


"Ada Kak Lika dan Abang Reynand, ada Kak Rizqy dengan Kak Bibah, tidak ketinggalan ada Abang Keynand juga. Ada wajah baru juga yang tidak saya kenal. Assalamu'alaikum kakak-kakak, saya Rasya adik paling bontotnya Baiq Mandalika."


"Wa'alaikum salam. Hai Rasya saya Evan dan ini Amanda Isteri saya."


Evan membalas sapaan Rasya dengan menyebut namanya dan memperkenalkan Amanda sebagai Isteri.

__ADS_1


Rasya menyambut perkenalan itu dengan anggukan dan senyum ramah yang terlihat sangat tulus.


"Lalu yang paling keren itu siapa?"


"Nah ini yang saya suka. Kalau di puji seperti ini saya yang akan paling semangat mendukung cita-cita Rasya dan Rizqia menyatu."


Ucapan Juna membuat Keynand kian bergemuruh. Dia tidak terima Juna mendukung bakal calon Suami Rizqia apalagi orang tersebut adalah Rasya, bocah ingusan yang baru saja tahu bagaimana caranya berthaharah.


"Jangan cemberut Daddynya Raski Ananda Ardiaz, terima saja nasipmu. Lihatlah calon Suami Qia, ganteng udah gitu, hafizh lagi."


Juna mengolok Keynand dengan terang-terangan.


Keynand tidak membalas tapi hatinya sangat bergemuruh berusaha menahan amarah di dadanya. Dia merasa di khianati oleh keluarganya sendiri.


"Saya Juna, Sepupunya Habibah Rosy."


"Salam kenal, Kak."


Rasya terdiam sebentar. Lalu pandangannya dia tujukan kepada Rizqia sebentar lalu beralih kepada Rizqy.


"Kak Rizqy, jadi anda sudah setuju dengan pinangan itu?"


Rizqy mengangguk jelas tanpa keraguan.


"Alhamdulillah. Bagaimana dengan Kak Qia, apakah setuju juga?"


Rizqia mengangguk dengan sangat jelas.


Jawaban tegas Rizqia menghancurkan harapan Keynand. Kini tidak ada kesempatan lagi bersama Gadis impiannya itu. Takdir kenapa tidak berpihak kepadanya. Dia hanya ingin bersama Rizqia, hanya itu? Kenapa sangat sulit terjadi.


"Alhamdulillah."


"Rasya kenapa kamu menikung Abang?" tanya Keynand dengan lesu.


"Maafkan Rasya, Bang."


Hanya permintaan maaf yang berhasil terucap dari Rasya.


Permohonan itu sangat menghujam jantung Keynand. patah hati dan tidak terima itulah yang terjadi pada hati kini. Tidak sanggup bertahan, Keynand memilih meninggalkan ruang rawat inap yang di tempati Rizqy dan Habibah.


Reynand menyusulnya. Langkahnya berusaha mensejajar langkah Keynand yang nampak tergesa-gesa menghindar dengan hatinya yang hancur berkeping-keping.


"Key, kamu harus terima dengan ikhlas. Tidak semua apa yang kamu inginkan musti kamu dapatkan. Persiapkan dirimu untuk menerima semua ini. Kamu pun akan menikah dengan Enah jika tidak berhasil mendapatkan hati Qia lagi. Bukankah itu kesepakatan dengan Daddy? Jangan lupa itu dan jangan mencoba lari dari kenyataan."


Kalimat panjang Reynand bagaikan racun yang menggeroti seluruh sel-sel tubuhnya. Hatinya sudah lumpuh tak memiliki gairah lagi untuk merasa.


"Iya, tenang saja gue tidak akan lari."


Benaknya bertanya-tanya dengan kepasrahan Rizqia. Jiwanya ingin memberontak dengan keinginan Ayah kandungnya sendiri.


Rizqia tidak bisa menyuarakan keinginannya. Pun Keynand tidak bisa menolak dengan keinginan orang lain.


Mengapa David Ardiaz, Rizqy Anggara, Rasya dan Gadis yang bernama Enah itu berkomplot menjadi orang yang menyebalkan.


"Bagus! Daddy sudah mempersiapkan pernikahanmu dengan Enah, tunggu sebentar lagi elu akan mengucapkan ijab kabul atas namanya."


Reynand menepuk bahu Keynand dengan penuh kasih sayang. Diapun tidak bisa mengubah keadaan. Sebagai Manusia dia bisa apa?

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2