Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2. 33


__ADS_3

Siapa kamu? Kamu Qia, kan?" Tanya Keynand merasa sangat mengenal dua bola mata jernih itu. Gadis itu tertunduk dengan cepat membalikkan badannya lalu pergi.


Keynand tak diam. Dia meraih lengan Gadis itu lalu dengan gerakan cepat dia membalikkan tubuh itu menghadapnya.


"Kamu Qia, kan? Mana mungkin Abang tidak mengenali mata indahmu Melong," ucap Keynand yakin. Dia meraih masker yang menyembunyikan wajah Gadis itu lalu melepaskan. Benar saja terpampang wajah Qia di balik masker yang berhasil dilepaskan oleh Keynand.


"Tidak salah, benarkan kamu Qia?" Ucap Keynand bahagia. Terlihat binar-binar cinta itu hadir di pelupuk mata Keynand. Tak pernah redup meskipun keadaan telah membuat mereka tak bersama.


Grep


Tanpa berkata lagi Keynand meraih tubuh tinggi semampai itu lalu membawanya dalam dekapannya. Keynand memeluk tubuh Qia dengan sangat erat, menyalurkan rasa dan rindu yang sudah tidak mampu di tahannya lagi.


Qia hanya bisa mematung. Dia merasakan Jantungnya tak berdetak normal. Ada gelenyar syahdu merembes hatinya dan terasa sangat tenang. Tubuhnya terasa membeku tak berhasil menolak. Hangat dan tenang yang dia rasakan dalam dekapan Laki-laki beristeri itu. Dalam kesadarannya, dia memaki dirinya yang hanyut dalam pelukan Keynand, Laki-laki yang masih menjadi Pemilik hatinya. Bahkan Otaknya pun tidak mampu lagi berpikir jernih. Dia seakan mendukung apa yang dilakukan Keynand kepada dirinya. Memeluknya.


"Qia, aku mohon jangan menolak. Sebentar saja, aku ingin sekali merasakan ketenangan ini meskipun apa yang aku lakukan adalah salah. Kita berdosa Qia, tapi aku tidak bisa begitu saja mengabaikan hati ini. Aku sangat merindukan kamu Qia." Keynand meminta.


Ini baru pertama kali keduanya saling bersentuhan dan mungkin saja untuk terakhir kalinya. Keynand akan selalu menjaga kehormatan Gadis yang dicintainya, meskipun pada akhirnya nanti ternyata dia tidak berhasil menghalalkannya.


"Aku mencintaimu Qia."


Ungkapan itu menghadirkan rasa nyilu di dalam hati keduanya. Qia merasakan cinta masih ada dan utuh untuk Keynand. Seketika air matanya merembes tak tahu malu.


"Kita berdua saling mencintai, tapi mengapa tidak bisa bersama?" Qia membatin dengan berusaha menahan kesedihan.


Mengaduh,itu yang dirasakan masing-masing hati. Keynand dan Qia.


Qia melepaskan diri dari pelukan Kekasih hati yang mana mungkin tergapai. Dia mencium bau anyir. Arah pandang langsung menuju bahu Keynand yang sudah basah dengan darah.


"Abang terluka?" Tanya Qia terkejut.


"Iya tapi anehnya Abang tidak merasakan rasa sakit. Pelukan kamu ternyata obat mujarab yang berhasil menghilangkan rasa sakit," jawab Keynand diiringi senyum cerahnya. Pandangannya tak lepas dari wajah Qia.


"Jangan mengada-ngada."


Qia melangkah menuju Sepeta motor yang ditinggal begitu saja lalu mencari seseuatu pada Tas Ranselnya. Setelah menemukan Jilbab cadangan lalu kembali menghadap Keynand. Dengan telaten dia menggunakan Jilbab itu untuk menghentikan darah yang masih saja keluar.

__ADS_1


"Abang harus segera ke rumah sakit. Takutnya nanti kehabisan darah," ucap Qia sembari tangannya sibuk mengikat bahu itu dengan jilbab miliknya.


"Mana mungkin, ada kamu yang akan membuat aliran darah ini kembali normal," jawab Keynand tak lepas memperhatikan kecantikan Gadis di hadapannya. Jaraknya sangat dekat membuat Keynand kian suka. Dia mencium wangi kenanga yang membuat saraf-sarafnya menjadi tenang sekaligus di kuasai hasrat.


"Abang jangan konyol. Golongan darah kita tidak sama, bagaimana caranya aku membantu Abang?" Qia mengerucutkan bibirnya kesal karena Keynand masih saja mengabaikan kesehatannya. Ada rasa takut jika terjadi sesuatu dengan Lelaki itu, tapi malah candaan yang dia dapatkan. Keynand sungguh aneh, pikirnya.


"Abang bisa menggigitmu setelah itu tubuh ini akan kembali normal, jadi kamu jangan cemberut." Keynand mengakhiri kalimatnya dengan menggoda Qia. Saat mendapati wajah Qia yang memerah malu, dia tertawa bahagia.


"Emangnya Abang Vampir? Aku pun tidak memiliki darah suci."


"Memang, kamu tidak memiliki darah suci tapi yang kamu miliki adalah darah biru."


Qia tak menyahuti lagi dengan segala kalimat mengada-ngada yang terucap dari Bibir Keynand. Setelah memastikan bahu itu tidak merembeskan darah lagi dia menjauh dari Keynand untuk membentangkan jarak.


"Aku pergi," pamit Qia kemudian berbalik arah menuju Motornya.


"Tidak bisakah kamu mengantarkan Abang pulang?"tanya Keynand berharap.


Qia membalikkan tubuhnya lalu menjawab keinginan Laki-laki itu. "Tidak cukupkah dengan membiarkan Abang memelukku? Jangan maruk. Akan ada Polisi yang datang mengambil Mangsanya, nanti Abang ikut mereka saja."


Huft


Keynand mengiringi ungkapan perasaannya dengan ciuman jauh.


Sedangkan Qia menanggapi dengan menggelengkan Kepala tak percaya dengan kekonyolan yang ditampilkan oleh Keynand.


"Qia kenapa diam? Tidak adakah balasan untukku?" tanya Keynand berteriak.


"Cinta Abang membuat hati ini kian mengaduh. Akan lebih terasa sakit lagi jika kita berdua memaksakan cinta yang tak pernah berpihak pada kita. Karena di antara kita ada Isteri Abang, Julaekha. Dialah yang berhak mendapatkan cinta Abang, bukan aku. Tidak akan ada yang mendukung diri ini jika berani membalas cinta Abang." Qia hanya mampu mengungkapkan resah itu dalam hati.


Sepeninggalnya Qia bersamaan itu pula Polisi datang. Keynand menjelaskan dengan singkat kejahatan yang menimpanya bersama Julaekha yang berhasil melarikan diri.


Keempat Begal tersebut di bawa bersama Keynand yang ikut menumpang sekaligus memberikan keterangan lengkap di Kantor Polisi.


***

__ADS_1


Keynand melangkah menuju rumah dengan berusaha menahan rasa nyeri di bahunya. Jilbab milik Qia dia pegang dengan erat sebagai cara meluapkan rasa yang membucah di dadanya. Walaupun bukan obat, tapi setidaknya berhasil menguatkan Keynand karena Jilbab itu milik dari Kekasih hatinya. Dimana Harum milik Qia masih tertinggal di sana bersama bau anyir yang melekat mengisahkan suatu kejadian.


"Pak Keynand kenapa?" Enah menyambut Keynand dengan pertanyaan. Gadis itu mematung sesaat saat mendapati Keynand dibalik Pintu dalam keadaan meringis kesakitan. Gadis itu bisa menebak telah terjadi sesuatu pada Tuannya ketika melihat wajah pucat itu.


Tanpa bertanya lebih lanjut, Gadis itu memberi jalan agar Keynand segera mengistirahatkan tubuhnya.


"Pak Keynand biar saya bantu?" Ucap Enah saat Keynand berusaha melepaskan Jilbab yang membalut lukanya.


Keynand hanya mengangguk pasrah. Dia merebahkan tubuh lemasnya pada Sofa yang tersedia di ruang keluarga.


"Dadek Raski mana?" tanya Keynand di sela tangan Enah mulai bergerak melepaskan Jilbab itu kemudian mulai membersihkan sisa-sisa darah yang mengering.


"Masih mengaji, sebentar lagi saya akan menjemputnya," jawabnya dengan tenang. Keynand menanggapi dengan anggukan tanda mengerti.


"Lukanya terlalu dalam sebaiknya Pak Keynand ke rumah sakit untuk di jahit. Saya akan memberikan Lidah Buaya agar cepat kering." Seusai berkata, Enah dengan cepat menuju ke Pekarangan rumah lalu mengambil Lidah Buaya secukupnya. Tidak butuh lama dia kembali lalu dengan cekatan mengoles Jel Lidah buaya pada luka di bahu Keynand.


"Kamu ngapain nyentuh-nyentuh bahu Suami saya. Apa kamu mencari kesempatan untuk menggoda Suami saya? Dasar Baby Sitter murah*n? Pergi sana."


Julaekha menyentak tangan mungil Enah yang mengoles Jel Lidah Buaya pada bahu Keynand yang terluka.


"Maaf nyonya saya hanya mengobati luka Pak Keynand sebelum ditangani oleh Dokter," jawab Enah dengan tenang. Tidak ada ketakutan yang ditampilkan oleh Gadis Culun itu. Dia seakan mempunyai power untuk melawan Nyonyanya. Enah rupanya tidak akan membiarkan dirinya di tindas.


Sementara Keynand hanya terdiam. Tenaga tidak ada yang tersisa untuk meladeni kelakuan Julaekha yang kekanakan-kanakan dan sangat parah egoisnya.


"Keynand memiliki Isteri yaitu saya Julaekha Sayarifah, kenapa kamu tidak memanggilnya? Dasar lancang, modus kamu ya? Jangan harap Keynand akan tergoda, jadi usahamu di pastikan sia-sia, culun gitu!"


Julaekha menatap Enah dengan pandangan merendahkan. Dia berdiri angkuh dengan tangan bersidekat. Dibibirnya tersungging seringaian sinis penuh aroma permusuhan.


"Nyonya Julaekha yang terhormat, dengar ya! Ini dalam keadaan darurat, Pak Keynand terluka kalau tidak ditangani dengan cepat, bisa-bisa Pak Keynand kenapa-kenapa. Dari pada mengomel lebih baik Nyonya bawa Pak Keynand ke rumah sakit atau panggilkan Dokter. Bukannya malah berdiri tak guna seperti Togok Mayure. Ngaku Isteri tapi tak tanggap," sahut Enah mengomel. Sementara tangannya tetap bergerak mengoleskan Lidah buaya lalu membalut luka itu dengan kain kasa.


Julaekha kian naik pitan. Dia meraih tangan Enah lalu menyingkirkan tubuh itu dengan menyeretnya kemudian menghempaskannya hingga tubuh Enah tersungkur.


"Dasar Baby Sitter tak tahu diri. Kamu melawan saya, hah? Kuasa apa yang kamu miliki sehingga berani-beraninya melawan Nyonya kamu sendiri. Orang yang memberikan kamu sesuap Nasi untuk kamu makan. Kalau bukan aku, kamu akan menjadi gembel di luaran dengan mati mengenaskan karena kelaparan."


Julaekha menumpahkan kekesalan dengan memaki-maki Enah yang sudah bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Gadis berkaca mata itu tidak menyahuti Julaekha. Dia lebih memilih meraih Handphonenya lalu menghubungi seseorang.


Bersambung


__ADS_2