Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
113


__ADS_3

Rizqia kemudian mengangguk setelah terdiam cukup lama.


"Iya saya memaafkan Abang dan bersama ini juga saya meminta maaf karena saya juga salah telah membuat kesalah fahaman itu terjadi." Dengan suara lirih Rizqia melanjutkan dengan kata-kata.


Mendengarkan itu Keynand tak mampu lagi membendung kebahagiaan. Dia tersenyum lebar dengan mata berbinar-binar cerah.


"Benar, kah apa yang Abang dengar ini? Abang sungguh bahagia."


Keynand selanjutnya tidak mampu berkata-kata lagi. Hanya kelegaan yang mewakilkan kata yang sedianya ingin terucap.


"Terima kasih."


Cukup lama menikmati kelegaan dan juga paras cantik yang menunduk malu. Keynand mengucapkan kata yang semestinya harus di dengar oleh Gadis pujaan hatinya.


"Kau tahu Qia, setelah malam itu ada desiran aneh yang menyambangiku. Ada rasa kesal, marah dan juga merindu. Abang terlalu sombong untuk tidak mengakui kalau kamu berhasil menempati hati ini bersama Mommynya Raski."


Usai berkata Keynand terdiam sejenak menikmati debar di hatinya yang semakin nyata. Dia menatap Rizqia yang menyembunyikan ronanya. Tak menyangka wajah indah itu mendongak. Mungkin penasaran, apa yang membuat Keynand tiba-tiba terdiam.


Sejenak mereka menikmati pandangan mata yang menyimpan rasa itu seperti sihir yang membuat siapapun terpana.


Tak kuasa menahan debar-debar yang semakin bertalu-talu Rizqia memutuskan pandangan itu. Gadis itu takut, tatapan mata itu akan senantiasa menjebaknya dalam ingatan yang takkan hilang saat mereka berjauhan. Tentu saja itu akan sangat menyiksanya.


"Jujur, awalnya mengira Abang tidak sanggup melupakan Habibah, Kakak Ipar kamu tapi ternyata itu keliru. Iya, Abang keliru memaknai rasa di hati ini."


Keynand panjang lebar menuturkan apa yang terasa di hatinya. Dia mengakui tentang perasaannya kepada Habibah yang masih ada saat pertemuan itu kembali terjadi. Namun dia menyadari, perasaan itu salah dan ingin memiliki perasaan yang benar. Rasa yang benar sejatinya telah menempati hatinya. Hanya saja malas mengakuinya. Kini dia tidak ingin menyesal jika terus-terusan menyanggah itu. Pada kenyataannya Rizqia sudah berhasil menjinakkan keangkuhannya.


"Lantas hatimu seperti apa Qia? Apakah kini ada Duda tampan ini di sana?" tanya Keynand serius. Dia ingin memastikan perasaan Gadis itu seperti apa terhadapnya. Apakah dia merasakan cinta di hatinya. Keynand ingin tahu itu. Jikalaupun Rizqia ternyata belum merasakannya. Dia akan berjuang menumbuhkan rasa itu di hati Gadis itu untuknya.


Rizqia hanya diam. Dia sejatinya jatuh cinta kepada Lelaki di hadapannya. Hanya saja rasa malu itu menahannya untuk tak menjawab. Dia ingin rasa itu terucap saat Keynand berhasil mengucapkan kabul itu atas namanya.

__ADS_1


"Baiklah, kamu tidak perlu menjawabnya, Melong," ucap Keynand menenangkan hati Rizqia yang nampak tertekan.


"Terima kasih, bang," sahut Rizqia lirih. Ucapan itu dibalas senyum tulus dari Keynand.


Mereka berdua kembali menikmati keheningan. Keynand bingung harus berkata apalagi. Otaknya mendadak sejalan dengan Lidahnya yang kelu. Seharusnya malam ini ada perubahan besar dalam hubungannya. Namun seakan mengabaikan kesempatan yang seharusnya di manfaatkan.


Keynand menjadi gusar harus berbuat apa dan berkata apa. Mendadak dia menjadi orang yang serius dan kehilangan guyonannya.


"Qia, kira-kira Putri Mandalika pernah jatuh cinta? Apa dia memiliki pilihan dari semua Pria yang melamarnya?"


Pertanyaan Keynand membuat kening Rizqia berlipat menjadi tiga lipatan. Mata besar itu semakin mekar menampilkan rasa penasarannya.


Mungkin Gadis itu bertanya tentang pertanyaan yang semustinya tidak perlu di bicarakan.


Keynand kikuh seketika. Dia membelai tengkuknya yang mendadak kaku.


Pengalihan rupanya, karena Keynand bingung harus berkata apalagi.


Rizqia dengan semangat menceritakan pendapatnya dari pertanyaan Keynand. Gadis itu ternyata menyukai kisah Putri Mandalika yang tersohor.


Keynand tersenyum mendengarkan cerita Rizqia. Entah apa yang dipikirkannya sehingga mengajukan pertanyaan itu yang ternyata sejalan dengan pikiran Rizqia.


"Putri Mandalika, meskipun hanya legenda semestinya kita seperti sosoknya yang sederhana, mandiri, cerdas dan sangat rendah hati selain itu juga religius. Konon katanya, sebelum memutuskan sesuatu dia berdiskusi terlebih dahulu dengan kedua orang tuanya dan meminta petunjuk kepada Tuhan." Rizqia melanjutkannya.


"Sepertinya kamu sangat menyukai tokoh Putri Mandalika?" tanya Keynand.


"Iya, tapi sejatinya tauladan kita bagi para Wanita akhir zaman adalah para Ummul mukminin. Mungkin saja tokoh Putri Mandalika merupakan salah satu tokoh Wanita yang meneladani para Ummul Mukminin." Rizqia menjawab dengan berterus terang akan kekagumannya dengan karakter Putri Mandalika. Tokoh itu sejatinya hanyalah legenda. Sedangkan para Ummul Mukminin bukan sebuah legenda ataupun rekaan semata melainkan tokoh nyata yang dibenarkan keberadaannya. Mereka adalah inspirasi bagi para Wanita muslimah.


"Melong benar," ucap Keynand bersama selarik senyuman yang mengiringinya.

__ADS_1


Gadis itu membalas perkataan Keynand dengan senyuman tulus kemudian menunduk kembali untuk mendengarkan pembicaraan selanjutnya.


Keynand terdiam lagi, tapi pandangannya tak lepas dari wajah Rizqia yang menunduk. Pria tampan itu semakin mengagumi sosok Gadis berparas mawar di hadapannya. Gadis ini sangat berbeda dengan para Gadis di luaran sana yang seusia dengannya. Sebagian dari mereka sibuk mengejar kemewahan dunia. Sementara ia sibuk mengejar ilmu yang akan menuntunnya dengan kuat menuju akhir hidup yang sebenarnya.


"Apa sudah selesai pembicaraannya?" tanya Rizqy. Dia melihat keduanya terdiam sehingga mengira pembicaraan mereka berakhir sepakat.


Keynand menggelengkan Kepala. Dia tidak rela sebenarnya malam ini berlalu begitu saja tanpa menghasilkan apa-apa.


"Sudah malam, sebaiknya kalian beristirahat," lanjut Rizqy membuat Keynand melemah. Terlihat Rizqia tak membantah. Dia berpamitan kemudian beringsut dari duduknya lalu menurunkan diri dari atas Berugak hendak mencari alas Kakinya.


Keynand menghela nafas. Dia tidak bisa menahan Rizqia agar lebih lama lagi menemaninya mengobrol. Tapi karena kakaknya yang meminta, Keynand tak bisa berbuat apa-apa. Dia cukup berterima kasih kepada Pria itu karena tidak pernah menyelanya.


Rizqia berlalu bersamaan dari Rizqy yang melepaskan Earphonenya.


"Kamu mau istirahat?" tanya Rizqy setelah Rizqia tak nampak lagi di hadapan mereka.


Keynand menggelengkan Kepala. Dia tahu Rizqy hendak berbicara serius dengannya.


"Tidak, belum mengantuk. Sepertinya ada yang ingin dibicarakan, bicarakan saja," sahut Keynand serius.


Rizqy terdiam sejenak memikirkan apa yang hendak di katakan Kepada Pria di hadapannya.


"Jika kamu serius menginginkan Qia, maka berikan kepastian untuknya," ucap Rizqy kemudian. Dia melihat wajah Keynand yang termangu sesaat. Beberapa detik kemudian selarik senyum terbit pada bibirnya.


"Apa Kak Rizqy merestui jika saya melamar Qia malam ini?"


Rizqy tak langsung menanggapi. Dia menatap Keynand dengan tatapan mata menyelidik. Ada ketidak percayaan yang nampak pada raut itu.


Sementara Keynand menunggu dengan perasaan tak karuan. Ingin rasanya memburu Rizqy, bila perlu memaksanya agar memberikan restu untuknya. Keynand tak sabaran ingin mengetahui apa yang akan dikatakan oleh Rizqy.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2