
"Tidak," jawab Keynand singkat dan yakin.
Riski semakin heran, dia menarik nafasnya perlahan sembari matanya asyik menyelidik Keynand. Mungkin saja ucapannya tidak selaras dengan hati Pria itu. Nyatanya Keynand jujur dengan apa yang dirasakannya. Dia tidak memiliki perasaan untuk Gadis bernama Rizqia.
"Lantas apa tujuan untuk menikahinya?" tanya Riski.
"Karena Raski, dia orang yang sangat tepat menjadi Ibu sambung Raski. Saya melihat dibalik sikap dinginnya penuh dengan kelembutan dan kasih sayang. Sifat keibuan melekat pada diri Rizqia meskipun usianya masih terbilang muda." Keynand menuturkan alasannya. Riski terlihat tak setuju dengan alasan dari Kakak Iparnya itu.
Riski menyayangkan sikap Keynand, tidak seharusnya menikahi seorang Gadis hanya gara-gara janji secara spontan terucap.
Merajut biduk rumah tangga tanpa didasari cinta tentu akan menjadikan hubungan itu tidak jelas. Masing-masing memiliki keinginan sendiri dan tujuan mereka sendiri. Bisa saja saling menyakiti karena tidak menemukan titik temu dari keinginan masing-masing.
Apa mereka bisa bertahan dalam suasana yang dingin dan hampa? Hidup bersama tapi terasa mati meskipun mungkin saja ada rasa mengerti disana. Kebersamaan mereka ibarat membangun dinding kokoh untuk tidak saling menyentuh dan mengusik.
Terlalu konyol! Hidup bersama tapi seakan tidak hidup bersama. Apa jadinya dan seperti apa wajah biduk rumah tangga yang tidak ada kasih sayang dan cinta disana. Rasa yang menyatukan mereka berdua sehingga terbentuk senyum penuh bunga-bunga bermekaran. Di dalam cinta itu ada canda tawa, ketenangan dan saling menjaga sehingga bermuara pada kata bahagia.
Riski sangat pusing memikirkan ini semua. Dia menghela nafas panjang.
"Sebaiknya Abang memikirkan ini semua. Nikahi Gadis yang bernama Rizqia itu atas dasar cinta bukan janji. Kasian dia, tidak enak rasanya hidup bersama seseorang tanpa dicintai."
Riski menasehati. Dia tidak ingin keduanya pada akhirnya terluka karena kebersamaan itu tidak menghadirkan cinta. Memang bisa kita hidup bersama tanpa cinta. Cukup menjalankan peran masing-masing dengan tanpa menyentuh ranahnya yang sifat pribadi.
Tentu saja karena adanya saling memahami tanpa harus menggunakan perasaan. Namun apa jadinya ketika hasrat itu menggebu tentu mereka akan saling menjauh karena tidak ingin melakukannya tanpa adanya cinta.
Disini yang paling merana adalah seorang Isteri. Menunaikan tanggung jawabnya agar tak berdosa atau menjaga hatinya agar tak menderita. Sedangkan Sang Suami mendapatkan keuntungan karena dia berhak mendapatkannya tanpa harus memikirkan perasaannya. Egois bukan?
Itulah sebabnya cinta itu harus ada agar apapun yang terjadi dalam biduk rumah tangga itu sendiri akan sama-sama menginginkan dan ikhlas melakukannya.
Keynand tak menjawab. Dia diam seribu bahasa dengan pandangan bermuara pada langit-langit yang terlihat usang.
"Pikirkan dulu, jangan memutuskan sesuatu saat diri diselimuti nafsu," ucap Riski lagi sembari menepuk bahunya.
Terkadang seseorang bisa menjadi dewasa dan terkadang bisa menjadi kekanakan sehingga tidak bisa memutuskan sesuatu dengan benar.
Keynand saat ini merasakan seperti itu.
"Ini saya lakukan demi Raski," ucap Keynand kemudian.
"Tidak salah, tapi tidak mungkin juga mengesampingkan kebahagiaan Rizqia. Mungkin benar Rizqia bisa menjadi Ibu yang baik dan mencintai Raski dengan sepenuh hati. Tidak diragukan lagi, tapi tidakkah Abang memikirkan perasaan Rizqia. Rizqia pasti sangat ingin dicintai oleh pasangannya." Riski berusaha untuk membuka pandangan Pria tampan itu. Entah apa yang terjadi dengan Keynand sehingga pikirannya sekacau ini. Riski yakin Keynand tidak bermaksud seperti ini, hanya saja tidak bisa mengambil keputusan dengan benar.
"Apa karena mbak Habibah? Abang belum bisa melepaskan cinta yang terlanjur ada untuk mbak Habibah?" tanya Riski menebak. Keynand menjawab dengan anggukan. Meskipun tak bersuara, namun isyarat itu jawaban yang sangat jujur.
"Abang rupanya sangat mencintai Mbak Habibah sehingga tidak ada cinta lagi untuk Gadis lain," guman Riski. Wajahnya terlihat sangat galau seolah-olah dia yang mengalaminya.
"Lepaskan cinta itu, agar Abang bisa mencintai Gadis lain," lanjutnya.
"Sangat sulit," sahut Keynand. Semburat pada wajahnya terlihat sangat muram. Dia ingin melepaskan diri dari rasa itu, tapi rasa itu sangat kuat mengikatnya. Dia ingin mencintai Wanita itu tanpa harus memilikinya. Karena inginnya itu membuatkan sangat sulit membebaskan diri dari perasaannya kepada Habibah. Dia juga ingin mencintai Gadis lain tapi nyatanya dia tidak mampu.
Keynand menghela nafas berat. Dia juga bingung dengan hatinya sendiri.
__ADS_1
"Kamu bisa bantu saya mencari tahu tentang Rizqia?" ucap Keynand kemudian.
Riski terdiam dan menghela nafas berusaha menyembunyikan kekesalannya.
"Baiklah, ini demi melegakan rasa penasaran Abang."
Riski pada akhirnya pasrah. Dia kembali menghidupkan Laptop yang sempat diabaikan karena asyik mengobrol. Dia kemudian mulai masuk ke data Mahasiswa.
Tidak butuh waktu lama, Riski berhasil mendapatkan data Pribadi Gadis yang dicari oleh Keynand.
"Rizqia memang berkuliah di Kampus Mentaram. Ternyata dia juga mengambil mata kuliah yang saya pegang," ucap Riski menerangkan.
"Berarti kamu tahu Gadis itu?"
"Sepertinya," jawab Riski singkat. Dia mencoba mengingat Mahasiswinya bernama Rizqia. Dia teringat seorang Gadis yang pendiam dan tenang. Dia datang tepat waktu dan pulang juga tepat waktu. Mahasiswinya itu tidak pernah berlama-lama di Kampus apalagi menyempatkan diri hanya sekedar mengobrol dengan teman-temannya. Dia lebih memilih langsung pulang jika tidak ada keperluan lainnya di Kampus.
"Benar kamu tahu dia?" tanya Keynand lagi. Dia melihat Riski terdiam seperti mengingat sesuatu.
"Iya," jawab Riski singkat.
Riski mengatakan kalau Gadis itu introvert tapi bukan berarti tidak pandai bergaul. Dia ramah dengan senyum hangatnya. Dia tidak banyak bicara dan lebih suka mendengar.
"Setahu saya seperti itu sesuai pengamatan sekilas," ucap Riski menjelaskan.
"Sebaiknya Abang mencari tahu sendiri. Semoga saja dekat dengan Rizqia menghadirkan rasa cinta. Saat itulah baru Abang menunaikan janji itu dan memberikan Ibu sambung untuk Raski. Jangan sampai menyakiti Rizqia karena saya yakin dia Gadis yang baik. Saya rasa semua Wanita tidak pantas untuk disakiti." Riski kembali mengingatkan Keynand.
Dia memang tidak pandai menjaga hati seorang Wanita. Namun berusaha untuk tidak memberikan harapan yang akan menyakiti, jika harapan itu tak kunjung datang.
Mereka kemudian terdiam larut dalam pikiran masing-masing. Cukup lama mereka terdiam sembari menatap Cicak yang menempel pada tembok tepat di hadapan mereka.
Drt drt drt
Dalam keheningan, suara Handphone membuyarkan lamunan kedua Pria itu disaat Sang Cicak berhasil menangkap mangsanya.
Hap
"Handphone siapa?" tanya Riski yang juga mengambil benda elektronik itu.
"Adly," ucap Keynand singkat. Dia menggeser Icon hijau lalu membalas salam yang terdengar terburu-buru.
("Abang Key, Fitri mau lahiran.")
tut tut tut
Belum saja menjawab, sambungan seketika terputus saat pemberitahuan itu berakhir.
"Apa?!" ucap mereka kompak.
Ketika menyadarinya Riski buru-buru mengganti kain sarung yang digunakannya dengan Celana. Sedangkan Keynand bergegas ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang terasa kusut.
__ADS_1
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun kedua Pria itu bergegas menuju Mobil. Riski tidak lupa mengunci Pintu dan menenteng Tas Ransel yang berisi Laptopnya. Kemana pun pergi Tas ransel itu akan ikut serta bersamanya. Alasannya dia bisa mengerjakan pekerjaan itu dimana pun berada dalam kondisi apapun. Jika dia tidak bisa hadir di kampus, maka Riski akan memberikan Materi lewat virtual. Dia tidak memberatkan Mahasiswanya, terpenting mereka hadir saat Jam pelajaran itu berlangsung meskipun lewat virtual jika alasan sangat jelas dan bisa diterima.
Keynand membaca doa setelah keduanya sudah berada di dalam Mobil. Dengan pelan Mobil Sport milik Keynand meluncur menuju Rumah Sakit Ardiaz. Dia yakin Adly akan membawa Isterinya ke Rumah Sakit Ardiaz. Saat ini sudah di pastikan Lika dan Reynand juga sedang menuju kesana. Tentu mereka sangat bahagia menyambut kehadiran keluarga baru sehingga tidak melewatkan momen ini.
Benar saja, sesampainya disana sudah ada keluarga besar Adly dan Lika. Tidak ketinggalan Reynand yang sedang duduk di samping Isterinya.
"Bagaimana? sudah lahir belum?" tanya Keynand saat mereka sudah berada di tengah-tengah mereka.
"Belum nak," jawab Ibu Munawarah dengan wajah cemas. Di sampingnya ada Ibu Fatimah yang berusaha menenangkannya dengan menepuk bahunya pelan.
Sementara Reynand dia memegang tangan Lika dengan erat. Terlihat wajahnya pucat dengan berusaha meredamkan ketegangan yang menguasainya.
"Loh kok! kenapa Abang Reynand yang terlihat tegang?" tanya Riski heran.
"Ini Ki, Abang membayangkan saat Lika melahirkan Renia sedangkan Suaminya tidak berada di sisinya. Itu pasti sangat menyakitkan, sangatlah sakit," jawab Reynand. Dia semakin memperelat tangan Isterinya dan menatap wajah itu dengan penuh cinta.
"Mas minta maaf," ucap Reynand secara tiba-tiba disela keheningan. Tidak ada yang bersuara setelah Reynand menjelaskan kenapa dia sangat tegang.
"Untuk apa? Mas tidak pernah melakukan kesalahan," sahut Lika heran.
"Saat melahirkan Renia, Mas tidak mendampingi kamu. Itu pasti sangat berat dan menyakitkan, namun kamu mampu melewatinya. Kamu memang Isteriku yang hebat."
Lika terharu dengan apa yang dikatakan oleh Reynand. Tidak menyangka Reynand merasa bersalah dengan ketidak hadirannya dulu saat Lika melahirkan Renia.
"Itu bukan maunya Mas Reynand. Itu sudah takdir dan seperti itu yang harus dijalani. Jadi, Mas Reynand jangan merasa bersalah." Dengan lembut Lika menenangkan hati Suaminya. Lika tidak ingin mengingat saat sulit yang pernah mereka alami. Baik Lika dan Reynand pernah mengalami kesakitan, penderitaan dan juga rindu karena jauh dari Kekasihnya. Dalam waktu yang panjang mereka berdua menikmati kesakitan itu dan pada akhirnya terbiasa merasakannya. Cobaan itu membuat keduanya kuat dan tegar menjalani hidup ini.
"Insyaa Allah saat kelahiran anak kedua kita nanti Mas akan selalu mendampingimu. Mas tidak ingin jauh-jauh darimu dan itu doa Mas, diizinkan selalu menemani kamu," ucap Reynand penuh dengan harapan.
"Aamiin."
"Semoga Fitri dan anaknya selamat dan sehat-sehat saja," lanjutnya.
"Aamiin," ucap mereka serempak.
Saat mereka dipenuhi dengan harapan, terdengar Pintu di buka. Seketika semua mata menuju ke arah sana menanti dengan harapan akan bahagia.
"Nine," ucap Adly terlihat sangat bahagia dengan syukur terus terucap.
"Nine? maksudnya?" tanya Keynand bingung.
"Jangan bilang Mas Reynand juga bingung." Lika menimpali pertanyaan Keynand.
Reynand menggaruk Kepalanya dengan menampilkan wajahnya yang terlihat bingung.
"Nine itu namanya Bayi Adly, kan? kalau diperhatikan nama itu seperti nama anak Perempuan," jawab Reynand memasang tampang lugu.
"Ya Allah Mas Reynand," ucap Lika tidak bisa lagi menahan tawanya.
Hahahaha
__ADS_1
Mereka kompak tertawa. Reynand salah tingkah sedangkan Keynand masih tak mengerti maksudnya.
Bersambung.