Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
Chapter 57


__ADS_3

"Mas Rizqy tertembak?"


Habibah terkejut dengan khabar yang baru saja di dengar dari seseorang yang menelponnya. Tanpa sadar Handphone yang dipegangnya terjatuh karena tangannya seakan tidak memiliki tenaga hanya sekedar menggeggam benda itu.


Air mata seketika tumpah tatkala mengetahui khabar yang menimpa Suaminya.


"Mas Rizqy."


Dalam isak tangis dia memanggil nama Suaminya.


"Innalillahi."


Terucap kalimat itu tanpa mendengar diseberang sana seseorang yang menghubunginya berulang-ulang memanggil namanya.


("Ibu Habibah apa anda masih disana?")


Habibah tersadar, dia kembali meraih Handphonenya.


("Iya, saya masih disini. Rumah sakit mana?")


("Rumah sakit Provinsi.")


("Terima kasih, saya akan segera kesana.")


Habibah berjalan menuju Lemari mengambil Jaket dan Jilbab Instan. Dia segera menggunakan Jaket itu kemudian menutup kepalanya dengan Jilbab Instan yang diambil sembarangan.


Setelah itu dia bergegas keluar dari kamarnya dengan menenteng Kunci dan juga Tas yang segera disampirkan pada bahunya.


Habibah mengendarai Sepeda Motor menuju Rumah Sakit Provinsi yang jaraknya tidak dekat.


Selang beberapa menit dia sampai di Parkir rumah Sakit lalu memarkirkan Sepeda Motornya. Setelahnya dengan berlari dia menuju ke IGD.


"Korban tertembak?" tanya Habibah singkat.


"Di ruang Operasi Mbak," sahut Petugas bagian IGD memberitahu.


Habibah mengucapkan terima kasih. Dengan langkah lebar dia menuju ruang Operasi yang ditunjukkan oleh Petugas itu.


Tidak jauh melangkah, dia menemukan ruang tersebut dan mendapati Ruang itu masih tertutup dengan lampu di atas Pintu masih menyala. Itu petanda kalau Suaminya masih ditangani.


Habibah duduk lemas pada Kursi yang tersedia disana. Dia tidak sanggup berkata-kata hanya air mata yang terus mengalir membasahi kedua Pipinya. Dia tidak menyadari keberadaan tiga Pria yang berjaga-jaga di depan ruang operasi.


"Astaghfirullah."


"Ya Tuhan selamatkan Suami hamba."


Lirih doa terucap dengan diiringi air mata yang terus keluar tak henti. Dia menyeka air mata semakin dia menyeka, air mata itu semakin mengalir.


Dadanya sesak, dia merasakan juga kesakitan yang sedang dialami oleh Suaminya. Suaminya sekarang sedang berjuang melawan kesakitan agar tetap bertahan.


"Mas Rizqy harus kuat, jangan tinggalkan Bibah Mas? Mas janji akan selalu bersama-sama dalam waktu panjang bukan secepat ini." Habibah berguman dalam isak tangisnya. Sembari berdoa untuk keselamatan Rizqy.


"Dengan Ibu Habibah, Isteri dari Bang Rizqy?" tanya salah satu dari ketiga Laki-laki yang berada disana. Mereka sedari tadi memperhatikan Habibah yang sibuk dengan kesedihannya.


Habibah mendongakkan wajahnya menatap Laki-laki yang bertanya kepadanya. Setelah menyadari keberadaan mereka, barulah Habibah menjawab dengan anggukan.


"Kenalkan saya Fahri dan kedua rekan saya Adi dan Bayu," ucap Laki-laki itu memperkenalkan diri dan rekan-rekannya sembari menunjukkan Kartu Anggota sebagai Police.


Habibah mengangguk sebagai bentuk sopan santun.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengan Suami saya?" kemudian Habibah bertanya.


"Suami Ibu Habibah berusaha menyelamatkan Bang Adi dari tersangka yang melawan. Namun ternyata Peluru itu malah mengenai Dada sebelah kanan Bang Rizqy saat berusaha menghindar."


Fahri menceritakan kronologis kejadiannya. Cerita itu dibenarkan oleh Laki-laki yang bernama Adi. Tidak menyangka posisinya yang dalam bahaya digantikan oleh Rizqy yang saat kejadian masih berada di TKP.


"Suami anda sangat gigih. Dia nekat masuk ke rumah tersangka untuk menemukan barang bukti. Setelah menemukan dan menyerahkan ke Pihak berwajib, dia tidak lantas pergi. Bang Rizqy malah ikut membantu Operasi tangkap tangan terduga penyuapan dan korupsi oleh salah satu oknum Pejabat. Saat OTT terjadi ada perlawanan dari mereka sehingga kita bertindak. Namun satu hal yang luput dari perhatian kita bahwa salah satu dari tersangka memiliki Senjata Api."


Fahri melanjutkan penuturannya dengan tidak lupa meminta maaf karena tidak mampu melindungi satu Timnya.


Tidak ketinggalan juga Adi mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kebaikan Rizqy yang berusaha menyelamatkannya.


"Bang Fahri, itu diluar kemampuan kita sebagai Manusia jadi tidak perlu merasa bersalah," ucap Habibah. Dia berusaha untuk kuat karena sadar hal ini pasti akan terjadi jika berhadapan dengan penindakan.


"Bang Adi, sama-sama. Itu semua atas kehendak Tuhan," lanjutnya.


Setelahnya tidak ada pembicaraan. Habibah masih saja terisak dengan doa yang tak henti terucap. Dia sesekali mengarahkan matanya ke arah ruang Operasi berharap Pintu itu segera terbuka. Namun sekian lama menunggu belum ada tanda-tanda Pintu itu akan terbuka secepatnya.


"Ibu Habibah sebaiknya anda makan sahur dulu," ucap Fahri menyodorkan sebungkus Nasi dan sebotol air mineral.


Dia mengambil apa yang disodorkan oleh Laki-laki itu dengan tak bersemangat. Habibah menyuap makanan bersama ingatannya tentang Sang Suami.


"Bibah, Mas seneng deh!"


"Seneng karena apa?"


"Iya seneng karena ada kamu nemenin Mas makan. Mas jadi semangat makannya, kamu juga gitu harus banyak makan biar Pipinya tambah Chubby."


"Enggak ah! kalau aku banyak makan, entar gendut terus kalau aku gendut Mas pasti bakalan nyari yang langsing-langsing." Habibah berucap sembari memamerkan wajah cemberutnya.


"Iya udah kalau enggak mau gendut. Yang terpenting kamu sehat. Kamu mau gendut kek! mau kurus kek! kalau Mas sudah tetapkan kamu milikku seperti apapun rupamu, Mas enggak pedulilah. Tetap bakalan suka."


Habibah terharu mendengarkan kata-kata tulus dari Suaminya. Dia tersenyum hangat dibalas senyum bahagia dari Rizqy. Tangan itu tidak ketinggalan menjawir hidung mancung milik Habibah karena gemas.


Habibah kembali terisak saat teringat kalimat romantis dari Suaminya. Nasi yang dikunyahnya mengapa sangat sulit menjadi halus. Dia merasa Nasi itu seperti duri yang melukainya.


Ketika mereka makan, terdengar Pintu dibuka. Habibah menghentikan suapan. Dia meletakkan bungkusan Nasi pada Kursi yang di duduki kemudian mendekat ke arah Dokter yang baru saja keluar.


"Bagaimana keadaan Suami saya, Dokter?" tanya Habibah tak sabaran.


"Alhamdulillah operasinya sukses. Peluru yang bersarang pada tubuhnya berhasil di keluarkan. Pasien sempat kritis karena terlalu banyak mengeluarkan darah. Beruntungnya golongan darah pasien masih ada stocknya di rumah Sakit sehingga tidak membutuhkan pendonor."


Habibah mengucapkan rasa syukur karena Rizqy berhasil melewati masa kritis. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada Dokter yang telah berjuang mengerahkan kemampuan untuk berikhtiar menolong Rizqy. Atas kehendak Tuhan sehingga operasi itu berjalan dengan baik dan Rizqy bisa diselamatkan.


"Boleh saya melihat Suami saya, Dokter?" tanya Habibah.


"Boleh tapi sebelumnya Pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan," jawab Dokter memberitahu. Dia kemudian berpamitan, bersamaan itu pula Dua orang Perawat keluar membawa Rizqy yang terbaring tak sadarkan diri di atas brangkar.


"Mas Rizqy."


Tak kuasa melihat keadaan Suaminya, Habibah kembali menangis. Dia melangkah mengikuti dua perawat yang membawa brangkar Suaminya menuju ruang inap.


Selain Habibah, ketiga Anggota itu dengan setia menemani langkah Habibah karena memang ditugaskan untuk menjaga Rizqy.


Sesampainya di ruang Inap, Habibah diperbolehkan masuk setelah Perawat melaksanakan tugasnya.


"Mas Rizqyyy."


Habibah langsung berhamburan memeluk tubuh Suaminya yang tidak berdaya itu. Dia menangis sembari memanggil nama Suami, tapi Rizqy tidak merespon. Rizqy masih tidur dengan lelap. Hanya suara alat medis yang terdengar. Itu petanda masih ada kehidupan disana.

__ADS_1


"Mas, bangun dong! Mas harus kuat, Mas harus sehat. Bukankah Mas tidak suka melihat aku menangis seperti ini. Bukankah Mas ingin selalu melihat senyum Habibah. Tapi kenapa Mas malah tidak membuka mata saat aku di hadapan Mas."


Habibah tetap saja mengajak Rizqy berbicara. Kata Dokter meskipun operasi berhasil tidak menutup kemungkinan Pasien akan kembali kritis. Jika Rizqy tidak sadar dalam beberapa waktu ke depan di khawatirkan dia akan koma.


Mendengarkan penjelasan Dokter seketika itu Habibah lemas tak berdaya. Yang bisa di lakukan sekarang hanyalah berdoa karena harapan itu selalu ada. Dia melihat itu pada wajah Suaminya yang terlihat kuat. Rizqy pasti akan segera sadar dan berhasil melewati masa kritis.


Dia menengadahkan tangan lalu berdoa dalam kerendahan hati dan diri. Manusia tidak mempunyai daya dan upaya melainkan Pertolongan dari Tuhan.


Saat keheningan yang terasa, Habibah semakin khusuk memanjatkan doa. Berharap Suaminya segera sadar.


Wanita itu dengan setia menemani Rizqy. Tangannya tidak lepas menggenggam tangan Rizqy. Pandangannya tidak mau beranjak dari wajah Suaminya.


Hingga adzan subuh berkumandang barulah Habibah mengalihkan perhatiannya. Dia berpamitan dengan meninggalkan kecupan di bibir itu.


"Mas sudah subuh, waktunya Shalat. Aku tinggal ke Musholla, ya? Nanti kalau aku sudah kembali, Mas Rizqy harus sudah bangun."


Selesai berkata Habibah keluar dari ruang inap. Langkahnya sangat bersemangat menuju Musholla.


Sesampai di Musholla, dia segera mengambil air wudhu lalu masuk ke dalam Musholla menuju Shaf Wanita. Dia bersama jamaah lainnya segera menunaikan dua rakaat.


Beberapa menit berlalu, Habibah dan jamaah lainnya selesai melaksanakan kewajiban. Wanita itu merapikan alat Shalatnya kemudian menaruhnya pada tempat yang telah di sediakan.


Dia bergegas menuju ruang Inap tempat Suaminya di rawat. Saat sampai ambang Pintu, dia menemukan Dokter dan Suster sedang memeriksa keadaan Rizqy.


"Apa yang terjadi?" tanya Habibah panik.


"Bang Rizqy kembali kritis?"


Jeddaaaar


Jawaban itu membuat Habibah terjatuh, Kakinya tidak mampu menopang tubuhnya yang tiba-tiba lemas. Dia menatap Pintu itu dengan pandangan nanar. Di dalam sana nafas Rizqy sedang berusaha dipertahankan.


***


Sementara Keynand, ia tidak bisa memejamkan mata barang sejenak. Entah apa yang terjadi dengannya sekarang. Dia teringat dengan Rizqy, Pria yang dia sakiti dan sekaligus menyelamatkan hidupnya. Jika tidak ada Rizqy, mungkin sekarang dia berada dalam kesulitan.


Dengan mengesampingkan amarahnya, Rizqy mau membantunya. Sangat sulit menemui orang baik seperti Laki-laki itu. Jika orang lain, mungkin saja membiarkan Keynand menghadapi bahayanya sendiri dan terjebak disana.


Tak merasa tenang, dia meraih Handphone lalu menekan nomor seseorang.


("Adly, selidiki Sekretaris baru itu.")


("Apa Abang mencurigainya?")


("Iya.")


("Beres Bang, secepatnya Abang akan mendapatkan informasinya.")


Keynand mengakhiri panggilan saat Adly bersedia menyelidiki Sekretarisnya. Dia merasa Sekretarisnya itu mengetahui hal ini dan ikut andil di dalamnya.


Bersambung.


Visual Habibah Rosy, semoga cocok ya?



Visual Lalu Rizqy Anggara.


__ADS_1


Visual Keynand Putra Ardiaz, segera menyusul.


Semoga pada suka.


__ADS_2