
"Pikiran Ibu Julaekha saja yang terlalu dangkal. Qia itu bukan Gadis murahn dan satu hal lagi bedakan antara menolong dengan mendekati. Qia murni menolong Pak Keynand dan mungkin saja saat waktu bersamaan dia melewati jalan yang sama yang kalian lewati. Saat melihat kejahatan di depan mata, Qia dengan beraninya ikut bertarung membantu Keynand meskipun berada dalam bahaya. Saya rasa Qia Gadis yang cerdas. Dia merasa mampu untuk membantu Keynand sehingga memilih bertarung. Kalau seandainya dia tidak bisa bela diri, mana mungkin dia bertindak bodoh. Itu sama artinya menyerahkan nyawanya secara percuma-cuma. Bisa saja dia akan memanggil warga untuk menolong. Dari pada anda yang mengaku Isteri Pak Keynand malah tidak melakukan apapun. Satu hal lagi hati-hati dengan apa yang anda ucapkan. Ini jelas-jelas fitnah."
Dokter Vidya berupaya mengingatkan Isteri dari Direktur Hotel Ardiaz itu, meskipun hatinya diliputi kejengahan. Mendadak suasana hati Ibu hamil itu menjadi dongkol dan sangat tidak menyukai Julaekha, entah kenapa? Apa mungkin wajah angkuh yang di tampilkan olehnya dan juga berkataan tak beretika yang sering kali terlontar dari bibir merahnya membuat Dokter Vidya di rundung tak nyaman.
"Kamu membelanya? Kamu lupa siapa yang sedang kamu ajak bicara? Ini caramu bersikap pada Isteri dari Bos kamu sendiri. Dasar tidak punya adab. Masih menjadi kacung saja bersikap seolah menjadi Nyonya besar. Mengais rezeki di Ladang milik Suamiku saja masih bersikap layaknya Pemilik lahan. Seharusnya kamu sadar dengan siapa kamu berhadapan. Seharusnya kamu loyal kepadaku Nyonya kalian dari pada susah payah membelanya," ucap Julaekha ketus. Dia tidak terima Dokter Wanita itu membela orang lain, apalagi menasehatinya. Dia tidak suka di salahkan atas apa yang dilakukannya. Baginya, apapun itu entah benar atau salah dia selalu menganggap dirinya benar..
Dokter Vidya memutar bola mata dengan malas. Lagi-lagi Julaekha mengandalkan kekuasaan yang di miliki oleh Keynand, Sang Suami.
"Saya tidak lupa. Anda Isteri dari Keynand Putra Ardiaz, salah satu Menantu keluarga Ardiaz sedangkan kami bertiga mencari rezeki pada perusahaan milik Pak Reynand. Itu memang benar, kami bertiga tidak akan lupa itu. Namun anda salah jika saya bersikap tidak sopan. Saya hanya mengingatkan agar berhati-hati dengan prasangka buruk kepada orang lain yang belum tentu bersalah dan saya rasa, benar Ibu Julaekha tidak pantas di sebut Nyonya Keynand. Karena kenapa? Karena Menantu dari Daddy David dan Mommy Marisa bukanlah seorang Isteri Pengecut yang meninggalkan begitu saja Suaminya. Coba kita lihat Lika, Wanita itu dengan beraninya mempertahankan apa yang menjadi milik Suaminya saat orang lain hendak merampasnya dan mendiang Mega, dia dengan setia mendampingi Pak Keynand saat berada di titik terpuruk, di mana saat itu Sang Suami sangat sulit untuk bangkit."
Dokter Vidya pada akhirnya bersuara. Bukan maksud untuk membedakan antara Julaekha dengan kedua Menantu Wanita keluarga Ardiaz, hanya saja agar Julaekha mengetahui tanggung jawabnya sebagai Isteri dari Keynand. Dimana begitu banyak yang menyukainya dan begitu banyak pula yang membencinya. Tentu saja berupaya untuk menghancurkan kesuksesan yang di capai keluarga Ardiaz.
"Sepertinya kamu sangat mengenal Lika dan Mega, tapi sayangnya aku bukan seperti mereka yang harus tunduk patuh pada aturan keluarga Ardiaz. Aku Julaekha berbeda dengan Mega apalagi Lika yang bisanya hanya mengurus rumah dan anak-anak. Dia sama saja seperti Pembantu ataupun Baby Sitter. Sedangkan aku Wanita karier dan berpendidikan tinggi, jadi jangan meminta seperti mereka yang harus berkorban untuk Suami. Keynand yang harus berkorban bila perlu memberikan seluruh hartanya bukan hanya sekedar nyawa untuk melindungi keselamatanku. Bukan malah aku," ucap Julaekha dengan pongah.
"Keynand seharusnya memecat kalian bertiga karena telah bersikap tidak sopan pada Isterinya. Keynand aku perintahkan pecat mereka bertiga. Dasar kacung tidak punya Otak," imbuh Julaekha dengan tatapan mengintimidasi.
Ketiga Dokter itu terbelalak terkejut. Pun begitu dengan Keynand yang tidak menyangka Sang Isteri berani memerintahnya.
"Apa kamu bilang? Memecat mereka? Mereka bertiga itu sahabat Abang Reynand dan juga sahabat saya. Kami menganggap mereka bertiga adalah keluarga, saya tidak akan pernah memecat mereka bertiga. Kamu itu jangan semana-mena Julaekha. Jangan pernah memerintahku," balas Keynand tegas. Dia berusaha menahan amarah apalagi mengumbar aib rumah tangganya. Namun nyatanya Julaekha sendiri memperlihatkan watak buruknya.
Keynand beristighfar untuk menenangkan dirinya agar tidak lepas kendali apalagi berusaha menahan diri untuk tidak mengucapkan talak yang kini berada di ujung lidahnya. Tubuh Keynand bergetar, dia sangat takut akan murka Tuhan jika terlontar kata talak dari bibirnya. Dia sadar Isterinya bukanlah Isteri Soleha. Ia kerab kali bertindak semena-mena. Namun kewajibannya untuk meluruskan tulang rusuk yang bengkok dengan berlahan-lahan. Entah sampai kapan dia sanggup bertahan dalam rumah tangga yang tak sehat ini.
"Kamu membela mereka bertiga dari pada Isteri kamu sendiri? bagus, terus saja seperti itu," sahut Julaekha dengan lantang.
"Jelas, mereka tidak bersalah, di mana letak salahnya? Dokter Vidya hanya menjelaskan bagaimana seharusnya kamu bersikap sebagai Isteri. Bersikaplah sebagai mana Isteri yang sebenarnya Julaekha."
"Kalau begitu kamu juga harus menjadi Suami yang sebenarnya Suami. Jangan hanya memintaku saja Keynand," balas Julaekha tidak mau kalah.
Keynand menghela nafas berat. Dia tidak mau lagi berdebat yang tak akan ada ujungnya. Daddy dari Raski itu lebih baik mengalah dari pada terus-terusan menjadi tontonan gratis dari tiga orang lain yang kebetulan menyaksikan ketidak harmonisan rumah tangganya.
__ADS_1
"Pak Keynand, saya sudah selesai mengobati luka anda. Oh ya ini obatnya dan jangan lupa di minum dengan teratur agar lukanya cepat sembuh." Dokter Rasyid bersuara mengalihkan perhatian. Sedangkan Dokter Vidya merasa bersalah kepada Keynand karena meladeni kekasaran Julaekha. Tidak seharusnya dia memancing kemarahan Julaekha. Namun karena jengah, kata-kata tak seharusnya meluncur begitu saja.
"Pak Keynand, apa Enah itu masih menjomblo? Boleh dong di salamin untuk Dokter Rasyid. Kasian sampai sekarang tidak laku-laku, lama-lama menjadi Bujang Lapuk dia," ucap Dokter Aditya mengubah topik pembicaraan agar suasana menjadi kondusif kembali.
"Sepertinya masih jomblo. Saya dengar juga dia masih kuliah, jadi terkadang ke kampus kalau tidak mengambil kelas Online. Tenang saja nanti saya salamin," sahut Keynand dengan diiringi senyum. Dia melirik Dokter Rasyid yang malu-malu kucing.
"Jadi boleh dong Dokter Rasyid ke sini untuk midangnya?" tanya Dokter Aditya
"Boleh-boleh, silahkan! Semoga saja berjodoh," sahut Keynand diiringi dengan anggukan kepala.
"Lampu ijo nih, tancap Gas dan gas poll Dokter Rasyid." Dokter Aditya menyemangati Dokter Rasyid. Sementara Dokter Rasyid hanya tersenyum. Ekspresinya tidak menerima dan tidak pula menolak, seakan berada di zona abu-abu.
"Apa kalian ingin menjodohkan Laki-laki ini dengan Enah si culun itu? Emangnya sudah kehabisan stock Wanita sehingga Enah yang kampungan itu di embat juga. Kasian banget kamu dapat Wanita yang tidak berkelas dan tidak berkualitas gitu!"
Julaekha kembali menyela dengan melontarkan kata hinaan kepada Enah. Dia melihat Rasyid dengan pandangan mengejek.
"Julaekha jaga bicara kamu!"
Usai mengolok, Julaekha tertawa lebar menertawakan wajah-wajah mengenaskan di hadapannya.
Ketiganya memilih berpamitan karena sudah merasa kenyang dengan hinaan yang dilontarkan oleh Julaekha.
Keynand meminta maaf atas ketidak nyamanan yang di rasakan oleh tamunya. Padahal mereka bertiga berniat menjenguk dan mengobati luka di bahunya. Namun malah hinaan yang mereka dapatkan.
Sementara Enah yang sudah datang sejak tadi hanya bisa mengelus dadanya bersabar. Tidak lupa untaian istigfar terucap dari bibir merah Jambu miliknya.
"Kok bisa Pak Keynand yang baik berjodoh dengan Nyonya Julaekha yang sombong? Enggak masuk akal, kan? Tapi mengingat kisah para Nabi dan Rasul, jadi hal itu sangat mustahil terjadi. Nabi saja ada yang mempunyai Isteri durhaka dan ingkar, apalagi Pak Keynand. Benar sih? Masuk akal sih? Udah ah, ngapain julid."
Enah sibuk mendumel dengan pandangan heran kemudian menggelengkan Kepala seperti orang yang berdzikir.
__ADS_1
"Mbak Enah ngomongin apa sih? Asyik banget kayaknya sampai-sampai Dadek Raski di cuekin," ucap Raski mengagetkan Gadis Baby Sitter itu.
"Astaghfirullah. Dadek Raski bosen ya? Wadowh mbak Enah khilaf nih! Kalau gitu kemon bibih ayok kita meluncur ke kamar my pangeran tampan."
Enah menepuh jidatnya lalu larut dalam candaan bersama Raski.
Hahahaha
Tawa menggema sesaat candaan itu terlontar.
"Mbak Enah lucu, enggak ada nyamuk di jidatnya eh malah di tepuk. Suka banget buat jidatnya kesakitan, apa enggak protes tuh?"
Raski tertawa lebar. Nampaknya sangat senang dengan segala tingkah laku Enah yang menurutnya sangat lucu. Baby Sitternya itu sangat pintar mengekspresikan wajahnya sehingga terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
"Ada, nyamuk dari bangsa Jin. Enggak keliatan tapi bisa dirasakan, makanya mbak Enah tabok."
Raski mengkerutkan dahinya sembari menggaruk pelipisnya. Anak kecil itu sibuk berpikir dengan kebenaran yang di sampaikan baby sitternya sekaligus ada raut tidak percaya di sana.
"Emang ada?"
"Allahual'am," jawab Enah mengedikkan bahunya.
"Udah enggak usah terlalu serius berpikir, tadi mbak enah hanya becanda. Just kidding Son."
Enah menggandeng tangan Raski. Langkah kaki keduanya diiringi dengan canda tawa yang menggema di kediaman Keynand.
Sang Daddy melihat keceriaan Putranya, jadi ikut merasa bahagia. Dia tersenyum melihat Sang Putra baik-baik saja dan tidak kekurangan kasih sayang meskipun Sang Mama tidak mendampinginya di dunia.
"Honey, anak kita kian hari kian besar dan juga cerdas. Aku berjanji akan melimpahkan kasih sayang untuk anak kita dan mamastikan masa depan yang indah untuknya. Jadi honey tenang saja di sana ya?. Banyak orang yang akan menjaga Dadek Raski di sini," ucap Keynand di dalam hatinya. Dia seakan melihat senyum manis sang Isteri tercinta di setiap sudut rumah tempat mereka selalu mengukir kemesraan. Ibu kandung dari Putranya itu akan selalu hadir dan hidup dalam ingatannya. Hanya kenangan indah yang terasa saat mengingat honeynya.
__ADS_1
***
Bersambung.