
Malam harinya sepasang Suami Isteri itu terlihat seperti saling bermusuhan. Tidak ada canda tawa seperti biasanya.
Rizqy sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Habibah sibuk menginput data Siswa dan siswinya. Mereka berdua fokus dengan Laptop masing-masing.
Dret dret dret
Suara Handphone mengalihkan perhatian keduanya. Pandangan mereka bertubrukan mengalirkan desiran-derisan rasa. Jantung Habibah bertalu-talu saat memandang ketampanan Suaminya.
"Dari Handphone Mas," ucap Habibah menyadarkan Rizqy.
"Ah ya, Mas angkat dulu."
Rizqy mencari benda itu dan menemukan di balik bantal. Dia kemudian dengan cepat mengangkatnya.
(Pantau terus, jangan melakukan tindakan apapun)
Usai mengarahkan seseorang, Rizqy mengakhiri panggilan. Setelahnya dia kembali fokus pada data di Laptopnya.
Habibah menghentikan kegiatannya dan lebih tertarik memperhatikan Suaminya yang sedang fokus dengan tugas rahasia. Ada kekhawatiran di relung hati namun segera ditepisnya. Dia tidak ingin berpikir buruk tentu hal buruk itu akan menimpa Suaminya. Ibarat doa, bisa saja terkabulkan. Karena itulah dia ingin berpikiran yang baik-baik maka hal baik pula yang akan terjadi. Meskipun dia tahu tugas Suaminya di kelilingi bahaya. Bukankah setiap pekerjaan ada resiko kerjanya? yang bisa dilakukan meminimalisir resiko itu dengan jalan berdoa agar terhindar dari resiko apapun.
"Mas mau minum apa? aku ambilin," ucap Habibah mengalihkan perhatiannya.
"Kopi aja sayang, agak pahit."
Habibah mengangguk, dia dengan cepat berlalu menuju Dapur.
Selang beberapa menit Habibah kembali dengan membawa Nampan berisi Kopi dan Teh beserta Cemilan. Dia menaruh Nampan tersebut pada Meja di samping Ranjang.
"Mas Kopinya."
"Terima kasih." Rizqy menyimpan file yang dikerjakan, mematikan Laptop lalu menaruhnya pada Laci.
"Kok berhenti bekerjanya? udah selesai ya Mas?" tanya Habibah melihat Suaminya menyudahi pekerjaan.
"Besok saja dilanjutin, Mas ingin menikmati Kopi dan mengobrol bersama kamu," sahut Rizqy hangat.
"Okay."
Habibah mendudukkan diri di depan Rizqy. Dia melihat Suaminya itu menyeruput Kopinya dengan penuh perasaan.
"Mantap, pas sayang," ucap Rizqy sembari mengacungkan jempol.
"Mas, kalimat berbagi hati belum dijelaskan apa maksudnya," ucap Habibah. Matanya fokus memperhatikan Suaminya.
"Ah ya lupa," ucap Rizqy sambil memperbaiki posisi duduknya.
Sambil menunggu jawaban dari Suaminya, Habibah meminum teh hangat untuk menyegarkan dahaganya.
"Jadi begini Habibah, tadi Mas bertemu dengan Pak Ahmad, kamu kenal beliau, kan?" tanya Rizqy memulai penjelasan. Habibah mengangguk sebagai jawaban.
"Mas mengobrol lama dengannya. Awalnya berbasa-basi pada akhirnya Pak Ahmad menceritakan permasalahan yang mereka hadapi. Mengeluarkan segala unek-uneknya."
Rizqy melanjutkan ceritanya dengan menjelaskan pembicaraannya dengan Pak Ahmad. Dia juga menceritakan rencana yang ada dibenak untuk membantu para Nelayan.
"Jadi begitu? berbagi hati itu maksudnya Mas ingin membantu mereka untuk memberikan peralatan yang mereka butuhkan dan bantuan modal." Habibah bertanya untuk memastikan rencana yang telah disusun dibenak Suaminya. Hanya saja belum bisa direalisasikan.
"Pinter, itu yang Mas maksudkan. Mas minta persetujuan kamu untuk membantu mereka. Untuk mewujudkan itu kita harus membuat kelompok Nelayan. Terus kita bisa membantu mereka dengan membuat Proposal. Kamu bisa membantu mereka mengkoordinir sekaligus membuatkan mereka proposal bantuan alat dan juga modal." Rizqy menjelaskan lebih lanjut.
"Ya Allah, jadi itu rencana Mas. Tidak menyangka Suamiku ini sangat peduli dengan orang lain," ucap Habibah terharu.
"Mas hanya mencoba semoga saja tembus dan mereka mendapatkan bantuan peralatan berupa Mesin atau Perahu. Jika peralatan mereka memadai tentu mereka bisa mendapatkan hasil tangkapan yang banyak. Ini juga berimbas pada usaha kamu. Bukankah ini Sama-sama saling menguntungkan."
Habibah mengamini harapan yang dijelaskan oleh Rizqy. Semoga saja Tuhan mengabulkan segala niat baiknya.
"Aku akan membantu Mas, masalah proposal dan yang lainnya biar aku yang mengerjakannya. Mas hanya melobi saja, semoga saja instansi terkait bisa membantu mereka," ucap Habibah bersemangat.
"Terima kasih sayang, Mas akan mencoba. Oh ya mengenai proposal Kube HR, Mas sudah membicarakannya dengan Ibu Vita, Atasan Mas. Ibu Vita menyetujuinya dan Insyaa Allah kemungkinan direalisasikan pada anggaran perubahan. Kamu tidak apa-apa, kan?" Usai menjelaskan Rizqy menunggu tanggapan dari Isterinya itu. Dia tidak bisa memasukkan Proposal Kelompok usaha milik Habibah karena saat ini Anggaran yang tersedia sudah memiliki Nama penerima.
"Tidak apa-apa, aku mengerti kok Mas," ucap Habibah. Dia tersenyum manis agar Rizqy semakin terpikat oleh pesonanya.
Rizqy terpaku sesaat setelah itu meletakkan tangan pada Kepala Habibah lalu mengelusnya lembut.
"Terima kasih. Hanya saja Proposal itu harus di rubah karena di proposal itu masih tertanda Habibah Rosy. Jika ada orang yang mengetahui nama itu adalah Isteri Mas, takutnya nanti Mas di kira KKN. Di rubah saja ya."
Mendapatkan penjelasan dari rizqy tentu saja Habibah mengangguk senang.
"Iya Mas, itu lebih baik. Agar tidak terjadi prasangka buruk kedepannya. Iya, walaupun kenyataannya kita dapat karena bantuan dari Mas Rizqy tapi itu bukan untuk pribadi saya tapi untuk Para Ibu-ibu dan remaja disini yang menggantungkan harapan mereka pada usaha ini," sahut Habibah panjang lebar. Dia tidak bermaksud mengandalkan Jabatan Suaminya hanya saja harus dilakukan agar pekerjanya mendapatkan penghasilan yang layak. Saat ini usahanya sedang berkembang, tentu mereka membutuhkan alat yang memadai untuk menunjang usaha mereka agar lebih produktif.
"Iya sudah, kita ngapain sekarang?" tanya Rizqy sudah mulai bertingkah nakal.
"Tidur," sahut Habibah singkat.
"Asyiiiiik, ayok sayang." Rizqy bergerak, dia mengambil posisi yang nyaman untuk merebahkan tubuhnya.
"Sabar, tapi kita tidak ngapain-ngapain ya Mas. Tangannya di kondisikan," ucap Habibah lebih lanjut.
"Haneh, enggak asyik dong," ucap Rizqy dengan wajah mupeng yang tidak bisa disembunyikan lagi. Rizqy merajuk dengan menahan gejolak pada akhirnya menyelimuti seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Habibah tersenyum geli melihat tingkah laku Suaminya. Baru kali ini melihat Suaminya merajuk tentu terlihat amat sangat lucu.
"Aku kasik bonus deh!"
Rizqy membuka selimutnya, wajah bahagia dia nampakkan. "Serius?"
Habibah mengangguk.
"Tapi nanti, aku membereskan ini dulu," ucap Habibah. Dia berjalan keluar dari kamar meninggalkan Suaminya yang sedang senyam senyum membayangkan bonus apa yang akan di dapat.
Tidak butuh lama menunggu, Habibah kembali dengan satu botol air mineral. Jika nanti tengah malam tiba-tiba haus tidak perlu ke Dapur untuk mengambilnya.
"Sini sayang, Mas tidak sabaran menunggu bonus," ucap Rizqy sumringah.
"Aislah enggak sabaran banget, kebelet ya? tadi aku bilang nanti. Nah nantinya itu enggak tahu kapan karena bonusnya belum ada," ucap Habibah diakhiri dengan kekehan.
"Mas dikerjain ya?"
"Bisa jadi, menurut Mas?"
"Sini, biar Mas kerjain juga." Rizqy menjalankan aksinya. Dia mulai menggelitik pinggang Isterinya.
Hahahahaha
Tawa itu membahana menyiratkan kebahagiaan. Habibah berusaha menghindar namun tak berhasil. Teriakan dan tawanya menjadi saksi ketidak berdayaannya melawan Sang Suami.
"Geli."
"Siapa suruh bermain-main sama Mas."
"Bukannya Mas juga usil," ucap Habibah mendelik.
"Mana pernah usil, cuma iseng doang biar enggak terlalu serius," sahut Rizqy diiringi tawa lebarnya.
"Inget, dulu saat menjelang lebaran," ucap Habibah.
"Inget apa?"
"Hahahahaha."
Habibah terlebih dahulu tertawa jika mengingat itu. Dia tidak tahan.
"Apaan, kok Mas enggak inget apa-apa? apa mungkin Mas lupa ingatan ya? belum aja Tua-tua amat," ucap Rizqy sembari berpikir.
Hahahahaha
Habibah kembali tertawa jika mengingat hal lucu dan juga menggemparkan yang pernah mereka lakukan. Mereka melakukan pencitraan hanya semata-semata untuk menghibur diri. Padahal itu semua semu.
"Itu lo, waktu mau libur lebaran. Biasanya bagi-bagi THR, nah kita juga ikut-ikutan bagi THR tapi THR bo'ongan," ucap Habibah tidak bisa menahan tawanya.
"Yang amplop kosong itu dengan tertulis nama masing-masing di luar amplop. Terus kita pura-pura menaruh uang seratus libur dengan beberapa kertas agar terlihat tebal. Terus teman-teman satu ruangan memamerkan amplop yang tertulis nama masing-masing dengan sedikit mengeluarkan uang yang ada di amplop." Rizqy mengingat dan berucap panjang lebar. Dia tergelak, tawanya pecah menggema di ruangan.
Habibah mengangguk dengan tawa renyahnya.
"Ceklek, kita berfhoto ria dengan senyum sumringah penuh kebahagiaan padahal sejatinya menyembunyikan kegetiran," sahut Habibah tak kuasa menahan tawanya.
Hahahahahaha
Tawa keduanya kembali menggema ketika mengingat kejadian absurd yang pernah mereka lakukan.
Saat itu mereka tidak mendapatkan THR ketika lebaran menjelang. Untuk menghibur diri, Rizqy membuat keusilan. Dia menggunakan Amplop yang dibuat oleh Habibah dari kertas bekas. Menulis nama rekan-rekan satu ruangannya. Tentu mereka tahu dan mendukung keusilan itu. Dengan penuh kebahagiaan, masing-masing mengeluarkan uang Pribadi terus memasukkan uang tersebut pada amplop. Selanjutnya mereka membagikan momen bahagia itu dengan berfhoto seolah benar-benar terjadi padahal mengulum sedih.
"Ini THR kita." Itu yang terucap padahal sejatinya tidak ada. Amplop itu kosong melompong terisi dengan keusilan mereka.
Hahahahahaha
Tawa itu lepas tak tercontrol saat mereka mengakhiri aksi menghibur diri karena tidak mendapatkan apapun.
Habibah sudah tidak bisa menahan rasa sakit karena terlalu lama memperdengarkan tawanya.
"Capek, ketawa melulu dari tadi. Apa Mas pingin lihat fhotonya, aku masih simpan lo?" ucap Habibah
"Mana?"
Habibah mengambil Handphonenya lalu mencari di Galery. Setelah ditemukan baru memperlihatkan kepada Rizqy.
Rizqy kembali tertawa melihat fhoto itu. Terlihat kegembiraan yang tak dibuat-buat. Meskipun tidak dapat apapun tetap terlihat bahagia dengan menampilkan senyum indah. Saat itu semuanya menerima, mau bagaimana lagi? masak nangis, lebih baik tertawa dan tersenyum sebagai bentuk menghibur diri.
"Iya, beberapa hari lagi kita mulai puasa ya? berarti saya harus memikirkan THR teman-teman satu ruangan. Mana mungkin memberikan amplop kosong seperti yang pernah kita lakukan dulu," ucap Rizqy sambil mengembalikan Handphone.
"Mas bisa mengaturnya, Mas juga ahli perencanaan dan anggaran. Sesuai dengan namanya, Anggara tinggal di tambahin N jadi anggaran," ucap Habibah tersenyum geli.
"Apa hubungannya?"
"Tidak ada sih, cuma dihubung-hubungkan saja," sahut Habibah kembali terkekeh.
"Kamu tuh."
__ADS_1
Rizqy membelai rambut Habibah, membawanya ke dalam hangatnya pelukan.
"Katanya mau tidur, dong ayok."
"Iya," sahut Habibah beringsut ke dalam pelukan Suaminya.
Saat mereka mulai memejamkan mata belum benar-benar terlelap. Sayup-sayup terdengar suara Handphone berdering hingga membuat mereka terkaget.
"Handphone siapa?" tanya Habibah membuka mata sambil menguap berusaha menahan kantuk.
Rizqy mengambil Handphonenya lalu memeriksanya tak ada panggilan untuknya. Dia menaruhnya kembali lalu mengambil Handphone Habibah. Tertera nama Kak Lekha disana, tanpa memberikan kepada Habibah, Rizqy mengangkatnya.
(Wa'alaikumussalam, Jul. Mengganggu saja)
(Assalamu'alaikum. Kamu ya Riz, ini Ponselnya Habibah kenapa kamu yang angkat. Mana Habibah?)
(Dasar enggak sopan, Habibah sudah tidur)
(Kok cepat tidurnya?)
Rizqy menjawab pertanyaan dari temannya itu dengan mengomelinya. Terjadi perdebatan yang panjang membuat Habibah menggeleng. Dia mengakhiri perdebatan itu dengan mengambil alih pembicaraan.
(Iya Kak Lekha, tumben malam-malam nelpon)
(Emangnya enggak boleh nelpon malam-malam. Dilarang gitu?)
Orang yang diseberang mengomeli Habibah.
(Enggak boleh, itu namanya menganggu istirahat orang)
(Kenapa sih ikut campur melulu, sewot kamu yan Riz. Orang saya mau ngobrol sama Habibah. Kamu diam Riz jangan iri. Kamu tutup telinga, awas kalau kamu ngintip pembicaraan kami)
Rizqy mendumel tidak karuan mendengarkan celotehan Gadis jadian-jadian itu. Dia tidak peduli memilih memejamkan mata dan membiarkan Habibah yang meladeni.
(Jatuh cinta? sama siapa? saya pikir Kak Lekha tidak bisa jatuh cinta, wong cuek gitu?)
Habibah terkekeh mendengarkan pengakuan dari Gadis cuek itu. Rizqy yang mendengarkan suara Julaekha di seberang ikutan terkekeh.
(Emang ada yang mau sama kamu Jul?)
(Ngolok kamu Riz! iya belum ada sih)
(Hahahahaha)
(Namanya Keynand Putra Ardiaz tapi duda dengan anak satu)
(Pak Keynand?)
Rizqy dan Habibah terkejut kemudian saling pandang.
(Iya, saya dikenalkan oleh teman. Awalnya saya tidak menyangka bakalan dikenalkan sama Keynand Putra Ardiaz. Kita tahu semua kalau dia pengusaha hebat. Melihat ketampanan Keynand saya langsung jatuh hati. Hanya saja Keynand terlihat biasa-biasa saja)
Julaekha mulai bercerita mengenai perasaannya dan tanggapan Keynand yang terlihat biasa. Ada nada sedih yang berhasil ditangkap oleh Habibah dan Rizqy.
(Mangkanya jangan jadi cewek jadian-jadian. Siapa tahu Keynand suka cewek beneran yang lembut dan sabar. Nah kamu sepertinya jauh dari kriterianya. Sabar ya Jul, jangan terlalu berharap)
(Kamu melemahkan saya Riz, saya menghubungi Habibah untuk mendapatkan dukungan dan saran bukan malah membuat down. Jahat banget, sih?)
"Mas, udahan. Nanti Kak Lekha mewek lagi, susah bujuknya biar berhenti nangis apalagi kita jauh, enggak langsung bisa ngasik Permennya)
(Emang ya Suami Isteri enggak punya akhlak)
Habibah dan Rizqy tertawa menanggapi kekesalan Julaekha yang terdengar.
(Maaf, jadi gini Kak, menurut saya kunci dari hati Pak Keynand ada pada Raski, Putranya)
(Kamu kenal Keynand dan Raski)
(Kenal, memangnya kamu saja yang kenal sama Si Keynand itu)
Rizqy menimpali membuat Julaekha kian kesal.
(Jika Kak Lekha berhasil mendapatkan hati Raski dan dia merasakan nyaman dan menyukai Kak Lekha. Maka Pak Keynand akan lambat laun menyukai Kak Lekha juga)
(Nah itu dia, saya tidak terlalu suka dengan anak kecil. Saya lebih suka menghadapi Para mahasiswa yang bandel daripada anak kecil yang cute dan ngemegesin. Repot ngurusnya, saya kayaknya enggak sanggup)
(Eh Jul, terang saja jodoh kamu lambat ternyata belum siap ngerawat Bayi. Kalau kamu terus-terusan bersikap seperti ini. Bisa-bisa kamu dilupakan oleh jodoh)
(Emang seperti itu? bagaimana dong? kalau saya nikah dan punya anak entar pakai jasa Baby Sitter terus biar Suami yang ngurus. Saya enggak sanggup mengurusnya, saya pingin lahiran saja)
Mendengarkan itu membuat Habibah dan Rizqy geleng-geleng kepala.
(Saya harus bagaimana?)
Hening
Habibah dan Rizqy bingung harus berkata apa. Hanya Julaekha yang bisa menghadapi dirinya sendiri dan berusaha untuk lebih perhatian serta peduli sama anak kecil. Bagaimana pun juga dia calon Ibu jadi harus bisa menjadi seorang Ibu yang sesungguhnya.
__ADS_1
(Berat ini mah, tapi demi Keynand harus usaha)
Bersambung.