Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
Chapter 45


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Ibu Guru," ucap Renia saat bertemu dengan Ibu Gurunya di Gerbang Sekolah. Setelah mendapatkan balasan baru mengambil tangannya untuk dicium.


"Tumben sama Ayahnya? Sopirnya kemana?" tanya Ibu Guru dari Renia sambil melirik Keynand yang masih setia mendampingi Renia.


"Sopir?" tanya Renia bingung. Pun begitu dengan Keynand. Dia tidak tahu Sopir yang mana dimaksud oleh Ibu Gurunya. Mereka tidak memiliki Sopir Pribadi selain Sopir Hotel.


"Iya, Pria yang cacat mukanya itu Sopir keluarga Renia, kan?" jawab Ibu Guru dengan pandangan bergidik, seolah ngeri jika mengingat wajah itu. Sesekali pandangan dia tujukan kepada Keynand yang berdiri tegap di hadapannya. Gadis itu benar-benar terpesona dengan ketampanan Keynand.


Melihat wajah bergidik yang ditunjukkannya, membuat Gadis kecil itu tidak suka. Dia tahu, wajah itu ditujukan untuk Laki-laki buruk rupa yang merupakan Ayah kandungnya.


"Ibu Guru tidak boleh menghina Ayah Renia. Ayah memang cacat tapi tidak usah di sebut juga. Pria yang Ibu Guru sebut Sopir berwajah cacat itu Ayah Kandung Renia," sahut Renia dingin, sukses membuat Ibu Guru itu terkejut. Rasa tidak enak hati menguar dari raut wajahnya.


"Satu lagi, dulu Ayah Renia sangat tampan, Lebih tampan dari Daddy." Ucapan Renia berlanjut dengan menyanjung ketampanan Ayahnya. Keynand hanya tersenyum kecut mendengarkan pembelaan Renia terhadap Ayahnya. Dia mengakui Abangnya itu lebih tampan darinya. Itu dulu, sedangkan sekarang mungkin anugerah untuknya mendapatkan gelar tertampan di keluarga.


"Daddy, Renia ke kelas," ucap Renia berpamitan. Dia meraih tangan Keynand, tidak lupa mengucapkan salam. Setelah mendapatkan balasan baru Renia pergi begitu saja tanpa memperdulikan Ibu Gurunya yang masih berdiri mematung.


"Jangan menilai seseorang dari kulitnya. Bukankah Durian itu lezat meskipun kulitnya berduri. Bukankah Sawo itu manis meskipun kulitnya berwarna Cokelat yang menurut sebagian orang tak sedap di pandang mata. Itulah perumpaannya," ucap Keynand panjang lebar.


"Permisi Ibu Guru, Assalamu'alaikum," lanjut Keynand berpamitan setelahnya berlalu meninggalkannya menuju Mobil.


"Apa yang aku dengar tadi? Duh, kenapa aku bisa keceplosan dan mengira kalau Pria buruk rupa itu Sopir dari keluarga Renia. Tololnya aku!" Gadis itu berucap setelah ia sadar dari keterkejutannya.


"Makanya, kalau ngomong itu dipastiin dulu kebenarannya. Jangan mengira-ngira sehingga membuat kita salah," sahut Rekannya yang sedari tadi dengan setia mendengarkan pembicaraannya.


"Apaan, sih? mana ku tehe. Emang Ayah Renia itu wajahnya cacat, kan?" sahut Gadis itu kesal.


"Kamu tidak tahu aja siapa Ayah Renia. Saya kasik tahu biar enggak asal mulutnya. Ayah Renia itu Pengusaha kelas wahid. Hartanya tidak mungkin bisa di hitung dengan mudah. Di hitung pakai Kalkulator saja tidak cukup nominalnya. Tapi itu dia, mereka sangat sederhana dan dermawan."


Gadis itu terlihat berpikir setelah mendengarkan penjelasan dari Rekannya.


"Kalau memang hartanya tidak bisa terhitung, kenapa untuk operasi wajahnya biar bagusan tidak mampu?" sahutnya kemudian tidak percaya.


"Itu karena tidak mau ketampanannya membuat para Gadis berniat menjadi Pelakor, seperti kamu," sahut Rekan Gadis itu ketus.


"Yeee asal nuduh aja, tapi boleh juga deketin Daddynya Renia. Siapa sih dia?" tanya Gadis itu. Dia seakan membantah segala tuduhan sekaligus membenarkannya.


"Tidak akan saya kasih tahu."


"Pelit."


"Kerja! mau Pak Reynand menghentikan kucuran dananya kepada Sekolah. Jika itu terjadi maka kita tidak akan mendapatkan Gaji lumayan besar," sahut Ibu Guru itu serius.


"Siapa Pak Reynand? Pria tadi?"


"Bukan! Ayahnya Renia," ucapnya singkat. Dia berlalu meninggalkan rekannya yang kembali terbengong.


"Eh tunggu." Setelah sadar Gadis itu mempercepat langkahnya menyusul Rekan kerjanya.


"Menurutmu Pria bernama Reynand itu tidak akan tergoda dengan Gadis cantik dan Sexy sepertiku?" ucap Gadis itu yang berhasil membuat Rekannya berhenti melangkah. Dia memutar tubuhnya tepat menghadap ke arah Gadis yang bertanya. Dia memindai tubuh Gadis itu dengan serius.


"Mau berniat jadi Pelakor? ngaca dulu sono!. Enggak mungkin tertariklah dia dengan kamu, wong Isterinya jauh di atas kamu. Satu lagi, dua Saudara itu tidak akan tergoda dengan Wanita di luaran sana secantik apapun mereka," sahut Rekan Gadis itu dengan tegas.


"Oh ya, akan saya buktikan, kita lihat saja nanti keberhasilanku menggaet Ayah Renia. Meskipun buruk rupa yang penting tajir. Jika sudah dapet, tinggal minta opras, beres, kan?" sahut Gadis itu sambil mengedipkan matanya.


"Bahagianya dalam hati menjadi orang ketiga. Suami orang dapat, harta pun dapat. Oh bahagianya." Gadis itu meninggalkan Rekannya diiringi nyanyian yang membuat Gendang telinga rusak seketika.

__ADS_1


"Ngotot banget, sih!"


***


Sementara itu di Hotel Ardiaz, Keynand dengan Para Petinggi Hotel sedang melaksanakan Meeting. Pembahasan kali ini tentang segala kegiatan untuk mengisi bulan Ramadhan dalam rangka meningkatkan Iman dan Taqwa.


"Pertama bingkisan untuk seluruh warga di sekitar Hotel Ardiaz sebagai awal memulai puasa. Kedua Buka Puasa bersama bagi Pegawai yang mendapat Shif siang sampai malam terus dilanjutkan Shalat Maghrib, Isya dan Tarawih. Begitu juga Pegawai yang mendapatkan jadwal malam hingga pagi akan melaksanakan Sahur bersama dan Shalat Subuh berjamaah."


Keynand menjelaskan kegiatan para Pegawai Hotel selama bulan Ramadhan. Dia juga mengatur jadwal untuk Para Dokter dan Para Medis agar nyaman melaksanakan ibadah mereka.


"Oh ya mengenai makanan, minuman dan Kue-kue yang akan dibagikan setiap harinya, diharapkan bekerja sama dengan Yayasan Putri Mandalika. Para Siswa disana yang akan menyiapkan segala macam kuliner yang akan dibagi-bagikan."


Reynand melanjutkan penjelasannya. Tidak lupa juga Keynand memerintahkan Divisi keuangan untuk segera menyetor Zakat agar segera dapat dimanfaatkan oleh Umat.


Selanjutkan setelah tidak ada pendapat dan saran yang diutarakan oleh para Karyawannya, Keynand menutup Meeting hari ini.


Duda tampan itu meninggalkan ruang meeting. Dia melangkah dengan pasti menuju ruang kerjanya. Sesampainya disana, Keynand mendudukkan diri pada Kursi kebesaran. Hal pertama dilakukannya adalah mengecek Handphonenya. Siapa tahu ada pesan yang penting.


Benar saja, ada informasi penting tentang Gadis bernama Rizqia yang sedang dicarinya.


"Rumah Sakit jiwa?"


Keynand terkaget dengan informasi yang di dapatkan oleh Orang suruhannya. Namun belum pasti apakah Gadis itu benar adalah Baiq Rizqia Anggraeni.


"Apa dia sakit? tapi tidak mungkin? dia terlihat normal-normal saja." Keynand bertanya-tanya. Dia berpikir sembari mengetuk Meja dengan Balpoint yang dipegangnya.


"Bisa jadi? Gadis itu sedang bermasalah dengan dirinya sehingga meminta bantuan Phsikiater atau Phisokolog untuk membantu permasalahannya. Orang yang berkonsultasi dengan Dokter kejiwaan bukan berarti gila."


Keynand menjawab sendiri pertanyaannya. Dia meraih Handphone meminta kepada orang suruhannya untuk memastikan apakah Gadis itu Rizqia. Dia juga memerintahkan untuk mengawasinya.


Baru saja memulai, Deringan itu kembali meminta perhatiannya. Dia melihat nama Riski yang tertera disana. Keynand buru-buru menggeser icon hijau.


(Iya Ki kenapa?). Keynand langsung menodong Riski dengan pertanyaan setelah mengucapkan balasan salam.


(Gerak cepat, apakah hati telah sampai di hati Duda tampan ini?)


(Maksudnya apaan? hati, hati jadinya hati-hati. Buruan ada apa?)


(Kok sahutannya enggak sabaran gitu?)


(Gue tutup nih!)


(Ini Mbak Lekha nanya khabar Abang Keynand. Apa boleh enggak saya ngasik khabarnya Abang Keynand sama Mbak Lekha. Terus Mbak Lekha ngirim salam, apa boleh saya bawakan salamnya Mbak Lekha untuk Abang. Tapi Bang berat!) Terdengar suara ngos-ngosan diseberang sana.


(Kamu kenapa Ki?)


(Salamnya Mbak Lekha itu berat, saya sampai ngos-ngosan. Di kirim lewat jasa COD aja ya Bang soalnya takut enggak sempat nganterin. Mbak Lekha minta segera kalau tunggu Riski pulang dari Kampus, salamnya mbak Lekha keburu basi)


Keynand mengkerutkan kening mendengarkan ocehan yang tidak dimengertinya. Ini bocah ngomong apa, sih? kok bisa jadi Dosen, Otaknya ngawur ngidul gitu.


(Kok diam? bagaimana ini?)


(Makan aja sendiri)


(Kalau emang bisa dimakan, dari tadi kali Kiki makan)

__ADS_1


(Riskiiiiiiiii)


(Nah lo darah tinggi kumat. Saya pikir daging Sapi yang bikin darah tinggi tapi salam dari Gadis ternyata bisa bikin Darah tinggi kumat)


(Riskiiiiiii)


(Ampun Bestie, kabooooor)


Klik


Keynand geleng-geleng kepala dengan tingkah Pemuda satu itu. Kenapa dia selalu mendapatkan kejahilan darinya. Dipaksa mendengarkan ocehan yang tidak jelas dan tidak penting. Kapan seriusnya?


"Tunggu dulu? salam dari Lekha? apa Gadis itu serius?"


Keynand berpikir lalu senyumnya terbit. Melihat senyum itu seakan mengingatkan masa lalu Keynand yang penuh dengan rayuan dan gombalan.


(Abang enggak boleh lirik-lirik cewek apalagi ingin mempermainkan hati mereka. Pensiun Bang! Kalau Abang masih saja nyakitin hati para Gadis. Lihat saja apa yang Isteri Abang ini lakukan?)


"Ampuuuun honey, Abang enggak jadi deh! mempermainkan hati para cewek, sungguh! tadi hanya niat saja," ucap Keynand sambil melindungi Senjata Pamungkasnya.


Tok Tok Tok


Terdengar ketukan dari arah luar.


"Masuk."


Ceklek


"Pak Bos kenapa? habis lihat Hantu? kok wajahnya pucat gitu?" tanya Adly, orang dibalik Pintu yang langsung menghampiri Keynand begitu mendengarkan suara teriakannya.


"Enggak apa-apa?"


"Beneran? siapa tahu saja ada yang menggoda Pak Bos dari alam berbeda?" sahut Adly sembari meneliti wajah Keynand.


"Apaan sih? ngaco! kerja sana, kembali ke ruangan?" ucap Keynand memerintah Adly untuk keluar dari ruang kerjanya. Dia malu juga jika menceritakan kalau dia kaget karena mengingat ucapan Mega yang membuatnya merinding. Ucapan Isterinya dulu seakan begitu saja diingatnya.


"Kok bisa ya? baru saja berniat ingin bermain-main dengan cewek. Eh ingatan malah menghadirkan peringatan keras dari honey." Keynand membatin. Dia melantunkan doa untuk mendiang Isterinya itu agar bahagia disana.


"Rupanya Abang merindukanmu Honey," lanjut Keynand mengarahkan pandangannya pada Pas Photo yang terpajang di Meja kerjanya.


"Pak Bos kangen sama Mbak Ega?" tanya Adly. Dia bisa menebak itu. Sangat jelas terlihat di kedua mata Keynand saat memandang Fhoto itu. Cinta dipelupuk mata itu masih hidup untuk Wanita yang menghadirkan Raski di dunia ini, sekaligus dia pergi untuk selamanya. Itulah takdir yang diterimanya, menunggu disana dan berharap agar bisa bersama-sama kelak.


Keynand tersenyum, dia mengalihkan pandangannya ke arah Adly.


"Dia Isteriku, tidak mungkin tidak merindukannya," sahut Keynand.


"Sebaiknya kita lanjutkan pekerjaan," lanjut Keynand.


"Siap!" Adly bangkit dari duduknya. Dia tidak ingin membantah dengan mengajukan pertanyaan. Dia mengerti, ini jam kerja bukan waktunya membicarakan urusan pribadi.


Sepeninggalnya Adly, Keynand kembali memandang wajah Isterinya.


"Honey, tidak akan Abang lakukan lagi, okey? tidak akan menyakiti dan bermain-main dengan cewek lagi, janji!"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2