Gadis Untuk Sang Duda

Gadis Untuk Sang Duda
S2.6


__ADS_3

"Calon Kakak Ipar, apa kamu sengaja mengajakku bermain petak umpet. Kalian meninggalkan jejak, tapi nyatanya hanya sebuah tipuan belaka." Keynand berguman lemah.


Jejak terakhir di dapat, mereka bertiga meninggalkan Lomboq dengan tujuan kota Bunga. Hingga sampai detik ini tidak ada jejak kalau mereka kembali. Itu artinya mereka menetap di Kota Bunga. Keynand sudah mengerahkan anak buahnya untuk menyisir sudut-sudut kota Bunga. Namun penelusuran mereka tidak membuahkan hasil.


Mereka bertiga seakan di telan bumi, atau mungkin saja Rizqy sangat pandai menyimpan keberadaan mereka sehingga tidak terdekteksi oleh orang suruhan Keynand.


Keynand benar-benar frustasi. Dia menyambar kunci Mobil lalu melangkah pergi meninggalkan kantornya yang sudah sepi.


Mobil mewah itu melesat menuju sebuah club malam yang terkenal di pesisir pantai selatan. Entah apa yang di pikirkan oleh Keynand sehingga dirinya sudah berada di depan sebuah Club malam. Mungkin dengan sebotol Alkohol mampu membuatnya terbebas dari masalah yang sedang menimpa.


"Honey, aku mohon tinggalkan masa lalu yang kelam itu. Jangan lagi mendekati barang haram itu. Aku mohon honey."


Saat godaan itu menjeratnya, ingatan dengan apa yang dikatakan Isterinya tiba-tiba tergiang. Keynand hampir saja membawa dirinya dalam kesesatan lagi. Untung saja hati nuraninya segera menuntun agar tersadar dari bujukan Setan yang menggelabuinya.


"Astaghfirullah."


Keynand segera beristighfar bersama air mata yang mulai merembes. Tidak seharusnya dia melarikan diri menuju yang sangat di larang oleh Tuhan. Keynand sangat menyesali kekeliruannya.


"Honey, maafkan Abang. Abang sangat tersiksa dengan perasaan ini."


Keynand berusaha menahan air mata yang ingin menyeruak dengan derasnya. Dia tidak ingin air mata itu menertawakan kerapuhannya kini. Lelaki itu lebih memilih membiarkan mengalir di dalam jiwanya meskipun rasa sakitnya dua kali lipat lebih parah terasa.


Tersadar dari langkah kakinya yang salah. Keynand meninggalkan tempat itu. Dia melajukan Mobilnya tak tahu arah.


Baginya kini rumah bukanlah syurga. Tempatnya melabuhkan segala keletihan dari segala aktivitas duniawi. Rumah tempat dia merenungi dan melambungkan doa-doanya selama ini.


Setelah beberapa menit di dalam perjalanan. Mobil Keynand terlihat memasuki sebuah pelataran sebuah rumah.


"Mamiq."

__ADS_1


Keynand melabuhkan kerapuhan kepada seorang Pria paruh baya. Lelaki itu tidak malu menumpahkan air matanya. Hanya kepada Ayah dari Lika itu dia bisa berterus terang dengan apa yang sedang di hadapinya.


Ali Hasan, Lelaki bersahaja itu membiarkan Keynand menangis dalam dekapannya. Dengan kasih sayang seorang Ayah, Ali Hasan menepuk bahu rapuh itu untuk memberikan kekuatan.


"Istighfar, nak Keynand," ucap Pria paruh baya itu dengan lembut. Saat itu Keynand terlihat mulai tenang.


Keynand menuruti apa yang di minta oleh Ali Hasan. Sebanyak-banyaknya dia mengucapkan istighfar hingga keadaannya benar-benar baik kembali.


"Sekarang ceritakan apa yang membuat Nak Keynand sesedih ini?" tanya Ali Hasan setelah keadaan Keynand memungkinkan untuk bercerita.


Cerita yang dialami Keynand mulai mengalir. Tidak satupun yang di tutupi. Termasuk alasan sebenarnya menikahi Julaekha Syarifah.


Ali Hasan mendengarkan dengan seksama. Tidak sama sekali menyela hingga cerita itu benar-benar berakhir.


"Nak Keynand, berlapang dada-lah."


Ali Hasan memberikan gambaran dengan apa yang sedang di hadapi oleh Keynand. Bahwasannya segala sesuatu yang ada di dunia sudah di tetapkan-Nya. Apapun yang di rencanakan oleh Manusia, belum tentu itu yang akan terlaksana. Bisa jadi sangat jauh dari rencana itu sendiri. Bisa saja gagal dan bisa saja tetap terlaksana akan tetapi dalam bentuk yang berbeda.


Keynand hanya mengangguk pasrah. Tak bisa di pungkiri hatinya masih menginginkan Gadis berparas mawar itu yang menemani hari-harinya. Namun itu sesuatu yang mustahil terjadi.


Setelah mendapatkan nasehat dari Ali Hasan, Keynand kembali menuju rumahnya. Sebenarnya dia ingin menginap, akan tetapi Ali Hasan memintanya untuk pulang. Sekarang ada Isteri yang menunggu di rumah, sehingga Keynand di haruskan untuk pulang.


Sesampainya di rumah, dengan langkah gontai dia memasuki kamar pribadinya. Di lihatnya Julaekha sudah tertidur pulas. Wanita itu tidak sama sekali terusik dengan kehadirannya. Hidup bersama seakan memiliki ruang dan waktu yang berbeda.


Keynand masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa menit melaksanakan ritual itu, dia kembali dalam keadaan segar. Keynand memilih sofa panjang dan lumayan luas sebagai tempat mengistirahatkan tubuh lelahnya. Dia belum siap menemani tidur Isterinya dalam Ranjang yang sama, sehingga memilih untuk melebarkan jarak. Entah kenapa hatinya sangat sulit menerima kehadiran Wanita yang telah menjadi Isterinya itu.


Hari-hari berlalu, Keynand menjalani hidup seperti biasanya. Dalam suasana dingin dan kaku. Sepasang Suami Isteri itu sibuk dengan kegiatan masing-masing. Keynand semakin sibuk dengan pekerjaannya. Sementara Julaekha semakin sibuk dengan jadwal mengajarnya.


"Aku akan kembali mengajukan cuti. Kali ini Mas harus mengabulkan keinginanku. Kita harus Honeymoon di Paris. Tidak ada alasan dengan berpura-pura sok sibuk," ucap Julaekha dengan tegas. Sebenarnya keinginan untuk berbulan madu ke Negeri tempat Menara Eifell itu berada sudah dia suarakan dua hari setelah menikah. Namun Keynand selalu menolaknya dengan alasan yang di buat-buatnya. Tentu saja alasan-alasan itu membuat Julaekha jengah.

__ADS_1


Keynand menghentikan gerakan tangannya menyendok makanan. Dia meletakkan Sendok yang di pegangnya dengan pelan tak bersuara.


"Terserah kamu, urus sendiri dokumennya," sahut Keynand datar. Dia merasa lelah juga setiap hari mendengarkan rengekan Julaekha yang meminta agar berbulan madu ke Paris. Jika tidak di turuti, maka Julaekha akan terus-terusan merengek hingga keinginannya itu terlaksana.


"Benarkah? Kali ini Mas akan memenuhi permintaan aku?" tanya Julaekha memastikan.


Keynand menggangguk dengan ekspresi datar. Namun ekspresi itu tidak di hiraukan oleh Julaekha. Bukan itu yang dibutuhkan melainkan persetujuan darinya.


Julaekha berteriak antusias seperti anak kecil yang di kabulkan keinginannya membeli mainan. Dia memeluk tubuh Keynand dan sesekali mencium pipinya dengan gemas.


"Hubby aku mencintaimu."


Wajah Wanita itu terlihat berseri-seri dengan senyum yang kian merekah.


Keynand menanggapi kegembiraan Isterinya dengan senyum tipis. Setipis harapannya menggapai kebahagiaan. Hanya tanggung jawablah yang membuatnya bertahan. Keynand memilih terluka dari pada harus menambah dosa karena mengabaikan Isterinya.


Biduk rumah tangganya harus tetap bertahan, meskipun tiang penyangganya dibuat dari bahan yang lapuk. Keynand berusaha berdamai dan menjalani hari-harinya bersama Julaekha.


Setelah malam itu, Keynand berusaha menerima takdirnya. Dia menjadi Suami yang baik dan juga berusaha mengubah kebiasaan buruk Isterinya. Meskipun usahanya itu hingga kini belum membuahkan hasil, Keynand belum mau menyerah. Walaupun terkadang dia merasa lelah dan jenuh dengan hari-harinya yang penuh dengan perdebatan.


***


Hari yang di nanti pun telah tiba. Julaekha terlihat mengambil gambar di dalam Pesawat kemudian mengunggahnya di medsos. Tidak lupa menyelipkan caption di gambar tersebut.


"Sultan mah honey moonnya ke luar negeri. Go to Paris bukan Kolam dua ribu yang ada Kincir anginnya, ya!"


Setelah memposting itu, beragam komentar bermunculan di laman medsos miliknya. Julaekha memilih mengabaikan komentar itu karena dia harus mematikan Handphonenya. Sebentar lagi Pesawat yang di tumpanginya akan take off.


Dia tidak tahu ada seorang Lelaki tersenyun sinis melihat postingan itu. Dan juga seorang Wanita yang mengomentari Fhoto itu dengan kata-kata menohok.

__ADS_1


(Ka, lihat itu adik Ipar kamu, lebay banget)


Bersambung.


__ADS_2