
"Mom, apa ini dari Papuknya Dadek Raski?" tanya Lika menunjukkan Kue Dodol, kalau orang sini menamainya Kue Pangan. Kue tersebut dibuat dari Ketan, Santan dan Gula Aren.
"Iya, tadi Mom ketemu Papuk Ninenya Raski di Rumah Mamiq. Beliau dateng sekalian bersilaturahmi dan kangen juga sama Dadek Raski," jawab Marisa. Dia duduk di samping Lika yang tengah sibuk membantu Ibu Mertuanya mengepak oleh-oleh.
Ada oleh-oleh dari Fatimah seperti serbat yang sudah dibuat berupa bubuk dan jajanan tradisional khas Lomboq lainnya. Tidak lupa Ibu dari Mendiang Mega juga memberikan Kue tradisional sebagai oleh-oleh untuk keluarga di Jakarta.
Hubungan antara Marisa dengan kedua besannya cukup baik. Meskipun salah satu Menantunya sudah tiada tapi hubungan mereka tetap terjalin. Ada Raski yang mengikatnya, bagaimana pun juga Raski merupakan Cucu dari keluarga Mendiang Isteri Keynand.
Apalagi Keynand setiap waktu luang menyempatkan diri bertandang ke rumah Mertuanya bersama Raski. Dia tidak pernah menjauhkan Putranya dari keluarga Isterinya. Itu dilakukan agar Raski mengenal keluarga dari Ibunya dan tidak melupakan mereka.
"Apa Umi dan Abi sehat-sehat saja?" tanya Lika. Umi dan Abi merupakan panggilan untuk kedua orang Tua Mega.
"Alhamdulillah sehat, mereka titip salam. Mereka juga mendoakan agar Nak Lika dan kandungannya sehat-sehat saja. Mereka nampak bahagia mendengarkan khabar kehamilan kamu," jawab Marisa. Tangannya mengelus rambut Lika lembut penuh kasih sayang.
"Nak, sabar-sabar menghadapi Suamimu. Meskipun Rey sudah banyak berubah tapi karakter seseorang tidak akan lenyap dari dirinya. Kamu tahu sendiri, Reynand itu enggak romantis, cuek dan temperamental."
Lika tersenyum menanggapi pesan Ibu Mertuanya.
"Nggih Mom!" sahut Lika. Sejurus kemudian merangkul tubuh Marisa. Mertua dan Menantu itu kini berbagi kehangatan dengan penuh kasih sayang.
"Mas Reynand sudah anteng Mom. Dia sekarang Penyayang, romantis dan juga enggak pernah marah. Benar-benar berubah," ucap Lika masih dalam belaian tangan halus Marisa.
"Alhamdulillah. Oh ya enggak apa-apa Mom tinggal?"
"Enggak apa-apa Mom. Rumah Inaq dan Mamiq dekat terus nanti kalau kangen sama Mom tinggal terbang, nyampe deh di Istana Ardiaz," jawab Lika. Dia mengurai pelukan kemudian kembali mengemas barang-barang yang akan dibawa Mertuanya.
"Sebenarnya Mom dan Daddy pingin mengawali Puasa disini. Tapi itu hanya sekedar keinginan. Mbak kamu kesepian apalagi Andrean susah jauh dari Opanya. Ini saja setiap hari nyari Opanya, bukannya Papanya yang di cari eh malah Opanya yang di rindukan." Marisa menuturkan alasan kenapa mereka buru-buru balik ke Jakarta.
Lika mengangguk mengerti. Dia tersenyum membayangkan wajah tampan Andrean yang bermanja ria dipangkuan David Ardiaz. Mereka terkadang berkomunikasi dengan Andrean agar Bocah tampan itu mengenal Dua saudaranya. Dia sangat antusias jika berkomunikasi dengan Renia dan Raski.
"Sudah selesai, sekarang Mom istirahat ya," ucap Lika. Dia sudah menempatkan barang-barang itu dengan rapi agar mudah di bawa nanti.
"Iya, tolong panggil Daddy. Jika sudah main Catur suka lupa waktu," Pinta Marisa. Lika menjawabnya dengan anggukan.
Dua beda generasi itu berjalan berlawanan. Marisa menuju kamarnya sedangkan Lika menuju ke arah Berugak.
Sesampainya disana, hening tidak ada suara. David Ardiaz terlihat mengkerutkan kening tanda berpikir mencoba memecahkan strategi lawannya agar bisa memenangkan permainan. Pun begitu juga dengan Riski yang menjadi lawannya. Dia membuat ketukan dengan menggunakan Pion yang berhasil dimilikinya. Sedangkan dua Bapak yang merupakan Tetangga ikut terlibat memikirkan bagaimana caranya mengalahkan strategi lawannya. Entahlah, kepada siapa mereka berpihak. Sementara Reynand, dia juga ikut menikmati keheningan.
Lika hanya berdiri dari kejauhan. Dia urung mendekati untuk menyampaikan pesan karena melihat keseriusan mereka.
Tangan David mengambil sebuah Pion lalu melangkah maju melawan Pion yang sudah terlebih dahulu Riski tempatkan.
__ADS_1
Tak menunggu lama, Riski melajukan Pionnya dengan mengucapkan skakmak.
Saat itulah suara terdengar, David berguman kesal.
"Daddy belum kalah, lihat saja akhirnya," ucap David Ardiaz mencoba melihat peluang. Namun sepertinya langkahnya benar-benar harus terhenti karena sudah tidak ada jalan untuk melangkah. Riski berhasil menguasai jalur Raja sehingga tidak bisa bergerak ke petak yang aman. Itu artinya benar-benar kalah.
"Dad, dipanggil sama Mantan pacarnya, tuh! diminta Bobo," ucap Lika pada akhirnya bisa menyampaikan pesannya.
"Sebentar lagi, satu kali permainan. Daddy penasaran, kenapa Bocah tengil ini berhasil mengalahkan Daddy," jawab David kembali meletakkan Pion pada Papan catur.
"Iya itu karena Kiki tampan, makanya tampan juga nasipnya," sahut Riski di akhiri kekehan.
"Percaya diri banget."
"Harus dong! itu modal besar meningkatkan mental," sahut Riski kembali terkekeh.
"Iya udah ayok kita main lagi," ucap David kembali fokus ke Papan Catur.
"Dad, yang penting Lika sudah menyampaikan pesan. Kalau Mom ngambek Lika tidak bertanggung jawab, ya?" ucap Lika berusaha mengalihkan perhatian David. Pria paruh baya itu tidak terusik dengan perkataan Menantunya. Dia memilih menenggelamkan diri dalam permainan Catur.
"Rupanya Daddy sudah siap tidur di Lantai, nih? dingin lo! Daddy." Reynand ikut berkomentar mendukung usaha Isterinya.
"Tunggu sampai kita bertemu lagi. Kamu harus ke Jakarta, Daddy tantang disana," lanjut David. Dia bangkit dari duduk bersilanya kemudian turun dari Berugak.
"Iya Dad, yang penting tiket pesawat PPnya. Kiki pasti akan datang menemani Daddy main Catur kapan pun Daddy mau," sahut Riski dengan senyum jenakanya.
"Reynand, anggarkan tiket untuk Riski biar besok dia ikut dengan Daddy dan Mom," ucap David memerintah Reynand.
"Wualaaah, jika Pimpinan tinggi sudah meminta, harus dituruti, nih! kalau enggak, bisa ngambek tujuh hari tujuh malam," sahut Reynand bergurau.
"Lama banget ngambeknya, awet bener ternyata?" ucap Riski geleng-geleng Kepalanya.
"Makanya, kalau tidak ingin Daddy ngambek kalian harus turuti apa yang Daddy minta," ucap David serius. Dia berlalu meninggalkan Riski dan Reynand yang menepuk jidatnya perlahan.
"Dad, apa fase masa kecilnya dateng lebih awal?" tanya Lika serius.
"Memangnya Daddymu ini sudah Tua banget ya?" tanya David memandang Lika yang mendampinginya menuju kamar tempat Marisa berada.
"Tidak juga, Daddy masih terlihat awet muda, masih keren dan macho. Pastinya pesona Daddy masih bisa bikin klepek-klepek," sahut Lika serius. Pada bibir mungilnya terbentuk seulas senyum manis.
"Siapa yang klepek-klepek?"
__ADS_1
"Ikan yang tiba-tiba terdampar di darat karena kehabisan air," jawab Lika asal. Tawanya menggema diikuti oleh tawa David.
"Nak Lika ini, bisa saja."
Mereka berpisah menuju kamar masing-masing.
***
Esok malamnya, keluarga Reynand bersiap-siap menuju Masjid untuk melaksanakan Shalat dan Tarawih berjamaah.
"Kamu yakin mau puasa, sayang?" tanya Reynand. Sudah beberapa kali dia bertanya dan jawabannya selalu sama. Kali ini dia memastikan lagi, mungkin saja jawabannya akan berbeda.
"Iya Mas, kata Dokter Vidya tidak apa-apa aku berpuasa. Toh juga masih berbentuk darah," sahut Lika yakin. Dia tersenyum menyadari pertanyaan Suaminya dari kemarin itu-itu saja.
"Iya sudah, Mas hanya tidak ingin terjadi sesuatu sama kamu," ucap Reynand menampakkan kekhawatirannya.
"Tenang saja, Mas. Nanti kalau aku enggak kuat akan berbuka. Enggak mungkin akan memaksakan diri," sahut Lika menenangkan Suaminya.
Reynand mengelus pucuk kepala Lika. Dia lalu mendaratkan kecupan pada kening itu penuh dengan rasa sayangnya.
"Ibu hamil boleh tidak berpuasa jika dia khawatir dengan kesehatan diri mereka atau khawatir pada diri mereka dan juga bayinya. Maka dia akan mengqadha puasa itu di luar bulan Ramadhan. Dan Jika dia khawatir pada kandungan atau bayi mereka, maka wajib mengqadha puasa sekaligus membayar fidyah. Hal ini sesuai Sabda Rasulullah yang artinya :
"Sesungguhnya Allah 'azza wa jalla meringankan setengah shalat untuk musafir dan meringankan puasa bagi musafir, wanita hamil dan menyusui."
Semua itu sudah di atur dalam kitab Fiqh As-sunnah. Jadi tenang saja Mas, jika Lika tidak kuat, maka akan membatalkannya." Lika menambahkan penjelasan sambil membuka catatan penting yang dia miliki.
Saat mereka asyik mengobrol, terdengar langkah kaki menghampiri mereka.
"Ayo Ayah, Ibu kita berangkat," ucap Renia. Dia sudah rapi dengan Mukena yang langsung digunakannya. Sedangkan Raski terlihat tampan dengan Baju Koko Putih dengan Kopiah hitam sedana dengan yang dikenakan Reynand.
"Tidak apa-apa kita membawa anak-anak?" tanya Reynand ragu untuk mengajak Renia dengan Raski. Namun jika tinggal di rumah tidak ada yang menjaga karena Saik Inah juga melaksanakan Shalat tarawih.
"Tidak apa-apa, justru itu bagus untuk mengajarkan kepada anak agar hati tertambat ingin selalu melaksanakan Ibadah di Masjid. Kita tidak boleh memarahi jika ternyata mereka membuat keributan di dalam Masjid, karena itu akan membuat anak-anak takut dan tidak mau menuju Masjid lagi. Jangan sampai anak-anak Insecure dengan Masjid hanya gara-gara mereka membuat keributan terus kita memarahinya. Sama artinya kita para orang tua yang membuat Malaikat kecil menghilang dari dalam Masjid. Lantas kalau sudah hilang? siapa yang disalahkan jika generasi kita pada akhirnya enggan ke Masjid." Lika menjelaskan panjang lebar.
"Mas mengerti, jangan sampai Malaikat kecil hilang dari Masjid, ayo anak-anak kalian boleh ikut," ucap Reynand bersemangat.
"Sayang, nanti di Masjid jangan ribut ya," lanjut Reynand menasehati kedua anaknya. Mereka menjawab dengan anggukan sembari mengacungkan Jempolnya.
Bersambung.
Terima kasih untuk teman-teman yang selalu menunggu upnya Novel ini. Sekali lagi terima kasih.
__ADS_1